ZONASI DAN MENTAL MISKIN

Zonasi,itulah kata yang sedang populer di kalangan orang tua saat ini. Sistem penerimaan murid baru dengan sistem zonasi tidak memperhatikan nilai lagi,tetapi memperhatikan jarak dari rumah ke sekolah. Tujuan sistem ini memang bagus,yaitu menghilangkan sekolah favorit agar murid-murid yang pintar tersebar di hampir semua sekolah.Apakah sistem ini berjalan dengan baik ? Dari hasil pengamatan dan cerita para ortu sesungguhnya sistem ini berjalan setengah-setengah. Di satu sisi orang tua jadi kelabakan jika tidak mendapatkan sekolah negeri yang diinginkan terkait dengan kuota, tetapi di sisi lain memunculkan tidak jujuran di kalangan orang tua. Mengapa ?

Sistem yang sebenarnya baik jadi rusak gara-gara satu kata SKTM. Dalam sistem zonasi,orang yang dekat dengan sekolah,atau orang yang nilainya tinggi akan kalah dengan orang yang agak jauh dan nilainya lebih rendah jika mendaftarnya menggunakan SKTM, karena siswa yang orang tuanya jadi pemilik SKTM wajib diterima. Gara-gara SKTM inilah banyak orang yang sesungguhnya ekonomi mampu,bahkan termasuk guru sekalipun, mengurus SKTM agar anaknya bisa masuk ke sekolah yang diinginkan. Bagaimana mungkin orang yang naik motor,bahkan punya mobil di rumah mempunyai Surat Keterangan Tanda Miskin ? Nampaknya tidak jujuran justru mulai menjalar di kalangan dunia pendidikan. Inilah salah satu bentuk pendidikan pada anak yang tidak baik sejak awal. Anak sudah diajarkan untuk tidak jujur,untuk bohong,bahkan oleh sebagian Guru yang menjadi orang tuanya. Bagaimana kita akan mempunyai generasi penerus yang jujur di tengah-tengah merajalelanya korupsi jika anakpun sudah diajari tidak jujur sejak awal ?

Nampaknya sistem zonasi yang bertujuan baik justru akan merusak karakter sebagian anak didik hanya gara-gara ingin mendapatkan sekolah yang diinginkan, hanya karena urusan selembar kertas. Dinas Pendidikan tentunya harus mencari solusi agar SKTM tidak dimanfaatkan oleh orang-orang mampu. Solusi sederhana barangkali dengan mengikuti model penerima mahasiswa bidik misi,ada foto rumah baik nampak luar maupun dalam untuk syarat pendafataran, ada proses klarifikasi dengan mendatangi rumah pemilik SKTM, dengan catatan sekalipun itu anak guru juga harus ada peninjauan langsung.

Di sisi lain dengan mengabaikan nilai UN tetapi menggunakan wilayah tempat tinggal akan memunculkan fenomena baru, yaitu mulai sulitnya mendapatkan siswa untuk lembaga-lembaga bimbingan belajar. Selama ini orang tua mengikutkan anak-anaknya dalam program Bimbel karena ingin meningkatkan nilai anak agar ketika lulus bisa masuk ke sekolah favorit. Jika sistem zonasi bertahan lama,yang pada akhirnya tidak lagi menggunakan nilai sebagai penentu diterima tidaknya si anak,bahkan nilai jauh di bawah standarpun bisa lolos asal ada SKTM,maka bimbel akan ditinggalkan peminatnya.

Sistem Zonasi secara tidak langsung menjadi lonceng kematian bagi bimbel tapi di sisi lain menjadi bentuk perubahan sikap orangg-orang mampu bermental miskin. Jika ini dibiarkan apa bedanya si orang mampu berSKTM dengan pengemis, dan mereka itu tidak malu. REVOLUSI MENTAL MISKIN seperti ini yang seharusnya dihindari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s