KETIKA ATLIT BERHIJAB DILARANG DI NEGERI INI

Sebuah kejadian yang cukup mengherankan terjadi lagi di negeri ini. Seorang pelajar SMP saat mengikuti O2SN tingkat SMP di cabang renang yang dilakukan di Malang didiskualifikasi gara-gara tetap kukuh memakai pakaian renang muslim. Hebatnya meskipun sudah didiskualifikasi si anak tetap melakukan start karena dalam lomba start memang harus dilakukan. Kejadian ini menjadi sebuah ironi ketika di dunia Internasional sudah mulai longgar dengan mengijinkan atlit-atlit berhijab (meskipun sebagian masih ada yang melarang), tetapi di negeri yang mayoritas muslim justru melarang. Jika kita lihat kembali ke pendidikan katakter anak bangsa,maka kukihnya si anak menunjukan keberhasilan pendidikan akhlak, tetapi anehnya justru institusi pendidikan sendiri yang menolak.

Kejadian ini mempertunjukan bagaimana sebenarnya sebagian dari tenaga pendidik ini ingin membangun karakter anak. Ini bukan soal isu SARA, tetapi sekali lagi saya menyoroti dari sisi membangun karakter atau akhlak anak. cukup mengherankan jika yang seperti ini dilarang tetapi justru sikap anak-anak yang masih SD saja semprot-semprotan cat saat merayakan kelulusan dibiarkan. Mengharukan jika pendidikan keagamaan yang berhasil dilarang,tetapi perusak moral justru dibiarkan. Rupanya ada yang salah dalam otak sebagian tenaga pendidik di negeri ini.

Saya kemarin baru saja mengunjungi sebuah obyek wisata. Ada kejadian yang membuat saya tersodok ketika melihat seorang guru dengan santainya merokok dikelilingi anak didiknya yang masih SD. Beberapa tahun yang lalu saya justru menegur seorang guru yang melatih upacara anak didiknya yang masih SD sambil merokok. Seperti inikah yang kita harapkan dari tenaga pendidik ? kita gencar gembar gembor tentang merokok itu tidak baik, kita mencoba mencegah agar anak-anak tidak mengenal rokok,tapi apa jadinya justru guru yang seharusnya menjadi tuntunan hanya sekedar tontonan yang menarik untuk diikuti. Ini,ah yang kita kehendaki.
Kembali ke soal atlet tadi, sungguh alangkah mengherankan jika dunia pendidikan sendiri yang akan mengenalkan anak didik untuk meninggalkan aqidahnya. RUpanya panitia O2SN tingkat SMP di Malang perlu diberi pencerahan agar mampu berpikir baik tentang pendidikan akhlak, dan kembali ke jalan yang benar. Semoga kita bisa belajar bersama untuk saling menghargai kepercayaan dan aqidah masing-masing tanpa memaksakan kehendak.

YU SANTINET

CERPEN BERSAMBUNG

Pak Darwin dan Yu Santinet merupakan pasangan setengah harmonis. Yu Santinet sebetulnya tidak cinta dengan Kang Darwin. Kok bisa nikah ? Karena terpaksa. Terpaksa menerima. Ceritanya keduanya adalah teman sekolah. Sejak kls 2 di sebuah SMA di Purwokerto Kang Darwin sudah ceblok demen dengan yu Santinet,tapi bertepuk sebelah tangan. Pernah Kang Darwin memgancam terjun dari jembatan kali Pelus,tapi yu Santinet tidak peduli,malah pergi ke Maluku cari kerja sekaligus menghindar, dan KANG Darwin nekad juga terjun,untungnya bisa diselamatkan. Tahu sudah direwangi terjun yang dicintai telanjur pergi sehingga tdk melihat, akhirnya mencari informasi. Kang Darwin begitu tahu posisi yu Santinet berada akhirnya menyusul ke Maluku.               Kang Darwin setelah muter-muter di Ambon akhirnya ketemu juga dengan yu Santinet yang bekerja di pabrik pengolahan kayu. Dengan berbagai upaya bujuk rayu dan sedikit unsur pemaksaan yu Santinet akhirnya bersedia diajak pulang,dan mau menikah dengan kang Darwin dengan syarat disediakan warung nasi ramesan. Kang Darwin meskipun sebenarnya tidak bekerja dan orang tua juga tidak berpunya menyanggupi permintaan yu Santinet demi bisa menikah dengan pujaan pikirannya. Kang Darwin berprinsip lautan saja diseberangi bisa masa cuma menyediakan warung ramesan tidak bisa,entah dengan cara apa dan bagaimana,tidak tahu, yg penting menggunakan ilmu JUSTRU ITU. Yu Santinet akhirnya pulang ke mbanyumas bareng kang Darwin.

Tapi sampai Purwokerto kang Darwin ternyata…..

(bersambung)

REPUBLIK ANEH-ANEH

Beberapa tahun yang lalu,mungkin lebih dari 15 tahun di Indonesia muncul Republi Aeng-Aeng yang dikomandani Mayor Haristanto,dan sampai sekarang masi eksis. Pimpinan RAA saja sudah mengandung nama aeng (aneh),meskipun bukan tentara bukan polisi tetapi menyandang nama Mayor. Mayor ini bukan pangkat,tetapi memang nama manusia. Jika kemudian yang ditelorkan RAA memang banyak yang aneh ya wajar,namanya saja Republik Aeng-Aeng (aneh-aneh),tetapi bagaimana kalau yang aneh-aneh justru dikeluarkan oleh pejabat kita,mungkin itu jadi tidak wajar.
Kita tentua ingat kasus Zaskia gotik yang menghina Pancasila. Banyak cibiran dan caci maki ditujukan kepada Zaskia. Media sosial ramai-ramai membully dan menuntut agar diadili. Sebagian membela karena tingkat pendidikannya yang rendah,meskipun tidak ada hubungan pendidikan yang rendah dengan penghinaan lambang negara. ppengacaara yang membela mengatakan bahwa istilah bebek nungging muncul karena spontanitas,tidak ada maksud sengaja untuk menghina. Berlanjut ke pengadilankah ? Tidak. Kasus akhirnya ditutup dengan diangkatnya Zaskia sebagai Duta Pancasila.
Kasus kedua ramai di media sosial ketika Sonya Depari yang siswa SMA klas tiga membentak-bentak Polwan dan mengaku anak jendral pentolan BNN sehabis konvoi selesai ujian. Kasus ini menjadi ramai di media sosial dan menyebabkan si anak di bully di medsos karena sikapnya,terlebih setelah terbongkar bahwa dia hanya mengaku-ngaku saja. Kasus ini membawa korban dengan meninggalnya sang ayah. Kasus dianggap selesai dengan diangkatnya Sonya menjadi Duta Anti Narkoba. Kedua contoh kasus tersebut memberikan pelajaran karakter yang buruk bagi anak-anak kita. Kesan yang muncul kalau ingiin diangkat menjadi contoh warga bangsa berbuatlah yang buruk. Para pejabat yang mengangkat para duta tersebut mungkin tidak berpikir bahwa apa yang dia lakukan akan menjadi contoh. buruk bagi anak-anak atau warga bangsa ini.
Melihat kasus tersebut tentunya wajar jika dalam pikiran anak-anak bangsa ini muncul pikiran,jangan-jangan remaja yang menduduki patung pahlawan nanti bukannya dibina atau dihukum, tapi juga diangkat jadi DUTA, entah duta apa yang terkait dengan nilai kepahlawanan. Bisa jadi. mahasiswa yang membunuh dosennya gara-gara skripsi diangkat menjadi Duta Skripsi, besok lagi muncul Duta-duta baru dari perilaku yang buruk sebagian rakyat kita. Ada yang salah dengan pendidikan karakter di negeri ini, dan dari mana memulainya cukup susah mengurai benang kusut ini. Apakah pendidikan karakter di sekolah yang salah atau nilai-nilai di masyarakata yang bergeser ke arah yang tidak wajar yaang akhirnya menjadi wajar. Korupsi pada akhirnyaa menjadi wajar kalau dilakukan oleh anggota dewan yang terhormat,meskipun sudah puluhan yang berurusan dengan KPK. REPUBLIK INI MEMANG ANEH-ANEH KINI.  

TELEVISI INDONESIA MENGECEWAKAN

Televisi INDONESIA sungguh mengecewakanKetika anak Indonesia umur 7 tahun berhasil menang dalam lomba hafiz di bawah 12 tahun tingkat Internasional sepi dari pemberitaan. 

Ia tidak butuh dukungan sponsor bermilyar-milyar untuk ikut lomba.

Ia tidak butuh dukungan menteri untuk meminta memotong gaji PNSnya.

Ia tidak butuh dukungan SMS jutaan orang untuk memenangkannya.

Ia tidak butuh jutaan like untuk meraih kejuaraannya

dan ia tidak mendapat hadiah mobil dari sponsor seperti layaknya juara-juara idol.

TAPI IA TIDAK DISAMBUT GEGAP GEMPITA OLEH TELEVISI KITA, SEOLAH BUKAN BERITA LUAR BIASA.

padahal IA TELAH MENGHARUMKAN NAMA BANGSA

Bahkan PRESIDEN MESIRpun akan mengundang dan memberi hadiah secara khusus.

Hanya Presiden Jokowi yang sempat memberikan apresiasinya lewat cuitan di twitter, tapi saya masih menunggu apakah ia akan mengundang ke ISTANANYA.

karena MENTERI AGAMAPUN masih diam seribu bahasa.

SUNGGUH MENGECEWAKAN. 

 

GERHANA MATAHARI: PENGARUH TEKNOLOGI TERHADAP MITOSNYA

Gerhana matahari total (selanjutnya disebut GMT) akan muncul lagi besok tanggal 9 Maret 2016. Pemerintah Indonesia telah berupaya dengan berbagai cara agar momen ini menjadi momen pariwisata internasional. Langkah yang ditempuh ini nampaknya berbeda dengan apa yang dilakukan pemerintah pada peristiwa yang sama sebelumnya. Gegap gempitanya GMT saat ini berbeda dengan gegap gempitanya puluhan tahun yang lalu.GMT sebenarnya peristiwa alam biasa saja, yang tidak biasa adalah kemunculannya yang cukup lama di tempat sama,meskipun dalam satu wilayah bisa dihitung dalam beberapa tahun. Indonesia sendiri sudah sering melihat fenomena GMT,bahkan pada abad 19 sudah nampak pada tahun 1901. Wilayah yang mendapat fenomena GMT pada 18 Mei 1901 adalah Padang, Jambi, Pontianak, Balikpapan, Samarinda, Palu, dan Ambon. Berikutnya pada 14 Januari 1926 di wilayah Bengkulu, Palembang, Pangkal Pinang, Bangka Belitung, dan Pontianak. Tanggal 9 Mei 1929 daerah Aceh dan Sumatera Utara. Wilayah selanjutnya Manado dan Maluku Utara pada tanggal 13 Februari 1934, kemudian Palu dan Papua pada tanggal 4 Februari 1962.

Fenomena langka ini terjadi lagi tanggal 11 Juni 1983 di daerah Yogyakarta, Semarang, Solo, Kudus, Madiun, Kediri, Surabaya, Makassar, Kendari, dan Papua. Berikutnya tanggal 22 November 1984 terjadi lagi di Papua. Palembang, Bengkulu, Pangkal Pinang, dan Bangka Belitung melihat GMT selama 2 menit 19 detik pada tanggal 18 Maret 1988, dan kembali lagi tanggal 24 Oktober 199 di Sangihe dengan waktu 1 menit 53 detik. Indonesia tahun ini melihat fenomena GMT lagi besok tanggal 9 Maret 2016 di wilayah Palembang, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, dan Ternate.

Dari semua kejadian yang ada tersebut,fenomena terlama nampaknya yang terjadi pada tahun 1983, yaitu sekitar 30 menit dari mulai awal sampai berakhirnya GMT. Sayangnya kejadian terlama pada tahun 1983 tersebut sedikit memprihatinkan terkait dengan munculnya mitos yang menyesatkan dan juga memalukan dalam kacamata ilmu pengetahuan. MITOS tentang GMT memang sudah berabad-abad ada di Indonesia, tetapi pengaruh mitos tersebut nampaknya bergeser sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Penulis masih ingat ketika ada fenomena gerhana matahari sebagian pada tahun 60an hampir semua anak-anak pada masa itu diminta memukul kentongan sampai mataharinya muncul kembali. Pada masa itu mitos yang berkembang adalah bahwa matahari dimakan oleh raksasa,maka agar matahari dimuntahkan lagi harus dibuat keramaian. Mitos itulah yang kemudian membuat suasana hiruk pikuk dengan tambuhan kentongan dan lesung di hampir semua tempat.

Fenomena GMT pada tahun 1983 memang sudah tidak dibarengi dengan tabuhan kentongan lagi,nampaknya mitos itu sudah mulai hilang dari kepercayaan penduduk. Pada masa itu pemerintah dengan gencar menyosialisasiskan melalui surat kabar dan TVRI yang pada masa itu menjadi satu-satunya televisi di Indonesia,itupun masih hitam putih,dan masih sedikit yang memiliki,tidak seperti sekarang ini,internet belum ada,apalagi HP.

Sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah sayangnya banyak yang ditelan mentah-mentah oleh sebagian rakyat yang kurang pemahamannya. Pemerintah pada waktu itu menyosialisasikan bahwa melihat GMT akan dapat menyebabkan kebutaan, dan bagi para peneliti sebaiknya menggunakan kacamata yang dilapisi dengan film yang digosongkan (sayang sekarang fotografi sudah tidak menggunakan film,sehingga susah mencarinya). Konsep bahwa melihat GMT akan menyebabkan kebutaan itulah yang pada waktu itu membuat banyak rakyat kebanyakan bersembunyi di kolong meja,tempat tidur dan sebagainya. Nampaknya sosialisasi yang ditempuh pemerintah pada masa itu salah sasaran.

Penulis sendiri pada taun 1983 juga terlibat dalam penelitian GMT untuk membuktikan hipotesa exogen dan endogen,yaitu untuk memastikan apakah makhluk hidup yang keluar pada waktu malam dipengaruhi oleh faktor cahaya matahari ataukah karena adanya jam biologi pada makhluk hidup tersebut. Hasil penelitian memang menunjukan bahwa kedua hipotesa itu berjalan,artinya ada yang dipengaruhi oleh cahaya matahari ada pula yang dipengaruhi oleh jam biologi. Pengamatan yang dilakukan dengan merekam makhluk hidup dan juga proses perjalanan GMT dengan pelindung film yang digosongkan memang ampuh untuk menangkal efek cahaya GMT, tapi sayang justru hal inilah yang tidak tersosialisasikan ke masyarakat secara umum,sehingga pada tahun 1983 suasana di luar rumah justru sangat lengang karena ketakutan.

GMT pada tahun 2016 ini sangat jauh berbeda kondisinya dengan waktu sebelumnya. Kondisi ini barangkali juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi,diantaranya dengan adanya arus informasi melalui jaringan internet dan banyaknya masyarakat yang mempunyai smartphone untuk mengakses internet guna mendapatkan informasi tentang GMT. Kemunculan GMT pada tahun 2016 ini memang tidak segegap gempita tahun-tahun sebelumnya,namun arahnya yang mulai bergeser seiring dengan hilangnya mitos akibat teknologi serta munculnya pemahaman baru di sebagian rakyat kebanyakan. Pemerintah pada tahun ini justru menyosialisasikan sebagai sarana wisata bagi turis,baik wisnu maupun wisman.

Nampaknya orang tidak lagi merasa asing dengan fenomena GMT,meskipun generasi muda belum pernah mengalami,tetapi dengan adanya jaringan internet yang cukup mudah diakses hingga pelosok desa membuat masyarakat memahami dari sisi sains lebih baik lagi, dan hilanglah segala mitos,mulai dari mitor raksasa penelan matahari sampai ketakutan berlebihan seperti pada tahun 1983, artinya memang ada korelasi antara perkembangan sains dan teknologi dengan pemahaman terhadap fenomena tersebut.

INDONESIA akan mengalami GMT lagi besok pada tahun 2026,dan kita tidak tahu seperti apa teknologi di masa itu. Perkembangan teknologi memang luar biasa cepat,yang dahulu membutuhkan waktu dalam hitungan tahun,kini sudah dalam hitungan bulan. Siapa mengira bahwa pada masanya wartel akan hilang yang dahulu bisa menjadi sumber penghasilan. Siapa yang mengira bahwa handphone sangat murah yang pada masa awal nomornya saja cukup mahal,dan kini bahkan gratis. Apa yang akan terjadi pada GMT tahun 2026 nanti juga akan susah diprediksi bagaimana pengaruh teknologi terhadap pemahaman masyarakatnya. Mudah-mudahan tulisan kecil ini sedikit bermanfaat.

  
******

Karma Iswasta Eka

DOSEN PGSD UMP,peneliti GMT tahun 1983

Mantan Tim MBS DirjenDikti dan UNESCO 2008-2014

HOAX MASIH BERKELIARAN

Anda mungkin sering melihat fanpage yang dibagikan yang mengundang rasa penasaran,misalnya ketik angka 1 pada gambar (misal ular besar atau gaambar optic illusion), lalu bagikan (share) dan lihat apa yang terjadi. Apa yang anda lakukan dengan menklik sebetulnya tidak akan mengubah apa-apa, tetapi anda sudah ngelike dan share. Biasanya yang dibagikan untuk di like adalah yang berdekatan dengan suasana hati,misal gaambar yang mengundang rasa iba,menyedihkan,bahkan terakhir menggunakan idiom-iidiom agama, karena biasanya idiom agama secara emosional akan cepat mengundang simpati. Lalu untuk apa semua like dan share itu. Sebenarnya sudah pernah saya tulis juga dulu, tetapi barangkali perlu saya bagikan lagi. Cara-cara tersebut sebenarnya sekedar trik untuk mendapatkan like dan share sebaanyak-banayaknya. Makin banyak like dan share makin mahal fanpage tersebut,yang bisa digunakan untuk kepentingan komersial. Artinya jika kita ngelike dan share sebenarnya kita sedang memberikan saham secara cuma-cuma kepada pembuat fanpage tersebut. 

Oleh karena itu anda harus hati-hati jika mendapat kiriman yang anda tidak tahu kebenaran sumber aslinya, karena banyak cara dilakukan, mulai dari optic illusion, foto mentakjubkan seperti orang berdoa di makam Uje, awan berbentuk naga, penampakan UFO (Unidentified Flying Object), sampai urutan angka 1234546 dst. Jadi jangan sembarangan ngelike atau ngeshare yang tidak pasti anda kenal, like dan share yang pasti-pasti saja yang anda kenal. Hal ini saya tulis lagi karena kini mulai banyak lagi saya membaca status like dan share yang mengarah pada trik mendapatkan uang.

Semoga bermanfaat.

KEBUN RAYA BATURADEN : AWAS SELFIYER DESTROYER DATANG.

Kasus rusaknya taman Amarylis di gung kidul rupa-rupanya tidak menjadi sebuah pelajaran yang berharga, dan lagi-lagi pelakunya pasukan selfie wanita. Taman Amarylis yang keindahannya heboh luar biasa setelah beberapa hari diunggah di media sosial kini juga menimpa Kebun Raya Baturaden.

Kebun Raya Baturaden  diresmikan oleh Megawati selaku ketua Yayasan Kebun Raya Indonesia pada tanggal 20 Desember 2015.. Peresmian kebun raya yang berada di bawah pengelokaan Pemprov Jateng tersebut, ditandai dengan pemukulan lesung dan penandatanganan prasasti.
Hadir dalam acara tersebut, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, dan Wakil Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Akhmadi Abbas.
Megawati dalam kesempatan itu mengaku bersyukur, bahwa Kebun Raya Baturraden yang sebenarnya sudah digagas sejak ia masih menjabat sebagai Wakil Presiden RI, akhirnya diresmikan. ”Ketika saya dikabari bahwa Kebun Raya Baturraden akan diresmikan, hati saya rasanya nyess, adem,” jelasnya.
Dia mengaku menunggu cukup lama, agar Kebun Raya Baturraden diresmikan. Dia pertama kali mengungkapkan harapan itu, saat Jateng masih dipimpin Gubernur Mardiyanto atau sekitar 12 tahun. ”Karena itu, saya sangat bersyukur Kebun Raya Baturraden ini akhirnya bisa diluncurkan,” katanya.

Namun cerita kebun raya menjadi lain ketika mulai dijadikan ajang selfie para remaja,dan mulai diunggah ke media sosial. Berbondong-bondong pasukan selfie akhirnya mendatangi kebun raya. Semula masih berjalan normal,mereka yang datang terdahulu masih menjaga keindahan taman bunga itu. Makin lama makin banyak pasukan selfie yang tidak tahu etika. Mereka sekedar ingin selfie tanpa mempedulikan keawetan keindahan yang menjadi background mereka. Pasukan selfie bermoral perusak itu mulai mnghasilkan korban alam. Taman bunga itu mulai rusak, dan perusaknya mayoritas memang para wanita muda yang berselfi ria.  Nasib kebun raya Baturaden pada akhirnya tidak jauh beda dengan kebun Amarylis di Gunung kidul. Kapan sikap mereka berselfie dengan mengedepankan etika dan sopan santun terhadap alam dimulai ?  Entahlah, dan itulah karakter remaja kita yang betul-betul memprihatinkan. Sudah saatnya ada sanksi untuk mereka, misalnya ditangkap dan wajib memperbaiki kembali.

  
(Gambar dari brilio.net)

   
    

  
 

DESA LUMBUNG PADI TANPA API

Penghujung bulan Nopember yang lalu,tepatnya hari Senin tanggal 30 Nopember 2015 telah diselenggarakan Konferensi Perubahan IKLIM yang diselenggarakan oleh PBB di Paris. Lebih dari 40000 peserta hadir untuk mengikuti kegiatan tersebut,termasuk para pemimpin dunia baik dari negara maju maupun berkembang. Para negosiator hadir dalam pertemuan yang lebih dikenal dengan nama 21st Conference on Parties (COP 21) for United Nation Framework Convention for Climate Change. Tujuan COP 21 adalah untuk mendapatkan kesepakatan hukum yang bersifat mengikat dengan partisipasi banyak negara untuk mengendalikan pemanasan global. 
Ada 4 hal penting yang disepakati dalam COP 21 setelah konferemsi iti berakhir, yaitu ;,1) Menyepakati batas kenaikam suhu rata-rata global di bawah dua derajat Celcius untuk pra industri dan berupaya menekannya hingga suhu 1,5 derajat Celcius. Ini dianggap signifikan mengurangi risiko dampak perubahan iklim. 2) Para pihak yang terlibat dalam menekan emisi gas rumah kaca dilakukan secepat mungkin dengan cara mengembangkan tenologi dan menyerap karbon. 3) Isi penting dalam poin kedua juga harus mendung upaya pembangunan berkelanjutan dan pemberantasan kemiskinan. 4) Sebelum pertemuan COP selanjutnya pada 2025 secara kolektif bakal menetapkan pendanaan 100 miliar dolar AS pertahun untuk menekan perubahan iklim.

Negosiasi di Paris tidak hanya fokus pada komitmen untuk mengurangi gas rumah kaca, tetapi juga aspek keuangannya. Pertemuan sebelumnya telah menetapkan komitmen negara-negara maju untuk membantu negara berkembang mengantisipasi perubahan iklim melalui pembangunan berkelanjutan, sebesar US$ 100 miliar per tahun mulai tahun 2020. Dari mana sumber uang yang menjadi titik negosiasi utama? Apa peran yang akan dimainkan kalangan bisnis? Hal-hal itulah yang sebenarnya paling utama dalam pertemuan di Paris.

Terlepas dari itu semua banyak hal yang dapat dilakukan oleh masyarakat dalam skala mikro untuk mengendalikan pemanasan global yang sudah berjalan sejak tahun 1880 dan makin mengkhawatirkan sejak era 1990-an. Kekhawatiran itu makin memuncak ketika dari hasil studi ditemukan bahwa sebagian gletser di kutub utara mulai mencair,termasuk juga kawasan es abadi di puncak Himalaya, diikuti dengan meningkatnya permukaan laut di segala penjuru dunia.

Jika merunut ke belakang maka pemanasan global justru dimulai oleh negara-negara maju dengan revolusi industrinya, dan menghilangnya sebagian hutan mereka. Sayangnya saat negara-negara berkembang baru akan memanfaatkan sumber daya alamnya (dalam hal ini hutan) keburu pemanasan global makin parah sehingga negara maju menuntut agar negara-negara berkawasan hutan luas tetap mempertahankannya sebagai paru-paru dunia dengan konsekwensi mereka membayar biaya tersebut.

Sayang, Indonesia justru pada tahu 2015 menjadi penyumbang gas rumah kaca paling besar dengan terjadinya kebakaran hutan dan lahan, baik yang disengaja maupun karena faktor alam. Sumbangan kabut asap dari wilayah Sumatra dan Kalimantan ini pada akhirnya akan meningkatkan suhu udara juga yang pada akhirnya berdampak pada perubahan iklim, tetapi apakah hanya dari kebakaran hutan dan lahan yang menyumbang kabut asap ? Jawabannya tidak.

Kita lupa bahwa pembakaran yang menghasilkan kabut asap tidak hanya kebakaran hutan dan lahan. Ada faktor lain yang kurang diperhatikan,namun jika dalam jumlah banyak tentu saja juga akan menjadi penyumbang gas rumah kaca, yaitu pembakaran jerami di sawah pasca panen. Perilaku semacam ini sudah berlangsung sejak tahun 1990-an,yang sebelumnya nyaris jarang dilakukan oleh petani.

Sebelum tahun 1990, rata-rata petani kita tidak membakar jerami di sawah,tetapi dimanfaatkan untuk kebutuhan lain,seperti membuat molase, menanam jamur merang dan sebagainya,sedangkan sebagian sisanya dipendam kembalj ke tanah. Namun setelah tahun 1990 entah dimulai dari siapa dan dari mana banyak petani yang membakar jerami di sawah selepas panen.

Cara yang ditempuh oleh petani ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pembakaran lahan untuk membuka kawasan tanam baru,yaitu mempercepat proses dan menekan beaya. Dengan cara membakar sisa jerami di sawah petani tidak lagi mengeluarkan tenaga untuk mengangkut sisa panenan,entah untuk dibuang atau yang lain,sekaligus tidak perlu menunggu waktu.

Cara tersebut memang efisien,tetapi dampak yang ditimbulkan tidak terpikirkan. Dengan membakar jerami di lahan sawah sesungguhnya akan mematikan mikroorganisme tanah yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk pengolahan lahan, sehingga mengurangi kesuburan tanah. Dampak yang lain adalah dengan dihasilkannya asap yang tentunya akan ikut menyumbang gas rumah kaca. Bisa dibayangkan jika pembakaran di sawah dilakukan secara serentak dalam jumlah jutaan hektar sawah,mungkin efeknya tidak jauh berbeda dengan pembakaran lahan dan hutan seperti pada saat musim kemarau yang lalu.

Kita mengetahui itu semua,tetapi sampai saat ini masih membiarkan begitu saja. Sudah selayaknya manajemen desa tanpa api tidak hanya diterapkan untuk kawasan sekitar hutan saja,tetapi juga areal persawahan. Konsep desa tanpa api bukan seperti kegiatan nyepi yang tidak boleh ada api, tetapi hanya sekedar menghindari penggunaan api untuk pembukaan lahan. Konsep desa tanpa api semestinya juga diterapkan di desa sekitar areal persawahan sehingga dapat menekan peningkatan gas rumah kaca,yang dampaknya pada pemanasan global.

Jika konsep desa tanpa api bisa diterapkan dalam beberapa aspek kegiatan yang selama ini dilakukan maka diharapkan perubahan iklim yang disebabkan oleh pemanasan global setidaknya dapat dikendalikan. Tanpa upaya bersama antara pemerintah dengan rakyatnya maka usaha menekan emisi gas rumah kaca akan sia-sia, dan kita tinggal menunggu waktu hilangnya puluhan,bahkan mungkin ratusan pulau Indonesia akibat naiknya permukaan air laut.

PERAN ORANG TUA DALAM KEGAGALAN PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA DIGITAL

Ki Hadjar Dewantara mengajarkan pada kita bahwa pendidikan itu ada pada tri pusat, yaitu pendidikan dalam keluarga, pendidikan dalam sekolah dan pendidikan dalam masyarakat. Artinya keberhasilan pendidikan tidak bisa diserahkan pada sekolah saja,orang tua tahu beres, karena bagaimanapun juga waktu di sekolah lebih pendek dibanding waktu di rumah dan di masyarakat. Sayangnya era sekarang ini yang serba digital orang tua justru banyak yang abai dengan pendidikan anak di kingkungan keluarga dan masyarakatnya, karena menganggap orang tua sudah mencukupi segala kebutuhan anak,sedang orang tua tidak campur tangan dengan alasan semua sibuk. 
Apa yang terjadi saat ini, di era digital, barangkali tidak bisa jika orang tua hanya menyediakan semua fasilitas mulai dari smartphone, laptop dan lainnya, sementara pendidikan diserahkan sepenuhnya pada sekolah. Seringkali terjadi apa yang diajarkan di sekolah bertolak belakang dengan apa yang diterima di rumah. Contoh sederhana sekolah mengajarkan kedisiplinan,tertib berlalu lintas dan yang terkait dengan hal tersebut, tetapi di rumah orang tua mengajarkan pada anak bagaimana melanggar aturan itu. Pelanggaran dimulai dari yang kecil,misal menerobos lalu lampu lalu lintas pada saat mengajak anak naik motor atau mobil, masuk jalur bus way,berhenti di daerah ruang henti roda dua (padahal naik mobil), parkir di depan larangan parkir, dan contoh-contoh kecil lainnya seperti merokok di depan anak,padahal di sekolah diajarkan untuk tidak merokok.

Fenomena tersebut menunjukan bahwa apa yang diajarkan di sekolah dalam pendidikan karakter bagi anak justru dimentahkan oleh orang tua sendiri dengan contoh perilakunya di depan anak. Oleh karena itu tidak sepantasnya jika kegagalan membentuk karakter anak ditumpahkan pada pundak sekolah bahwa sekolah gagal dalam membentuk karakter anak.

Kemajuan teknologi memang tidak bisa dibendung di era sekarang ini,bahkan anak kecilpun kini sudah pintar berselancar di dunia maya akibat fasilitas smartphone yang diberikan orang tua. Tahukah orang tua untuk apa saja smartphone tersebut. Peristiwa kecil yang akan penulis sampaikan ini barangkali perlu untuk direnungkan.

Suatu saat penulis mendapat keluhan dari orang yang melihat anak tetangganya yang masih kelas 1 SD melihat gambar-gambar porno di hpnya, tahukah orang tua si anak dengan aktivitas itu ? Ternyata tidak. Memang gambar porno bisa muncul dimana saja sekarang ini,mulai dari bentuk virus,status dan seabreg type cara munculnya. Di media sosial saja sering muncul tanpa diundang karena ada tag dari teman yang juga tidak merasa mengunggah. Artinya apa yang diketahui orang tersebut tentang apa yang dilihat si anak bisa jadi gambar yang disimpan,bisa juga gambar yang muncul dengan tidak disengaja oleh anak.

Ada sebuah cerita yang lain yang lebih miris. Ada anak kelas 2 SD yang cerita bahwa dia punya saudara sepupu yang masih kelas 5 sudah dibelikan laptop orang tuanya dan dalam laptop tersebut punya simpanan video xxx sangat banyak hasil mengunduh melalui mbah Google. Si anak pernah diajak saudaranya itu untuk nonton bersama,tetapi kemudian pergi karena katanya ada yang aneh dengan alat vitalnya, dan sekali itu saja dia menonton, karena merasa tidak nyaman. Ini cerita seorang guru yang mendapat cerita dari anak didiknya yang kelas 2. Apakah kedua orang tua bekerja ? Ternyata tidak juga,karena si ibu kerja di rumah membuka usaha. Kasus tersebut barangkali bukan satu-satunya,mungkin banyak anak-anak yang seperti itu, dan mungkin ini hanya sebuah fenomena gunung es yang kita tidak tahu seberapa banyak anak-anak usia SD yang sudah dengan mudah mengakses video yang masuk dalam katagori dewasa.

Apakah kita menyalahkan kemajuan teknologi ? Tentu saja tidak bisa. Apakah kita kemudian mengatakan bahwa itu tanggung jawab sekolah? Ini tidak adil juga mengingat aktivitas itu justru dilakukan di rumah.

Dalam kehidupan sehari-hari yang tidak terkait dengan teknologi informasi adalah karakter kedisiplinan, contoh kasus misalnya soal berkendara. Betapa banyak orang tua merasa bangga jika anaknya yang masih SD sudah bisa naik kendaraan bermotor. Berkali-kali penulis berpapasan dengan anak kecil yang kakinya saja belum sampai ke tanah saat naik motor sudah berkendara di jalan,bahkan tragisnya lagi memboncengkan anak yang lebih kecil dua orang,tanpa helm lagi. Jika terjadi kecelakaan tentunya bukan si anak yang tidak disiplin,tetapj orang tua yang mengijinkan. Mestinya orang tua melatih anak untuk tertib lalu lintas jika ingin membentuk karakter yang baik. Bagaimana mungkin pendidikan karakter (dalam hal ini kedisiplinan) di sekolah dapat berhasil jika orang tua justru mengajarkan untuk tidak displin terhadap aturan lalu lintas.

Oleh karena itu benar apa yang sudah dirumuskan KHD sejak lama,bahwa orang tua juga punya tanggung jawab dalam mendidik anak-anak,bukan hanya tanggung jawab sekolah. Nampaknya era sekarang ini orang tua menganggap cukup jika karakter dibentuk di sekolah saja,sehingga menjadi abai dengan pendidikannya di rumah. Anehnya justru ketika orang tua mendapatkan laporan dari anak kalau habis dimarahi guru tidak menerima apalagi kalau sampai ada kekerasan fisik. Akibatnya anak merasa dimanjakan oleh orang tua sehingga menjadi anak pengadu,sebaliknya jika orang tua sering marah-marah pada anak karena kenakalannya,maka jika ia memperlakukan temannya tidak baik,dan si teman membalas,yang dilaporkan pada orang tua justru sebaliknya,agar orang tua memarahi temannya.

Hal berbeda dengan jaman dulu ketika anak dimarahi guru,orang tua sadar pasti ada kesalahan yang dilakukan maka ia mendapat tambahan marah dari orang tuanya, sehingga si anak lebih baik diam. Jaman sekarang orang tua ikut maju jika anak kena marah guru,minimal memarahi guru,bahkan jika berlebihan sanksi hukuman menghadang karena ketidak terimaan orang tua.

Melihat kasus-kasus yang muncul tentang kenakalan anak-anak SD seperti yang sering dilaporkan di mass media,bahkan ada anak SD yang membunuh temannya, atau anak SD yang hoby melihat video porno tentunya tidak bisa dilepaskan dari pendidikan orang tua di rumah,karena tidak mungkin guru mengajarkan hal tersebut di sekolah. Anak-anak mengetahui hal tersebut tentunya bukan berasal secara tiba-tiba,tetapi karena diajari lingkungannya,entah itu dari lingkungan pertemanan atau bahkan dari lingkungan rumah tangga, karena anak sebenarnya masih dalam tahapan imitating/meniru apa yang dilakukan orang dewasa,khususnya orang tua.

Karakter tidak bisa diajarkan dengan pendekatan teori untuk anak-anak,tetapi harus diajarkan dengan perilaku,dengan contoh perbuatan. Bagaimana mungkin orang tua mengajarakan anak untuk tidak merokok karena tidak sehat jika orang tua sendiri sering merokok di depan anaknya misalnya. Bagaimana mungkin guru mengajar anak bahwa merokok itu tidak sehat jika guru bersangkutan juga merokok.

Marilah kita instrospeksi bersama terkait dengan maraknya fenomena kegagalan pendidikan karakter untuk anak-anak. Kita harus menyadari bahwa orang tua punya andil dalam kegagalan pendidikan karakter anaknya, karena tanggung jawab guru sebatas ketika anak di sekolah. Janganlah menuntut terlalu banyak padaa guru,sementara sebagai orang tua justru abai mendidik anak-anaknya di rumah

Semoga tulisan ini bermanfaat.