KITA MENUNGGU BANJIR


KITA MENUNGGU BANJIR

Oleh : Karma Iswasta Eka

Ketua Pusat Studi Lingkungan UMP

Banjir lagi, banjir lagi. Cilacap baru saja dilanda banjir pada tanggal 5 Oktober, tak berselang lama kemudian aliran sungai  yang melewati Purwokerto juga menunjukkan kemarahannya dengan banjir yang melanda wilayah atas, meskipun kota Purwokerto tidak terkena dampaknya. Banjir di Cilacap menurut Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap Teguh Wardoyo mengungkapkan kalau di sebagian wilayah kabupaten setempat terjadi hujan esktrem dengan intensitas lebih dari 150 milimeter (mm). Dari pengukuran yang dilakukan di Stasiun Meteorologi Cilacap, tercatat 171,6 mm, bahkan, alat ukur di Bandara Tunggul Wulung Cilacap yang berada di Kecamatan Jeruklegi tercatat 298 mm. 

https://members.klikdigital.id/b/6b476b737a63/eka2001id

Curah hujan yang terjadi di Cilacap ini sudah masuk dalam kategori ekstrem, sehingga menyebabkan banjir. Lereng Purwokerto sendiri juga diguyur hujan yang cukup ekstrem sepanjang hari saat banjir yang lalu. Pertanyaannya apakah hanya karena faktor hujan yang ekstrem saja yang menyebabkan banjir ? Tentu saja tidak, karena alam sudah punya aturan main sendiri. Nampaknya bangsa ini tidak pernah mau belajar dari pengalaman yang sudah ada. Kasus banjir Bahorok, banjir dan tanah longsor Garut nampaknya belum memberikan pelajaran yang cukup.

Pada kasus Bahorok, berdasar studi Balai Sabo dan Japan International Cooperation Agency (JICA) tahun 2003, yang terangkum dalam Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang Daerah Aliran Sungai Bahorok, jumlah batang kayu yang tertinggal di palung saat banjir mencapai 70.000 meter kubik. Endapan pada dasar sungai setelah banjir dari Bukit Lawang ke hulu mencapai 300.000 meter kubik. Garutpun hampir sama, berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia tahun 2014 Kabupaten Garut menempati peringkat pertama. Salah satu faktor yang menyebabkan adalah karena DAS Cimanuk diidentifikasi dalam kondisi kritis. Kritisnya DAS Cimanuk selain karena pemanfaatan lahan untuk kebun sayur yang memperbesar erosi,juga karena pemanfaatan industri pariwisata. Akibat alih fungsi lahan tersebut air hujan yang terserap kurang dari 25 persen, artinya air limpasan yang besar tersebut sebagai akibat ulah manusia.

Ada hal baru di sini,silahkan klik

Dari realitas lingkungan tersebut kita bisa menilai bahwa di banyak wilayah daerah tangkapan air hujan (catchment area) mulai rusak sehingga tidak berfungsi dengan baik  Banyak jalur ini yang dirubah menjadi kawasan perumahan elit. Akibat tidak ada daerah tangkapan lagi maka air akan lari ke bawah dan masuk sungai, sehingga melewati batas daya tampung sungai.  Di sisi lain mestinya selama air  larian (run off) menuju kota ia bisa diserap oleh tanah sepanjang wilayah yang dilewati air, tapi inipun tidak bisa terjadi karena banyak tanah yang sudah tidak bisa meresap air lagi. Kini banyak muka tanah yang ditutup dengan beton maupun aspal. Rumah-rumah pendudukpun makin banyak yang tidak menyisakan tanah terbuka dengan alasan kebersihan, kerapihan maupun estetika dengan membetonnya. Oleh karena itu kemana lagi air akan lari kalau tidak kemudian menggenangi semua daerah yang dilaluinya.

Kondisi semacam itu terjadi karena catchment area rusak parah, tanah resapan mulai menghilang,hutan banyak dibabat tanpa perhitungan, penjarahan terjadi dimana-mana. Saluran air alam makin mengecil akibat dibangunnya rumah di daerah bantaran sungai yang sebenarnya menjadi hak milik sungai dan diperparah dengan perilaku masyarakat kita yang suka membuang sampah ke sungai. Kondisinya makin diperparah dengan “terbendungnya” sungai dan saluran air lain oleh sampah akibat perilaku manusia membuang sampah semaunya di semua saluran tersebut tadi. Jadi banjirnya beberapa wilayah kita sebenarnya juga menjadi hak milik kita karena kita yang membuat skenarionya secara sadar atau tidak sadar. 

Bagaimana dengan Cilacap ? Bukankah Cilacap berada di dekat pantai,dan tidak mempunyai pegunungan seperti halnya Purwokerto ? Kenapa di wilayah kota bisa terjadi banjir yang cukup parah,termasuk wilayah yang belum pernah banjir sekalipun ? Jika menilik sejarah perkembangan Cilacap selama puluhan tahun wilayah kota Cilacap belum pernah terjadi banjir. Meskipun dari penjelasan Kepala BMKG Cilacap hujan yang ekstrem sebagai penyebab banjir di kota, tetapi jika dilihat dari perkembangan kota, cuaca ekstrem bukan penyebab satu-satunya.

mengubah SMARTPHONE jadi sumber penghasilan,klik disini

Wilayah Cilacap utara misalnya, sepuluh tahun yang lalu catchment areanya masih cukup luas. Kita masih bisa menjumpai banyak sawah di wilayah ini,sehingga ketika hujan lebat air dan jumlah air limpasan cukup besar, air hujan masih bisa mengisi wilayah persawahan yang ada. Kini, sepuluh tahun kemudian wilayah itu sudah mengalami banyak perubahan,dan juga perubahan peruntukan dan lokasi. Wilayah yang semula persawahan sudah berubah menjadi kawasan perumahan dan sekolah. Akibatnya daerah penampung air hujan menjadi sangat jauh  berkurang. Oleh karena itu tidak aneh jika hujan ekstrem datang,yang terjadi adalah air hujan mengisi lahan dan rumah yang ada yang semula sebagai daerah resapan air.

Bagaimana dengan banjir yang terjadi di daerah aliran sungai di wilayah Purwokerto ? Jika kita melihat air sungai yang melintasi Purwokerto yang jernih  saat kemarau atau tidak terjadi hujan, sesungguhnya wilayah hulu yang mengalirkan air dari mata air yang ada masih cukup baik, demikian juga ketika hujan masih relatif agak jernih meskipun berwarna sedikit keruh, tetapi itu 2 tahun yang lalu. Apa yang terjadi saat banjir kemarin ? Kita bisa melihat air yang mengalir di sungai yang membelah lokawisata Baturaden sangat keruh dan coklat yang menunjukkan air hujan tersebut membawa material kikisan atau erosi tanah.

Erosi tanah dan kikisan tanah yang terjadi menunjukkan bahwa bagian atas tidak tertutup tumbuhan dengan baik, atau bisa dikatakan sudah mulai terbuka. Dengan melihat ciri itu tentunya bisa disimpulkan bahwa banjir tersebut terjadi akibat adanya aktivitas manusia di bagian atas., entah karena pembukaan lahan secara liar atau secara resmi. Gundulnya wilayah yang semula hutan bisa menjadi penyebab cepatnya air hujan meluncur dengan membawa material erosi,yang menyebabkan air berwarna coklat keruh.

Melihat kasus yang berkembang akhir-akhir ini dan juga jika mencermati wilayah hutan yang dibuka untuk aktivitas PLTB, sedikit atau banyak sesungguhnya aktivitas tersebut ikut menyumbang terjadinya banjir yang terjadi meskipun tidak sampai terjadi banjir di wilayah kota. Apakah Purwokerto akan aman dari banjir ? Penulis rasa tidak sepenuhnya aman, khususnya yang berada di wilayah Purwokerto Selatan. Mengapa ?

Saat ini sudah dimulai aktivitas membangun jalan untuk menghubungkan pusat kota dengan jalan Gerilya yang direncanakan selebar 26 meter. Area yang akan dibuat jalan adalah persawahan, sementara bagian barat dan timur adalah daerah pemukiman. Bagian barat persawahan daerah pemukiman asli dengan kontur lebih tinggi dan bagian timur perumahan Bumi Tanjung Elok yang kontur tanahnya lebih rendah. Pembangunan jalan yang ada tentu akan menyebabkan daerah resapan air di wilayah ini berkurang, apalagi umumnya jika daerah persawahan dibangun jalan utama akan diikuti dengan munculnya pertokoan,perkantoran atau perumahan  baru. Efeknya tentu akan makin mengurangi daerah resapan,maka dimungkinkan wilayah ini juga akan mengalami kebanjiran beberapa tahun ke depan jika hujan ekstrem seandainya tidak dilakukan rekayasa lingkungan sejak sekarang.

Rekayasa lingkungan yang bisa dilakukan adalah dengan memperlebar sungai kecil yang membatasi perumahan yang kontur tanahnya lebih rendah dengan wilayah pengembangan jalan, dimulai dari depan SMP 1, serta tetap menyisakan area terbuka hijau disepanjang badan jalan yang saat ini masih berupa persawahan. Tanpa perlakuan itu maka jangan kaget jika suatu saat nanti wilayah Purwokerto kota juga akan mengalami nasib yang sama dengan Cilacap saat ini, karena kondisi Cilacap utara beberapa tahun lalu juga sama dengan Purwokerto Selatan saat ini. Sudahkan hal ini dipikirkan oleh para pejabat di Banyumas ini ? Atau kita hanya menunggu banjir akan melanda kota Purwokerto seperti halnya Cilacap ? Walahualam bishowab. Semoga pejabat daerah ini sudah berpikir jauh ke depan terkait dengan risiko banjir, sehingga Purwokerto tetap aman-aman saja.

Dimuat Satelit Post, 19 Oktober 2017

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s