TRIP BALURAN-KAWAH IJEN-BROMO PART 4

Turun dari bukit cinta yang gagal mendapatkan foto sunrise, lanjut perjalanan menuju kwah Bromo. Perjalanan dari lokasi bukit cinta sudah dihadang dengan kemacetan yang panjang. Untung sopir jip yang kami tumpangi tahu medan cepat menuju kawah ijen dengan potong kompas. Apakah jalannya semulus jalan yang macet ? Jangan ditanya kalau soal jalannya. Jalan yang kami lalui betul-betul menantang nyali. Lebar jalan hanya cukup untuk satu mobil, sementara sebelah kiri tebing sebelah kanan jurang, padahal jalannya ya seperti melewati persawahan. Baru kali ini merasakan naik jip seperti mengikuti off road yang menantang nyali

Masih seperti puluhan tahun sebelumnya, kendaraan pembawa wisatawan akan berhenti di padang pasir yang berlokasi agak jauh dari tangga menuju kawah Bromo. Dari dasar tangga pengunjung harus menaiki sekitar 250 anak tangga untuk menuju kawah. Kali ini saya sengaja tidak naik ke kawah karena yang dilihat juga tidak jauh berbeda. Saya dan keluarga hanya berfoto-foto saja di sekitar gunung. Bagaimana dengan pasir berbisiknya ? Saya lewati saja lokasi pasir berbisik.

Bromonya 1

Bromonya 2

Saya justru tertarik dengan bukit teletubies yang memang belum pernah saya kunjungi. Perjalanan dari tempat parkir menuju bukit teletubies kurang lebih 10 menit dengan melewati pasir berbisik. Kami terus saja menuju bukit teletubis, tetapi berhentinya bukan di tempat orang umum berfoto ria. Kami justru berhenti sebelum di tempat umum, karena lebih leluasa mengambil gambar yang diinginkan tanpa terganggu banyak orang.

Bromonya 3

Bromonya 4

Bukit teletubies memang seperti gambaran yang ada di film Teletubies. Sepanjang mata memandanga warna hijau memenuhi bukit dan padang rumputnya. Bunga-bunga kecil muncul diantara hijauan rerumputan dan semak serta perdu. Rasanya betah berlama-lama di sini kalau tidak dibatasi waktu oleh biro travelnya. Jika ada waktu mungkin perlu mengulangi lagi agar bisa berlama-lama di bukit ini.

(Next  part 5)

Trip BALURAN-KAWAH IJEN-BROMO part 3

Perjalanan dari kawah kembali pulang sudah tidak ingat jam lagi,sudah malas lihat jam karena capai. Perjalanan pulang memang lebih ringan,sudah tidak pernah mengalami ngos-ngosan lagi,tapi lutut yang justru terasa “ngetok-ngetoknya”. Rupa-rupanya rombongan sudah tidak ada yang tertinggal, yang tersisa 4 orang yaitu saya sendiri, adik ipar Anto, bu Susilo yang tetap semangat karena mau membuktikan bisa naik turun,meski sempat terjatuh dan pemilik multy mas Hery. Sepulang dari kawah ijen sampai hotel ternyata menjadi rombongan terakhir. Keterlambatan ini bukan karena jalannya lambat, tetapi karena sepanjang jalan beberapa kali menemukan obyek foto yang menarik yang kadang menggunakan model dadakan bu Susilo.

ijen-a

ijen -1b

Sampai hotel sudah jam 09.00an, langsung makan untuk selanjutnya istirahat. Persiapan tenaga lagi untuk naik ke Bromo. Meskipun sudah bisa membayangkan kalau ke Bromo tidak seberat kawah ijen,karena pernah kesini tahun 2002an, tetapi ya istirahat untuk menjaga tubuh agar tetap fit diperlukan,apalagi informasinya Bromo lebih dingin dibanding Ijen. Jam 12.00 kami check out untuk melanjutkan perjalanan menuju Probolinggo karena memang akan menginap di area yang dekat dengan Bromo, di Cemara Indah Hotel. Chek in di hotel sudah jam 20-an sehingga waktu untuk istirahat tinggal sekitar 4 jam karena lagi-lagi jam 01.00 dini hari direncanakan sudah keluar hotel menuju kawasan Bromo.

img_2925

Sama seperti di Ijen, dari hotel menuju Bromo menggunakan jeep juga,hanya jeep di sini lebih pendek dibanding di Ijen sehingga dengan penumpang 6 orang duduknya sudah kesempitan, yang efeknya lebih pegel di tubuh setelah kembali lagi ke hotel. Tujuan utama di Bromo adalah mencari sunrise, tetapi ya namanya sunrise faktor lucky selalu menjadi hal utama. Pada waktu di ijen tidak bisa mendapatkan sunrise yang diharapkan seperti di si Kunir, di Bromopun tidak mendapatkan gambar yang diharapkan. Kecewa tidak kecewa itulah hal yang harus dihadapi jika terkait dengan faktor alam.

bromo 2

Bromo1

(bersambung)

Antara Savana Bekol,Kawah Ijen dan Bromo (bagian 2)

Pulang dari Savana Bekol langsung masuk hotel, karena sudah capai semalam perjalanan dari Purwokerto lanjut masuk Suaka Baluran. Perjalanan dari Savana Bekol ke hotel di kota Banyuwangi kurang lebih 1 jam. Kami sempatkan makan waktu siang sebelum menuju hotel, yang tidak terbayangkan ramainya karena kebetulan musim liburan, jadi bersamaan dengan anak-anak sekolah yang mau menuju Bali. Hotel yang digunaka untuk istirahat lumayan bersih dan nyaman. Kami harus siapkan kondisi tubuh agar fit karena jam 12 malam nanti akan melanjutkan perjalanan menuju Kawah Ijen. Apakah tidak bisa melihat kawah ijen waktu pagi atau siang ? Yaaaah memang bisa juga, tetapi tim saya kan ingin melihat blue fire. Saya tahu melihat blue fire itu sama seperti melihat sunrise. Naluri fotografer, suasana seperti itu hanya karena faktor keberuntungan, yaitu di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Nunggu matahari terbit saja sudah capai-capai eh…. cuaca tidak mendukung, ya itu sering saya alami.

 

Bagaimana dengan suasana hotelnya ?Sayang saya tidak sempat berfoto di depan hotelnya, lupa karena sudah capai,penginnya langsung istirahat. Saya hanya sempat mengambil gambar di depan restoran terbuka milik hotel bersama mahasiswa PGSD yang sedang menyelesaikan skripsi yang secara kebetulan bareng,itupun baru saya ketahui setelah dalam perjalanan. Namanya Kukuh Intan yang kemudian menjadi model saya dalam perjalanan ini.

Malam jam 12 persiapan perjalanan menuju kawah ijen dengan menggunakan jeep troper yang setiap jeepnya berisi 6 penumpang. Jep yang digunakan sama dengan jep yang digunakan di savana Bekol. Tim saya masih sama,yaitu dengan istri, adik bersama suaminya dan tetangga RT di perumahan. Perjalanan menembus malam menuju titik pemberhentian kendaraan sebelum mendaki dimulai. Perjalanan kurang lebih 1.5 jam dari hotel dan sampai di pos Paltuding jam 02 dini hari. Perjalanan dari hotel masih menggunakan jeep yang disewa pada waktu di Savana Bekol.

Dengan ketinggian mencapai 2.386 m dpl menyebabkan suhu udara sangat dingin terasa di kulit ketika saya mencoba melepas sarung tangan, sangat terasa menggigit. Oleh karena itu jika pembaca ingin ke kawah ijen persiapkan perlengkapan yang memadai,misal sepatu yang daya cengkeramnya bagus,nyaman di kaki dan hangat. Gunakan celana yang tebal,hindari celana jean karena memang nampak tebal tapi justru sangat menyerap udara dingin sehingga sangat terasa di kulit. Siapkan juga jaket tabel atau dobel, scabo atau penutup kepala dan wajah serta telinga juga diperlukan yang sekaligus bisa berfungsi sebagai masker,gunakan juga sarung tangan yang tidak tembus air untuk berjaga-jaga jika turun hujan. Persiapkan juga masker gas, namun jika tidak membawa di pos Paltuding ada persewaan masker dengan biaya Rp.25.000. O ya jangan lupa kenakan juga head lamp karena perjalanan malam ke kawah ijen gelap gulita. Jangan bayangkan ada lampu listrik sepanjang perjalanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar saya tersebut menunjukan itu perlengkapan standar yang diperlukan ketika mendaki ke Kawah Ijen. Mengapa menggunakan masker gas ? Hal ini digunakan untuk antisipasi jika asap naik terbawa angin yang bisa menyebabkan sesak napas. Memang ketika saya di bibir kawah tidak sampai 15 menit tiba-tiba asap membumbung ke atas dan baunya yang menyengat sangat terasa ketika masker belum dipakai. Oleh karena itu masker seerti yang saya pakai memang menjadi perlengkapan standar.

Istirahat sejenak di pos Paltuding,minum kopi dan mie rebus

 

Persiapan mendaki. Jangan heran kami ini para manula yang mau mendaki. Bagi saya ini mengulang masa muda,karena dulu juga pendaki gunung, tapi bagi mereka berlima menjadi pengalaman pertama,dan yang sempat sampai ke puncak hanya 3 orang, saya dengan istri dan suami adik.

Bagaimana kondisi selama perjalanan ? Ikuti part 3nya

(bersambung)

 

Antara Savana Bekol,Kawah Ijen dan Bromo (bagian 1)

Bagi anda yang ingin melakukan wisata sekaligus merasakan avonturir alam, barangkali jalur savana bekol dan kawah Ijen bisa dijadikan alternatif. Wisata di kedua tempat ini harus benar-benar menyiapkan fisik dan juga napas panjang. Memang khusus untuk savana Bekol tidak akanmerasa capai karena tidak ada tantangan fisiknya, tetapi jika ingin lanjut ke Kawah Ijen, maka di sinilah persiapan fisik diperlukan.

Jalur Savana Bekol bisa mengambil rute melalui Pasuruan menuju Banyuwangi jika dari arah barat atau, Banyuwangi menuju Situbondo jika dari arah Bali. Savana Bekol berada di wilayah Cagar alam Baluran yang mikro klimatnya cukup kering. Jika sudah sampai di pos wisata Baluran, bisa menggunakan sewa jip seandainya wisata rombongan menggunakan bus, tetapi jika mobil kecil bisa masuk ke area Savana langsung setelah membayar retribusinya tentunya.

Udara kawasan savana Bekol memang cukup kering dan panas, sehingga terasa seperti masuk rumah kaca jika kita berada di sana pada saat siang hari. Oleh karena itu jika ingin mendapatkan udara yang segar dan nyaman, serta gambar yang bagus,tanpa terpengaruh oleh cahaya flat matahari, datanglah pada pagi hari antara jam 08.00-10.00 atau siang hari antara 15.00-17.00. Apa sih yang dilihat di savana . Jangan bayangkan kita akan melihat pemandangan yang indah. Kita hanya akan melihat lapangan yang tandus dan sangat sangat luas seperti gambar di atas. Sebelum sampai kawasan savana memang banyak pohon, tetapi pohon yang kering kerontang tanpa daun. Bisa jadi pemandangan akan berubah jika datang pada musim hujan, tetapi dari informasi pemandu,memang kawasan ini jarang sekali turun hujan.

Gambar atas menunjukan kawasan hutan dengan pohon tanpa daun. Oleh karena itu kita tidak akan menemukan hijauan di area ini. Ciri tandusnya kawasan ini dengan ditemukannya bioindikator tandusnya lahan,yaitu banyaknya Calotropis gigantea tumbuh di are ini. Kawasan yang layaknya padang pasir tanpa pasir ini menjadi background yang jauh berbeda untuk berfoto ria dibanding hari-hari biasa tentunya. Di kawasan ini kita bisa mencari beberapa spot yang kesannya unik dalam keseharian kita.

Nuansa hijau baru kita peroleh ketika kita sampai di kawasan pantai Bama, yang jaraknya kurang lebih 4 km dari kawasan savana. Di pantai inilah kita bisa menemukan hutan mangrove yang hijau. Nampak kontradiktif sekali jika kita bandingkan kawasan savana dengan kawasan pantainya. Namun jangan berharap kita bisa menemukan pemandangan pantai yang luas dan indah seperti Pantai Menganti seperti yang sudah saya tulis pada artikel sebelumnya. Tidak ada, kecuali hanya pemandangan mangrove yang mengelilingi kita di kawasan ini.

Kenalan baru,pak Susilo dan istri diantara adik dan istri

Perjalanan ini difasilitasi oleh

dan MULTY HOLIDAY TOUR

HUTAN PINUS LIMPAKUWUS

Orang jika mendengar bahasa ngapak yang terpikir adalah 2 tempat, yaitu Banyumas dan Tegal. Kabupaten Banyumas yang beribukota di Purwokerto memiliki banyak destinasi yang cukup menarik. Orang lebih banyak mengenal Baturaden, padahal di sekitar wilayah Purwokerto masih banyak destinasi wisata, salah satunya adalah Hutan Pinus Limpakuwus. Jika anda sudah sering ke Baturaden,ada baiknya meninjau wilayah hutan pinus ini. Route yang paling mudah adalah sebelum gerbang wisata Baturaden ambil jalan belok kanan, kemudian ikuti terus jalan ini sampai di pertigaan peternakan sapi ambil jalan belok kanan (belok kiri menuju lokawisata Baturaden). Di depan gerbang Wanawisata belok kanan, kemudian ikuti jalan sampai ditemukan gerbang Hutan Pinus Limpakuwus yang berada di kiri jalan,setelah melewati Baturaden Adventure Forest dan Telaga Sunyi.

 

Karcis masuk  ke hutan pinus ini memang tergolong murah karena hanya sepuluh ribu per orang dewasa ditambah parkir lima ribu. Nmpak murah kan ? Iya,tapi masih ada ekornya lho. Memang lokawisata ini menawarkan pada wisata alam yang sejuk dan berada di bawah pohon-pohon pinus yang rindang, sementara di kanan kiri jalan menuju obyek akan melewati bermacam-macam tanaman bunga-bungaan. Memang menyenangkan bagi mata. Di sini anda tinggal memilih tempat untuk istirahat, tapi untuk selfi atau berfoto ria ? nah ini ekornya. Sayangnya di setiap spot yang disediakan per orang harus merogoh kocek lagi sebesar lima ribu. Artinya jika kita mau berfoto di 5 spot yang berbeda ya minimal keluar biaya 25 ribu. Jika biaya ini ditambah dengan ongkos karcis masuk ya jadinya terkesan mahal untuk tempat wisata lokal seukuran hutan pinus ini, karena lokasi wisata yang tidak jauh dari lokasi ini dengan jumlah spot foto lebih banyak hanya membayar biaya dua puluh lima ribu tanpa ada tambahan biaya lagi, meskipun obyek yang satu ini lebih mengandalkan pada kreasi culture manusia,bukan alam.

Perkara mahal atau murah memang relatif, Bagi orang Jakarta misalnya harg itu tergolong sangat murah,tetapi bagi warga lokal jika dibanding dengan obyek sejenis bisa jadi menjadi lebih mahal, tetapi bagaimanapun juga jika sekedar ingin melihat hijaun untuk mata ya cukuplah,dengan biaya sepuluh ribu tanpa harus berselfi di spot-spot foto yang berbayar, yang jelas suasananya memang sejuk menyegarkan.

 

 

 

Green tourism menuju Kaligua

Kaligua merupakan area perkebunan teh yang berada di wilayah Kabupaten Brebes. Jika melihat wilayah Brebes memang memiliki alam yang cukup lengkap,mulai dari kawasan panatai sampai kawasan pegunungan. Salah satu tempat wisata yang mengandalakna keelokan alam sekaligus kesegaran hawa pegunungan adalah Kaligua. Kaligua merupakan perkebunan teh peninggalan Belanda yang sudah dirintis sejak tahun 1889.

Kaligua 3

Foto koleksi pribadi pemotretan 2009

Kebun teh kaligua berada di tinggian 1.500 – 2.050 m dpl dengan suhu antara 8 – 28 Celcius. Kebun teh ini merupakan sebuah kebun yang memiliki pemandangan yang sangat asri, hijau dan alami  dan tentunya bebas dari polusi, Perkebunan teh Kaligua  dapat dicapai dalam waktu 30 menit dari kota Bumiayu dengan menggunakan transpotasi umum. Jika anda ingin menuju Kaligua dari arah selatan akan melewati Ajibarang, sebelum Bumiayu tepatnya di pertigaan Jalan Stasiun Kretek atau depan Toko sembako belok kanan, sedang dari arah utara melewati Bumiayu setelah gardu induk belok kiri.

img_4011

Jalan menuju Kaligua memang boleh dikatakan lumayan menantang,sehingga perlu cek kesehatan kendaraan,karena banyak tikungan tajam dan tanjakan yang curam. Anda ga usah menyesal karena kesulitan perjalanan akan terbayar jika sudah sampai di kawasan Kaligua. Udara yang sejuk segar bebas polusi ditambah pemandangan yang indah akan menyambut kedatangan anda. Lebih elok lagi jika datang di kawasan perkebunan saat pagi, yaitu saat aktivitas pemetik teh dimulai,karena banyak obyek yang menarik untuk diambil gambarnya.

Kaligua 1

Foto : koleksi pribadi

Apakah obyeknya hanya kebun teh saja ? Tentu saja tidak. Di area kaligua sudah didesain sebagai destinasi wisata sehingga banyak spot selfie yang tentunya menarik untuk digunakan sebagai background. Sebelum sampai Kaliguapun kita bisa menikmati ikan lele ribuan yang masih hidup alami di Telaga Renjeng. Lokasi Telaga Renjeng berada di daerah sebelum Kaligua jika menuju perkebunan teh, atau sesudah perkebunan jika perjalanan turun atau pulang. Ikan lele ini dimitoskan oleh penduduk setempat sehingga tidak ada yang berani mengambil untuk keperluan apapun. Jangan lupa juga jika kita sampai di Kaligua sempatkan mampir ke pabrik teh yang masih beroperasi penuh dan beli teh kualitas 1 yang hanya dijual di kawasan pabrik atau diexport, tidak ditemukan di pasar bebas di Indonesia. Rasanya tentu saja sedikit berbeda dengan teh sortiran yang kemudian dipasarkan di dalam negeri.

Kaligua 4

Foto : koleksi pribadi

kaligua

Foto : diambil dari bumn.go.id

Surabaya sekarang berbeda dengan dulu

Dahulu ketika saya pertama kali mengunjungi Surabaya sekitar tahun 2008 yang saya lihat adalah kesemrawutan lalu lintas, kota yang gersang dan air sungai yang berwarna hitam dan bau. Sampai beberapa tahun kondisi seperti itu masih tetap tidak berubah. Kondisi Surabaya pelan-pelan berubah saat walikotanya Tri Rismaharini. Kemarin saat saya berkunjung ke Surabaya lagi cukup kagum dengan kondisi yang sekarang.

Semula saya masih membayangkan kota yang panas, lalu lintas yang semrawut yang tidak memberi kesempatan menyeberang pada pejalan kaki,sungai yang hitam dan bau. Ternyata kondisinya sudah berubah jauh karena sungai Kalimas yang tadinya saya bayangkan kotor karena sampah ternyata bersih meskipun airnya masih agak kehitaman tapi tidak berbau.

Saya memang belum berkeliling Surabaya sepenuhnya, baru sebatas sepanjang putaran Kalimas, tetapi nampaknya dimana-mana ditemukan kondisi yang sama. Ikan lele yang besar-besar saja kemarin saya temukan di sepanjang Kalimas tanpa ada yang mengganggu,sepertinya sudah hidup dengan nyaman. Kondisi ini tentu saja berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Kesadaran masyarakat seperti inilah yang diperlukan agar kota nyaman dan ramah untuk penghuninya.

Tulisan dilarang memancing yang saya temukan di taman pinggir Kalimas barangkali bukan sekedar tulisan saja, tetapi benar-benar aturan yang dipatuhi warganya. Saya jadi membayangkan kota saya Purwokerto. Jangankan ikan sebesar lengan, separuhnya saja sudah sulit ditemukan karena ikan kecil-kecilpun sudah ditangkapi atau jadi korban tukang setrom sungai. Sungai yang ada di kota sayapun jangan berharap bersih dari sampah meskipun airnya lebih jernih dibanding Kalimas. Barangkali hitamnya Kalimas karena gelontoran limbah pabrik yang bertebaran di Surabaya, sementara air sunggai Kranji,Banjaran dan Logawa berasal dari mata air.

Surabaya sekarang berbeda dengan Surabaya dulu. Surabaya sekarang sudah memberi ruang pada pejalan kaki,terutama untuk ruang pedestriannya, meskipun jika menyeberang masih harus bermental baja,karena kendaraan,terutama motor, susah memberikan kesempatan pada pejalan kaki dengan memperlambat lajunya,misalnya. Oleh karena itu jika mau menyeberang di Surabaya carilah jembatan penyeberangan, tetapi jika tidak ya memang harus nekad. Selain kondisi yang sudah disebutkan di atas, bagian yang memanjakan mata adalah ditemukannya taman-taman baik besar maupun kecil di seluruh wilayah di Surabaya. Bahkan banyak pot-pot bunga bergelantungan di sepanjang jalan. Surabaya memang sudah berbeda. Salut untuk walikotanya ***(Eka PGSD UMP)

Dark Cave dan Batu Caves

(Sambungan Dark Cave dan Gua Jatijajar)

Setiap pengunjung wisata Malaysia jika ke Batu Caves memang kebanyakan ya hanya ke tempat tersebut. Meskipun Dark Cave ada di sebelah Batu Caves,namun cenderung orang jarang mampir ke Dark Cave,apalagi memang kondisi gua dibiarkan alami karena sebagai situs perlindungan. Hanya orang yang berjiwa petualang saja yang penasaran dengan Dark Cave,karena kondisi di dalam yang memang gelap hgulita,sehingga orang yang cenderung ingin selfie di tempat wisata tidak akan terpenuhi di tempat ini.

Ngumpulin biaya traveling bisa lewat cara ini. Klik di sini cariduit

Sebelum cerita tentang lanjutan Dark Cave saya ingin cerita dulu tentang sekitar Batu Caves yang memang menjadi tempat ritual umat Hindu,khususnya yang berasal dari India. Kebetulan saat saya akan ke Dark Cave ada semacam ritual tahunan yang diselenggarakan umat Hindu,hanya tidak tahu persis nama ritulanya, Barangkali moment seperti inilah yang ditunggu oleh wisatawan yang berkunjung,karena memberikan nuansa yang berbeda.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kembali ke Dark Cave, sebagai wisata alam yang dilindungi Dark Cave memang cukup terjaga, ini dapat dilihat dengan campur tangan manusia yang hanya berupa pembuatan jalan saja di dalam gua,sementara asesoris yang lain seperti yang ada di Gua Jatijajar kebumen tidak ada, apalagi dengan tambahan lampu,sama sekali dibiarkan gelap gulita,sehingga jangan heran jika tiba-tiba hp yang kita bawa kejatuhan PUPnya para kelelawar yang bergelantungan di atas gua. Gua ini menawarkan eksotisme fauna gua yang punya ciri khusus yang tidak akan dijumpai di luar gua, seperti jenis jangkrik,lipan,laba-laba yang semua kakinya berukuran 2 kali lipat panjang kaki hewan yang sama yang berada di luar gua. Namun demikian Dark Cave yang berada tepat di samping Batu caves menjadi tempat tersendiri yang layak dikunjungi oleh pecinta wisata pure nature. (Purwokerto,26 Januari 2019