SURAT KETERANGAN TIDAK MALU

Seperti yang sudah dituliskan di posting sebelumnya bahwa sistem zonasi yang diterapkan di seluruh wilayah ternyata menimbulkan banyak masalah. Purwokerto sebagai salah satu kota di Jawa Tengah juga tidak luput dari permasalahan yang ada. Salah satu wilayah kelurahan di Purwokerto adalah Arcawinangun. Kelurahan ini jika melihat kecamatannya termasuk Purwokerto Timur, tapi dilihat dari jarak ke sekokah negeri ternyata serba tanggung. SMP Negeri yang paling dekat adalah SMP 8, tetapi jarak ke sekolah tersebut lebih dari 4 km, sebaliknya jika ke arah Kembaran sudah beda kecamatan tambah lagi jarak juga lebih dari 4 km. Wilayah yang serba tanggung seperti itu tentu masih ada yang lain. Inilah yang membingungkan orang tua.

Info Paytren 087812434700

Sayangnya kesulitan-kesulitan seperti itu diselesaikan oleh sebagian orangbtua dengan cara yang tidak terpuji. Senjata andalan yang ditempuh adalah dengan membawa SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu). Hal seperti ini ditemouh para orang tua karena ada aturan bahwa pembawa SKTM wajib diterima dengan kiota minimal 30 persen, artinya dari zona manapun,meskipun dari segi jarak tidak memenuhi syarat jika menggunakan SKTM selesailah persoalan anak tidak dapat sekokah. Hal-hal seperti ini jelas ada dan tidak bisa ditutupi, terbukti SMKN 1 BLORA 100 (BACA SERATUS) PERSEN siswa yang diterima adalah pembawa SKTM. SANGAT JANGGAL, jika tingkat kemiskinan Kabipaten Blora hanya 13 persen tetapi siswa SMKN 100 persen tidak mampu semua. Patut diduga bahwa tidak semua pembawa SKTM betul-betul tidak mampu.Kasus sepertj itu tentu bukan hanya di Blora,tetapi juga di kota-kota lainnya. Oleh karena itu para pembawa SKTM (SURAT KETERANGAN TIDAK MALU) harus betul-betul diverifikasi dan jika betul karena tidak malu, bukan tidak mampu, maka harus diambil tindakan dan sanksi yang sepadan,agar tidak terulang lagi di tahun depan,karena jika semua berjalan sesuai norma dan aturan yang benar maka ke depan tidak ada lagi sebutan sekolah favorit,karena siswa yang cerdas akan merata,tidak berkumpul di satu sekolah saja. Di sisi lain dengan model zonasi yang benar,tanpa memperhitungkan nilai, bimbingan belajar akan sedikit demi sedikit hilang,karena orang tua tidak bergantung hanya mengejar nilai.Nilai atau rangking yang tinggi belum tentu sukses di kemudian hari, sebaliknya anak yang kognitifnya pas-pasan kadang lebih berhasil karena potensinya dikembangkan dengan baik. Hal inilah yang mendasari saya ketika menjadi ketua tim pendiri SD UMP (dan selanjutnya sebagai pengelola sampai tahun 2015) tidak mengijinkan ada penulisan rangking di raport, tetapi utamakan potensi masing-masing anak. Dengan cara iji kenyataan kognitifnya anak berkembang sebaliknya yang kurang potensinya juga berkembang,entah di olah raga, seni atau lainnya (ada sekitar 18 ekstra kurikuler di SD UMP).Bukti Paytren sesuai syariah, info bisnis milenial di sini http://bit.ly/infobisnismilenial Bagi para ruang tua berhentilah mengejar SURAT KETERANGAN TIDAK MALU jika ekonominya memang mampu, sebaliknya jika memang betul-betul tidak mampu gunakan untuk mendapatkan SURAT KETERANGAN TIDAK MAMPU dengan benar,karena ada saja orang miskin yang berjiwa ksatria,tidak mau dianggap tidak mampu. Bagi aparat pendidikan jangan beri contoh yang jelek dengan ikut-ikutan mengurus SKTM, karena tidak masuk akal guru (apalagi mendapat sergur) tergolong tidak mampu (karena membawa SKTM) hanya karena ingin anaknya diterima di sekolah tempatnya mengajar yang kebetulan favorit, sementara rumahnya tidak masuk zonasi sekolah tersebut.

ZONASI DAN MENTAL MISKIN

Zonasi,itulah kata yang sedang populer di kalangan orang tua saat ini. Sistem penerimaan murid baru dengan sistem zonasi tidak memperhatikan nilai lagi,tetapi memperhatikan jarak dari rumah ke sekolah. Tujuan sistem ini memang bagus,yaitu menghilangkan sekolah favorit agar murid-murid yang pintar tersebar di hampir semua sekolah.Apakah sistem ini berjalan dengan baik ? Dari hasil pengamatan dan cerita para ortu sesungguhnya sistem ini berjalan setengah-setengah. Di satu sisi orang tua jadi kelabakan jika tidak mendapatkan sekolah negeri yang diinginkan terkait dengan kuota, tetapi di sisi lain memunculkan tidak jujuran di kalangan orang tua. Mengapa ?

Sistem yang sebenarnya baik jadi rusak gara-gara satu kata SKTM. Dalam sistem zonasi,orang yang dekat dengan sekolah,atau orang yang nilainya tinggi akan kalah dengan orang yang agak jauh dan nilainya lebih rendah jika mendaftarnya menggunakan SKTM, karena siswa yang orang tuanya jadi pemilik SKTM wajib diterima. Gara-gara SKTM inilah banyak orang yang sesungguhnya ekonomi mampu,bahkan termasuk guru sekalipun, mengurus SKTM agar anaknya bisa masuk ke sekolah yang diinginkan. Bagaimana mungkin orang yang naik motor,bahkan punya mobil di rumah mempunyai Surat Keterangan Tanda Miskin ? Nampaknya tidak jujuran justru mulai menjalar di kalangan dunia pendidikan. Inilah salah satu bentuk pendidikan pada anak yang tidak baik sejak awal. Anak sudah diajarkan untuk tidak jujur,untuk bohong,bahkan oleh sebagian Guru yang menjadi orang tuanya. Bagaimana kita akan mempunyai generasi penerus yang jujur di tengah-tengah merajalelanya korupsi jika anakpun sudah diajari tidak jujur sejak awal ?

Nampaknya sistem zonasi yang bertujuan baik justru akan merusak karakter sebagian anak didik hanya gara-gara ingin mendapatkan sekolah yang diinginkan, hanya karena urusan selembar kertas. Dinas Pendidikan tentunya harus mencari solusi agar SKTM tidak dimanfaatkan oleh orang-orang mampu. Solusi sederhana barangkali dengan mengikuti model penerima mahasiswa bidik misi,ada foto rumah baik nampak luar maupun dalam untuk syarat pendafataran, ada proses klarifikasi dengan mendatangi rumah pemilik SKTM, dengan catatan sekalipun itu anak guru juga harus ada peninjauan langsung.

Di sisi lain dengan mengabaikan nilai UN tetapi menggunakan wilayah tempat tinggal akan memunculkan fenomena baru, yaitu mulai sulitnya mendapatkan siswa untuk lembaga-lembaga bimbingan belajar. Selama ini orang tua mengikutkan anak-anaknya dalam program Bimbel karena ingin meningkatkan nilai anak agar ketika lulus bisa masuk ke sekolah favorit. Jika sistem zonasi bertahan lama,yang pada akhirnya tidak lagi menggunakan nilai sebagai penentu diterima tidaknya si anak,bahkan nilai jauh di bawah standarpun bisa lolos asal ada SKTM,maka bimbel akan ditinggalkan peminatnya.

Sistem Zonasi secara tidak langsung menjadi lonceng kematian bagi bimbel tapi di sisi lain menjadi bentuk perubahan sikap orangg-orang mampu bermental miskin. Jika ini dibiarkan apa bedanya si orang mampu berSKTM dengan pengemis, dan mereka itu tidak malu. REVOLUSI MENTAL MISKIN seperti ini yang seharusnya dihindari.

PILIH SUPER TEAM APA SUPERSTAR ?

Ada hal yang menarik dalam laga piala dunia di Rusia baru-baru ini. Ronaldo yang dielu-elukan di Rusia justru pulang lebih awal bersama timnya Portugal, demikian juga Messi juga pulang duluan bersama Argentinanya. Negara-negara yang diawal kurang diunggulkan justru masih berjaya sampai sekarang. Jerman yang juara bertahan saja juga pulang lebih awal. Apa mungkin negara-negara tersebut terlalu mengandalkan Superstarnya? Saya bukan pengamat persepakbolaan, tapi setidaknya bisa diambil pelajaran bahwa apapun keunggulan seorang SUPERSTAR jika SUPERTEAMNYA tidak dibentuk ya akan runtuh.

Dalam bidang pekerjaanpun sebenarnya sama juga, SUPER TEAM akan lebih mampu bekerja dengan baik dibanding SUPERMAN. Dalam bidang pendidikan sebagus apapun kepala sekolah atau bahkan Rektor jika tim dbawahnya tidak solid,tidak saling mendukung pasti akan keteteran juga prestasinya, kinerjanya dan lain-laiin, tetapi pimpinan yang biasa saja jika timnya solid,mau bekerja samaa dan bekerja keras tentu hasilnya akan lain dengan institusi yang hanya menganddalkan keunggulan seseorang saja.

Dalam kegiatan insidental yang melibatkan banyak orang,misalnya KULIAH KERJA NYATA mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang akan dilaksanakan di 6 kabupaten misalnya, juga tidak bisa sekedar mengandalkan KORDES atau KORCAM atau bahkan KORKAB yang mumpuni. Apa jjadinya program KKN yang akan dilaksanakan oleh desa jika KORDESnya pilih tanding tetapi aanggotanya letoy semua. Program KKN akan berjalan dengan maksimal jika semua anggotanya saling mendukung dalam melaksanakan program KKNnya. Kesuksesan program KKN tidak tergantung semata padaa KORDES, tapi juga melibatkan peran serta anggotanya,oleh karena itu siapkan SUPER TEAM dalam menjalankan program KKN.

Dunia bisnis pun tidak jauh berbeda, termasuk PAYTREN juga tidak akan lepas dari konsep tersebut. Paytren adalah bisnis jaringan berbasis syariah yang diakui oleh DSN MUI, juga memiliki ijin yang lengkap dari pemerintah (termasuk OJK dan Bank Indonesia untuk e-moneynya). Tidak mungkin seseorang mengandalkan seorang sponsor untuk meraih kesuksesan. Suatu saat ketika sponsor kelelahan makan jaringan akan berhenti,meskipun tanpa jaringanpun mitra Paytren sudah untung dengan mendapatkan harga lebih murah plus cashbacknya, tapi kan tidak cukup sekedar itu saja. Mitra yangg ingin suses seperti mantan kuli bangunan seperti video di bawah ini tentu harus bekerja keras dan bekerja sama dengan timnya,bukan hanya mengandalkan seorang sponsor saja.

https://youtu.be/Hlpj82dUxxA

Oleh karena itu ketika kita bekerja dalam dunia kerja apapun (termasuk sepak bola) mengandalkan seoang super man aakan ada masanya sang superstar kelelahan. Oleh karena itu kini kita ubah persepsi kita. Ciptaan SUPER TEAM yang benar-benar sold untuk menyelesaikan semua pekerjaan kita hingga TEAM KITA SUKSES,karena kesuksesan TEAM kesuksesan individu juga. SALAM BERJAMAAH