Surabaya sekarang berbeda dengan dulu

Dahulu ketika saya pertama kali mengunjungi Surabaya sekitar tahun 2008 yang saya lihat adalah kesemrawutan lalu lintas, kota yang gersang dan air sungai yang berwarna hitam dan bau. Sampai beberapa tahun kondisi seperti itu masih tetap tidak berubah. Kondisi Surabaya pelan-pelan berubah saat walikotanya Tri Rismaharini. Kemarin saat saya berkunjung ke Surabaya lagi cukup kagum dengan kondisi yang sekarang.

Semula saya masih membayangkan kota yang panas, lalu lintas yang semrawut yang tidak memberi kesempatan menyeberang pada pejalan kaki,sungai yang hitam dan bau. Ternyata kondisinya sudah berubah jauh karena sungai Kalimas yang tadinya saya bayangkan kotor karena sampah ternyata bersih meskipun airnya masih agak kehitaman tapi tidak berbau.

Saya memang belum berkeliling Surabaya sepenuhnya, baru sebatas sepanjang putaran Kalimas, tetapi nampaknya dimana-mana ditemukan kondisi yang sama. Ikan lele yang besar-besar saja kemarin saya temukan di sepanjang Kalimas tanpa ada yang mengganggu,sepertinya sudah hidup dengan nyaman. Kondisi ini tentu saja berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Kesadaran masyarakat seperti inilah yang diperlukan agar kota nyaman dan ramah untuk penghuninya.

Tulisan dilarang memancing yang saya temukan di taman pinggir Kalimas barangkali bukan sekedar tulisan saja, tetapi benar-benar aturan yang dipatuhi warganya. Saya jadi membayangkan kota saya Purwokerto. Jangankan ikan sebesar lengan, separuhnya saja sudah sulit ditemukan karena ikan kecil-kecilpun sudah ditangkapi atau jadi korban tukang setrom sungai. Sungai yang ada di kota sayapun jangan berharap bersih dari sampah meskipun airnya lebih jernih dibanding Kalimas. Barangkali hitamnya Kalimas karena gelontoran limbah pabrik yang bertebaran di Surabaya, sementara air sunggai Kranji,Banjaran dan Logawa berasal dari mata air.

Surabaya sekarang berbeda dengan Surabaya dulu. Surabaya sekarang sudah memberi ruang pada pejalan kaki,terutama untuk ruang pedestriannya, meskipun jika menyeberang masih harus bermental baja,karena kendaraan,terutama motor, susah memberikan kesempatan pada pejalan kaki dengan memperlambat lajunya,misalnya. Oleh karena itu jika mau menyeberang di Surabaya carilah jembatan penyeberangan, tetapi jika tidak ya memang harus nekad. Selain kondisi yang sudah disebutkan di atas, bagian yang memanjakan mata adalah ditemukannya taman-taman baik besar maupun kecil di seluruh wilayah di Surabaya. Bahkan banyak pot-pot bunga bergelantungan di sepanjang jalan. Surabaya memang sudah berbeda. Salut untuk walikotanya ***(Eka PGSD UMP)

Iklan