KECERDASAN NATURALISTIK

Balita suka mengumpulkan dedaunan, biji buah-buahan kering, kulit kerang dan bebatuan. Untuk apa, hanya balita yang tahu. Namun, Anda perlu tahu bahwa balita memiliki kecerdasan naturalistik.

Kecerdasan naturalistik adalah kemampuan mengenali dan menglasifikasi pola-pola alam. Koleksinya yang lebih mirip sampah itu adalah bahan pelajarannya untuk mengasah kecerdasan naturalistik. Asah potensinya! Siapa tahu dia bisa menjadi ilmuwan hebat seperti Charles Darwin, Bapak Teori Evolusi atau Luther Burbank, ahli botani dari Amerika dan penemu Ilmu Pertanian.
Menikmati alam pantai dan pegunungan adalah wilayah kesukaan si cerdas naturalistik. Pantai adalah laboratorium kehidupan laut yang berisi aneka mahkluk hidup. Selain itu ada pasir, kulit kerang dan batu karang. Biarkan anak membawa benda-benda itu sebagai koleksinya. Ajak pula anak ke pegunungan, berjalan-jalan dan mengamati tanaman yang tumbuh di sana. Bila Anda tak paham tanaman, beri kesempatan si kecil untuk menyentuh dan menggunakan caranya sendiri untuk belajar.


Merawat binatang adalah tanggung jawab yang disukai si cerdas naturalistik. Ajak anak ke dokter hewan saat membawa binatang peliharaan untuk divaksin. Perlihatkan juga cara memberi makan dan membersihkan kandang hewan.
Jalan-jalan ke Taman Safari dan Kebun Raya cocok untuk mereka. Di tempat ini ia bisa melihat habitat hidup binatang mendekati aslinya berikut pakannya. Di Kebun Raya anak bisa melihat perbedaan berbagai tanaman dan pepohonan. Sering-sering mengajak si kecil ke luar kota untuk membandingkan tanaman, bisa mengasah kecerdasan naturalistiknya.
Membaca buku-buku pengetahuan bergambar binatang seperti unggas, serangga, reptil, mamalia. Bacakan dan ceritakan secara detail habitat hidup, kebiasaan dan pakan binatang. Lengkapi koleksi buku tentang bunga, tanaman atau pepohonan.
Mengoleksi adalah kebiasaan anak cerdas naturalistik. Saat jalan-jalan, ia akan memetik rumput, daun, bunga maupun buah yang tak penting menurut Anda. Meski begitu, dorong anak untuk mengumpulkan apa saja: bebatuan, kulit kerang, serangga. Ajak anak melihat perbedaannya dan membuat klasifikasinya. Misalnya jenis rumput: rumput gajah, rumput manila, dan sebagainya. Jangan marahi anak bila ia memungut sesuatu di jalan.
Mandi hujan atau berjemur di panas matahari bisa menjadi bahan pelajaran si kecil. Izinkan anak merasakan hujan dan sengatan matahari agar ia mengenal perbedaan suhu udara dan cuaca.


Memandang langit di malam hari, ceritakan tentang bulan, bintang dan binatang malam. Di siang hari, tunjukkan pada buah hati Anda, bagaimana awan-awan bergerak, berubah bentuk menjadi apa saja. Ajarkan perbedaan siang dan malam.
Menanam tumbuhan mulai dari biji hingga menjadi kecambah dan pohon cabai misalnya, membuat balita Anda yang cerdas naturalistik sangat senang. Apalagi saat bunga cabai berubah jadi buah cabai. Ajak ia menghitung hari dan mencatatnya meski balita belum bisa membaca. Catatan ini penting untuk Anda agar Anda bisa menjelaskannya pada anak. Kapan-kapan, ajak balita melihat cara lain menanam dengan cara stek.
Sediakan mainan yang bisa mengasah kecerdasan naturalistik:
Pasir untuk membuat gunung, persawahan. Selain pasir, berikan juga tanah agar anak belajar mengenali perbedaan tekstur tanah dan pasir.
Teleskop, jelaskan kegunaan dan cara menggunakannya.
Mikroskop, sediakan preparat dan jelaskan kegunaan dan cara menggunakannya.
Buku-buku sejarah tentang terjadinya gunung berapi dan tentang terjadinya bumi.
Scrapbook, label, lem, gunting dan sebagainya untuk mengumpulkan koleksinya.

(dari ayahbunda)

Sikidang, Telaga Warna dan Candi Arjuna

Maaf para pembaca setia blog ini,jika cerita dari Sikunir ke lokasi berikutnya terpaut jauh. Harap maklum karena banyaknya pekerjaan tidak sempat buka blog. Baru sekarang nih bisa menambahkan cerita dalam satu rangkaian dengan Sikunir.

Salah satu destinasi berikutnya adalah Telaga Warna yang dapat dicapai dalam perjalanan pulang dari Sikunir. Namun jangan membayangkan TA di dataran tinggi dieng itu seperti TAnya NTB yang memnag mempunyai 3 warna. TA di Dieng warnanya hanya satu saja,hanya bisa berubah-ubah sesuai dengan kondisi telaganya yang bisa hijau atau putih. Dalam kunjungan ini saya hanya menemukan warna yang hijau saja. TA ini dikelola oleh swasta,sehingga jika dibandingkan dengan fasilitas yang ada dengan biaya masuknya tergolong mahal,tidak sebanding antara biaya dan fasilitas. Spot foto yang bisa digunakan,apalagi pada saat musim kering ya hanya sekitaran taman saja,sedang TAnya sendiri relatif kurang bagus. Sarana pendukung boleh dikatakan kurang, sehingga sebetulnya jika ke TA ini ya hanya melihat warna air yang hijau dan pepohonan saja,karena mau disebut taman juga kurang keindahnnya dibanding dengan golden flowernya Malang misalnya.

Dari telaga warna bisa dilanjutkan ke kawah Sikidang dan candi Arjuna yang merupakan satu paket dengan biaya hanya Rp.15000 saja. Jika dibanding dengan TA paket kawah Sikidang dan Candi Arjuna ini murah dan fasilitasnya lebih mendukung. Spot foto di kawah Sikidang lumayan beragam dan fasilitas pendukungnya juga banyak. Di sini kita bisa pesan telur yang dimasak menggunakan air kawah dengan harga Rp.10.000 per butir dan juga bisa sewa motor trail jika ingin mencoba bermotor di sekitar kawah. Sebaiknya anda pakai masker sebelum masuk area kawah karena bau belerangnya sangat menyengat. Soal harga kenang-kenangan maupun buah tangan sudah lebih mahal dibanding dengan kawasan si Kunir, oleh karena itu jika ingin beli oleh-oleh sebaiknya belilah di kawasan si Kunir,karena harga di sini bukan standar harga tempat wisata,misal makan mendoan harga 1000,minum kopi cuma 5000. Haarga ini sama saja dengan harga di luar kawasan wisata. Harga sudah akan naik jika anda beli di luar kawasan si Kunir.

Dari Sikidang kita bisa melanjutkan ke Candi Arjuna yang sudah tidak perlu membayar biaya masuk lagi. Kawasan Candi Arjuna pemandangannya lumayan sejuk dan bagus. Kita tidak hanya bisa berfoto di candinya saja,tetapi juga taman yang ada di sini ditata dengan apik. Kita juga bisa berfoto dengan background kawasan pegunungan yang lumayan bagus jika mendapatkan cahaya matahari yang baik. Candi Arjuna merupakan candi peninggalan Hindu yang ukurannya termasuk mungin jika dibandingkan dengan candi Prambanan misalnya.