Aplikasi hotel murah

I recommend you use the OYO app for hassle-free stays at affordable prices. Download from app Oyo di android or use code: KARMMJVQX

Kualalumpur dan sekitarnya

Perjalanan dari Jakarta ke Kualalumpur kini tergolong cukup murah. Hanya mengeluarkan biaya kurang lebih 2,5 juta kalau dari Jakarta atau 3,2 jika dari Purwokerto sudah termasuk biaya pesawat pulang pergi plus akomodasi selama di Kualalumpur,asal mau dengan gaya backpackeran. Di Kualalumpur kita bisa memanfaatkan bus gratisan yang disebut GO KL, asal tahu rutenya yang disesuaikan dengan warna jakurnya. Terpaksanya tidak naik bus GO KL bisa naik kereta yang murah asal kita menginap di KL Central karena semua route berawal dari KL Central. Tarif kereta dari KL Central ke Batu Caves misalnya hanya 1.3 ringgit.

Jima kita di Kualumpur sempatkan melihat Twin Tower Petronas waktu siang dan malam,karena nuansanya sangat jauh berbeda. Twin Tiwer waktu siang hanya sekedar selfi dengan backgroun Menara Kembarnya saja,selain belanja dan melihat musium sains, tapi di waktu malam kita juga bisa melihat atraksi air mancur menari yang diiringi musik. Tontonan ini tentu saja gratis, dan kita bisa menikmati suasana makam sekaligus menyegarkan mata dengan atraksi yang cukup bagus.

Suasana malam Twin Tower

Suasana siang Twin Tower

Air mancur menari

Lalu bagaimana dengan makannya ?

Tidak usah khawatir, di sekitar KL CENTRAL banyak rumah makan yang menyediakan makanan yang murah dan enak, termasuk teh tariknya yang menjadi ciri khas Malaysia. Kita tinggal pilih saja apakah makanan khas Malaysia yang khas dengan rempahnya atau yang standar umum seperti fried chicken. Bagi yang tidak tahan dengan rasa dan aroma kare bisa pilih KFC yang standarnya dimana-mana sama.

Di Kualalumpur kita juga bisa menengok menara Kualalumpur yang memang kalah populer dibanding dengan Twin Tower,meskipun lokasinya tidak begitu jauh dari Twin Tower. Dari Kuallumpur kita kemana ? Tunggu tukisan selanjutnya

Pendidikan Jurnalistik mau dibawa kemana ?

Tulisan ini sengaja ditulis bukan soal pro capres satu atau dua,tetapi keprihatinan terhadap nasib pendidikan jurnalistik. Ketika saya masih jadi mahasiswa di UGM dulu, dan nyambi jadi wartawan serta pengelola majalah kampus dan majalah mahasiswa pernah mengikuti pendidikan jurnalistik yang diisi oleh tokoh-tokoh pers dari Kompas,Suara Karya,Sinar Harapan, dan TVRI (satu-satunya TV di Indonesia kala itu) dan seorang menteri (Cosmas Batubara). 2 hal yang saya ingat tentang jurnalistik ada Good News is Bad News but Bad News is Good News. Hal kedua adalah syarat sebuah berita yaitu kebaruan, kejadian fenomenal, menyangkut publik atau tokoh masyarakat, menarik minat masyarakat.

Beberapa hal tersebut sebenarnya ada dalam aksi reuni 212. Fenomenal karena melibatkan jutaan orang, kebaruan karena memang baru terjadi, menyangkut publik dan masyarakat,karena adanya pro kontra terkait aksinya. Sayangnya hal-hal yang dari sisi jurnalistik memenuhi syarat ternyata dianggap tidak memenuhi syarat bagi media mainstream Indonesia saat ini, kecuali TV One dan media luar negeri. Sejak aksi hari minggu sampai hari ini Rabu tidak ada berita yang menonjol sama sekali di media mainstream kecuali hanya sekedar berita sampiran saja. Seolah-olah semua pemilik media takut dibreidel pemerintah seperti jaman Suharto.

Seperti apapun kejadiannya rasanya tidak ada media yang takut memberitakan aksi seperti itu di jaman Suharto ketika masih sangat kuat dan kuasa, kecuali berita itu isinya menyerang pemerintahan. Aksi reuni 212 sama sekali tidak ada isinya yang menyerang pemerintah, bahkan Bawaslu sendiri menyatakan tidak ada unsur kampanye,tapi anehnya tetap saja tidak ada berita terkait aksi damai tersebut. Oleh karena itu penulis heran dengan sikap para wartawan media mainstream, terutama redakturnya. Kalau hal seperti ini terus terjadi akan dibawa kemana pendidikan jurnalistik kita ? Apakah perlu dibuang saja kaidah-kaidah jurnalistik yang selama ini diajarkan karena kenyataannya hal itu juga tidak berlaku di lapangan saat ini. Nilai kejujuran dan keterbukaan informasi menjadi hilang dengan adanya kasus ini. Apa perlu masyarakat memblock out semua media itu jika medianya juga memblockout berita yang sesungguhnya ditunggu masyarakat. Nampaknya pula aksi 212 adalah berita baik yang tidak perlu diberitakan (Good News is Bad News)

Saatnya memberdayakan rakyat kecil

Hari ini Selasa 4 Desember 2018 saya mengikuti Konsultasi Publik Kajian Lingkungan Hidup Stategis (KLHS ) di Graha Satria Kabupaten Banyumas. Saya bukan akan mengomentari tentang KLHSnya. Ada sisi yang menarik dilihat dari sisi lingkungan, yaitu tentang snacknya. Apakah snaknya mahal? Bukan. Apakah dari toko roti terkenal? Juga bukan.
Saya justru mengapresiasi dari sisi yang lain, karena pilihannya justru memberdayakan pengusaha kecil. Pilihan makanan ringan yg dipilih yaitu cemplon, comro, lemed dan sejenisnya dengan minuman teh dan kopi. Cara ini justru sebagai bentuk pemberdayaan pengusaha ekonomi kecil. Bayangkan jika semua rapat yg dilaksanakan oleh instansi pemerintah maupun lembaga lain melakukan hal yang sama. Sungguh ini akan menjadi berkah bagi rakyat kecil.
Hal yang menarik kedua adalah tidak digunakannya dus snak dan barang plastik lainnya (kecuali tempat cemplon masih pakai plastik), sedang gelas minum menggunakan gelas kertas. Cara ini tentu saja sedikit mengurangi ljmbah atau sampah rumah tangga. Saya akan sangat mengapresiasi jika hal ini dijalankan secara kontinyu, bukan hanya ketika Purwokerto sempat mengalami darurat sampah beberapa waktu yang lalu.
Semoga menular ke lembaga lain.

Ketika anak di luar kendali orang tua

Semangat pagi semuanya.

Tadi pagi saya jalan kaki seperti niasa di hari minggu,targetnya 8 km minimal. Route hari ini sengaja mengambil route yg berbeda lagi yaitu menyusuri tepian kali bener,motong tersier dan menyusuri sungai kranji,nyebrang jalan Sudirman masuk kampung pelangi. Di sepanjang gang kampung pelangi suasananya memang sudah berbeda dengan tahun sebelumnya. Tertata rapi dan warna warni.

Ada sedikit hal yang mengusik ketika sekumpulan anak2 usia SD di tepian sungai Kranji berkumpul melihat ho yang dipegang anak yang lebih besar sambil ketawa ketiwi.

Saya sengaja berjalan melewati kerumunan anak itu sambil melirik apa yg dilihat. Astagfirullah,ternyata mereka sedang melihat gambar parno,entah gambar entah video tidak begitu jelas, tapi yg jelas ada gambar wanita tanpa busana.

Barangkali inilah salah satu dampak negatif ketika anak usia SD sudah dibekali dengan hp lengkap dengan paket datanya. Orang tua yg kurang peduli dengan pendidikan anak atau tidak tahu atau tidak mau tahu tentu saja bisa berakibat seperti kasus itu.

Maka sungguh benar ketika pemilik mucrosoftpun tidak memberi gadget pada anaknya saat masih usia anak-anak,padahal dengan kekayaannya berapapun mahalnya gadget bisa dia beli, tapi dia sudah tahu dampak negatif yg akan terjadi. Kita sepertinya sedang dalam kondisi shock culture,dari budaya tutur ke budaya smart telephone,sehingga siapa saja bisa beli atau dibelikan gadget yg bisa mengakses gambar apapun lewat internet.

MARI kita kendalikan anak2 kita dari hal-hal negatif dalam penggunaan hp. Kendalikan dan batasi,barangkali itu lebih baik dari pada melepaskan begitu saja.

Tarian Cinta di Bumi Papua

Buku ini berisi kisah-kisah romantis maupun kisah petualangan yang dialami oleh peserta pertukaran mahasiswa antara PGSD UM Purwokerto dengan UNIMUDA melalui program SPADA Indonesia yang dibiayai oleh Kemenristekdikti melakui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan. Kisah kasih dan petualangan yang dialami selama 45 hari di bumi Papua,tepatnya Sorong dan Raja Ampat.