Ketika Zonasi Benturan Lokasi

Tujuan awal kebijakan zonasi memang bagus,yaitu untuk menghilangkan stigma bagus. Sepertinya akan berjalan mulus dan tidak mempertimbangkan aspek lain. Sistem zonasi yang diterapkan yang tujuannya baik tapi prosesnya menimbulkan masalah karena penerapannya tanpa memperhitungkan peta sekolah. Hal ini tentu saja membuat kalang kabut anak,orang tua bahkan guru.

Ambil contoh saja Purwokerto yang “mengumpulkan sekolah negeri dalam satu wilayah. Misalnya SMA, di satu zona ada SMA 1,SMA 2, SMA 5, ini berada dalam satu wilayah karena syarat jarak terdekat 1.6 km. Bisa dibayangkan jika satu wilayah lulusan SMPnya terlalu sedikit akan menyebabkan ada sekolah yang kekurangan murid. Disisi lain ada anak yang tidak bisa mendapatkan sekolah karena di zona tempat tinggalnya tidak ada sekolah negeri,bahkan swastapun (jika mnerapkan zonasi juga) tidak ada yang dekat dengan tempat tinggalnya.

Kebijkan yang sudaj ditempuh ini pada akhirnya menjadi tidak bijak,karena mengabaikan peta wilayah pendidikan. Semestinya kebijakan ditempuh dengan memberikan keleluasaan masing-masing daerah,karena peta sekolah di setiap daerah tentu tidak sama. Ada daerah yang sekolahnya terkonsentrasi di satu wilayah,tetapi ada juga daerah yang tersebar dengan jarak cukup jauh seperti Yogya (seingat saya itu). Bayangkan perasaan orang tua yang jarak sekolah dengan tempat tinggal jauh dari sekolah dan tidak masuk kriteria jarak zonasi,sementara di wilayahnya tisak ada sekolah sama sekali, lalu mau dikemanakan si anak? Screen shoot di bawah ini merupakan contoh gambaran betapa kebijakan zonasi yang diterapkan tanpa melihat peta daerah menjadi tidak bijak.

Mengubah kebijakan zonasi dalam waktu singkat memang akan susah karena terkait dengan soal wibawa pembuat kebijakan, tapi hal-hal yg terjadi di lapangan perlu sipertimbangkan untuk memperbaiki kebijakan tersebut kedepannya. Semoga pak menteri atau siapapun yang mengambil kebijakan bisa arif menyikapi kontroversi zonasi, pertimbangkan juga faktor lokasi.

Eksotisme Pletuk Terkini

Curug atau air terjun Pletuk mungkin belum banyak dikenal orang,karena memang belum lama ditekuni secara serius,tapi jangan dikira tidak punya keindahan tersendiri. Berbeda dengan curug lainnya di sekitar Jateng Barat, curug Pletuk tempat air jatuhnya tidak bisa didekati,tapi justru disinilah kekuatannya. Taman bunga dengan beberapa asesoris yang instagramable adalah satu hal yang tidak ada di tempat lain. Pembenahan dan sarana promosi sampai saat ini masih didukung oleh Tim LPPM UMP diantaranya pak Warno,pak Ito dan pak Eka.

Nuansa baru curug Pletuk seperti nampak di atas sudah mengundang rasa segar di mata dan sangat instagramable. Pemandangan seperti inilah yang tidak dipunyai di tempat lain,karena air terjun yang suda populer umumnya mengandalkan kekuatan air terjun itu sendiri yang bisa dikunjungi wisatawan dari jarak dekat. Curug Pletuk juga bisa digunakan berfoto dari jarak dekat, meskioun bukan di tempat air jatuhnya,tetapi di aliran bawah,justru inilah yang membedakannya dengan yang lain.

Saat libur lebaran biasanya orang Indonesia selalu mencari tempat wisata baru. Jika anda sudah bosan dengan wisata kota yang buatan atau wisata pantai atau juga wisata gunung, kini saatnya wisa Air Terjun dengan tamannya menjadi alternatif pilihan. Bagi orang Barlingmascakeb wisata yang dekat, segar dan layak dipakai tempat selfie salah satunya,dan sangat dianjurkan ya Curug Pletuk. Dengan harga tiket yang tergolong murah,tentunya akan membuat masyarakat dari golongan bawahpun bisa memenuhi keingininannya. Kapan lagi anda memanfaatkan liburan mumpung mudik kalau tidak sekarang. Berwisata yang menyehatkan mata,fisik dan juga kamera ya Curug Pletuk.

Lokasi Curug Pletuk cukup mudah di cari, jika anda ada di jalan raya Purwokertocari saja jalan kearah Kecamatan Pagedongan selanjutnya ke arah desa Pesangkalan. Ini merupakan jalan paling dekat dan paling nyaman untuk dilalui. Waktu tempuh dari jalan raya Banjarnegara kurang lebih 30 menit saja.

Video ini belum berada di air terjun utama,tetapi dibagian bawah.

SAAT DI POSKO MUDIKMU KOKAM DAN MDMC

Biarkan gaya hidup saya tetap merdeka
Sepuluh tahun yang lalu ketika melayani guru2 di kelas PPKHB Pemalang dan Pekalongan,saya satu2nya yang kalau ngajar naik bus umum,sementara teman2 naik mobil atau motor, dan sampai skrg ke cilacap juga kadang masih naik bus umum.
Sejak 14 tahun yg lalu saya masih setia naik motor SANEX yg sering dijuluki elek eprek-eprek. Sampai suatu saat sekitar 9 tahun yg lalu ketika naik motor ke kampus ada yg komentar masa asesor kemana-mana naik motor ga naik mobil. Saya tetap tak peduli meskipun yg komen seperti itu makin banyak. Saya katakan tidak ada korelasinya antara pekerjaan dengan kendaraan. Saya baru mulai terpikir beli mobil ketika keadaan memaksa membutuhkan sarana transportasi pengangkut banyak orang. Meskipun sudah ada mobil, sayapun masih jarang memggunakan,kecuali sangat membutuhkan,misal harus bawa barang ke kampus atau hujan,kalau tidak ya tetap setia dengan motor elek eprek2, sampai skrg. Jangan samakan saya dengan orang yang hidup karena gaya,rumah saja masih ngontrak di rumah sederhana mepet sawah tapi beli mobil kredit agak mewah. Rumah nomor sekian nomor satu penampilan.
Sederhana itu gaya hidup, karena hidup itu secukupnya dan seadanya,pas butuh apa uangnya cukup, pas butuh kendaraan ada.
Biarkan saya bergaya hidup merdeka, itu yang saya suka. Percuma saja saat anda ketemu saya menanyakan kok ga naik mobil, karena mobil hanya sarana, kalau cukup dengan motor kenapa harus mobil, kalau cukup dengan jalan kaki kenapa naik motor. Itu sebabnya kenapa di kampus kemana-mana saya jalan kaki,sementara kebanyakan hanya dari fakultas ke masjid saja naik motor bahkan mobil. Kalau itu memang gaya anda untuk menyayangi kaki anda biar tidak jalan ya sah-sah saja.
Merdeka dengan gaya hidup sederhana.

(Ditulis saat jaga di POSKO MUDIKMU KOKAM SURYA CENDEKIA UMP dan MDMC UMP)