BENGKULU….AKU DATANG

KKN Mu untuk negeri tanggal 30 Juli 2019 secara resmi dibuka di gedung pertemuan Angus Ramon Unjversitas Muhammadiyah Bengkulu oleh Gubernur Bengkulu yang diwakili oleh asisten bidang Sumberdaya Manusia. Kegiatan KKN Mu yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah secara nasional ini melibatkan 42 PTM se Indonesia, salah satunya Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang mengirimkan 62 mahasiswa dan 4 dosen yang dipimpin oleh Ketua LPPM UMP. Dr. Suwarno,M.Si sebagai ketua LPPM sekaligus ketua rombongan didampingi oleh 3 panitia KKN yaitu Muh.Agung Miftahuddin,M.Si, Teguh Julianto,M.Pd dan Drs.Karma Iswasta Eka,M.Si membawa rombongan terbanyak dalam KKN Nasional tahun ini. Rombongan KKN dari UMP sendiri secara resmi dilepas oleh Rektor Dr.Anjar Nugroho,M.Si bersamaan dengan pelepasan KKN reguler dan pemberangakatan oleh Ketua LPPM pada tanggal 27 Juli dari UMP menggunakan 2 armada bus.

Ketua Panitia Pusat Dr.Rina Ratih dalam sambutannya menyampaikan bahwa KKN Mu di Bengkulu adalah yang ke 6. Dalam sambutannya disampaikan bahwa KKN ini menjadi kegiatan KKN yang paling banyak pesertanya yaitu 42 PTM. KKN Mu menurut Rina Ratih adalah kegiatan aksi sosial yang dilaksanakan  oleh PTM dan semua PTM termasuk berkontribusi,termasuk para mahasiswa. Rina juga menyampaikan bahwa KKN Mu di Bengkulu 15 hari lebih lama 15 hari dibanding belumnya karena tuntutan masyarakat, dan diharapkan para peserta KKN diharapkan dapat memperkenalkan potensi wisata dan budaya di Bengkulu.

Gubernur Bengkulu yang diwakili oleh Staf Ahli bidang Kemasyarakatan dan Sumberdaya Manusia H.Muslih Z,SH,M.Si menyampaikan bahwa di Bengkulu banyak sekali UKM kecil di masyarakat,khususnya di desa-desa miskin yang membutuhkan sentuhan dari kalangan berpendidikan, oleh karena itu mahasiswa juga diharapkan agar bisa membantu dan mengembangkan potensi tersebut.


Peserta KKN Mu asal UM Purwokerto

Sambutan Ketua Panitia Pusat

Sambutan Staf Ahli Gubernur

Sambutan Rektor Universita Muhammadiyah Bengkulu

Peserta KKN dari Korea, mahasiswa UM Purwokerto


Ketua LPPM UMP bersama Ketua Panitia Pusat
Penulis bersama penari penyambut tamu
Iklan

CILACAP MENYIAPKAN 44 TEMPAT PENYELAMATAN

-Pakar tsunami dari Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko mengatakan ada potensi gempa megathrust Magnitudo 8,8 di selatan Jawa. Tak hanya itu gempa juga berpotensi menimbulkan gelombang tsunami 20 meter di sepanjang pantai tersebut.
Dia menyebut ada segmen-segmen megathrust di sepanjang selatan Jawa hingga ke Sumba di sisi timur dan di selatan Selat Sunda. Akibatnya, ada potensi gempa megathrust dengan Magnitudo 8,5 hingga Magnitudo 8,8, namun harap dipahami bahwa manusia tidak bisa memprediksi kapan terjadi gempa atau tsunami. Perlu dipahami bahwa yang dimaksud tenang info di atas adalah potensi, bukan prediksi terjadinya. Barangkali karena salah pemahaman itulah yang menyebabkan masyarakat Cilacap sempat gelisah dengan viralnya soal kemungkinan gempa dan tsunami setelah kejadian gempa kecil beberapa waktu yang lalu.


Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Tri Komara Sidhy juga menyatakan agar masyarakat tak panik dalam menanggapi perkiraan potensi tsunami 20 meter tersebut. Dia mengklaim, Cilacap telah membentuk Desa Tanggap Bencana (Destana) di sepanjang pesisir selatan. BPBD dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga telah memasang sebanyak 35 alat peringatan dini tsunami di sepanjang pesisir.
Jika benar benar terjadi maka berikut merupakan solusi cara melakukan pelarian dari gelombang tersebut.
1. EVAKUASI HORIZONTAL

Kita segera lari menjauh dari bibir pantai, ke bukit, dst.
Disarankan jalan kaki, agar tidak trjdi “Traffic Jam” (kemacetan lalu-lintas) dan “Bottle Neck” seperti yg pernah terjadi dulu di PROLIMAN, inget khan? Dari 4 ruas jalan, semuanya ingin menuju 1 ruas jalan ke arah JERUKLEGI. Akhirnya macet-cet, tdk bisa bergerak sama sekali.
Hal ini justru membahayakan, karena pada ruas PROLIMAN 500 meter ke arah JERUKLEGI terdapat cekungan yang merupakan perairan yg bermuara ke Bengawan Donan yg justru merupakan “Jalan Tol”nya tsunami.
Jangan melalui jalanan yg sejajar dengan garis pantai, karena sama saja “jalan di tempat”, maka lewati lah jalanan yg menjauh dari pantai.
2. EVAKUASI VERTIKAL :Segera berlari ke gedung evakuasi vertikal yg terdekat dari rumah kita masing masing.
Untuk memecah pergerakan massa saat terjadi potensi tsunami ke arah JERUKLEGI, PemKab Cilacap (BPBD) telah melakukan MoU dgn 44 pemilik gedung di wilayah Cilacap Kota yg cukup tinggi dan kokoh.
Dalam kondisi gempa yang berpotensi tsunami, pemilik gedung tsb agar dpt membuka akses seluas2nya untuk tempat mengungsi warga di sekitarnya.


Berikut daftar nama gedung evakuasi vertikal di wilayah Cilacap Kota :
1. Kantor BPBD – Lantai 22. SMP N 1 Cilacap – Lantai 2 & 33. Politeknik Negeri Cilacap – Lantai 3 & 44. RSUD – Lantai 25. Akbid Graha Mandiri – Lantai 26. Asrama Putri STIKES Al Irsyad – Lantai 2 & 37. SD Al Irsyad 01 – Lantai 2 & 38. Rusunawa Tegalkamulyan – Lantai 39. Kantor BPC Gapensi – Lantai 210. Masjid Al Jihad – Lantai 211. AMN – Lantai 2-812. RSI Fatimah – Lantai 213. Badan Diklat, Arsip dan Perpusda – Lantai 214. DPRD – Lantai 215. SMP Pius – Lantai 216. Hotel Cilacap Indah – Lantai 217. Asuransi Bumi Putera – Lantai 218. SMP N 3 Cilacap – Lantai 219. SMA Negeri 1 Cilacap – Lantai 220. SMP Purnama 1 – Lantai 221. SMP N 2 Cilacap – Lantai 222. SD Negeri Sidanegara 08 – Lantai 223. RSU Santa Maria – Lantai 224. RSU Aprilia – Lantai 225. Kel. Mertasinga – Lantai 226. Gedung Golkar – Lantai 227. SMA Sri Mukti – Lantai 2 & 328. SMP Muhammadiyah 1 – Lantai 229. SMP Muhammadiyah 2 – Lantai 230. SMP PGRI 1 – Lantai 231. SMP Purnama 2 – Lantai 232. SMP N 8 Cilacap – Lantai 233. SMK YPE – Lantai 234. SMP N 4 Cilacap – Lantai 235. SMP N 6 Cilacap – Lantai 236. SD Negeri Tegalreja 01 – Lantai 237. SMA Al Irsyad – Lantai 238. Gedung Dakwah Muhammadiyah – Lantai 239. SD Negeri Tegalreja 02 – Lantai 240. Masjid Agung Darussalam – Lantai 241. Hotel Tiga Intan – Lantai 242. Hotel Mutiara – Lantai 243. PMI Kabupaten Cilacap – Lantai 244. SMA Yos Soedarso Cilacap – Lantai 2
sumber info : https://m.facebook. com/teguhpurnomo.clp dengan perubahan seperlunya

Potensi Gempa Indonesia

POTENSI GEMPA DI SELATAN JAWA

PETAJAWA

Selama 3 Hari ini saya diminta banyak pihak untuk membuat klarifikasi terkait potensi gempa di Selatan Jawa. Jawaban saya adalah bahwa kita harus jujur mengakui dan menerima kenyataan bahwa wilayah kita memang rawan gempa dan tsunami.

Khususnya wilayah selatan Jawa, keberadaan zona subduksi Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia merupakan generator gempa kuat sehingga wajar jika wilayah selatan Jawa merupakan kawasan rawan gempa dan tsunami.

Wilayah Samudra Hindia selatan Jawa sudah sering kali terjadi gempa besar dengan kekuatan di atas M=7,0. Sejarah mencatat daftar gempa besar seperti gempa Samudra Hindia tahun1863,1867, 1871, 1896, 1903, 1923, 1937, 1945,1958, 1962, 1967, 1979, 1980, 1981, 1994, dan 2006. Sementara itu tsunami Selatan Jawa juga pernah terjadi pada tahun 1840, 1859, 1921, 1994, dan 2006. Ini bukti bahwa informasi potensi bahaya gempa yang disampaikan para ahli adalah benar bukanlah berita bohong.

Besarnya magnitudo gempa yang disampaikan para pakar adalah potensi bukan prediksi, sehingga kapan terjadinya tidak ada satupun orang yang tahu. Untuk itu dalam ketidakpastian kapan terjadinya, kita semua harus melakukan upaya mitigasi struktural dan non struktural yang nyata dengan cara membangun bangunan aman gempa, melakukan penataan tata ruang pantai yang aman dari tsunami, serta membangun kapasitas masyarakat terkait cara selamat saat terjadi gempa dan tsunami.

Inilah risiko tinggal dan menumpang hidup di pertemuan batas lempeng. Sehingga mau tidak mau, suka tidak suka inilah risiko yang harus kita hadapi. Apakah dengan kita mengetahui wilayah kita dekat dengan zona megathrust lantas kita cemas dan takut? Tidak perlu cemas dan takut. Semua informasi potensi gempa dan tsunami harus direspon dengan langkah nyata dengan cara memperkuat mitigasi. Dengan mewujudkan semua langkah mitigasi maka kita dapat meminimalkan dampak, sehingga kita tetap dapat hidup dengan selamat, aman, dan nyaman di daerah rawan gempa.

Peristiwa gempa bumi dan tsunami adalah keniscayaan di wilayah Indonesia, yang penting dan harus dibangun adalah mitigasinya, kesiapsiagaannya, kapasitas stakeholder dan masyarakatnya, maupun infrastruktur untuk menghadapi gempa dan tsunami yang mungkin terjadi.***

Penulis : Daryono BMKG

Ketika Zonasi Benturan Lokasi

Tujuan awal kebijakan zonasi memang bagus,yaitu untuk menghilangkan stigma bagus. Sepertinya akan berjalan mulus dan tidak mempertimbangkan aspek lain. Sistem zonasi yang diterapkan yang tujuannya baik tapi prosesnya menimbulkan masalah karena penerapannya tanpa memperhitungkan peta sekolah. Hal ini tentu saja membuat kalang kabut anak,orang tua bahkan guru.

Ambil contoh saja Purwokerto yang “mengumpulkan sekolah negeri dalam satu wilayah. Misalnya SMA, di satu zona ada SMA 1,SMA 2, SMA 5, ini berada dalam satu wilayah karena syarat jarak terdekat 1.6 km. Bisa dibayangkan jika satu wilayah lulusan SMPnya terlalu sedikit akan menyebabkan ada sekolah yang kekurangan murid. Disisi lain ada anak yang tidak bisa mendapatkan sekolah karena di zona tempat tinggalnya tidak ada sekolah negeri,bahkan swastapun (jika mnerapkan zonasi juga) tidak ada yang dekat dengan tempat tinggalnya.

Kebijkan yang sudaj ditempuh ini pada akhirnya menjadi tidak bijak,karena mengabaikan peta wilayah pendidikan. Semestinya kebijakan ditempuh dengan memberikan keleluasaan masing-masing daerah,karena peta sekolah di setiap daerah tentu tidak sama. Ada daerah yang sekolahnya terkonsentrasi di satu wilayah,tetapi ada juga daerah yang tersebar dengan jarak cukup jauh seperti Yogya (seingat saya itu). Bayangkan perasaan orang tua yang jarak sekolah dengan tempat tinggal jauh dari sekolah dan tidak masuk kriteria jarak zonasi,sementara di wilayahnya tisak ada sekolah sama sekali, lalu mau dikemanakan si anak? Screen shoot di bawah ini merupakan contoh gambaran betapa kebijakan zonasi yang diterapkan tanpa melihat peta daerah menjadi tidak bijak.

Mengubah kebijakan zonasi dalam waktu singkat memang akan susah karena terkait dengan soal wibawa pembuat kebijakan, tapi hal-hal yg terjadi di lapangan perlu sipertimbangkan untuk memperbaiki kebijakan tersebut kedepannya. Semoga pak menteri atau siapapun yang mengambil kebijakan bisa arif menyikapi kontroversi zonasi, pertimbangkan juga faktor lokasi.

Eksotisme Pletuk Terkini

Curug atau air terjun Pletuk mungkin belum banyak dikenal orang,karena memang belum lama ditekuni secara serius,tapi jangan dikira tidak punya keindahan tersendiri. Berbeda dengan curug lainnya di sekitar Jateng Barat, curug Pletuk tempat air jatuhnya tidak bisa didekati,tapi justru disinilah kekuatannya. Taman bunga dengan beberapa asesoris yang instagramable adalah satu hal yang tidak ada di tempat lain. Pembenahan dan sarana promosi sampai saat ini masih didukung oleh Tim LPPM UMP diantaranya pak Warno,pak Ito dan pak Eka.

Nuansa baru curug Pletuk seperti nampak di atas sudah mengundang rasa segar di mata dan sangat instagramable. Pemandangan seperti inilah yang tidak dipunyai di tempat lain,karena air terjun yang suda populer umumnya mengandalkan kekuatan air terjun itu sendiri yang bisa dikunjungi wisatawan dari jarak dekat. Curug Pletuk juga bisa digunakan berfoto dari jarak dekat, meskioun bukan di tempat air jatuhnya,tetapi di aliran bawah,justru inilah yang membedakannya dengan yang lain.

Saat libur lebaran biasanya orang Indonesia selalu mencari tempat wisata baru. Jika anda sudah bosan dengan wisata kota yang buatan atau wisata pantai atau juga wisata gunung, kini saatnya wisa Air Terjun dengan tamannya menjadi alternatif pilihan. Bagi orang Barlingmascakeb wisata yang dekat, segar dan layak dipakai tempat selfie salah satunya,dan sangat dianjurkan ya Curug Pletuk. Dengan harga tiket yang tergolong murah,tentunya akan membuat masyarakat dari golongan bawahpun bisa memenuhi keingininannya. Kapan lagi anda memanfaatkan liburan mumpung mudik kalau tidak sekarang. Berwisata yang menyehatkan mata,fisik dan juga kamera ya Curug Pletuk.

Lokasi Curug Pletuk cukup mudah di cari, jika anda ada di jalan raya Purwokertocari saja jalan kearah Kecamatan Pagedongan selanjutnya ke arah desa Pesangkalan. Ini merupakan jalan paling dekat dan paling nyaman untuk dilalui. Waktu tempuh dari jalan raya Banjarnegara kurang lebih 30 menit saja.

Video ini belum berada di air terjun utama,tetapi dibagian bawah.

SAAT DI POSKO MUDIKMU KOKAM DAN MDMC

Biarkan gaya hidup saya tetap merdeka
Sepuluh tahun yang lalu ketika melayani guru2 di kelas PPKHB Pemalang dan Pekalongan,saya satu2nya yang kalau ngajar naik bus umum,sementara teman2 naik mobil atau motor, dan sampai skrg ke cilacap juga kadang masih naik bus umum.
Sejak 14 tahun yg lalu saya masih setia naik motor SANEX yg sering dijuluki elek eprek-eprek. Sampai suatu saat sekitar 9 tahun yg lalu ketika naik motor ke kampus ada yg komentar masa asesor kemana-mana naik motor ga naik mobil. Saya tetap tak peduli meskipun yg komen seperti itu makin banyak. Saya katakan tidak ada korelasinya antara pekerjaan dengan kendaraan. Saya baru mulai terpikir beli mobil ketika keadaan memaksa membutuhkan sarana transportasi pengangkut banyak orang. Meskipun sudah ada mobil, sayapun masih jarang memggunakan,kecuali sangat membutuhkan,misal harus bawa barang ke kampus atau hujan,kalau tidak ya tetap setia dengan motor elek eprek2, sampai skrg. Jangan samakan saya dengan orang yang hidup karena gaya,rumah saja masih ngontrak di rumah sederhana mepet sawah tapi beli mobil kredit agak mewah. Rumah nomor sekian nomor satu penampilan.
Sederhana itu gaya hidup, karena hidup itu secukupnya dan seadanya,pas butuh apa uangnya cukup, pas butuh kendaraan ada.
Biarkan saya bergaya hidup merdeka, itu yang saya suka. Percuma saja saat anda ketemu saya menanyakan kok ga naik mobil, karena mobil hanya sarana, kalau cukup dengan motor kenapa harus mobil, kalau cukup dengan jalan kaki kenapa naik motor. Itu sebabnya kenapa di kampus kemana-mana saya jalan kaki,sementara kebanyakan hanya dari fakultas ke masjid saja naik motor bahkan mobil. Kalau itu memang gaya anda untuk menyayangi kaki anda biar tidak jalan ya sah-sah saja.
Merdeka dengan gaya hidup sederhana.

(Ditulis saat jaga di POSKO MUDIKMU KOKAM SURYA CENDEKIA UMP dan MDMC UMP)

PERAN ORANG TUA TERHADAP IMPLIKASI PERKEMBANGAN ANAK USIA 6-12 TAHUN (SEKOLAH DASAR) DALAM PROSES BELAJAR SAINS

Pendidikan pada jenjang Sekolah Dasar berorientasi pada pengembangan potensi anak didik. Terkait dengan potensi anak didik, pada dasarnya setiap anak memerlukan tuntutan perkembangan potensi-potensi dasar manusia yang meliputi potensi berpikir, kreativitas, keterampilan, dan sosial yang mampu membangun kedewasaan emosional, sikap, dan jati diri sebagai manusia terdidik. Proses pendidikan diarahkan bagi perkembangan potensi anak didik melalui kegiatan belajar yang sesuai dengan minat dan bakat pada anak.

Dalam proses pendidikan anak ada tiga pihak yang bertanggungjawab terhadap perkembangan proses pembelajaran, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan pertama yang diterima anak adalah dari lingkungan keluarga dimana anak lahir, hidup, dan dibesarkan. Oleh karena itu, keluarga merupakan tempat sebaik-baiknya bagi pendidikan anak. Kemudian pendidikan dilanjutkan di lembaga sekolah yang pada dasarnya membantu orang tua untuk melanjutkan, memperluas, dan memperdalam apa yang sudah diberikan oleh orang tua di lingkungan keluarga. Selain di lingkungan keluarga dan sekolah, seorang anak juga belajar di lingkungan masyarakat melalui pergaulan serta melihat dan mendengar apa yang ada di lingkungan sekitarnya. Oleh sebab itu, tepatlah bila dikatakan bahwa pendidikan anak pada dasarnya merupakan tanggungjawab bersama antara orang tua, sekolah, dan masyarakat.

Sekolah Dasar (SD) merupakan lembaga pendidikan formal yang pertama bagi anak. Tugas guru di sekolah adalah mengembangkan potensi anak didik dengan memberikan stimulus berupa bahan-bahan yang dirancang dan diperoleh dari lingkungan anak melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran diarahkan bagi perkembangan potensi anak didik semaksimal mungkin. Namun demikian, seberapa besar tingkat perkembangan belajar anak didik dipengaruhi oleh bagaimana proses dan hasil interaksi antara faktor internal pada diri anak didik dan faktor eksternal di luar anak didik. Faktor internal anak didik meliputi potensi kognitif, afektif, dan psikomotor; sedangkan faktor eksternal anak didik meliputi semua hal yang berada di sekitar anak didik termasuk diantaranya lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Mendidik anak merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh orang tua dan keluarga merupakan salah satu wahana yang sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan. Orang tua sebagai pendidik sekaligus penanggungjawab sudah seharusnya berperan positif dalam mendukung kemajuan pendidikan anak. Dalam hubungannya dengan pendidikan formal dan proses pendidikan di SD maka perhatian orang tua merupakan salah satu faktor yang dapat menumbuhkan kemauan untuk melaksanakan aktivitas, dalam hal ini aktivitas belajar.

Pendidikan sain merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di sekolah dasar (SD), mata pelajaran ini wajib di berikan pada anak usia SD( kelas 1-3) dengan sistem pembelajaran tematik, sedangkan anak kelas 4-6 sudah dibedakan masalah sain dengan di pecah menjadi pelajaran Biologi, Fisika serta Bumi dan Antariksa. Dengan berbagai macam mata pelajaran yang ada di pendidikan dasar (SD) maka perlu sekali peserta didik bisa mengatur tentang bagaimana belajar sains.

Namun demikian, dalam kenyataannya di tengah masyarakat masih banyak ditemui anak yang mengalami hambatan belajar, bahkan di beberapa daerah masih terdapat anak yang putus sekolah. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya perhatian orang tua terhadap pendidikan anaknya. Masih banyak orang tua yang menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan anak kepada sekolah. Di lingkungan keluarga anak kurang mendapatkan dukungan bagi kemajuan pendidikan. Terdapat beberapa hal yang menyebabkan kurangnya dukungan orang tua terhadap kemajuan pendidikan anak. Misalnya, keterbatasan pendidikan orang tua yang mengakibatkan kurangnya pemahaman dan pengetahuan orang tua tentang pendidikan anak, keterbatasan ekonomi orang tua sehingga mereka tidak mempunyai cukup dana untuk kebutuhan yang dapat mendukung kemajuan pendidikan, dan keterbatasan waktu karena sibuk mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga.

Sementara pada sebagian masyarakat yang lain, kenyataan menunjukkan adanya kecenderungan meningkatnya perhatian orang tua terhadap pendidikan anak. Banyak orang tua yang merasa perlu terlibat secara langsung untuk membantu anak agar mendapatkan prestasi belajar yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dengan adanya kecenderungan orang tua untuk menyekolahkan anaknya pada sekolah-sekolah yang dinilai berkualitas baik. Selain itu banyak ditemui orang tua yang berperan aktif dalam mendukung pendidikan anak. Misalnya, dengan mendampingi kegiatan belajar, menyediakan buku-buku pelajaran, menyediakan fasilitas dan alat belajar, mengajak anak ke toko buku, dan menjalin komunikasi  dengan pihak sekolah.

  1. Arti pendidikan

Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dirumuskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dari rumusan tentang arti pendidikan di atas, dapat dikatakan bahwa sasaran pelayanan pendidikan adalah potensi subjek didik, dan tujuan dari kegiatan pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki anak didik.

Selanjutnya, dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tersebut dirumuskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta  bertanggungjawab. Dari rumusan tujuan pendidikan tersebut terkandung suatu pengertian bahwa dalam proses pendidikan terjadi suatu perubahan pada diri anak didik yaitu berupa perkembangan potensi melalui belajar. Proses pendidikan tersebut berlangsung pada suatu lembaga, baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Roemer (Woolfolk & Nicolich, 1984: 17-18) yang menyatakan bahwa education is the process by which a society transmits to new members the values, beliefs, knowledge, and symbolic expressions to make communication within the society possible. Maksud dari pernyataan tersebut adalah pendidikan merupakan proses yang dilakukan oleh suatu lembaga untuk meneruskan nilai-nilai, keyakinan, pengetahuan, dan ekspresi simbolis agar memungkinkan terjadinya komunikasi dalam suatu masyarakat. Sekolah merupakan institusi formal yang bertanggungjawab untuk mendidik siswanya. Dalam proses pendidikan tersebut, siswa melakukan serangkaian kegiatan yang disebut belajar. Belajar menunjuk pada perubahan tingkah laku anak didik terhadap suatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang dalam situasi itu (Bower & Hilgard, 1975: 11). Pengertian perubahan di sini adalah perubahan potensi anak didik yang disengaja, dengan sadar, dan ke arah yang positif. Agar perubahan sesuai dengan yang diharapkan maka pendidikan harus ada yang bertanggungjawab. Subjek didik adalah individu yang berkembang di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sudah selayaknya tugas dan tanggungjawab keluarga, sekolah, dan masyarakatlah untuk mengembangkan anak didik melalui pelayanan pendidikan.

 

  1. Tanggungjawab intelektual

Kehadiran seorang anak bagi orang tua pada dasarnya mengandung harapan sekaligus tanggungjawab. Salah satu tanggungjawab orang tua terhadap anaknya adalah tanggungjawab dalam pendidikan. Menurut Surya (2000) mendidik anak merupakan salah satu tugas dan kewajiban orang tua sebagai konsekuensi dari komitmennya untuk membina rumah tangga melalui pernikahan. Pendidikan anak dimulai dari pendidikan dalam keluarga. Pendidikan dalam keluarga merupakan pondasi bagi pendidikan-pendidikan selanjutnya dan pondasi bagi pembentukan kepribadian anak.

Dalam hubungannya dengan upaya mencerdaskan anak, pendidikan dalam keluarga mempunyai peran penting dalam upaya menyiapkan anak agar dapat berkembang secara optimal dan bermakna. Siahaan (1986: 17) mengatakan  bahwa di dalam rumah tangga pendidikan anak harus dimulai. Pendidikan di dalam keluarga adalah sekolah yang pertama. Di sini bapak-ibu mempunyai peran sebagai guru. Anak belajar segala pelajaran yang akan bermanfaat sepanjang hidupnya yaitu pelajaran-pelajaran tentang budi pekerti, sopan santun, pengendalian diri, dan kejujuran. Oleh karena itu, tepat bila dikatakan bahwa pendidikan berawal dan berpusat pada keluarga. Ki Hadjar Dewantara (1962: 375) mengatakan:

Alam keluarga itu buat tiap-tiap orang adalah alam pendidikan yang permulaan. Pendidikan di situ pertama kalinya bersifat pendidikan dari orang tua, yang berkedudukan sebagai guru (penuntun), sebagai pengajar dan sebagai pemimpin pekerjaan (pemberi contoh).

 

Selanjutnya dalam pendidikan anak, Sayekti (1993), Surya (2000), dan Shochib (1988: 35) mengatakan bahwa orang tua sebagai pendidik utama dan pertama. Anak merupakan buah cinta kasih mereka yang perlu dilindungi, dibesarkan, dicintai, dan dididik. Dengan demikian, orang tua mempunyai tugas dan tanggungjawab mendidik anak untuk mencapai perkembangan dan pertumbuhan yang optimal. Hal ini sesuai dengan pendapat Stinnett, Walters, & Kaye (1984: 305) yang menyatakan bahwa: “Another important part of preparing for parenthood is becoming educated in the basic conceps and principles of child growth and development”. Orang tua perlu mendidik anak dalam hal konsep dan prinsip dasar untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pendidikan oleh keluarga ini akan berlangsung terus dan baru berkurang setelah anak mulai masuk sekolah. Para guru di sekolah melanjutkan pendidikan anak. Di sekolah para guru memberikan pendidikan dan pengajaran serta mengembangkan bakat-bakat positif yang dimiliki anak. Selanjutnya secara keseluruhan pendidikan yang diterima di rumah dan di sekolah dipertemukan melalui pengalaman-pengalaman hidup anak di masyarakat. Dengan demikian, melalui interaksi dengan orang lain di tengah masyarakat juga merupakan pendidikan bagi anak.

Tujuan pendidikan yang diberikan di rumah, sekolah, dan di tengah-tengah masyarakat adalah untuk membantu anak agar di dalam perkembangannya yang menyeluruh dapat mencapai kedewasaan. Ki Hadjar Dewantara (1962: 217) menyebutkan bahwa keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai “Tri Pusat Pendidikan” dimana di dalam ketiga lingkungan pendidikan tersebut anak akan tumbuh dan berkembang secara terus menerus dengan mengolah apa yang ia terima dari lingkungannya menjadi miliknya.

Selanjutnya Abbas (1984: 102-107) menyatakan bahwa di dalam tujuan pendidikan terdapat dua fungsi pendidikan yaitu fungsi dinamisasi dan fungsi pengembangan secara menyeluruh. Fungsi dinamisasi dimaksudkan agar potensi yang dimiliki anak dengan bantuan orang tua, guru, dan anggota masyarakat lainnya anak tersebut secara bertahap ditempa untuk pada akhirnya mampu berdiri sendiri baik jasmani maupun rohani atau dengan kata lain anak menjadi manusia dewasa. Fungsi pengembangan dimaksudkan agar pendidikan yang diberikan kepada anak dapat mengembangkan seluruh kemampuannya. Oleh karena itu, pendidikan harus berorientasi pada kebutuhan dasar anak, kebutuhan dasar lingkungannya, perkembangannya, perkembangan teknologi dan ilmu serta pengembangan masa depan.

Dari uraian di atas, maka sangatlah penting bahwa upaya pendidikan yang dilakukan di tengah-tengah keluarga, sekolah, dan masyarakat harus bertitik tolak pada tujuan dan orientasi yang sama. Ini berarti bahwa fungsi pendidikan yang dijalankan oleh ketiga pusat pendidikan tersebut harus terpadu, terjalin, dan terintegrasi ke dalam suatu tujuan pendidikan yaitu mendewasakan anak lahir serta batin dan untuk mempersiapkan masa depannya.

 

  1. Peranan dan partisipasi orang tua dalam pendidikan

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal tujuh disebutkan bahwa orang tua dari anak usia wajib belajar berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya. SD sebagai jenjang pendidikan dasar yang pertama bagi anak merupakan pembantu kelanjutan pendidikan dalam keluarga, sebab pendidikan yang pertama diperoleh anak ialah dalam keluarga. Peralihan bentuk pendidikan keluarga ke sekolah memerlukan kerjasama antara orang tua dan sekolah.

Pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak telah disadari oleh banyak pihak baik orang tua, kepala sekolah, dan guru, maupun pemerintah walaupun dalam pelaksanaan pendidikan peran orang tua belum mendapat perhatian yang semestinya. Menurut Jason, et al (1992: 140) menyatakan bahwa orang tua mempunyai pengaruh terhadap anaknya dalam penyesuaian diri pada masa transisi di sekolah. Orang tua dengan motivasi yang tinggi menghasilkan anak yang mempunyai prestasi lebih tinggi dan secara sosial mudah menyesuaikan diri dibandingkan dengan orang tua yang mempunyai motivasi  rendah. Lebih lanjut Jason, et al menyatakan bahwa secara akademik, anak-anak yang orang tuanya mempunyai motivasi rendah memiliki kemampuan membaca, mengeja, dan matematika yang rendah pula. Di samping itu, anak-anak dengan orang tua yang mempunyai motivasi rendah cenderung lebih agresif, menarik diri, dan kurang disukai oleh teman sebayanya.

Menurut Idris dan Jamal (Slameto, 2002: 2-4) peranan orang tua bagi pendidikan anak adalah memberikan dasar pendidikan, sikap, dan keterampilan dasar seperti pendidikan agama, budi pekerti, sopan santun, estetika, kasih sayang, rasa aman, dasar-dasar untuk mematuhi peraturan, dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan. Selain itu peranan keluarga adalah mengajarkan nilai-nilai dan tingkah laku yang sesuai dengan yang diajarkan di sekolah. Dengan kata lain ada kontinuitas antara materi yang diajarkan di rumah dan materi yang diajarkan di sekolah.

Peranan orang tua dalam pendidikan anak tidak terbatas pada pendidikan anak secara langsung namun lebih dari itu orang tua juga mempunyai kesempatan untuk berperan mengembangkan proses pembelajaran di sekolah melalui saran-saran maupun kegiatan-kegiatan. Dalam hal ini Haris (2001: 8-9) mengemukakan bahwa pemberian peran yang lebih besar kepada orang tua siswa dalam memajukan sekolah ternyata mampu mengembalikan kepedulian para orang tua siswa terhadap jalannya proses pembelajaran di sekolah. Dengan memberikan peran yang lebih besar kepada orang tua dan masyarakat akan lebih intensif memberi masukan positif kepada sekolah.

 

  1. Faktor-faktor yang mendorong orang tua dalam partisipasi pendidikan

Pada umumnya, anak merupakan kebanggaan bagi orang tua. Nilai anak bagi orang tua di atas harta kekayaan. Sunarto (1977) mengemukakan bahwa di samping kebanggaan, orang tua memiliki harapan-harapan yang dibebankan pada anak. Anak diharapkan mampu mikul dhuwur mendhem jero  kepada orang tuanya. Artinya anak diharapkan dapat menjunjung tinggi derajat orang tuanya. Menjunjung derajat orang tua dimaksudkan bahwa anak mampu membawa nama baik orang tuanya. Keberhasilan anak dalam meningkatkan status sosial maupun status ekonomi keluarga merupakan salah satu harapan orang tua yang dapat menjunjung nama baik orang tua. Pendidikan merupakan salah satu wahana bagi orang tua untuk mencapai keberhasilan anak, artinya bahwa pendidikan diharapkan dapat sebagai agen bagi keberhasilan anak. Anak yang berhasil dalam pendidikannya, secara otomatis mampu mengangkat nama baik keluarga.

Salah satu alasan mengapa orang tua menganggap penting pendidikan anak adalah bahwa melalui pendidikan harapan-harapan orang tua tentang masa depan anak dapat dicapai.  Dari harapan-harapan inilah banyak orang tua yang berusaha terlibat langsung dalam pendidikan anak baik di rumah maupun di sekolah. Orang tua menganggap penting untuk terlibat dalam pendidikan anak karena orang tua mengharap adanya prestasi belajar yang tinggi dapat dicapai anak. Banyak orang tua yang masih menganggap bahwa dengan prestasi belajar yang tinggi merupakan suatu jaminan bagi keberhasilan masa depan anak. Di samping itu, adanya kesadaran bahwa untuk meraih keberhasilan baik dalam pendidikan maupun pekerjaan saat ini penuh dengan persaingan, hal ini juga merupakan suatu alasan mengapa banyak orang tua yang ikut terlibat dalam upaya meningkatkan prestasi belajar anak. Selain itu tumbuhnya sikap kritis dari sebagian orang tua terhadap pendidikan anak menjadikan pendidikan anak tidak sepenuhnya diserahkan kepada guru, namun disertai juga upaya dari orang tua untuk ikut berpartisipasi memajukan pendidikan anak.

 

  1. Wujud partisipasi orang tua dalam pendidikan

Adanya kebijakan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) menuntut sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan lebih memadai bagi para siswanya. Terdapat faktor penting berkaitan dengan pelaksanaan MBS tersebut yaitu bagaimana memberdayakan masyarakat termasuk orang tua dalam pengelolaan pendidikan di sekolah. Artinya bahwa peran atau partisipasi orang tua dan masyarakat diharapkan tidak hanya berwujud pemberian bantuan dana atau fisik, tetapi juga dalam hal-hal akademik.

Berkaitan dengan wujud partisipasi orang tua dalam pendidikan Haris (2001: 15-17) menyatakan bahwa untuk melibatkan orang tua atau masyarakat dalam mengembangkan sekolah dilakukan dalam berbagai bentuk tingkatan dari sekadar usul, memberikan dana, sampai pada pembuatan kurikulum, dan menjadi instruktur dalam kegiatan ekstrakurikuler. Selanjutnya Haris (2001) menyatakan bahwa perlu adanya kejelasan mengenai tingkat partisipasi dan bentuk partisipasi masyarakat dalam memajukan pendidikan di sekolah sehingga dengan mudah dalam menyusun pedoman kerja dan tolok ukur keberhasilannya.

Mengenai wujud keterlibatan orang tua dalam pendidikan Cotton & Wikelund (2001) mengatakan:

Parents can support their children’s schooling by attending school functions and responding to school obligations (parent-teacher conferences, for examples). They can become more involved in helping their children improve their schoolwork-providing encouragement, arranging for appropriate study time and space, modeling desired behavior (such as reading for pleasure), monitoring homework, and actively tutoring their children at home.

 

Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa dalam berpartisipasi pada pendidikan anak, orang tua dapat memotivasi sekolah dengan perhatian pada fungsi-fungsi sekolah dan merespon kewajiban-kewajiban sekolah, misalnya pertemuan guru-murid. Orang tua dapat terlibat dalam menolong anak-anak mereka dengan cara memperbaiki pekerjaan anak, seperti memotivasi, mengatur jadwal dan tempat belajar, menjadi contoh yang baik bagi anaknya, memonitor PR, dan menjadi tutor bagi anak.

Berkenaan dengan PR, Epstein (Jason, et al, 1992: 143) menyatakan bahwa melalui PR anak dapat mempraktikkan keterampilannya, meningkatkan kecepatan kemampuan aplikasi, dan menjaga stabilitas tingkat kemampuan anak. Di samping untuk mendorong kemampuan dalam bidang akademik, PR juga dapat digunakan sebagai sarana interaksi antara orang tua dengan anak. Komunikasi yang dibangun antara orang tua dan anak melalui PR, dapat menolong anak dalam menetapkan standar akademik yang hendak dicapai. Mereka juga dapat saling bertukar informasi, fakta-fakta, dan sikap mengenai prestasi sekolah.

 

Jangan tinggalkan lemari es begitu saja

*Bagi ibu ibu sebelum mudik perhatikan info ini*

*Harus ada koin di dalam Freezer sebelum meninggalkan rumah dalam waktu yang cukup lama:*

Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam lemari es selama kita pergi.
Jika anda berencana pergi berlibur dan meninggalkan persediaan makanan di lemari es, maka informasi ini sangatlah penting! Ini adalah trik sederhana untuk memastikan apakah makanan yang anda simpan itu masih layak dikonsumsi setelah pulang atau tidak,karena ada satu hal kecil yang jarang diperhatikan orang.

Kadang saat kita bepergian, listrik di rumah padam dalam waktu yang cukup lama, yang menyebabkan suhu makanan yang disimpan di lemari es tidak terkontrol dan kondisinya membusuk.

Nah, untuk memastikan apakah makanan tetap membeku selama anda pergi, lakukan trik sederhana ini sebelum meninggalkan rumah:
Masukkan segelas air putih ke dalam freezer. Setelah air membeku, letakkan koin di atasnya dan biarkan tetap di dalam freezer.
Setelah anda pulang dari berlibur, lihat kembali kondisi koin tsb.Jika koin berada di dasar gelas, maka anda harus segera membuang semua persediaan makanan di dalam lemari es. Hal ini karena listrik di rumah anda pernah padam untuk waktu yang lama sehingga menyebabkan suhu makanan naik kemudian turun lagi setelah listrik kembali normal.
Jika koin tetap berada di atas, itu artinya tidak pernah terjadi pemadaman listrik dan kualitas makanan tetap sebaik sebelum anda pergi. Jika koin berada di tengah gelas, berarti listrik pernah padam sementara dan sebagian makanan mungkin masih segar.
Dalam hal apapun, jika anda tidak yakin apakah makanan2 tsb masih aman atau tidak, jangan dimakan.

Semoga bermanfaat 🙂🙂

(dari sumber anonimous)