Ijasah tanpa makna

Ini cerita teman dosen di pengurus asosiasi,yg sy sunting kembali,dan sebagian juga cerita pengalaman pribadi saya yg saya masukan
Ijazah Kosong

Di perusahaan tempat teman saya bekerja dulu ada beberapa orang operator mesin yang berijazah sarjana. Suatu hari salah seorang di antara mereka datang kepada saya untuk protes.

“Gaji saya kok disamakan dengan karyawan lain yang lulusan SMA. Padahal saya sarjana.”

“Pekerjaan dan posisi yang kamu tempati itu memang dibuka untuk lulusan SMA. Kalau mau gaji yang lebih tinggi, kamu harus cari pekerjaan untuk lulusan sarjana.”

“Tapi kan seharusnya ada tunjangan khusus untuk sarjana.”

“Tidak ada. Perusahaan memberi gaji atas dasar apa yang kamu kerjakan, bukan atas ijazahmu.”

Dia masih mencoba mendebat, tapi teman saya memotong saja. “Dengar, ya. Saya ini punya ijazah doktor. Tapi gaji saya ya gaji manager, sama seperti gaji manager lain. Tidak ada tunjangan khusus. Kalau kamu merasa kamu punya kelebihan dibanding operator lain, tunjukkan dengan kerja. Kalau kualitas kerja kamu memang berbeda, nanti akan saya naikkan gaji kamu.”

Banyak orang mengira perusahaan itu seperti kantor pemerintah yang menetapkan gaji berdasarkan tingkat ijazah. Pegawai di suatu golongan boleh meminta kenaikan pangkat bila mendapat ijazah dengan tingkat lebih tinggi. Basis penilaiannya hanya ijazah itu. Makanya banyak orang sekolah lagi untuk mencari selembar ijazah.

Mengapa ada sarjana yang bekerja sebagai operator? Tidakkah ada pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya? Ada, banyak. Besar kemungkinan dia sudah melamar dan ikut tes di banyak tempat, tapi tidak lolos. Akhirnya ia terpaksa bekerja sebagai operator.

Ada begitu banyak sarjana tanpa kompetensi. Tak sedikit dari mereka yang jadi pengangguran. Orang menyebut mereka pengangguran terdidik. Saya lebih suka menyebut mereka pengangguran berijazah. Pendidikan yang mereka lewati tidak menimbulkan bekas, karena itu tak begitu patut kalau mereka disebut terdidik.

Mengapa bisa ada sarjana seperti ini? Pertama, karena secara intelektual mereka sebenarmya memang tidak masuk kualifikasi bisa kuliah. Pola pikir masyarakat yang menganggap sarjana itu hebat membuat orang-orang yang tak mampu secara intelektual pun memaksakan diri untuk kuliah.

Kenyataan di PT masih banyak di- temukan mahasiswa fakultas teknik yang tidak paham definisi sinus cosinus. Bahkan tidak sedikit yang gagap dengan penjumlahan pecahan. Tapi kenapa bisa lulus tes masuk? Entahlah. Lebih ajaib lagi, mereka bisa lulus sarjana.

Perguruan tinggi berlomba menerima mahasiswa dan memproduksi sarjana. Orang-orang yang tidak lulus seleksi masuk, diterima di program ekstensi. Orang yang sebenarnya tidak punya kemampuan akademik memadai, bisa kuliah dengan membayar lebih. Sebuah PT yg menerapkan open learning yg awalnya diprogram untuk mereka yg sdh jadi guru sekarang bisa menerima fresh graduate dg selembar surat aspal sdh jadi wiyabakti. Kenyataan surat aspal juga saya temukan saat seleksi berkas waktu ada PPKHB di PGSD UMP yg terpaksa saya tolak.

Di luar soal itu, banyak pula mahasiswa yang sebenarnya punya basis intelektual memadai tapi tetap bodoh, karena tidak belajar. Mereka mengira belajar di perguruan tinggi itu hanya aktivitas di ruang kelas itu. Mereka tidak membekali diri dengan kemampuan belajar mandiri. Nilai kuliah tinggi, tapi kompetensi minim.

Kepada mahasiswa selalu saya ingatkan bahwa hal terpenting yang harus mereka kuasai adalah kemampuan belajar mandiri. Mereka harus membangun kemampuan itu, lalu menggunakannya untuk menambah pengetahuan dan skill yang tidak diajarkan di ruang kuliah. Dengan kemampuan itu pula mereka mengembangkan diri setelah lulus. Itulah poin terpenting dari kesarjanaan,salah satunya jadi asdos,meski tdk dpt honor, dan itu bisa menambah ilmu dan keterampilan secara mandiri. Anda bisa tanya pada beberapa mhs yg sempat mendampingi saya seperti Firman Yogi Ilmawan, Febi Maharani,Nora Anya Tamara, Aisah Wiendiarti, Gerandin Mutiara Sadewa, dan lainnya. Tanpa kemampuan itu seorang sarjana akan jadi fosil.

Di kampus-kampus ketika saya masih keliling dari satu tempat ke tempat lain se Indonesia selalu mengingatkan para dosen untuk membimbing mahasiswa meraih kompetensi, bukan sekedar dapat nilai kuliah. Kepada para mahasiswa saya ingatkan untuk membangun kompetensi. Jangan sampai jadi sarjana dengan membawa ijazah kosong,di PGSD UMP sy sebut sebagai mahasiswa mintilihir, istilah ini tdk akan ditemukan dimanapun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s