BUDAYA WISUDA YANG SALAH KAPRAH

Wisuda itu sesungguhnya tahapan terakhir yang dilalui saat seseorang menyelesaikan perguruan tingginya. Seseorang harus melalui tahapan yudicium dulu, yaitu dinyatakan lulus sarjana sebelum diwisuda. Saat diwisuda para calon sarjana tentu memakai pakaian kebesaran yang disebut dengan toga.

Filosofi Pakaian dan Topi Toga saat wisuda

Setali tiga uang dengan sejarahnya yang panjang, toga pula memempunyai arti filosofis yang kental, salah satunya yakni arti warna hitam pada toga. mengapa toga justru memakai warna hitam yang sering diidentikkan dgn perihal yg misterius serta gelap. mengapa tidak warna putih yang menggambarkan kecerahan serta keindahan yang dipakai?

Ternyata pemilihan warna hitam gelap pada toga adalah simbolisasi yaitu misteri serta kegelapan telah berhasil dikalahkan sarjana waktu mereka menempuh pendidikan di bangku kuliahan, tak hanya itu sarjana pula diharapkan mampu menyibak kegelapan dgn ilmu pengetahuan yg selama ini didapat olehnya. warna hitam pula melambangkan keagungan, sebab itu, tak hanya sarjana, ada hakim serta separuh pemuka agama pula memakai warna hitam pada jubahnya.

Tak hanya warna pada jubah toga yang memuat filosofi mendalam, ternyata ada pula arti filosofis dari bentuk persegi pada topi toga. sudut-sudut persegi pada topi toga menyimbolkan yaitu seorang sarjana dituntut untuk berpikir rasional serta memandang segala sesuatu hal dari beraneka sudut pandang.
Dan juga apa arti dari seremoni kuncir tali di topi toga dipindah dari kiri ke kanan ? seremoni memindahkan kuncir tali toga yg semula berada dikiri menjadi kekanan ternyata berberarti yaitu waktu masa kuliah lebih banyak otak kiri yg digunakan semasa kuliah, diharapkan sesudah lulus, sarjana tak sebatas memakai otak kiri (hardskills) semata, tetapi pula dapat menggunakan otak kanan yang berhubungan dgn aspek kreativitas, imajinasi, serta inovasi, dan aspek softskills lainnya (wikipedia).

Makna kuncir

Pada saat prosesi wisuda Rektor selalu memindahkan kuncir dari yang semula di kiri dipindahkan ke kanan. Maknanya adalah bahwa rektor memindahkan tanggung jawab yang semula sebagai orang yang menuntut ilmu menjadi orang yang mampu bertanggung jawab untuk diri sendiri dan masyarakatnya, menjadi orang yang  mampu diberi tanggung jawab dengan ilmu yang diperolehnya.

DEGRADASI MAKNA WISUDA.

Kini makna sesungguhnya mulai luntur entah siapa yang memulai. Anak-anak SD, bahkan juga TK, ketika dinyatakan selesai belajarnya juga menjalani prosesi wisuda. Menurut saya ini menjadi hal yang aneh dan berlebihan. Jika anak baru lulus SD lantas diwisuda, peran apa yang bisa dilakukan anak seusia lulus SD? Jika anak lulus SD juga mengalami pemindahan kuncir maka tanggung jawab apa yang dipindahkan pada anak yang baru lulus SD, yang nota bene baru menyelesaikan sebagian tahapan pendidikan dasar. 

Berbeda dengan prosesi wisuda sarjana yang memang sudah dinyatakan selesai pendidikannya dan siap terjun ke masyarakat, lha anak yang baru lulus SD? Bahkan TK? Saya kok menganggap bahwa banyak institusi pendidikan kita di tingkat bawah yang berlebihan, bahkan cenderung alay karena ikut-ikutan trend tanpa tahu makna wisuda yang sesungguhnya.

MAAF JIKA YANG MEMBACA INI BEKERJA DI INSTITUSI PENDIDIKAN DASAR DAN IKUT-ikutan melakukan prosesi wisuda.

(Ditulis di angkutan kota pasar wage-tanjung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s