Ketika Ejekan Menjadi Motivator.

Ini hanya sekedar kisah yang saya alami sendiri tentang sebuah hinaan. Saya ingat betul ketika TK saya tidak boleh naik SD, tapi memaksa masuk kelas 1, Digandeng guru TK kembali ke TK, dan saya kembali lari ke kelas 1. Kenyataan saya sudah baca koran di kelas 2,bahkan baca cerita bersambung di koran Pos Minggu terbitan Semarang saat teman sekelas masih mengeja,bahkan pernah diminta ngajari membaca di kelas 3.

Saat kelas 3 SMA saya minta diajari menulis artikel koran pada guru bahasa Indonesia, tapi yang saya dapat malah hinaan. Saya ingat kata2 yang keluar dari mulut guru. Ilmu kamu itu masih sekuku hitam saya,kok mau nulis di surat kabar. Apa saya berhenti? Tidak. Saya kumpulkan buku2 tentang kimia. Saya baca dan jadilah sebuah tulisan dengan judul Plastik,polusi tujuh turunan yang diketik di mesin ketik tempat ayah mengajar. Saya kirimkan tulisan itu ke surat kabar Suara Karya terbitan Jakarta. Ternyata tulisan itu dimuat setelah 2 minggu kemudian,dan itulah tulisan pertama saya. Yah sifat anak remaja,tulisan itu kemudian saya gunting dan dipasang di majalah dinding sekolah, saya sebetulnya hanya ingin menunjukkan eksistensi bahwa meskipun sudah dihina guru bahasa Indonesia tapi saya mampu membuktikan bisa menulis. Kebanggaan bertambah ketika kemudian mendapat kiriman uang melalui weselpos,yang kemudian habis untuk nraktir kawan-kawan. Itulah awal mula saya mulai suka menulis dengan pikiran bahwa menulis itu menghasilkan uang.

Ketika saya ingin kuliah lagi-lagi hinaan saya dapat dari seorang teman,anak kepala kejaksaan negeri di kota tempat tinggal,yang mengatakan tidak mungkin saya bisa kuliah di perguruan tinggi ternama,apalagi saya berasal dari keluarga kurang secara ekonomi waktu itu. Lagi-lagi saya tertantang,akan saya buktikan, dan alhamdulillah saya bisa masuk di Fakultas Biologi UGM, yang tingkat persaingannya waktu itu 1: 15 (saya tahu setelah kuliah, pendaftar ribuan yang diterima 150). Setelah kuliah ternyata hobi menulisnya justru makin berkembang, dan uang honor tulisan (waktu itu sudah dimuat di Suara Karya Jakarta, Symphony Jakarta, Mutiara Jakarta, Bernas Yogya, Kedaulatan Rakyat Yogyakarta,Suara Indonesia Malang,Panjebar Semangat yang berbahasa Jawa Surabaya, dan kemudian setelah lulus juga berlanjut di Solopos Solo,Wawasan Semarang, Pikiran Rakyat Bandung, Republika Jakarta) untuk biaya kuliah dan kebutuhan lainnya.

Meskipun sudah mulai banyak menulis ternyata ejekan juga belum selesai. Saat di semester dua saya konsultasi dengan seorang doktor baru dari Philiphina untu bertanya bagaimana menulis buku. Lagi-lagi ejekan seperti guru bahasa Indonesia yang saya terima. Baru semester 2 kok mau menulis buku, dan lagi-lagi saya justru terpacu karenanya. Terbitlah buku pertamadi semester 4 denhan judul Biologi SMA, kemudian buku kedua dengan judul Persn Islam bagi Generasi Muda dalam melestarikan lingkungan hidup di seemster 5 dan buku ketiga yang saya tulis ketika sedang melaksanakan KKN dengan judul Dilema Pestisida.

Dari tulisan tersebut jika anda membaca sampai tuntas sesungguhnya saya hanya ingin menegaskan bahwa ketika Anda mendapatkan ejekan jangan patah semangat,justru jadikan ejekan sebagai motivator ulung,maka Anda justru diuntungkan. Jangan tanggapi ejekan dari sisi negatifnya, tapi ambil sisi positifnya,maka Anda akan terpacu.

Semoga tulisan ini bisa menginspirasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.