Jiwa Nasionalisme dalam Lagu Wajib

  Saya beberapa kali melakukan test wawancara dengan calon mahasiswa PGSD UMP. Poin wawancara yang saya lakukan salah satunya adalah meminta calon mahasiswa menyanyikan lagu wajib. Saya cukup heran ketika banyak calon mahasiswa (mungkin hampir 70 pct) tidak hafal lagu-lagu wajib,bahkan lagu wajib yang seharusnya dihafal seperti maju tak gentar,halo-halo bandung,berkibarlah benderaku,rayuan pulau kelapa,dari sabang sampai merauke dan hari merdeka, maupun hymne guru. Kebanyakan mereka hanya hafal lagu Indonesia Raya dan Garuda Pancasila. Bagi saya ini cukup mengherankan sekaligus memprihatinkan. Bagaimana mungkin anak bangsa ini memaknai rasa nasionalisme jika lagu-lagu wajibnya saja tidak hafal. Apa yang salah dengan pendidikan di Indonesia mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan menengah jika anak-anak yang dididik selama 12 tahun ternyata tidak hafal dengan lagu wajib negeri sendiri,tetapi mereka justru lebih hafal lagu2nya K.Pop dan sebangsanya. Kondisi ini tentunya perlu mendapatkan perhatian kita bersama. Pendidikan karakter tentunya harus dimulai dari segala aspeknya.

Karakter mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi tentunya tidak sekedar mengajarkan pendidikan moral pancasila atau pendidikan kewarga negaraan atau sejarah saja. Jiwa nasionalisme bisa dipupuk melalui lagu-lagu yang dihafalkan dan dinyanyikannya. Bagaimana mereka hafal lagu Kebyar-kebyarnya Gombloh yang punya semangat nasionalisme jika lagu wajib saja tidak tahu,apalagi lagu-lagunya Leo Kristi. Barangkali dalam pendidikan awal terlalu terbebani dengan seabreg kurikulum dan lupa dengan lagu nasionalisme untuk diajarkan. Marilah kita tengok lagi apa yang telah dilakukan untuk mendidik anak-anak kita agar mempunyai jiwa nasionalisme melalui nyanyian lagu wajib nasional. Pendidikan Tinggi tentunya sudah tidak akan  mengajarkan lagu wajib untuk dihafalkan mahasiswa,oeh karena itu pembenahan harus dimulai dari bawah. Bangunlah SEMANGAT patriotisme dan nansionalisme melalui lagu nasional,mulailah sejak dini,kalau kita tidak ingin lagu nasional akan punah dikemudian hari karena tidak ada yang hafal lagi.

PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS KEHIDUPAN

Siapapun orangnya, dari latar belakang pendidikan apapun pasti selalu berhubungan dengan soal-soal hitungan setiap harinya. Berhitung dibutuhkan oleh segala lapisan masyarakat, dari mulai pedagang, tukang batu sampai ke “tukang insinyur”, bahkan ekonom dan anggota dewan. Untuk yang disebut terakhir kini memang makin canggih dalam berhitung setelah duduk di kursi “terhormat” sehingga kasusnya bermunculan di surat kabar.

Cara manusia berhitung tidak bisa dilepaskan dari masalah dasarnya, yaitu matematika. Semua manusia menyadari bahwa matematika sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, sehingga matematika sudah diajarkan sejak kelas 1 sekolah dasar. Matematika sederhana sering sudah diajarkan ketika anak belum masuk ke bangku sekolah, bahkan seorang ibu rumah tanggapun  juga membutuhkan matematika untuk mengalkulasi keuangannya setiap hari. Ibu jika ada uang berlebih maka dapat mengalkulasi lebih menguntungkan mana anatara beli saham, tanah atau menabung. Manusia untuk memutuskan hal tersebut membutuhkan alat bantu yang disebut matematika. Oleh karena itu mengingat matematika dapat berfungsi sebagai alat bantu dalam pengembangan teknologi dan industri, maka matematika harus mampu memecahkan masalah-masalah dalam teknologi dan industri. Permasalahan yang mungkin kita hadapi adalah bagimana mengajarkan matematika kepada siswa agar mampu mengembangkan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Ketrampilan menyelesaikan masalah-masalah matematika seperti yang tersebut di atas tidak terlepas dari ketrampilan berpikir. Ketrampilan untuk berpikir bukanlah sesuatu yang statis dan cepat saji, melainkan berkembang dinamis sesuai dengan latihan. Pembelajaran model matematika merupakan salah satu bentuk latihan. Pembelajaran matematika melatih siswa untuk memecahkan masalah dan pemecahan masalah merupakan bagian yang sangat penting dalam pengajaran matematika untuk meningkatkan ketrampilan berpikir.

Berpikir sebagai aktivitas mental yang dilakukan secara sadar yanag berorientasi pada tujuan pemecahan masalah dapat dipilah menjadi 5 tipe, yaitu (1) Berpikir dengan memunculkan kemungkinan-kemungkinan (generating possibilities). (2) Berpikir analisis, yakni melakukan identifikasi, hubungan dan peran bagian-bagian terhadap keseluruhan sistem . (3) Berpikir membandingkan dan kontras, yakni melakukan identifikasi kesamaan dan perbedaan antara obyek yang dipikirkan. (4) Berpikir dengan acuan dan menginterpretasikan, yaitu mencari makna dari data/informasi yang ada, mencari hubungan sebab akibat, mengidentifikasi, memprediksi, memisahkan antara fakta, opini, harapan dan asumsi. (5) Berpikir evaluasi, yaitu menentukan dasar evaluasi, kriteria yang seharusnya dipakai dan bagaimana kriteria itu diterapkan. Kelima ketrampilan berpikir tersebut akan membentuk “meta cognition” (Sale dan Tan, 2002).

Menurut Sembiring (2001) dewasa ini pendidikan tingkat dasar dan menengah di Indonesia sesungguhnya tidak memiliki arah yang jelas. Ada 2 persoalan utama yang muncul  yaitu (1) arus matematika modern pada awal 60-an di seluruh dunia dan Indonesia mengikutinya pada tahun 70-an, (2) konotasi setiap ganti menteri ganti kurikulum, dan kurikulum terakhir adalah kurikulum berbasis kompetensi.

Pembelajaran matematika kadang mengalami kesenjangan antara apa yang terjadi di lapangan dengan apa yang diajarkan di sekolah. Kesenjangan itu misalnya dengan kenyataan apa yang terjadi di lapangan saat ini. Anda bisa memperhatikan jika membeli barang di took kelontong,perhatikan apa yang dilakukan pelayanan. Perhitungan yang sangat sederhana sekalipun, missal beli barang seharga 7500 dengan membayar uang senilai 10000, untuk memberikan kembalian sesederhana itu menggunakan kalkulator,yang sesungguhnya sangat-sangat sederhana dalam matematika..

Untuk mengatasi kesenjangan tersebut agar pendidikan mampu memberikan sumbangan yang bermakna dalam pemecahan masalah yang muncul di masa mendatang, UNESCO merekomendasikan agar pendidikan berkelanjutan dan dilaksanakan berdasarkan 4 pilar yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together. Ke empat pilar tersebutlah yang sesungguhnya ingin dicapai dalam KBK yang pernah dicoba diterapkan dalam dunia pendidikan di seluruh Indonesia,tetapi kini berganti lagi dengan model tematik integratif.

Bentuk model matematika (soal cerita) dan soal pengembangan berpikir akan membuat siswa untuk melakukan tahapan (1) penyadaran masalah (2) analisis masalah (3) perumusan masalah (4) pemecahan masalah (5) perumusan pemecahan masalah (6) pelaksanaan alternatif yang dipilih  dan (7) menjawab masalah. Dalam rangka pengembangan model tersebut satu hal yang perlu disadari adalah bahwa soal yang disajikan dalam bentuk kasus sehari-hari tidak dapat langsung memperoleh penyelesaian. Untuk memperoleh penyelesaiannya maka  soal yang ada perlu dinyatakan dalam kalimat matematika dengan simbol-simbol, dan jika perlu dengan gambar atau sketsa.

Beberapa kendala siswa dalam menyelesaikan soal yang berbentuk model matematika antara lain (1) menyatakan kalimat sehari-hari dalam bahasa matematika, (2)membentuk hubungan antara fakta yang ada dalam soal dan apa yang ditanyakan, (3) menyelesaikan hubungan tersebut untuk memperoleh jawaban matematika, (4) membawa penyelesaian matematika ke dalam masalah yang ada.

Sebagai contoh penerapan model matematika adalah persamaan garis melalui dua titik untuk menyelesaikan soal model matematika tarif listrik dan beaya pemakaian per kwh. Penyelesaian soal-soal semacam itu maka soal yang dibuat harus mengacu kepada persoalan yang ada (tarif listrik dan beaya beban) dan dirumuskan dalam model matematika. Soal tersebut jika sudah dapat diselesaikan maka tahap selanjutnya adalah menterjemahkan kembali hasil penyelesaian ke dalam bahasa sehari-hari (tarif listrik per kwh atau beaya yang yang harus dibayar untuk kwh yang dipakai). Contoh kedua misalnya dalam penentuan tipe minyak wangi dari sebuah pabrik kosmetika terhadap model pemasarannya.

Banyak contoh yang dapat diterapkan dalam soal matematika dengan sumber soal sehari-hari, Siswa yang dibiasakan menggunakan pemecahan matematika dalam penyelesaian kasus sehari-hari diharapkan akan menjadi terbiasa. Pembelajaran dengan cara demikian akan membuat matematika tidak akan lagi menjadi momok yang menakutkan bagi siswa. Untuk dapat membuat latihan atau soal yang diambil dari kehidupan sehari-hari dibutuhkan ketrampilan dan kreativitas guru.

Semoga bermanfaat.

******