Ketika Ejekan Menjadi Motivator.

Ini hanya sekedar kisah yang saya alami sendiri tentang sebuah hinaan. Saya ingat betul ketika TK saya tidak boleh naik SD, tapi memaksa masuk kelas 1, Digandeng guru TK kembali ke TK, dan saya kembali lari ke kelas 1. Kenyataan saya sudah baca koran di kelas 2,bahkan baca cerita bersambung di koran Pos Minggu terbitan Semarang saat teman sekelas masih mengeja,bahkan pernah diminta ngajari membaca di kelas 3.

Saat kelas 3 SMA saya minta diajari menulis artikel koran pada guru bahasa Indonesia, tapi yang saya dapat malah hinaan. Saya ingat kata2 yang keluar dari mulut guru. Ilmu kamu itu masih sekuku hitam saya,kok mau nulis di surat kabar. Apa saya berhenti? Tidak. Saya kumpulkan buku2 tentang kimia. Saya baca dan jadilah sebuah tulisan dengan judul Plastik,polusi tujuh turunan yang diketik di mesin ketik tempat ayah mengajar. Saya kirimkan tulisan itu ke surat kabar Suara Karya terbitan Jakarta. Ternyata tulisan itu dimuat setelah 2 minggu kemudian,dan itulah tulisan pertama saya. Yah sifat anak remaja,tulisan itu kemudian saya gunting dan dipasang di majalah dinding sekolah, saya sebetulnya hanya ingin menunjukkan eksistensi bahwa meskipun sudah dihina guru bahasa Indonesia tapi saya mampu membuktikan bisa menulis. Kebanggaan bertambah ketika kemudian mendapat kiriman uang melalui weselpos,yang kemudian habis untuk nraktir kawan-kawan. Itulah awal mula saya mulai suka menulis dengan pikiran bahwa menulis itu menghasilkan uang.

Ketika saya ingin kuliah lagi-lagi hinaan saya dapat dari seorang teman,anak kepala kejaksaan negeri di kota tempat tinggal,yang mengatakan tidak mungkin saya bisa kuliah di perguruan tinggi ternama,apalagi saya berasal dari keluarga kurang secara ekonomi waktu itu. Lagi-lagi saya tertantang,akan saya buktikan, dan alhamdulillah saya bisa masuk di Fakultas Biologi UGM, yang tingkat persaingannya waktu itu 1: 15 (saya tahu setelah kuliah, pendaftar ribuan yang diterima 150). Setelah kuliah ternyata hobi menulisnya justru makin berkembang, dan uang honor tulisan (waktu itu sudah dimuat di Suara Karya Jakarta, Symphony Jakarta, Mutiara Jakarta, Bernas Yogya, Kedaulatan Rakyat Yogyakarta,Suara Indonesia Malang,Panjebar Semangat yang berbahasa Jawa Surabaya, dan kemudian setelah lulus juga berlanjut di Solopos Solo,Wawasan Semarang, Pikiran Rakyat Bandung, Republika Jakarta) untuk biaya kuliah dan kebutuhan lainnya.

Meskipun sudah mulai banyak menulis ternyata ejekan juga belum selesai. Saat di semester dua saya konsultasi dengan seorang doktor baru dari Philiphina untu bertanya bagaimana menulis buku. Lagi-lagi ejekan seperti guru bahasa Indonesia yang saya terima. Baru semester 2 kok mau menulis buku, dan lagi-lagi saya justru terpacu karenanya. Terbitlah buku pertamadi semester 4 denhan judul Biologi SMA, kemudian buku kedua dengan judul Persn Islam bagi Generasi Muda dalam melestarikan lingkungan hidup di seemster 5 dan buku ketiga yang saya tulis ketika sedang melaksanakan KKN dengan judul Dilema Pestisida.

Dari tulisan tersebut jika anda membaca sampai tuntas sesungguhnya saya hanya ingin menegaskan bahwa ketika Anda mendapatkan ejekan jangan patah semangat,justru jadikan ejekan sebagai motivator ulung,maka Anda justru diuntungkan. Jangan tanggapi ejekan dari sisi negatifnya, tapi ambil sisi positifnya,maka Anda akan terpacu.

Semoga tulisan ini bisa menginspirasi.

Iklan

TULISAN YANG MENYENTUH

Sungguh,ketika saya membaca tulisan ini tanpa disadari air mata mengalir sendiri.Sangat inspiratif sekali. Maaf pak Joko,saya copas juga.

Cerita Inspiratif buat kita2 yg merasa sudah ‘cukup’ beragama…. 

*Adalah saya akan tak ikut lagi aksi 212 ???*

Saya anggap dunia adalah soal bagaimana hidup dan cari kehidupan.. bagaimana menikmati dan lebih baik dari manusia lain, bagaimana bisa punya status baik, dihargai dengan apa yg dipunya dan sedikit jalan2 menikmati dunia..

Saya anggap orang yg maju dalam agama itu adalah yang berfikiran luas dan penuh toleransi, saya anggap tak perlulah terlalu fanatis akan sesuatu, tak perlu reaktif akan sesuatu, keep calm, be cool… Janganlah sesekali dan ikut2an jadi orang norak… ikut kelompok jingkrang2 dan entah apalah itu namanya..

Saya tak ikut aksi bela agama ini itu kalian jangan usil, jangan dengan kalian ikut saya tidak, artinya kalian masuk syurga saya tidak!, Saya ini beragama lho, saya ikut berpuasa, saya bersedekah dan beramal..Saya bantu orang2, bantu saudara2 saya juga,, jgn kalian tanya2 soal peran saya ke lingkungan, kalian lihat orang2 respek pada saya, temanpun aku banyak…tiap kotak sumbangan aku isi..

Saya masih heran, apa sih salah seorang ahok? Dia sdh bantu banyak orang, dia memang rada kasar tapi hatinya baik kok, saya hargai apa yang sudah dia buat bagi jakarta… Saya anggap aksi ini itu hanya soal politis karena kebetulan ada pilkada,, saya tak mau terbawa2 arus seperti teman2 kantor yg tiba2 juga mau ikut aksi, saya anggap itu berlebihan dan terlalu cari2 sensasi… paling juga mau selfie2..

Sampai satu saat….

sore ini dalam gerimis saat saya ada di jalan, dalam mobil menuju tempat miting, dalam alunan musik barat saya berpapasan dengan rombongan pejalan kaki, saya melambat, mereka berjalan tertib, barisannya panjang sekali, pakai baju putih2, rompi hitam dan hanya beralas sendal,, muka mereka letih, tapi nyata kelihatan tidak ada paksaan sama sekali di wajah2 itu.. mereka tetap berjalan teratur, memberi jalan ke kendaraan yg mau melintas, tidak ada yang teriak, berlaku arogan dan aneh2 atau bawa aura mirip rombongan pengantar jenazah yg ugal2an…. Ini aneh, biasanya kalau sdh bertemu orang ramai2 di jalan aromanya kita sudah paranoid, suasana panas dan penuh tanda tanya negatif…. Sore ini, di jalan aku merasa ada kedamaian yang kulihat dan kurasa melihat wajah2 dan baju putih mereka yg basah terkena gerimis,… 
Papasan berlalu, aku setel radio lain…ada berita,, rombongan peserta aksi jalan kaki dari ciamis dan kota2 lain sudah memasuki kota, ada nama jalan yg mrk lalui… Aku sambungkan semua informasi, ternyata yang aku berpapasan tadi adalah rombongan itu… Aku tertegun… 
Lama aku diam ,, otakku serasa terkunci, analisaku soal bagaimana orang beragama sibuk sekali mencari alasan, tak kutemukan apa pun yg sesuai dengan pemikiranku, apa yg membuat mereka rela melakukan itu semua?? Apa kira2?.. aku makin sibuk berfikir…. Apa menurutku mereka itu berlebihan? Rasanya tidak, aku melihat sendiri muka2 ikhlas itu…. Apa mereka ada tujuan2 politik? Aku rasa tidak, kebanyakan orang sekarang memcapai tujuan bukan dengan cara2 itu…. Apakah orang2 dgn tujuan politik yang gerakkan mereka itu?.. aku hitung2, dari informasi akan ada jutaan peserta aksi,, berapa biaya yg harus dikeluarkan untuk itu kalau ini tujuan kelompok tertentu… Angkanya fantastis, rasanya mustahil ada yg mau ongkosi krn nilainya sangatlah besar….

Aku dalam berfikir, dalam mobil, masih dalam gerimis kembali berpapasan dengan kelompok lain, berbaju putih juga, basah kuyup juga… Terlihat di pinggir2 jalan anak2 sekolah membagikan minuman air mineral ukuran gelas, sedikit kue2 warung ke mereka, sepertinya itu dr uang jajan mereka yg tak seberapa…. Aku terdiam makin dalam… Ya Allah….kenapa aku begitu buruk berfikir selama ini??? Kenapa hanya hal2jelek yang mau aku lihat tentang agamaku… Kenapa dengan cara pandangku soal agamaku?? 
Aku mampir ke masjid, mau sholat ashar…aku lihat sendal2 jepit lusuh banyak sekali berbaris…aku ambil wudhu… 

Kembali, di teras, kali ini aku bertemu rombongan tadi, mungkin yang tercecer,, muka mereka lelah sekali, mereka duduk,, ada yg minum, ada yg rebahan, dan lebih banyak yg lagi baca Quran… Hmmm

Aku sholat sendiri,, tak lama punggungku dicolek dr belakang, tanda minta aku jd imam, aku cium aroma tubuh2 dan baju basah dari belakang…. Aku takbir sujud,, ada lagi yang mencolek,. Nahh….Kali ini hatiku yang dicolek, entah kenapa… hatiku bergetar sekali, aku sujud cukup lama, mereka juga diam… Aku bangkit duduk,, aku tak sadar ada air bening mengalir dari sudut mataku…. Ya Allah… Aku tak pantas jadi imam mereka,. Aku belum sehebat, setulus dan seteguh mereka…. Bagiku agama hanya hal2 manis, tentang hidup indah, tentang toleransi, humanis, pluralis, penuh gaya , in style ..bla bla bla,… Walau ada hinaan ke agamaku aku harus ttp elegan, berfikiran terbuka… Kenapa Kau pertemukan mereka dan aku hari ini ya Allah, kenapa aku Kau jadikan aku imam sholat mereka?? Apa yang hendak Kau sampaikan secara pribadi ke aku??…. 

Hanya 3 rakaat aku imami mereka,, hatiku luluh ya Allah…. mataku merah nahan haru… Mereka colek lagi punggungku, ada anak kecil usia belasan cium tanganku, mukanya kuyu tapi tetap senyum.. agak malu2 aku peluk dia, dadaku bergetar tercium bau keringatnya, dan itu tak bau sama sekali… Ini bisa jadi dia anakku juga,. Apa yg telah kuajarkan anakku soal islam? Apakah dia levelnya sekelas anak kecil ini?? Gerimis saja aku suruh anakku berteduh… dia demam sedikit aku panik… Aku nangis dalam hati…. di baju putihnya ada tulisan nama sekolah,. smp ciamis… Ratusan kilo dari sini…. kakinnya bengkak karena berjalan sejak dari rumah, dia cerita bapaknya tak bs ikut krn sakit dan hanya hidup dr membecak, bapaknya mau bawa becak ke jakarta bantu nanti kalau ada yg capek, tapi dia larang… Aku dipermalukan berulang2 di masjid ini… Aku sudah tak kuat ya Allah… Mereka bangkit, ambil tas2 dan kresek putih dr sudut masjid, kembali berjalan, meninggalkan aku sendirian di masjid,, rasa2nya melihat punggung2 putih itu hipang dr pagar masjid aku seperti sudah ditinggal mereka yg menuju syurga… Kali ini aku yg norak,, aku sujud, lalu aku sholat sunat dua rakaat,, air mataku keluar lagi…. kali ini cukup banyak, untung lagi sendirian..

Sudah jam 5an,, lama aku di masjid, serasa terkunci tubuhku di sini…miting dgn klien sptnya batal… aku mikir lagi soal ke islamanku, soal komitmenku ke Allah, Allah yg telah ciptakan aku, yg memberi ibu bapakku rejeki, sampai aku dewasa dan bangga seperti hari ini…. dimana posisi pembelaanku ke agamaku hari ini??? Ada dimana? Imanku sudah aku buat nyasar di mana?…

Aku naik ke mobil, aku mikir lagi,. Kali ini tanpa rasa curiga, kurasa ada sumbat besar yg telah lepas dalam benakku selama ini… Ada satu kata,. Sederhana sekali tanpa bumbu2… Ikhlas dalam bela agama itu memamg nyata ada… 

Aku mampir di minimarket,, kali ini juga makin ikhlas, makin mantap… Aku beli beberapa dus air mineral, makanan kering, isi dompet aku habiskan penuh emosional…. Ini kebangganku yg pertama dalam hidup saat beramal, aku bahagia sekali… Ya Allah ijinkan aku kembali ke jalanMu yang lurus, yg lapang, penuh kepasrahan dan kebersihan hati….

Ya Allah ijinkan aku besok ikut Shalat jumat dan berdoa bersama saudara2ku yang sebenarnya,. Orang2 yang sangat ikhlas membela Mu… Besok, tak ada jarak mereka denganMu ya Allah… Aku juga mau begitu, ada di antara mereka, anak kecil yg basah kuyup hari ini….tak ada penggargaan dr manusia yg kuharap, hanya ingin Kau terima sujudku… Mohon Kau terima dengan sangat… Bismilahirahmanirahiim…. 

(1 Desember 2016 , Diceritakan oleh Joni A Koto, Arsitek, Urban planner.. alumni ITB 93)

(foto ilustrasi diambil dari media on line)

TOLONG MENOLONG

sekilas kreativitas

Minat ? Kontak 082242297777 (telp/WA), BBM Eka77777

Menolong sesama itu bukan sekedar ingin,tetapi kewajiban bagi manusia yang masih punya perasaan manusia. 

Menolong itu tidak  perlu dengan banyak pertimbangkan, tetapi selagi bisa lakukan.

Menolong itu tidak harus dalam bentuk uang,sekedar uluran tangan saat oramg membutuhkan itupun  cukup

Menolong itu jangan pilih-pilih,karena menolong itu landasannya ikhlas.

Menolong itu bukan karena membutuhkan ucapan terima kasih,karena saat yang ditolong sudah bisa merasakan manfaat dan melakukan hal yang sama sudah melebihi ucapan terima kasih.

Menolong itu tidak harus dengan sesama, karena memberi makan kucing yang kelaparanpun sudah  menolong.

Jadilah manusia yang suka menolong,jamgan hanya maunya ditolong.

LELAKI GAGAH

Suatu siang saya menuju kantor operator Fren (waktu masih ada belum, diakuisisi smart dan diberi nama smartfren) yang berada di depan kantor pusat UNSUD. Dalam perjalanan itu saya sengaja naik motor pelan-pelan karena memang tidak terburu-buru. Di depan   sebuah toko di selatan kantor UNSUD saya melihat seorang lelaki tua renta dengan tubun sedikit membungkuk sambil membawa karung di lunggungnya,sementara di tangan kanannya memegang semacam gancu. Jika melihat penampilannya nampaknya ia seorang pemulung,meskipun usianya sudah tidak lahi bisa disebut setengah baya, mungkin sekitar 65-an ke atas, tapi saya juga tidak yakin,karena mereka yang hidup dalam kesulitan kadang wajah tampak lebih tua dari usianya.

Saya bermaksud berhenti sejenak dan menemui si orang tua tersebut. Ada sedikit rezeki yang mungkin bisa meringankan bebannya. Saya mencoba turun dari motor dan berusaha mendekati si orang tua itu,tapi tiba-tiba ada 2 anak muda yang nampaknya mahasiswa UNSUD juga sedanb berjalan menuju si orang tua itu. Saya coba mendengarkan apa yang ia bicarakan setelah agak dekat,dan ketiga orang itu berhadap-hadapan. Mahasiswa tersebut tiba-tiba mengeluarkan dompet,kemudian menyodorkan lembaran uang rupiah ke orang tua itu sambil bicara

“Maaf Pak, ini ada sedikit rezeki untuk Bapak”,

“Untuk saya Nak ? tujuannya apa ?”,orang tua itu bertanya tanpa menyodorkan tangannya.

“Maaf Pak,saya tidak punya tujuan apa-apa,hanya sekedar berbagi rezeki”,demikian kata si pemuda.

“Ooooooo gitu to, tapi maaf ya mas,kalau saya menerima uang pemberian mas sementara saya tidak melakukan pekerjaan apapun untuk mas kan sama saja saya mengemis. Maaf saya bukan pengemis,meskipun tubuh yang renta ini ibarat tinggal tulang dan kulit tapi saya masih mampu bekerja meskipun hanya menjadi pemulung. Dengan cara ini saya tidak menggantungkan hidup pada orang lain, dan insha Allah uang yang saya terima juga jadi barokah dan bermanfaat. Silahkan uang itu diberikan pada orang lain yang berhak, dan terima kasih atas perhatian mas-mas”,kata si orang tua sambil meneruskan berjalan ke arah selatan. Si pemuda hanya melongo dan tidak menyangka kalau pemberiannya ditolak. Saya yang juga berniat sama juga menjadi malu karenanya.Tidak menyangka sama sekali jima bertemu dengan orang tua yang menolak pembetian tanpa bekerja, sementara di sekitar kita banyak orang yang lebih muda,lebih sehat, lebih kuat,hanya bermental pengemis, selalu meminta-minta tanpa melakukan pekerjaan.

Banyak juga orang-orang berpakain rapih dan necis,bergelar, naik mobil juga mempunyai mental pengemis, meminta-minta terhadap sesuatu yang tidak dikerjakan,misalnya dengan dalih THR, atau fee sebuah proyek,atau atas usaha jual mulutnya, tapi orang tua itu ?

Sungguh luar biasa perilakunya,dan kita mungkin malu karenanya jika melihat apa yang telah dilakukan orang-orang di sekitar kita yang lebih sehat. Sungguh tragis jika me,ihat mereka yang membawa HP,naik motor, gelang mas melingkar di tangannya ikut antri BLT (pada waktu itu), Orang tua itu ternyata lebih ksatria meskipun penampilannya golongan paria.

Semoga kita dapat memetik pelajaran darinya

(True story 3 tahun tang lalu yang menyentil perasaan ingin berbagi)

(gambar hanya sekedar ilustrasi)

KENANGLAH SETELAH LULUS

Tiga tahun yg lalu saya tulis ini,untuk mengingatkan kembali di bulan puasa saya kirim ulang
Para mahasiswa tersayang
Semoga ini menjadi bahan renungan
untuk kalian kenang selamanya…
Jika engkau alim, jadilah obor bagi alam semesta
Jika engkau jahil, bernaunglah di bawah cahaya
Jika engkau kaya, jadilah bank kepada masyarakat
Jika engkau miskin, berbanggalah untuk keridhoan Tuhanmu
Hindarilah dari berminta – minta
agar terpelihara kemuliaanmu
biarlah kamu miskin di hadapan manusia
akan tetapi kaya di hadapan Allah SWT
Mahasiswa yg saya sayangi
Jika engkau menjadi seorang saudagar, Jauhilah riba dan betulkan timbanganmu
jujurlah dalam jual beli
dan mintalah kepada Allah SWT
agar manusia tidak menghinamu
dan Jika engkau menjadi seorang pemimpin Jadilah payung kepada umat, rendahkanlah sayapmu
dan Jika engkau dipimpin, Serahkanlah kepada kebijakan pemimpinmu
Sayang,
Jika engkau menderita, berserah dirilah karena itu tanda cinta dari Allah SWT agar engkau menjadi lebih kuat
Allah maha pengasih dan penyayang kepadamu,
Kasih Allah melebihi kasih seorang ibu kepada anaknya…

Bahagiakan orang  tua kita 

membahagiakan orang tua itu mudah(hari ini tema tentang bahagia)

entah mengapa dlm perjalanan ke cilacap pagi ini saya bisa BAPER. Saya meneteskan air mata saat ingat almarhum ayah. Beliau sangat menyayangi anak2 saya,cucunya. Perhatiannya sungguh luar biasa terhadap cucunya,melebihi saya sendiri. Saat cucunya mulai bisa memberi perhatian untuk sedikit membalas budi baiknya, beliau sdh tidak ada,hanya neneknya yg merasakannya saat ini.

kita saat ini sebagian sudah lupa bahwa kita ini manusia yang bisa berpikir dan punya perasaan saat ada gadget.

saat ucapan digantikan dengan jari menekan huruf

saat tatapan mata diganti dengan huruf yang terkirim

saat sungkem pada orang tua diganti dengan stiker dan emoticon

saat perhatian fisik digantikan dengan kiriman bingkisan

kita lupa bahwa manusia punya perasaan

bahwa sentuhan fisik lebih bermakna dibanding semuanya.

dan kebahagiaan orang tua adalah saat semua perhatian muncul secara fisik tanpa dibuat-buat,meskipun sedikit.

Bahagiakan orang tua saat masih ada

dan itu lebih berarti dari segalanya.

HIDUP ITU PILIHAN

Kemarin ada mahasiswa konsultasi tentang studinya. Dia katakan ingin kuliah sekaligus nyambi kerja di Jakarta apakah bisa. Saya katakan bagaimana mungkin jika kuliah jalan tetapi pekerjaan juga diterima jika lokasi amat sangat jauh. Bagaimana mengatur kuliahnya dan bagaimana mengatur ritem pekerjaannya. Mahasiswa tersebut juga mengatakan bagaimana kalau ambil cuti. Saya katakan perubahan saat ini begitu cepat,lalu bagaimana kalau saat ambil cuti ada perubahan kurikulum,apakah siap dengan konsekwensi kemunduran studi yang mungkin di luar perkiraan. 

Hidup itu pilihan,semua mempunyai konsekwensi atau resiko,semenyenangkan apapun atau bahkan sesakit apapaun. Tidak ada pilihan yang tidak mempunyai konsekwensi. Misalnya jika dia memilih pekerjaan,memang akan mendapatkan uang dengan nominal tertentu,tetapi tentu saja akan mengorbankan masa studinya,dan apakah hasil yang diperoleh dari kerja sebanding dengan pengorbanan studinya. Sebaliknya jika ia memilih menyelesaikan studinya dengan mengorbankan tawaran pekerjaaan,apakah akan sukses dengan menyandang predikat sarjana pendidikan di kemudian hari.

Memang banyak orang-orang sukses yang tidak berhasil di bidang akademik ( baca: lulus sarjana), tetapi juga tidak sedikit lulusan pendidikan tinggi yang hanya menjadi beban (bertahun-tahun nganggur dan tidak bisa menciptakan pekerjaan). Manusia tinggal memilih mana yang akan diambil dan konsekwensi apa yang akan diterimanya. Semua butuh pemikiran yang tidak bisa diambil terburu-buru,karmena apapun konsekwensinya harus bisa dan berani menerimanya. Jadi hidup itu sebuah pilihan untuk menentukan langkah, terserah mau mengambil langkah yang mana, dan tentu saja dengan segala konsekwensi untung ruginya, susah senangnya, sakit sehatnya, sejahtera tidaknya.

  

HUTANG PIUTANG

Sekitar 4 bulanan yang lalu seperti biasa, saya dengan istri jalan-jalan minggu pagi dengan route yang berbeda. Hari itu saya sengaja mengambil rute Tanjung Alun-alun-Tanjung. Sampai di warung bubur ayam priangan di timur alun-alun saya mampir untuk makan. Saat itu saya bayar dengan uang 20 ribuan tapi tidak ada kembaliannya,akhirnya saya bayar dengan uang seadanya dan kurang 1500.

Dari kejadian itu setelah berlangsung lama sampai saya lupa karena tidak pernah lewat sana lagi. Betul-betul lupa dengan tanggungan itu,atau pas ingat malah tidak sempat. Pagi ini saya merasa ada yang mengganjang, 5 hari sebelum memasuki ramadhan. Barulah saya ingat kalau punya tanggungan utang yang terlupakan sebesar Rp.1500 rupiah tadi. Akhirnya dengan naik motor dan sengaja hanya untuk menemui penjual bubur ayam itu saya berangkat. Saat saya bayar itu si penjual mengatakan ah mestinya lupakan saja wong cuma segitu Pak. Dalam hati saya menjawab memang cuma segitu, dan saya yakin pasti sudah untung karena harganyanya memang di atas harga standar waktu itu, tetapi itu kan tetap katagori hutang). Saya katakan bukan masalah cuma segitu,tetapi ini masalah hutang piutang.

Memang di dunia ini tidak ada orang yang terbebas dari hutang piutang,tetapi bagaimana menyelesaikan hutang piutang itu yang setiap orang punya persepsi yang berbeda. Kenyataannya ada yang punya pinjaman ke saya bukan hany sekedar 1 juta,tetapi lebih dari itu,dan itu sudah berlangsung 5 tahun masih juga tetap enjoy tanpa berpikir menggantikan atau membayar. Sebenarnya jika setiap orang punya kesadaran bahwa hutang itu wajib hukumnya untuk dibayar,sekecil apapun,mungkin tidak akan dibutuhkan para penagih hutang yang kadang justru membawa nyawa si penghutang., dan tidak ada orang mengeluh karena piutangnya tidak tertagih. Semua kembali pada kesadaran,apakah dia nyaman dengan hutang yang belum dibayar atau tidak. Mari kita merenung apakah kita masih punya hutang (yang dengan sengaja) tidak ingin membayarnya ?

JIKA PREMAN BERTOBAT

KEMARIN hari Kamis 12 Februari, saya melakukan perjalanan purwokerto sidareja pp nai bus umum. Dalam perjalanan pulang saya bertemu dengan seseorang yang bertubuh besar,pakai celana pendek berkaos oblong dan nyangklong tas kulit kecil. Tidak ada hujan tidak ada angin,setelah dia naik bus langsung bilang ke kenek bus,anak-anak sekolah yang naik bis ini jangan ditarik bayaran,hitung saja jumlahnya,saya yang mbayari, Si kenek langsung menghitung jumlahnya 15 orang,dan langsung dibayar tanpa tanya berapa jumlahnya,meyodorkan uang begitu saja dan kembaliannya dimasukan tas tanpa dihitung. Sejurus kemudian dia lalu bercerita :”saya punya anak seusia mereka yang saya bayari tadi,usia anak SMA. Ini saya lakukan juga dalam rangka menebus dosa. Dulu saya preman yang ditakuti di surabaya,di kepala saya ada 14 jahitan akibat bertarung kalau tidak percaya”, lalu dia menunjukan luka sayatan di kepalanya. Dia katakan :”Dulu kalau saya naik bis kalau ditarik bayaran keneknya saya ajak ribut,dan semua jadi takut,tapi kini aku sadar,perbuatanku yang dulu memang keterlaluan. Itu sebabnya kalau aku naik bis selalu mbayari anak-anak sekolah,dan tidak pernah nawar berapapun yang diminta kenek.
Saya berpikir,ini barangkali pelajaran hidup yang luar biasa. Dia meman preman,tapi dulu,dia sekarang bertobat dan menebusnya melalui dimensi sosial,habluminannas.Kita memang tidak bisa melihat satu sisi dalam diri manusia,siapakah dia dan bagaimana masa lalunya. Kenyataan saya juga sering menjumpai (bahkan juga di kampus) orang-orang yang pandai ceramah,pandai kotbah,mengisi ceramah agama dimana-mana,tetapi dimensi sosialnya sangat-sangat kurang,bahkan cenderung seperti Sya’labah. Simpulannya kadang apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar sering juga berbeda dengan apa yang dilakukan. Mungkin lebih baik preman yang bertobat dilihat dari dimensi sosial dibanding orang yang dianggap tekun dalam hal agama tetapi nyaris kurang dalam dimensi sosial,padahal kita hidup dalam dimensi sosial.