Pendidikan Jurnalistik mau dibawa kemana ?

Tulisan ini sengaja ditulis bukan soal pro capres satu atau dua,tetapi keprihatinan terhadap nasib pendidikan jurnalistik. Ketika saya masih jadi mahasiswa di UGM dulu, dan nyambi jadi wartawan serta pengelola majalah kampus dan majalah mahasiswa pernah mengikuti pendidikan jurnalistik yang diisi oleh tokoh-tokoh pers dari Kompas,Suara Karya,Sinar Harapan, dan TVRI (satu-satunya TV di Indonesia kala itu) dan seorang menteri (Cosmas Batubara). 2 hal yang saya ingat tentang jurnalistik ada Good News is Bad News but Bad News is Good News. Hal kedua adalah syarat sebuah berita yaitu kebaruan, kejadian fenomenal, menyangkut publik atau tokoh masyarakat, menarik minat masyarakat.

Beberapa hal tersebut sebenarnya ada dalam aksi reuni 212. Fenomenal karena melibatkan jutaan orang, kebaruan karena memang baru terjadi, menyangkut publik dan masyarakat,karena adanya pro kontra terkait aksinya. Sayangnya hal-hal yang dari sisi jurnalistik memenuhi syarat ternyata dianggap tidak memenuhi syarat bagi media mainstream Indonesia saat ini, kecuali TV One dan media luar negeri. Sejak aksi hari minggu sampai hari ini Rabu tidak ada berita yang menonjol sama sekali di media mainstream kecuali hanya sekedar berita sampiran saja. Seolah-olah semua pemilik media takut dibreidel pemerintah seperti jaman Suharto.

Seperti apapun kejadiannya rasanya tidak ada media yang takut memberitakan aksi seperti itu di jaman Suharto ketika masih sangat kuat dan kuasa, kecuali berita itu isinya menyerang pemerintahan. Aksi reuni 212 sama sekali tidak ada isinya yang menyerang pemerintah, bahkan Bawaslu sendiri menyatakan tidak ada unsur kampanye,tapi anehnya tetap saja tidak ada berita terkait aksi damai tersebut. Oleh karena itu penulis heran dengan sikap para wartawan media mainstream, terutama redakturnya. Kalau hal seperti ini terus terjadi akan dibawa kemana pendidikan jurnalistik kita ? Apakah perlu dibuang saja kaidah-kaidah jurnalistik yang selama ini diajarkan karena kenyataannya hal itu juga tidak berlaku di lapangan saat ini. Nilai kejujuran dan keterbukaan informasi menjadi hilang dengan adanya kasus ini. Apa perlu masyarakat memblock out semua media itu jika medianya juga memblockout berita yang sesungguhnya ditunggu masyarakat. Nampaknya pula aksi 212 adalah berita baik yang tidak perlu diberitakan (Good News is Bad News)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s