PERAN ORANG TUA TERHADAP IMPLIKASI PERKEMBANGAN ANAK USIA 6-12 TAHUN (SEKOLAH DASAR) DALAM PROSES BELAJAR SAINS

Pendidikan pada jenjang Sekolah Dasar berorientasi pada pengembangan potensi anak didik. Terkait dengan potensi anak didik, pada dasarnya setiap anak memerlukan tuntutan perkembangan potensi-potensi dasar manusia yang meliputi potensi berpikir, kreativitas, keterampilan, dan sosial yang mampu membangun kedewasaan emosional, sikap, dan jati diri sebagai manusia terdidik. Proses pendidikan diarahkan bagi perkembangan potensi anak didik melalui kegiatan belajar yang sesuai dengan minat dan bakat pada anak.

Dalam proses pendidikan anak ada tiga pihak yang bertanggungjawab terhadap perkembangan proses pembelajaran, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan pertama yang diterima anak adalah dari lingkungan keluarga dimana anak lahir, hidup, dan dibesarkan. Oleh karena itu, keluarga merupakan tempat sebaik-baiknya bagi pendidikan anak. Kemudian pendidikan dilanjutkan di lembaga sekolah yang pada dasarnya membantu orang tua untuk melanjutkan, memperluas, dan memperdalam apa yang sudah diberikan oleh orang tua di lingkungan keluarga. Selain di lingkungan keluarga dan sekolah, seorang anak juga belajar di lingkungan masyarakat melalui pergaulan serta melihat dan mendengar apa yang ada di lingkungan sekitarnya. Oleh sebab itu, tepatlah bila dikatakan bahwa pendidikan anak pada dasarnya merupakan tanggungjawab bersama antara orang tua, sekolah, dan masyarakat.

Sekolah Dasar (SD) merupakan lembaga pendidikan formal yang pertama bagi anak. Tugas guru di sekolah adalah mengembangkan potensi anak didik dengan memberikan stimulus berupa bahan-bahan yang dirancang dan diperoleh dari lingkungan anak melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran diarahkan bagi perkembangan potensi anak didik semaksimal mungkin. Namun demikian, seberapa besar tingkat perkembangan belajar anak didik dipengaruhi oleh bagaimana proses dan hasil interaksi antara faktor internal pada diri anak didik dan faktor eksternal di luar anak didik. Faktor internal anak didik meliputi potensi kognitif, afektif, dan psikomotor; sedangkan faktor eksternal anak didik meliputi semua hal yang berada di sekitar anak didik termasuk diantaranya lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Mendidik anak merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh orang tua dan keluarga merupakan salah satu wahana yang sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan. Orang tua sebagai pendidik sekaligus penanggungjawab sudah seharusnya berperan positif dalam mendukung kemajuan pendidikan anak. Dalam hubungannya dengan pendidikan formal dan proses pendidikan di SD maka perhatian orang tua merupakan salah satu faktor yang dapat menumbuhkan kemauan untuk melaksanakan aktivitas, dalam hal ini aktivitas belajar.

Pendidikan sain merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di sekolah dasar (SD), mata pelajaran ini wajib di berikan pada anak usia SD( kelas 1-3) dengan sistem pembelajaran tematik, sedangkan anak kelas 4-6 sudah dibedakan masalah sain dengan di pecah menjadi pelajaran Biologi, Fisika serta Bumi dan Antariksa. Dengan berbagai macam mata pelajaran yang ada di pendidikan dasar (SD) maka perlu sekali peserta didik bisa mengatur tentang bagaimana belajar sains.

Namun demikian, dalam kenyataannya di tengah masyarakat masih banyak ditemui anak yang mengalami hambatan belajar, bahkan di beberapa daerah masih terdapat anak yang putus sekolah. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya perhatian orang tua terhadap pendidikan anaknya. Masih banyak orang tua yang menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan anak kepada sekolah. Di lingkungan keluarga anak kurang mendapatkan dukungan bagi kemajuan pendidikan. Terdapat beberapa hal yang menyebabkan kurangnya dukungan orang tua terhadap kemajuan pendidikan anak. Misalnya, keterbatasan pendidikan orang tua yang mengakibatkan kurangnya pemahaman dan pengetahuan orang tua tentang pendidikan anak, keterbatasan ekonomi orang tua sehingga mereka tidak mempunyai cukup dana untuk kebutuhan yang dapat mendukung kemajuan pendidikan, dan keterbatasan waktu karena sibuk mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga.

Sementara pada sebagian masyarakat yang lain, kenyataan menunjukkan adanya kecenderungan meningkatnya perhatian orang tua terhadap pendidikan anak. Banyak orang tua yang merasa perlu terlibat secara langsung untuk membantu anak agar mendapatkan prestasi belajar yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dengan adanya kecenderungan orang tua untuk menyekolahkan anaknya pada sekolah-sekolah yang dinilai berkualitas baik. Selain itu banyak ditemui orang tua yang berperan aktif dalam mendukung pendidikan anak. Misalnya, dengan mendampingi kegiatan belajar, menyediakan buku-buku pelajaran, menyediakan fasilitas dan alat belajar, mengajak anak ke toko buku, dan menjalin komunikasi  dengan pihak sekolah.

  1. Arti pendidikan

Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dirumuskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dari rumusan tentang arti pendidikan di atas, dapat dikatakan bahwa sasaran pelayanan pendidikan adalah potensi subjek didik, dan tujuan dari kegiatan pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki anak didik.

Selanjutnya, dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tersebut dirumuskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta  bertanggungjawab. Dari rumusan tujuan pendidikan tersebut terkandung suatu pengertian bahwa dalam proses pendidikan terjadi suatu perubahan pada diri anak didik yaitu berupa perkembangan potensi melalui belajar. Proses pendidikan tersebut berlangsung pada suatu lembaga, baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Roemer (Woolfolk & Nicolich, 1984: 17-18) yang menyatakan bahwa education is the process by which a society transmits to new members the values, beliefs, knowledge, and symbolic expressions to make communication within the society possible. Maksud dari pernyataan tersebut adalah pendidikan merupakan proses yang dilakukan oleh suatu lembaga untuk meneruskan nilai-nilai, keyakinan, pengetahuan, dan ekspresi simbolis agar memungkinkan terjadinya komunikasi dalam suatu masyarakat. Sekolah merupakan institusi formal yang bertanggungjawab untuk mendidik siswanya. Dalam proses pendidikan tersebut, siswa melakukan serangkaian kegiatan yang disebut belajar. Belajar menunjuk pada perubahan tingkah laku anak didik terhadap suatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang dalam situasi itu (Bower & Hilgard, 1975: 11). Pengertian perubahan di sini adalah perubahan potensi anak didik yang disengaja, dengan sadar, dan ke arah yang positif. Agar perubahan sesuai dengan yang diharapkan maka pendidikan harus ada yang bertanggungjawab. Subjek didik adalah individu yang berkembang di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sudah selayaknya tugas dan tanggungjawab keluarga, sekolah, dan masyarakatlah untuk mengembangkan anak didik melalui pelayanan pendidikan.

 

  1. Tanggungjawab intelektual

Kehadiran seorang anak bagi orang tua pada dasarnya mengandung harapan sekaligus tanggungjawab. Salah satu tanggungjawab orang tua terhadap anaknya adalah tanggungjawab dalam pendidikan. Menurut Surya (2000) mendidik anak merupakan salah satu tugas dan kewajiban orang tua sebagai konsekuensi dari komitmennya untuk membina rumah tangga melalui pernikahan. Pendidikan anak dimulai dari pendidikan dalam keluarga. Pendidikan dalam keluarga merupakan pondasi bagi pendidikan-pendidikan selanjutnya dan pondasi bagi pembentukan kepribadian anak.

Dalam hubungannya dengan upaya mencerdaskan anak, pendidikan dalam keluarga mempunyai peran penting dalam upaya menyiapkan anak agar dapat berkembang secara optimal dan bermakna. Siahaan (1986: 17) mengatakan  bahwa di dalam rumah tangga pendidikan anak harus dimulai. Pendidikan di dalam keluarga adalah sekolah yang pertama. Di sini bapak-ibu mempunyai peran sebagai guru. Anak belajar segala pelajaran yang akan bermanfaat sepanjang hidupnya yaitu pelajaran-pelajaran tentang budi pekerti, sopan santun, pengendalian diri, dan kejujuran. Oleh karena itu, tepat bila dikatakan bahwa pendidikan berawal dan berpusat pada keluarga. Ki Hadjar Dewantara (1962: 375) mengatakan:

Alam keluarga itu buat tiap-tiap orang adalah alam pendidikan yang permulaan. Pendidikan di situ pertama kalinya bersifat pendidikan dari orang tua, yang berkedudukan sebagai guru (penuntun), sebagai pengajar dan sebagai pemimpin pekerjaan (pemberi contoh).

 

Selanjutnya dalam pendidikan anak, Sayekti (1993), Surya (2000), dan Shochib (1988: 35) mengatakan bahwa orang tua sebagai pendidik utama dan pertama. Anak merupakan buah cinta kasih mereka yang perlu dilindungi, dibesarkan, dicintai, dan dididik. Dengan demikian, orang tua mempunyai tugas dan tanggungjawab mendidik anak untuk mencapai perkembangan dan pertumbuhan yang optimal. Hal ini sesuai dengan pendapat Stinnett, Walters, & Kaye (1984: 305) yang menyatakan bahwa: “Another important part of preparing for parenthood is becoming educated in the basic conceps and principles of child growth and development”. Orang tua perlu mendidik anak dalam hal konsep dan prinsip dasar untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pendidikan oleh keluarga ini akan berlangsung terus dan baru berkurang setelah anak mulai masuk sekolah. Para guru di sekolah melanjutkan pendidikan anak. Di sekolah para guru memberikan pendidikan dan pengajaran serta mengembangkan bakat-bakat positif yang dimiliki anak. Selanjutnya secara keseluruhan pendidikan yang diterima di rumah dan di sekolah dipertemukan melalui pengalaman-pengalaman hidup anak di masyarakat. Dengan demikian, melalui interaksi dengan orang lain di tengah masyarakat juga merupakan pendidikan bagi anak.

Tujuan pendidikan yang diberikan di rumah, sekolah, dan di tengah-tengah masyarakat adalah untuk membantu anak agar di dalam perkembangannya yang menyeluruh dapat mencapai kedewasaan. Ki Hadjar Dewantara (1962: 217) menyebutkan bahwa keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai “Tri Pusat Pendidikan” dimana di dalam ketiga lingkungan pendidikan tersebut anak akan tumbuh dan berkembang secara terus menerus dengan mengolah apa yang ia terima dari lingkungannya menjadi miliknya.

Selanjutnya Abbas (1984: 102-107) menyatakan bahwa di dalam tujuan pendidikan terdapat dua fungsi pendidikan yaitu fungsi dinamisasi dan fungsi pengembangan secara menyeluruh. Fungsi dinamisasi dimaksudkan agar potensi yang dimiliki anak dengan bantuan orang tua, guru, dan anggota masyarakat lainnya anak tersebut secara bertahap ditempa untuk pada akhirnya mampu berdiri sendiri baik jasmani maupun rohani atau dengan kata lain anak menjadi manusia dewasa. Fungsi pengembangan dimaksudkan agar pendidikan yang diberikan kepada anak dapat mengembangkan seluruh kemampuannya. Oleh karena itu, pendidikan harus berorientasi pada kebutuhan dasar anak, kebutuhan dasar lingkungannya, perkembangannya, perkembangan teknologi dan ilmu serta pengembangan masa depan.

Dari uraian di atas, maka sangatlah penting bahwa upaya pendidikan yang dilakukan di tengah-tengah keluarga, sekolah, dan masyarakat harus bertitik tolak pada tujuan dan orientasi yang sama. Ini berarti bahwa fungsi pendidikan yang dijalankan oleh ketiga pusat pendidikan tersebut harus terpadu, terjalin, dan terintegrasi ke dalam suatu tujuan pendidikan yaitu mendewasakan anak lahir serta batin dan untuk mempersiapkan masa depannya.

 

  1. Peranan dan partisipasi orang tua dalam pendidikan

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal tujuh disebutkan bahwa orang tua dari anak usia wajib belajar berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya. SD sebagai jenjang pendidikan dasar yang pertama bagi anak merupakan pembantu kelanjutan pendidikan dalam keluarga, sebab pendidikan yang pertama diperoleh anak ialah dalam keluarga. Peralihan bentuk pendidikan keluarga ke sekolah memerlukan kerjasama antara orang tua dan sekolah.

Pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak telah disadari oleh banyak pihak baik orang tua, kepala sekolah, dan guru, maupun pemerintah walaupun dalam pelaksanaan pendidikan peran orang tua belum mendapat perhatian yang semestinya. Menurut Jason, et al (1992: 140) menyatakan bahwa orang tua mempunyai pengaruh terhadap anaknya dalam penyesuaian diri pada masa transisi di sekolah. Orang tua dengan motivasi yang tinggi menghasilkan anak yang mempunyai prestasi lebih tinggi dan secara sosial mudah menyesuaikan diri dibandingkan dengan orang tua yang mempunyai motivasi  rendah. Lebih lanjut Jason, et al menyatakan bahwa secara akademik, anak-anak yang orang tuanya mempunyai motivasi rendah memiliki kemampuan membaca, mengeja, dan matematika yang rendah pula. Di samping itu, anak-anak dengan orang tua yang mempunyai motivasi rendah cenderung lebih agresif, menarik diri, dan kurang disukai oleh teman sebayanya.

Menurut Idris dan Jamal (Slameto, 2002: 2-4) peranan orang tua bagi pendidikan anak adalah memberikan dasar pendidikan, sikap, dan keterampilan dasar seperti pendidikan agama, budi pekerti, sopan santun, estetika, kasih sayang, rasa aman, dasar-dasar untuk mematuhi peraturan, dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan. Selain itu peranan keluarga adalah mengajarkan nilai-nilai dan tingkah laku yang sesuai dengan yang diajarkan di sekolah. Dengan kata lain ada kontinuitas antara materi yang diajarkan di rumah dan materi yang diajarkan di sekolah.

Peranan orang tua dalam pendidikan anak tidak terbatas pada pendidikan anak secara langsung namun lebih dari itu orang tua juga mempunyai kesempatan untuk berperan mengembangkan proses pembelajaran di sekolah melalui saran-saran maupun kegiatan-kegiatan. Dalam hal ini Haris (2001: 8-9) mengemukakan bahwa pemberian peran yang lebih besar kepada orang tua siswa dalam memajukan sekolah ternyata mampu mengembalikan kepedulian para orang tua siswa terhadap jalannya proses pembelajaran di sekolah. Dengan memberikan peran yang lebih besar kepada orang tua dan masyarakat akan lebih intensif memberi masukan positif kepada sekolah.

 

  1. Faktor-faktor yang mendorong orang tua dalam partisipasi pendidikan

Pada umumnya, anak merupakan kebanggaan bagi orang tua. Nilai anak bagi orang tua di atas harta kekayaan. Sunarto (1977) mengemukakan bahwa di samping kebanggaan, orang tua memiliki harapan-harapan yang dibebankan pada anak. Anak diharapkan mampu mikul dhuwur mendhem jero  kepada orang tuanya. Artinya anak diharapkan dapat menjunjung tinggi derajat orang tuanya. Menjunjung derajat orang tua dimaksudkan bahwa anak mampu membawa nama baik orang tuanya. Keberhasilan anak dalam meningkatkan status sosial maupun status ekonomi keluarga merupakan salah satu harapan orang tua yang dapat menjunjung nama baik orang tua. Pendidikan merupakan salah satu wahana bagi orang tua untuk mencapai keberhasilan anak, artinya bahwa pendidikan diharapkan dapat sebagai agen bagi keberhasilan anak. Anak yang berhasil dalam pendidikannya, secara otomatis mampu mengangkat nama baik keluarga.

Salah satu alasan mengapa orang tua menganggap penting pendidikan anak adalah bahwa melalui pendidikan harapan-harapan orang tua tentang masa depan anak dapat dicapai.  Dari harapan-harapan inilah banyak orang tua yang berusaha terlibat langsung dalam pendidikan anak baik di rumah maupun di sekolah. Orang tua menganggap penting untuk terlibat dalam pendidikan anak karena orang tua mengharap adanya prestasi belajar yang tinggi dapat dicapai anak. Banyak orang tua yang masih menganggap bahwa dengan prestasi belajar yang tinggi merupakan suatu jaminan bagi keberhasilan masa depan anak. Di samping itu, adanya kesadaran bahwa untuk meraih keberhasilan baik dalam pendidikan maupun pekerjaan saat ini penuh dengan persaingan, hal ini juga merupakan suatu alasan mengapa banyak orang tua yang ikut terlibat dalam upaya meningkatkan prestasi belajar anak. Selain itu tumbuhnya sikap kritis dari sebagian orang tua terhadap pendidikan anak menjadikan pendidikan anak tidak sepenuhnya diserahkan kepada guru, namun disertai juga upaya dari orang tua untuk ikut berpartisipasi memajukan pendidikan anak.

 

  1. Wujud partisipasi orang tua dalam pendidikan

Adanya kebijakan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) menuntut sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan lebih memadai bagi para siswanya. Terdapat faktor penting berkaitan dengan pelaksanaan MBS tersebut yaitu bagaimana memberdayakan masyarakat termasuk orang tua dalam pengelolaan pendidikan di sekolah. Artinya bahwa peran atau partisipasi orang tua dan masyarakat diharapkan tidak hanya berwujud pemberian bantuan dana atau fisik, tetapi juga dalam hal-hal akademik.

Berkaitan dengan wujud partisipasi orang tua dalam pendidikan Haris (2001: 15-17) menyatakan bahwa untuk melibatkan orang tua atau masyarakat dalam mengembangkan sekolah dilakukan dalam berbagai bentuk tingkatan dari sekadar usul, memberikan dana, sampai pada pembuatan kurikulum, dan menjadi instruktur dalam kegiatan ekstrakurikuler. Selanjutnya Haris (2001) menyatakan bahwa perlu adanya kejelasan mengenai tingkat partisipasi dan bentuk partisipasi masyarakat dalam memajukan pendidikan di sekolah sehingga dengan mudah dalam menyusun pedoman kerja dan tolok ukur keberhasilannya.

Mengenai wujud keterlibatan orang tua dalam pendidikan Cotton & Wikelund (2001) mengatakan:

Parents can support their children’s schooling by attending school functions and responding to school obligations (parent-teacher conferences, for examples). They can become more involved in helping their children improve their schoolwork-providing encouragement, arranging for appropriate study time and space, modeling desired behavior (such as reading for pleasure), monitoring homework, and actively tutoring their children at home.

 

Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa dalam berpartisipasi pada pendidikan anak, orang tua dapat memotivasi sekolah dengan perhatian pada fungsi-fungsi sekolah dan merespon kewajiban-kewajiban sekolah, misalnya pertemuan guru-murid. Orang tua dapat terlibat dalam menolong anak-anak mereka dengan cara memperbaiki pekerjaan anak, seperti memotivasi, mengatur jadwal dan tempat belajar, menjadi contoh yang baik bagi anaknya, memonitor PR, dan menjadi tutor bagi anak.

Berkenaan dengan PR, Epstein (Jason, et al, 1992: 143) menyatakan bahwa melalui PR anak dapat mempraktikkan keterampilannya, meningkatkan kecepatan kemampuan aplikasi, dan menjaga stabilitas tingkat kemampuan anak. Di samping untuk mendorong kemampuan dalam bidang akademik, PR juga dapat digunakan sebagai sarana interaksi antara orang tua dengan anak. Komunikasi yang dibangun antara orang tua dan anak melalui PR, dapat menolong anak dalam menetapkan standar akademik yang hendak dicapai. Mereka juga dapat saling bertukar informasi, fakta-fakta, dan sikap mengenai prestasi sekolah.

 

Iklan

Ketika Ejekan Menjadi Motivator.

Ini hanya sekedar kisah yang saya alami sendiri tentang sebuah hinaan. Saya ingat betul ketika TK saya tidak boleh naik SD, tapi memaksa masuk kelas 1, Digandeng guru TK kembali ke TK, dan saya kembali lari ke kelas 1. Kenyataan saya sudah baca koran di kelas 2,bahkan baca cerita bersambung di koran Pos Minggu terbitan Semarang saat teman sekelas masih mengeja,bahkan pernah diminta ngajari membaca di kelas 3.

Saat kelas 3 SMA saya minta diajari menulis artikel koran pada guru bahasa Indonesia, tapi yang saya dapat malah hinaan. Saya ingat kata2 yang keluar dari mulut guru. Ilmu kamu itu masih sekuku hitam saya,kok mau nulis di surat kabar. Apa saya berhenti? Tidak. Saya kumpulkan buku2 tentang kimia. Saya baca dan jadilah sebuah tulisan dengan judul Plastik,polusi tujuh turunan yang diketik di mesin ketik tempat ayah mengajar. Saya kirimkan tulisan itu ke surat kabar Suara Karya terbitan Jakarta. Ternyata tulisan itu dimuat setelah 2 minggu kemudian,dan itulah tulisan pertama saya. Yah sifat anak remaja,tulisan itu kemudian saya gunting dan dipasang di majalah dinding sekolah, saya sebetulnya hanya ingin menunjukkan eksistensi bahwa meskipun sudah dihina guru bahasa Indonesia tapi saya mampu membuktikan bisa menulis. Kebanggaan bertambah ketika kemudian mendapat kiriman uang melalui weselpos,yang kemudian habis untuk nraktir kawan-kawan. Itulah awal mula saya mulai suka menulis dengan pikiran bahwa menulis itu menghasilkan uang.

Ketika saya ingin kuliah lagi-lagi hinaan saya dapat dari seorang teman,anak kepala kejaksaan negeri di kota tempat tinggal,yang mengatakan tidak mungkin saya bisa kuliah di perguruan tinggi ternama,apalagi saya berasal dari keluarga kurang secara ekonomi waktu itu. Lagi-lagi saya tertantang,akan saya buktikan, dan alhamdulillah saya bisa masuk di Fakultas Biologi UGM, yang tingkat persaingannya waktu itu 1: 15 (saya tahu setelah kuliah, pendaftar ribuan yang diterima 150). Setelah kuliah ternyata hobi menulisnya justru makin berkembang, dan uang honor tulisan (waktu itu sudah dimuat di Suara Karya Jakarta, Symphony Jakarta, Mutiara Jakarta, Bernas Yogya, Kedaulatan Rakyat Yogyakarta,Suara Indonesia Malang,Panjebar Semangat yang berbahasa Jawa Surabaya, dan kemudian setelah lulus juga berlanjut di Solopos Solo,Wawasan Semarang, Pikiran Rakyat Bandung, Republika Jakarta) untuk biaya kuliah dan kebutuhan lainnya.

Meskipun sudah mulai banyak menulis ternyata ejekan juga belum selesai. Saat di semester dua saya konsultasi dengan seorang doktor baru dari Philiphina untu bertanya bagaimana menulis buku. Lagi-lagi ejekan seperti guru bahasa Indonesia yang saya terima. Baru semester 2 kok mau menulis buku, dan lagi-lagi saya justru terpacu karenanya. Terbitlah buku pertamadi semester 4 denhan judul Biologi SMA, kemudian buku kedua dengan judul Persn Islam bagi Generasi Muda dalam melestarikan lingkungan hidup di seemster 5 dan buku ketiga yang saya tulis ketika sedang melaksanakan KKN dengan judul Dilema Pestisida.

Dari tulisan tersebut jika anda membaca sampai tuntas sesungguhnya saya hanya ingin menegaskan bahwa ketika Anda mendapatkan ejekan jangan patah semangat,justru jadikan ejekan sebagai motivator ulung,maka Anda justru diuntungkan. Jangan tanggapi ejekan dari sisi negatifnya, tapi ambil sisi positifnya,maka Anda akan terpacu.

Semoga tulisan ini bisa menginspirasi.

OREO TIDAK SEKEDAR ENAK DIMAKAN

Sahabat pengajar dan pembelajar, hari ini saya akan sedikit cerita tentang kelom dan oreo. Tshu kan oreo dan kelom? Bagi yang belum tahu oreo itu sebangsa cemilan dan kelom itu bakiak. Loh apa hubungannya kelom dan oreo ? Yah ini cetita soal oreo dan kelom yang suka banget dengan pulsa.

Ceritanya saya punya dua nomor yaitu empunya oreo dan  kelom. Penggunaan telp dan sms sehari-hari lebih banyak menggunakan kelom sedang oreo sangat jarang dipakai,kecuali komunikasi dengan teman2 lama, itupun belum tentu seminggu sekali,kecuali kadang dipakai darurat, sehingga sangat mudah melihat keanehan kelakuan oreo. Sudah lebih dari 2 bulan setiap kali diisi pulsa baru meskipun hanya sepuluh ribu pulsa tahu-tahu habis tanpa dipakai, padahal langganan yang serba premium tidak,mengaktifkan data seluler juga tidak. Terus terang kedua nomor digunakan di dua hp, kelom dipakai untuk data juga sedang oreo tidak.

Ingin buka loket tiket pesawat, kereta, pln, pdam,bpjs, finance cicilan, speedy,tv langganan, pulsa semua operator? klik di sini

Ada yg bilang mungkin pengaruh hpnya. Ok saya akan coba, akhirnya yg oreo yg semula untuk iphone di pindah ke android,begitu juga sebaliknya, ternyata gak ngaruh juga,tetap saja pulsa tahu-tahu habis. Saya sempat komplain ke gerainya oreo kok nomornya bisa makan pulsa,padahal kan oreonya enaknya dimakan trus dicelupin susu. Oleh CSsudah dicek, dan di nolkan semua fitur langganan (padahal langganan saja tidak), dan saya coba tidak diisi pulsa sebulan. Nah ketika pulsa kosong kan tidak bisa dipakai apa-apa, ya otomatis tidak ada pulsa yang hilang.

Nah persoalan muncul lagi,4 hari yang lalu diisi pulsa lagi sepuluh rebu, dan kemarin dicek pulsa sudah berkurang empat rebu tanpa dipakai sms/telp sama sekali. Alamak ini oreo kok “nggragas” atau rakus ya. Nah akhirnya saya coba masukan slot 2G,bukan 4G. Sementara ini pulsa masih utuh. Dari info orang dalam (entah benar entah tidak) katanya kalau 4Gnya aktif nyedot pulsa. Pantesan promosinya tukarkan kartu anda dengan 4G gratis, wong ada maunya, pulsanya bisa habis sendiri.

Bagaimana dengan kelom? Saya belum coba jadi belum bisa menyimpulkan apakah sama atau tidak, karena sementara ini masih saya pakai jalan-jalan terus. Tidak mungkin kan jalan-jalan pakai sandal jepit ?

Bagaimana pengalaman anda, ? Ataukah anda pakai operator argo kuda?

HILANGNYA RASA NASIONALISME SEORANG STEVEN

Hari ini saya mendapatkan kiriman copy surat pernyataan maaf dan kronologis kejadian seorang anak manusia yang “tidak tahu” apakah bangsa Indonesia atau bukan dari seorang rekan yang tinggal di Lombok. Kejadian itu memang sudah lewat beberapa hari,yaitu tanggal 9 April, tapi kasusnya masih bergulir di NTB sana.

Sungguh keterlaluan jika mencermati apa yang dilontarkan seorang Steven terhadap Gubernur NTB yang juga Hafidz Al Quran, sekaligus ulama. Kata-kata makian  yang keluar dari mulut Steven di Bandara Changi sungguh menunjukkan tidak adanya sopan santun dan etika dari anak muda terhadap orang tua. Andaikata toh TGB (Tuan Guru Bajang) bukan seorang Gubernur,setidaknya sebagai orang tua tentunya anak muda harus menjaga mulutny, tetapi ini seperti mulut drum aspal yang jika dituangkan berwarna hitam.

Saya tidak ada sangkut pautnya dengan sang Gubernur,saya bukan rakyatnya TGB, tetapi menyimak kata-kata yang dikeluarkan terus terang saya sebagai warga Indonesia, warga pribumi Asli juga merasa tersinggung. Bagaimana mungkin seorang warga keturunan yang hidup di Indonesia, makan dari hasil bumi Indonesia, bernafas dengan udara Indonesia masih mempunyai mental penjajah Belanda dengan mengatakana Indon, pribumi tiko (Tikus Kotor). Apakah dia bukan warga Indonesi ? Saya kira bukan. Seandainya di mempunyai KTP Indonesia sudah layak jika KTPnya dicabut dan biarkan hidup di luar Indonesia, karena bangsa ini dimata Steven sangat hina.

Memang dia sudah mengajukan permintaan maaf secara tertulis, tapi itu tidak cukup. Perbuatan yang sudah menghinakan jika cukup diselesaikan dengan permintaan maaf saja,maka dikemudian hari akan muncul hal baru. Seorang Ahok yang sudah menistakan agama dan ulama saja yang sampai sekarang masih dalam proses hukum sudah membuat marah sebgaian warga bangsa ini, mungkin juga yang membuat Steven menganggap enteng kasusnya, paling juga tidak diselesaikan, mungkin begitu pikirnya. Jika hukum tidak bisa menyelesaiakn kasus-kasus Ahok, kemudian Steven, maka akan muncul Ahok-Ahok yang lain.

Rasanya tidak cukup polisi sekedar menunggu laporan saja, karena ini kasus serius yang bisa membuat marah semua warga pribumi. Jalan satu-satunya agar tidak berkembang adalah dengan menyeret Steven ke ranah hukum meskipun laporan penghinaannya tidak dilakukan sang Gubernur,karena beliau telah memaafkan. Begitu mulianya sifat TGB, tapi itu tidak membuat rakyat reda karenanya, karena yang dihina bukan hanya seorang Gubernur, tapi rakyat Indonesia. Semoga Polisi bijak menyikapi ini.

KETIKA BIMBEL MERUSAK SISTEM

Hari Ini Jumat tanggal 7 April seperti hari-hari yang lain, saya jalan-jalan pagi melewati perkampungan. Saat melewati sebuah rumah yang digunakan untuk bimbingan belajar ada hal yang cukup menggelitik. Saya terhs terang heran hari smasih pagi,kira-kira pukul 06.30 ada laki-laki usia sekitar 27-an duduk di atas motor di depan sebuah bimbel. Ketika saya melongok ke dalam nampak seorang anak SD menggunakan seragamnya duduk menulis sesuatu di buku,sementara di depannya duduk laki-laki dewasa. 

Pikiran saya tertuju pada pemandangan itu. Saya pikir ini bukan jam untuk bimbingan belajar, dan simlulannya adalah anak tersebut pasti sedang mengerjakan PR dibantu tentor bimbel tersebut. Melihat itu yang terpikir adalah apa fungsi orang tua kalau untuk mengerjakan PR saja harus membawa anaknya ke tentor untuk mengerjakan. Pikiran kedua adalah begitukah fungsi bimbel saat ini ? Membantu anak mengerjakan PR. Lalu dimana anak bisa menikmati dan mengalami proses belajar serta paham dengan baik jika PR saja harus dibantu tentornya.

MENGUBAH PENGELUARAN JADI PENDAPATAN, KLIK DI SINI

Melihat fenomena tersebut maka sungguh telat jika Kementerian Pendidikan mewacanakan agar tidak ada lagi PR untuk anak, karena kenyataannya sungguh mempeihatinkan. Ini bukan sekali dua kali saya menemukan fenomena seperti itu. Artinya bahwa sesungguhnya bimbel tidak betul-betul melaksanakan bimbingan belajar,tetapi juga bantuan mengerjakan soal. Jika hal-hal seperti itu dipelihara oleh para orang tua,bahkan masyarakat maka rusaklah sistem pendidikan yang dibangun untuk mengutamakan pendidikan karakter. Sungguh malang dunia pendidikan kita jika di sekolah anak dididik untuk membentuk karakter yang baik,di rumah orang tua justru merusaknya karena tidak sesuai dengan apa yang diajarkan di sekolah.

Benarlah mengapa Finlandia sangat berhasil dalam pendidikan,khususnya dalam hal pendidikan karakter. Mereka tidak semata-mata menemukan model yang dikembangkan sendiri, tetapi justru mengadopsi pola pendidikan yang dikembangkan Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan di Filandia tidak meneganl PR, lama belajar di sekolah juga lebih pendek di banding Indonesia, dan beban belajar juga lebih sedikit, tetapi mengapa mereka berhasil .? Salah satu kunci keberhasilan pendidikan karakter dan kognitif untuk anak adalah apa yang diajarkan di sekolah itu pula yang dajarkan di rumah. Indonesia justru sering kali berbeda. Contih sederhana anak SMP tidak boleh naik motor ke sekolah karena belum waktunya, tetapi kenyataan orang tua justru mengajari anak-anaknya naik motor justru sejak SD yang kakinya saja belum nyampai ke tanah jika duduk di motor. 

Kembali ke bimbel tersebut di atas, maka sungguh sangat baik jika pendidikan di Indonesia mengajar yang bisa mengarahkan anak tanoa perlu bimbel. Rasa-rasanya pendidikan di SD era 1970-an yang belum mengenal bimbel pada masa itu justru lebih  baik dari sekarang yang memunculkan ketergantungan terhadap bimbel? Kalau demikian lalu………….? silahkan lanjutkan sendiri.

KITA TIDAK PERNAH MAU BELAJAR DARI BANJIR

Lagi.lagi, dan lagi. Banjir dan tanah longsor terjadi lagi,dan kini terjadi di Garut. Kasus banjir bandang dan atau tanah longsor dari tahun ke tahun selalu terjadi,meskipun tidak di satu tempat.tetapi penyebabnya selalu sama,rusaknya kawasan hulu akibat campur tangan manusianya. Saat kasus paling besar terjadi,yaitu banjir bandang di Bahorok, masyarakat Indonesia sudah diingatkan agar ramah dengan lingkungan. Sungai Bahorok marah karena hutan rusak. Banjir bandang menghantam perkampungan, menewaskan sedikitnya 200 orang pada tahun 2003. Akibat kasus ini pula pernah penulis ingatkan di Harian SI,Malang bahwa tipikal bangsa ini sulit belajar dari pengalaman sejarah, karena itu besar kemungkinan akan terjadi lagi. Ternyata kejadian sesungguhnya yang nyaris sama besarnya dengan bahorok meskipun korbannya lebih kecil adalah kasus Garut ini. Pada kasus Bahorok, Berdasar studi Balai Sabo dan Japan International Cooperation Agency (JICA) tahun 2003, yang terangkum dalam Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang Daerah Aliran Sungai Bahorok, jumlah batang kayu yang tertinggal di palung saat banjir mencapai 70.000 meter kubik. Endapan pada dasar sungai setelah banjir dari Bukit Lawang ke hulu mencapai 300.000 meter kubik. Bagaimana dengan Garut ?

 Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui siaran persnya mengatakan, hujan berintensitas tinggi dan berdurasi panjang, ditambah tingginya tingkat kerentanan telah menyebabkan bencana banjir dan longsor di Kabupaten Garut dan Kabupaten Sumedang. Selain faktor alam, penyebab terjadinya bencana banjir bandang di Garut beberapa hari lalu menurut Rektor UGM, Dwikorita Karnawati yang juga pakar geologi dikarenakan perubahan tata guna lahan yang tidak sesuai dengan kondisi alamnya. Ia mengatakan, banjir bandang bisa terjadi karena daerah Garut layaknya sebuah mangkok, dimana Kabuten Garut dikelilingi oleh tujuh gunung api, sehingga air bermuara pada suatu titik. Kondisi inipun, katanya, diperparah dengan daerah aliran sungai (DAS) Cimanuk yang mengalami pendangkalan. Curah hujan yang tinggi, dengan intensitas 255 milimeter, sementara sebelumnya juga terjadi hujan sehingga tanah mengalami kejenuhan menyerap dan terjadi pendangkalan dan penyumbatan saluran-saluran air.

              Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia tahun 2014 Kabupaten Garut menempati peringkat pertama. Salah satu faktor yang menyebabkan adalah karena DAS Cimanuk diidentifikasi dalam kondisi kritis. Kritisnya DAS Cimanuk selain karena pemanfaatan lahan untuk kebun sayur yang memperbesar erosi,juga karena pemanfaatan industri pariwisata. Akibat alih fungsi lahan tersebut air hujan yang terserap kurang dari 25 persen, artinya air limpasan yang besar tersebut sebagai akibat ulah manusia.

 Dari dua kasus tersebut,lagi-lagi faktor manusia yang mengubah peruntukan di daerah hululah yang punya andil selain faktor alam. Banyak daerah di Indonesia yang mempunyai resiko yang sama seperti Bahorok dan Garut karena rusaknya daerah aliran sungai,khususnya pemanfaatan lereng pegunungan untuk perkebunan sayur dan daerah wisata yang semestinya dijaga oleh pohon-pohon yang akarnya mampu mencengkeram tanah dan menyerap air limpasan. Belum lagi hilangnya hak milik sungai,yaitu daerah dataran banjir,yaitu selebar 30 meter ke arah kiri dan kanan sungai yang seharusnya tidak ada bangunan juga mulai hilang.

 Dari realitas lingkungan tersebut kita bisa menilai bahwa di banyak wilayah daerah tangkapan air hujan (catchment area) mulai rusak sehingga tidak berfungsi dengan baik Banyak jalur ini yang dirubah menjadi kawasan perumahan elit. Karena tidak ada daerah tangkapan lagi maka air akan lari ke bawah dan masuk sungai, sehingga melewati batas daya tampung sungai. Di sisi lain mestinya selama air “berlari-lari” menuju kota ia bisa diserap oleh tanah sepanjang wilayah yang dilewati air. Tapi inipun tidak bisa terjadi karena banyak tanah yang sudah tidak bisa meresap air lagi. Kini banyak muka tanah yang ditutup dengan beton maupun aspal. Rumah-rumah pendudukpun makin banyak yang tidak menyisakan tanah terbuka dengan alasan kebersihan, kerapihan maupun estetika dengan membetonnya. Maka kemana lagi air akan lari kalau tidak kemudian menggenangi semua daerah yang dilaluinya.

 Kondisi semacam itu terjadi karena catchment area rusak parah, tanah resapan mulai menghilang,hutan banyak dibabat tanpa perhitungan, penjarahan terjadi dimana-mana. Saluran air alam makin mengecil akibat dibangunnya rumah di daerah bantaran sungai yang sebenarnya menjadi hak milik sungai. Kondisinya makin diperparah dengan “terbendungnya” sungai dan saluran air lain oleh sampah akibat manusia membuang sampah semaunya di semua saluran tersebut. Jadi banjirnya beberapa wilayah kita sebenarnya juga menjadi hak milik kita karena kita yang membuat skenarionya secara tidak sadar.

Cara paling mudah untuk melihat skenario alam terkait dengan kerusakan daerah tangkapan air hujan adalah dengan melihat warna air sungai yang mengalir. Air sungai yang berwarna coklat keruh menunjukkan bahwa daerah hulu sudah mulai rusak dan mengalami erosi yang tinggi. Makin coklat dan keruh air sungai menunjukkan makin rusaknya daerah atas,sebaliknya makin jernih air sungai makin terjaga daerah hulu sungai. Kita bisa membandingkan sungai yang melewati Banyumas yaitu sungai Logawa, Pelus dan Serayu. Sungai yang paling jernih adalah Pelus,berikutnya Logawa dan sungai yang paling keruh coklat adalh Serayu. Kondisi itu menunjukkan bahwa sungai Serayu paling besar tingkat erosinya yang berarti paling parah kerusakan lingkungan hulunya. Salah satu faktor penyebabnya adalah pertanian kentang di daerah Dieng, sebaliknya sungai Pelus paling terjaga daerah hulunya.

Belajar dari kasus Bahorok dan terakhir Garut maka Pemerintah Daerah perlu monitoring dan menjaga daerah resapan di bagian hulu dengan tidak mengijinkan tanah-tanah lereng ditanami tanaman semusim,karena itu akan meningkatkan resiko banjir dan longsor. Khusus DAS Pelus agar selalu dijaga kelestariannya seperti sekarang ini sehingga resiko bencana akan semakin kecil,sebaliknya untuk DAS Serayu barangkali perlu penataan ulang di daerah hulu,karena dengan melihat airnya saja sudah menunjukkan buruknya tata kelola tanah di wilayah hulu,dan itu di bawah mewenangan Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo.

Semoga kita bisa belajar dari kasus-kasus yang sering muncul dengan penyebab yang sama.

KENANGLAH SETELAH LULUS

Tiga tahun yg lalu saya tulis ini,untuk mengingatkan kembali di bulan puasa saya kirim ulang
Para mahasiswa tersayang
Semoga ini menjadi bahan renungan
untuk kalian kenang selamanya…
Jika engkau alim, jadilah obor bagi alam semesta
Jika engkau jahil, bernaunglah di bawah cahaya
Jika engkau kaya, jadilah bank kepada masyarakat
Jika engkau miskin, berbanggalah untuk keridhoan Tuhanmu
Hindarilah dari berminta – minta
agar terpelihara kemuliaanmu
biarlah kamu miskin di hadapan manusia
akan tetapi kaya di hadapan Allah SWT
Mahasiswa yg saya sayangi
Jika engkau menjadi seorang saudagar, Jauhilah riba dan betulkan timbanganmu
jujurlah dalam jual beli
dan mintalah kepada Allah SWT
agar manusia tidak menghinamu
dan Jika engkau menjadi seorang pemimpin Jadilah payung kepada umat, rendahkanlah sayapmu
dan Jika engkau dipimpin, Serahkanlah kepada kebijakan pemimpinmu
Sayang,
Jika engkau menderita, berserah dirilah karena itu tanda cinta dari Allah SWT agar engkau menjadi lebih kuat
Allah maha pengasih dan penyayang kepadamu,
Kasih Allah melebihi kasih seorang ibu kepada anaknya…

TELEPATI,BENARKAH ADA?

Banyak orang yang tidak percaya soal telepati,meskipun sesungguhnya ia pernah merasakan atau melakukan tanpa disadari. Sebaliknya banyak orang yang percaya telepati seperti yang digambarkan dalam film populer yaitu dua orang bisa bercakap-cakap melalui pikiran,yang sebenarnya tidaklah demikian. Telepati yang sebenarnya itu seperti apa?

Saya teringat ketika masih kecil pada suatu malam saya tidur tidak nyenyak,gelisah,berkali-kali bangun dan setiap bangun yang teringat adalah nenek, yang menyayangi cucu-cucu ya,termasuk saya. Peristiwa itu terjadi saat saya masih SMP, dan saya baru menyadari bahwa pada waktu itu terjadi kontak batin antara saya dengan nenek,dan itulah sesungguhnya telepati. Peristiwa lain terjadi ketika SMA (saya di yogya dan ibu di cilacap) sedang mengikuti kemah. Pada malam hari saya merasa meriang,dan entah mengapa pada waktu itu saya jadi punya ide untuk mencampur bawang merah dengan minyak kayu putih untuk melumuri badan saya agar hangat. Sesungguhnya pada saat yang bersamaan ternyata (saya ketahui kemudian) ibu pada waktu itu berpikir jika saya sakit agar punya pikiran seperti yang sudah saya lakukan. Tanpa saya sadari secara alamiah saya sudah melakukan telepati,tetapi saya belum tahu bahwa sesungguhnya itu adalah telepati.

Telepati berasal dari bahasa latin tele dan pathos,tele berarti jauh dan pathos berarti perasaan. Jadi telepati sesungguhnya adalah komunikasi jarak jauh melalui perasaan. Komunikasi yang terjalin hanya berupa gambaran-gambaran saja,bukan seperti orang bercakap-cakap seperti yang digambarkan dalam film,karena itu penggambaran yang berlebihan.

Telepati dipercaya melibatkan fisiologis tubuh. Tidak semata-mata pikiran yang bekerja. Penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang menyampaikan sebuah informasi telepatik kepada orang lain, terjadi perubahan fisiologis dalam diri pengirim. Pada saat seorang pengirim pesan diminta berkonsentrasi memikirkan penerima pesan, respon kulit galvanik atau GSR, yang merupakan detektor alamiah terhadap stres psikologis dalam diri seseorang, meningkat. Pada saat relaks, GSR-nya kembali menurun.

Penelitian di laboratorium tersebut juga menunjukkan bahwa pada saat pengirim pesan berkonsentrasi pada penerima pesan, dimana terjadi peningkatan GSR, penerima pesan juga mengalami kenaikan GSR. Saat pengirim pesan dalam kondisi relaks, secara otomatis, GSR penerima pesan juga ikut menurun. Padahal, penerima pesan tidak tahu apakah pengirim pesan sedang berkonsentrasi atau sedang relaks. Jadi, secara fisiologis, penerima pesan merespon perubahan fisiologis pengirim pesan.
Dalam bidang parapsikologi, telepati dianggap sebagai suatu bentuk indera keenam di mana informasi dihubungkan melalui kemampuan psi. Hal ini sering dikategorikan sama dengan prekognisi dan kewaskitaan. Berbagai percobaan telah digunakan untuk menguji kemampuan telepati. Di antara yang paling terkenal adalah penggunaan kartu Zener dan metode Ganzfeld. Seseorang yang diberi kemampuan lebih oleh Yang Maha Pencipta dalam hal ini bisa memanfaatkan telepati dengan baik,bahkan dengan orang yang tidak masuk dalam kerabat atau keluarga sekalipun, dan mungkin itulah yg saya gunakan untuk membantu orang yang membutuhkan,misalkan menghipnotis yang sedang mabok dari harak jauh. Mudah-mudahan anda menjadi paham apa itu TELEPATI.

GURU PUNYA HAK MEMBERI SANKSI

Kian hari kian banyak saja kasus orang tua lebay memberi “pelajaran” yang tidak semestinya. Orang tua lebay tersebut bukannya datang mengucapkan terima kasih kepada guru karena telah mendidik anak-anaknya,tetapi justru memberikan hadiah yang sungguh tidak memgenakan. Banyak sekali kasus muncul ke permukaan setalah ada guru dipenjara gara-gara mencubit anak pak polisi (meskipun kini sudah dibebaskan), orang tua mencukur rambut guru dengan melepas jilbabnya setelah tidak terima rambut anaknya dipotong, dan kasus terbaru di Tangerang orang tua menampar kepala sekolah setelah pak KS memberi tamparan ringan ke anaknya yang bandel.Dalam pendidikan di sekolah itu ada teward dan ada punishment. Anak-anakpun mendapatkan hal itu berbeda-beda sesuai dengan karakternya, dan karakter itu dibentuk di dalam keluarga. Ada anak yang dengan teguran sorot mata saja sudah patuh,ada yang harus dengan kata-kata keras, bahkan ada yang harus dengan hukuman baru menurut. Jaman dulu ketika guru memberi hukiman,bahkan dengan pukulan ringan menggunakan tangan anak tidak berani lapor ke orang tua. Laporan anak ke orang tua justru akan ditambah dengan kemarahan orang tua,karena orang tua sadar bahwa tidak mungkin guru memberi hukuman jika anaknya tidak nakal. Orang tua kini justru banyak yang berlebihan dalam membela anaknya, akibatnya anak menjadi manja berlebihan. Orang tua tidak mau tahu lagi apakah anaknya salah atau tidak,tapi tindakan guru akan dibalas dengan tindakan serupa oleh orang tuanya, padahal orang tua sudah menyerHkan sepenuhnya pendidikan anaknya pada sekolah.

Sebenarnya guru memberikan sanksi kepada murid yang kelewatan itu ada payung hukumnya. Cobalah buka Peraturan Pemerintah n0 74 tahun 2008 tentang Guru. PP 74 tahun 2008 ttg Guru yg perlu diindahkan oleh Murid/ Wali Murid, kepolisian, kejaksaan, Pengadilan Negeri (PN) dan Pengadilan Tinggi (PT) berbunyi sebagai berikut,

“Guru memiliki kebebasan memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang melanggar norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, peraturan tertulismaupun tidak tertulis yang ditetapkan guru, peraturan tingkat satuan pendidikan, dan peraturan perundang-undangan dalam proses pembelajaran yang berada di bawah kewenangannya,” bunyi Pasal 39 ayat 1.

Dalam ayat 2 disebutkan, sanksi tersebut dapat berupa teguran dan/atau peringatan, baik lisan maupun tulisan, serta hukuman yang bersifat mendidik sesuai dengan kaedah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundang-undangan. 

“Guru berhak mendapat perlindungan dalam melaksanakan tugas dalam bentuk rasa aman dan jaminan keselamatan dari pemerintah, pemerintah daerah, satuan pendidikan, organisasi profesi guru, dan/atau masyarakat sesuai dengan kewenangan masing-masing,” papar Pasal 40.

Rasa aman dan jaminan keselamatan tersebut diperoleh guru melalui perlindungan hukum, profesi dan keselamatan dan kesehatan kerja.

“Guru berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihakpeserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain,” dan ini ditegaskan pada Pasal 41.

Jika mengacu pada PP tersebut maka sebenarnya sah-sah saja jika guru memberikan sanksi kepada peserta didiknya,karena semua melalui proses dan tahapan,tidak semena-mena,tapi pejabat hukum rupanya lupa atau melupakan hak guru tersebut. Kalau organisasi guru saja lupa atau melupakan hak dasar guru maka siapa lagi yang peduli dengan Guru ?

Butuh PPnya? Klik lin berikut

https://onedrive.live.com/redir?resid=E393B1143DC10871!3326&authkey=!AMxMQm7-yrEzDaY&ithint=file%2cpdf