PERAN ORANG TUA TERHADAP IMPLIKASI PERKEMBANGAN ANAK USIA 6-12 TAHUN (SEKOLAH DASAR) DALAM PROSES BELAJAR SAINS

Pendidikan pada jenjang Sekolah Dasar berorientasi pada pengembangan potensi anak didik. Terkait dengan potensi anak didik, pada dasarnya setiap anak memerlukan tuntutan perkembangan potensi-potensi dasar manusia yang meliputi potensi berpikir, kreativitas, keterampilan, dan sosial yang mampu membangun kedewasaan emosional, sikap, dan jati diri sebagai manusia terdidik. Proses pendidikan diarahkan bagi perkembangan potensi anak didik melalui kegiatan belajar yang sesuai dengan minat dan bakat pada anak.

Dalam proses pendidikan anak ada tiga pihak yang bertanggungjawab terhadap perkembangan proses pembelajaran, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan pertama yang diterima anak adalah dari lingkungan keluarga dimana anak lahir, hidup, dan dibesarkan. Oleh karena itu, keluarga merupakan tempat sebaik-baiknya bagi pendidikan anak. Kemudian pendidikan dilanjutkan di lembaga sekolah yang pada dasarnya membantu orang tua untuk melanjutkan, memperluas, dan memperdalam apa yang sudah diberikan oleh orang tua di lingkungan keluarga. Selain di lingkungan keluarga dan sekolah, seorang anak juga belajar di lingkungan masyarakat melalui pergaulan serta melihat dan mendengar apa yang ada di lingkungan sekitarnya. Oleh sebab itu, tepatlah bila dikatakan bahwa pendidikan anak pada dasarnya merupakan tanggungjawab bersama antara orang tua, sekolah, dan masyarakat.

Sekolah Dasar (SD) merupakan lembaga pendidikan formal yang pertama bagi anak. Tugas guru di sekolah adalah mengembangkan potensi anak didik dengan memberikan stimulus berupa bahan-bahan yang dirancang dan diperoleh dari lingkungan anak melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran diarahkan bagi perkembangan potensi anak didik semaksimal mungkin. Namun demikian, seberapa besar tingkat perkembangan belajar anak didik dipengaruhi oleh bagaimana proses dan hasil interaksi antara faktor internal pada diri anak didik dan faktor eksternal di luar anak didik. Faktor internal anak didik meliputi potensi kognitif, afektif, dan psikomotor; sedangkan faktor eksternal anak didik meliputi semua hal yang berada di sekitar anak didik termasuk diantaranya lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Mendidik anak merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh orang tua dan keluarga merupakan salah satu wahana yang sangat penting dalam pelaksanaan pendidikan. Orang tua sebagai pendidik sekaligus penanggungjawab sudah seharusnya berperan positif dalam mendukung kemajuan pendidikan anak. Dalam hubungannya dengan pendidikan formal dan proses pendidikan di SD maka perhatian orang tua merupakan salah satu faktor yang dapat menumbuhkan kemauan untuk melaksanakan aktivitas, dalam hal ini aktivitas belajar.

Pendidikan sain merupakan salah satu mata pelajaran yang ada di sekolah dasar (SD), mata pelajaran ini wajib di berikan pada anak usia SD( kelas 1-3) dengan sistem pembelajaran tematik, sedangkan anak kelas 4-6 sudah dibedakan masalah sain dengan di pecah menjadi pelajaran Biologi, Fisika serta Bumi dan Antariksa. Dengan berbagai macam mata pelajaran yang ada di pendidikan dasar (SD) maka perlu sekali peserta didik bisa mengatur tentang bagaimana belajar sains.

Namun demikian, dalam kenyataannya di tengah masyarakat masih banyak ditemui anak yang mengalami hambatan belajar, bahkan di beberapa daerah masih terdapat anak yang putus sekolah. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya perhatian orang tua terhadap pendidikan anaknya. Masih banyak orang tua yang menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan anak kepada sekolah. Di lingkungan keluarga anak kurang mendapatkan dukungan bagi kemajuan pendidikan. Terdapat beberapa hal yang menyebabkan kurangnya dukungan orang tua terhadap kemajuan pendidikan anak. Misalnya, keterbatasan pendidikan orang tua yang mengakibatkan kurangnya pemahaman dan pengetahuan orang tua tentang pendidikan anak, keterbatasan ekonomi orang tua sehingga mereka tidak mempunyai cukup dana untuk kebutuhan yang dapat mendukung kemajuan pendidikan, dan keterbatasan waktu karena sibuk mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga.

Sementara pada sebagian masyarakat yang lain, kenyataan menunjukkan adanya kecenderungan meningkatnya perhatian orang tua terhadap pendidikan anak. Banyak orang tua yang merasa perlu terlibat secara langsung untuk membantu anak agar mendapatkan prestasi belajar yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dengan adanya kecenderungan orang tua untuk menyekolahkan anaknya pada sekolah-sekolah yang dinilai berkualitas baik. Selain itu banyak ditemui orang tua yang berperan aktif dalam mendukung pendidikan anak. Misalnya, dengan mendampingi kegiatan belajar, menyediakan buku-buku pelajaran, menyediakan fasilitas dan alat belajar, mengajak anak ke toko buku, dan menjalin komunikasi  dengan pihak sekolah.

  1. Arti pendidikan

Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dirumuskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dari rumusan tentang arti pendidikan di atas, dapat dikatakan bahwa sasaran pelayanan pendidikan adalah potensi subjek didik, dan tujuan dari kegiatan pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki anak didik.

Selanjutnya, dalam pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tersebut dirumuskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta  bertanggungjawab. Dari rumusan tujuan pendidikan tersebut terkandung suatu pengertian bahwa dalam proses pendidikan terjadi suatu perubahan pada diri anak didik yaitu berupa perkembangan potensi melalui belajar. Proses pendidikan tersebut berlangsung pada suatu lembaga, baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Roemer (Woolfolk & Nicolich, 1984: 17-18) yang menyatakan bahwa education is the process by which a society transmits to new members the values, beliefs, knowledge, and symbolic expressions to make communication within the society possible. Maksud dari pernyataan tersebut adalah pendidikan merupakan proses yang dilakukan oleh suatu lembaga untuk meneruskan nilai-nilai, keyakinan, pengetahuan, dan ekspresi simbolis agar memungkinkan terjadinya komunikasi dalam suatu masyarakat. Sekolah merupakan institusi formal yang bertanggungjawab untuk mendidik siswanya. Dalam proses pendidikan tersebut, siswa melakukan serangkaian kegiatan yang disebut belajar. Belajar menunjuk pada perubahan tingkah laku anak didik terhadap suatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang dalam situasi itu (Bower & Hilgard, 1975: 11). Pengertian perubahan di sini adalah perubahan potensi anak didik yang disengaja, dengan sadar, dan ke arah yang positif. Agar perubahan sesuai dengan yang diharapkan maka pendidikan harus ada yang bertanggungjawab. Subjek didik adalah individu yang berkembang di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Sudah selayaknya tugas dan tanggungjawab keluarga, sekolah, dan masyarakatlah untuk mengembangkan anak didik melalui pelayanan pendidikan.

 

  1. Tanggungjawab intelektual

Kehadiran seorang anak bagi orang tua pada dasarnya mengandung harapan sekaligus tanggungjawab. Salah satu tanggungjawab orang tua terhadap anaknya adalah tanggungjawab dalam pendidikan. Menurut Surya (2000) mendidik anak merupakan salah satu tugas dan kewajiban orang tua sebagai konsekuensi dari komitmennya untuk membina rumah tangga melalui pernikahan. Pendidikan anak dimulai dari pendidikan dalam keluarga. Pendidikan dalam keluarga merupakan pondasi bagi pendidikan-pendidikan selanjutnya dan pondasi bagi pembentukan kepribadian anak.

Dalam hubungannya dengan upaya mencerdaskan anak, pendidikan dalam keluarga mempunyai peran penting dalam upaya menyiapkan anak agar dapat berkembang secara optimal dan bermakna. Siahaan (1986: 17) mengatakan  bahwa di dalam rumah tangga pendidikan anak harus dimulai. Pendidikan di dalam keluarga adalah sekolah yang pertama. Di sini bapak-ibu mempunyai peran sebagai guru. Anak belajar segala pelajaran yang akan bermanfaat sepanjang hidupnya yaitu pelajaran-pelajaran tentang budi pekerti, sopan santun, pengendalian diri, dan kejujuran. Oleh karena itu, tepat bila dikatakan bahwa pendidikan berawal dan berpusat pada keluarga. Ki Hadjar Dewantara (1962: 375) mengatakan:

Alam keluarga itu buat tiap-tiap orang adalah alam pendidikan yang permulaan. Pendidikan di situ pertama kalinya bersifat pendidikan dari orang tua, yang berkedudukan sebagai guru (penuntun), sebagai pengajar dan sebagai pemimpin pekerjaan (pemberi contoh).

 

Selanjutnya dalam pendidikan anak, Sayekti (1993), Surya (2000), dan Shochib (1988: 35) mengatakan bahwa orang tua sebagai pendidik utama dan pertama. Anak merupakan buah cinta kasih mereka yang perlu dilindungi, dibesarkan, dicintai, dan dididik. Dengan demikian, orang tua mempunyai tugas dan tanggungjawab mendidik anak untuk mencapai perkembangan dan pertumbuhan yang optimal. Hal ini sesuai dengan pendapat Stinnett, Walters, & Kaye (1984: 305) yang menyatakan bahwa: “Another important part of preparing for parenthood is becoming educated in the basic conceps and principles of child growth and development”. Orang tua perlu mendidik anak dalam hal konsep dan prinsip dasar untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pendidikan oleh keluarga ini akan berlangsung terus dan baru berkurang setelah anak mulai masuk sekolah. Para guru di sekolah melanjutkan pendidikan anak. Di sekolah para guru memberikan pendidikan dan pengajaran serta mengembangkan bakat-bakat positif yang dimiliki anak. Selanjutnya secara keseluruhan pendidikan yang diterima di rumah dan di sekolah dipertemukan melalui pengalaman-pengalaman hidup anak di masyarakat. Dengan demikian, melalui interaksi dengan orang lain di tengah masyarakat juga merupakan pendidikan bagi anak.

Tujuan pendidikan yang diberikan di rumah, sekolah, dan di tengah-tengah masyarakat adalah untuk membantu anak agar di dalam perkembangannya yang menyeluruh dapat mencapai kedewasaan. Ki Hadjar Dewantara (1962: 217) menyebutkan bahwa keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai “Tri Pusat Pendidikan” dimana di dalam ketiga lingkungan pendidikan tersebut anak akan tumbuh dan berkembang secara terus menerus dengan mengolah apa yang ia terima dari lingkungannya menjadi miliknya.

Selanjutnya Abbas (1984: 102-107) menyatakan bahwa di dalam tujuan pendidikan terdapat dua fungsi pendidikan yaitu fungsi dinamisasi dan fungsi pengembangan secara menyeluruh. Fungsi dinamisasi dimaksudkan agar potensi yang dimiliki anak dengan bantuan orang tua, guru, dan anggota masyarakat lainnya anak tersebut secara bertahap ditempa untuk pada akhirnya mampu berdiri sendiri baik jasmani maupun rohani atau dengan kata lain anak menjadi manusia dewasa. Fungsi pengembangan dimaksudkan agar pendidikan yang diberikan kepada anak dapat mengembangkan seluruh kemampuannya. Oleh karena itu, pendidikan harus berorientasi pada kebutuhan dasar anak, kebutuhan dasar lingkungannya, perkembangannya, perkembangan teknologi dan ilmu serta pengembangan masa depan.

Dari uraian di atas, maka sangatlah penting bahwa upaya pendidikan yang dilakukan di tengah-tengah keluarga, sekolah, dan masyarakat harus bertitik tolak pada tujuan dan orientasi yang sama. Ini berarti bahwa fungsi pendidikan yang dijalankan oleh ketiga pusat pendidikan tersebut harus terpadu, terjalin, dan terintegrasi ke dalam suatu tujuan pendidikan yaitu mendewasakan anak lahir serta batin dan untuk mempersiapkan masa depannya.

 

  1. Peranan dan partisipasi orang tua dalam pendidikan

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal tujuh disebutkan bahwa orang tua dari anak usia wajib belajar berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya. SD sebagai jenjang pendidikan dasar yang pertama bagi anak merupakan pembantu kelanjutan pendidikan dalam keluarga, sebab pendidikan yang pertama diperoleh anak ialah dalam keluarga. Peralihan bentuk pendidikan keluarga ke sekolah memerlukan kerjasama antara orang tua dan sekolah.

Pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak telah disadari oleh banyak pihak baik orang tua, kepala sekolah, dan guru, maupun pemerintah walaupun dalam pelaksanaan pendidikan peran orang tua belum mendapat perhatian yang semestinya. Menurut Jason, et al (1992: 140) menyatakan bahwa orang tua mempunyai pengaruh terhadap anaknya dalam penyesuaian diri pada masa transisi di sekolah. Orang tua dengan motivasi yang tinggi menghasilkan anak yang mempunyai prestasi lebih tinggi dan secara sosial mudah menyesuaikan diri dibandingkan dengan orang tua yang mempunyai motivasi  rendah. Lebih lanjut Jason, et al menyatakan bahwa secara akademik, anak-anak yang orang tuanya mempunyai motivasi rendah memiliki kemampuan membaca, mengeja, dan matematika yang rendah pula. Di samping itu, anak-anak dengan orang tua yang mempunyai motivasi rendah cenderung lebih agresif, menarik diri, dan kurang disukai oleh teman sebayanya.

Menurut Idris dan Jamal (Slameto, 2002: 2-4) peranan orang tua bagi pendidikan anak adalah memberikan dasar pendidikan, sikap, dan keterampilan dasar seperti pendidikan agama, budi pekerti, sopan santun, estetika, kasih sayang, rasa aman, dasar-dasar untuk mematuhi peraturan, dan menanamkan kebiasaan-kebiasaan. Selain itu peranan keluarga adalah mengajarkan nilai-nilai dan tingkah laku yang sesuai dengan yang diajarkan di sekolah. Dengan kata lain ada kontinuitas antara materi yang diajarkan di rumah dan materi yang diajarkan di sekolah.

Peranan orang tua dalam pendidikan anak tidak terbatas pada pendidikan anak secara langsung namun lebih dari itu orang tua juga mempunyai kesempatan untuk berperan mengembangkan proses pembelajaran di sekolah melalui saran-saran maupun kegiatan-kegiatan. Dalam hal ini Haris (2001: 8-9) mengemukakan bahwa pemberian peran yang lebih besar kepada orang tua siswa dalam memajukan sekolah ternyata mampu mengembalikan kepedulian para orang tua siswa terhadap jalannya proses pembelajaran di sekolah. Dengan memberikan peran yang lebih besar kepada orang tua dan masyarakat akan lebih intensif memberi masukan positif kepada sekolah.

 

  1. Faktor-faktor yang mendorong orang tua dalam partisipasi pendidikan

Pada umumnya, anak merupakan kebanggaan bagi orang tua. Nilai anak bagi orang tua di atas harta kekayaan. Sunarto (1977) mengemukakan bahwa di samping kebanggaan, orang tua memiliki harapan-harapan yang dibebankan pada anak. Anak diharapkan mampu mikul dhuwur mendhem jero  kepada orang tuanya. Artinya anak diharapkan dapat menjunjung tinggi derajat orang tuanya. Menjunjung derajat orang tua dimaksudkan bahwa anak mampu membawa nama baik orang tuanya. Keberhasilan anak dalam meningkatkan status sosial maupun status ekonomi keluarga merupakan salah satu harapan orang tua yang dapat menjunjung nama baik orang tua. Pendidikan merupakan salah satu wahana bagi orang tua untuk mencapai keberhasilan anak, artinya bahwa pendidikan diharapkan dapat sebagai agen bagi keberhasilan anak. Anak yang berhasil dalam pendidikannya, secara otomatis mampu mengangkat nama baik keluarga.

Salah satu alasan mengapa orang tua menganggap penting pendidikan anak adalah bahwa melalui pendidikan harapan-harapan orang tua tentang masa depan anak dapat dicapai.  Dari harapan-harapan inilah banyak orang tua yang berusaha terlibat langsung dalam pendidikan anak baik di rumah maupun di sekolah. Orang tua menganggap penting untuk terlibat dalam pendidikan anak karena orang tua mengharap adanya prestasi belajar yang tinggi dapat dicapai anak. Banyak orang tua yang masih menganggap bahwa dengan prestasi belajar yang tinggi merupakan suatu jaminan bagi keberhasilan masa depan anak. Di samping itu, adanya kesadaran bahwa untuk meraih keberhasilan baik dalam pendidikan maupun pekerjaan saat ini penuh dengan persaingan, hal ini juga merupakan suatu alasan mengapa banyak orang tua yang ikut terlibat dalam upaya meningkatkan prestasi belajar anak. Selain itu tumbuhnya sikap kritis dari sebagian orang tua terhadap pendidikan anak menjadikan pendidikan anak tidak sepenuhnya diserahkan kepada guru, namun disertai juga upaya dari orang tua untuk ikut berpartisipasi memajukan pendidikan anak.

 

  1. Wujud partisipasi orang tua dalam pendidikan

Adanya kebijakan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) menuntut sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan lebih memadai bagi para siswanya. Terdapat faktor penting berkaitan dengan pelaksanaan MBS tersebut yaitu bagaimana memberdayakan masyarakat termasuk orang tua dalam pengelolaan pendidikan di sekolah. Artinya bahwa peran atau partisipasi orang tua dan masyarakat diharapkan tidak hanya berwujud pemberian bantuan dana atau fisik, tetapi juga dalam hal-hal akademik.

Berkaitan dengan wujud partisipasi orang tua dalam pendidikan Haris (2001: 15-17) menyatakan bahwa untuk melibatkan orang tua atau masyarakat dalam mengembangkan sekolah dilakukan dalam berbagai bentuk tingkatan dari sekadar usul, memberikan dana, sampai pada pembuatan kurikulum, dan menjadi instruktur dalam kegiatan ekstrakurikuler. Selanjutnya Haris (2001) menyatakan bahwa perlu adanya kejelasan mengenai tingkat partisipasi dan bentuk partisipasi masyarakat dalam memajukan pendidikan di sekolah sehingga dengan mudah dalam menyusun pedoman kerja dan tolok ukur keberhasilannya.

Mengenai wujud keterlibatan orang tua dalam pendidikan Cotton & Wikelund (2001) mengatakan:

Parents can support their children’s schooling by attending school functions and responding to school obligations (parent-teacher conferences, for examples). They can become more involved in helping their children improve their schoolwork-providing encouragement, arranging for appropriate study time and space, modeling desired behavior (such as reading for pleasure), monitoring homework, and actively tutoring their children at home.

 

Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa dalam berpartisipasi pada pendidikan anak, orang tua dapat memotivasi sekolah dengan perhatian pada fungsi-fungsi sekolah dan merespon kewajiban-kewajiban sekolah, misalnya pertemuan guru-murid. Orang tua dapat terlibat dalam menolong anak-anak mereka dengan cara memperbaiki pekerjaan anak, seperti memotivasi, mengatur jadwal dan tempat belajar, menjadi contoh yang baik bagi anaknya, memonitor PR, dan menjadi tutor bagi anak.

Berkenaan dengan PR, Epstein (Jason, et al, 1992: 143) menyatakan bahwa melalui PR anak dapat mempraktikkan keterampilannya, meningkatkan kecepatan kemampuan aplikasi, dan menjaga stabilitas tingkat kemampuan anak. Di samping untuk mendorong kemampuan dalam bidang akademik, PR juga dapat digunakan sebagai sarana interaksi antara orang tua dengan anak. Komunikasi yang dibangun antara orang tua dan anak melalui PR, dapat menolong anak dalam menetapkan standar akademik yang hendak dicapai. Mereka juga dapat saling bertukar informasi, fakta-fakta, dan sikap mengenai prestasi sekolah.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s