KETIKA BIMBEL MERUSAK SISTEM

Hari Ini Jumat tanggal 7 April seperti hari-hari yang lain, saya jalan-jalan pagi melewati perkampungan. Saat melewati sebuah rumah yang digunakan untuk bimbingan belajar ada hal yang cukup menggelitik. Saya terhs terang heran hari smasih pagi,kira-kira pukul 06.30 ada laki-laki usia sekitar 27-an duduk di atas motor di depan sebuah bimbel. Ketika saya melongok ke dalam nampak seorang anak SD menggunakan seragamnya duduk menulis sesuatu di buku,sementara di depannya duduk laki-laki dewasa. 

Pikiran saya tertuju pada pemandangan itu. Saya pikir ini bukan jam untuk bimbingan belajar, dan simlulannya adalah anak tersebut pasti sedang mengerjakan PR dibantu tentor bimbel tersebut. Melihat itu yang terpikir adalah apa fungsi orang tua kalau untuk mengerjakan PR saja harus membawa anaknya ke tentor untuk mengerjakan. Pikiran kedua adalah begitukah fungsi bimbel saat ini ? Membantu anak mengerjakan PR. Lalu dimana anak bisa menikmati dan mengalami proses belajar serta paham dengan baik jika PR saja harus dibantu tentornya.

MENGUBAH PENGELUARAN JADI PENDAPATAN, KLIK DI SINI

Melihat fenomena tersebut maka sungguh telat jika Kementerian Pendidikan mewacanakan agar tidak ada lagi PR untuk anak, karena kenyataannya sungguh mempeihatinkan. Ini bukan sekali dua kali saya menemukan fenomena seperti itu. Artinya bahwa sesungguhnya bimbel tidak betul-betul melaksanakan bimbingan belajar,tetapi juga bantuan mengerjakan soal. Jika hal-hal seperti itu dipelihara oleh para orang tua,bahkan masyarakat maka rusaklah sistem pendidikan yang dibangun untuk mengutamakan pendidikan karakter. Sungguh malang dunia pendidikan kita jika di sekolah anak dididik untuk membentuk karakter yang baik,di rumah orang tua justru merusaknya karena tidak sesuai dengan apa yang diajarkan di sekolah.

Benarlah mengapa Finlandia sangat berhasil dalam pendidikan,khususnya dalam hal pendidikan karakter. Mereka tidak semata-mata menemukan model yang dikembangkan sendiri, tetapi justru mengadopsi pola pendidikan yang dikembangkan Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan di Filandia tidak meneganl PR, lama belajar di sekolah juga lebih pendek di banding Indonesia, dan beban belajar juga lebih sedikit, tetapi mengapa mereka berhasil .? Salah satu kunci keberhasilan pendidikan karakter dan kognitif untuk anak adalah apa yang diajarkan di sekolah itu pula yang dajarkan di rumah. Indonesia justru sering kali berbeda. Contih sederhana anak SMP tidak boleh naik motor ke sekolah karena belum waktunya, tetapi kenyataan orang tua justru mengajari anak-anaknya naik motor justru sejak SD yang kakinya saja belum nyampai ke tanah jika duduk di motor. 

Kembali ke bimbel tersebut di atas, maka sungguh sangat baik jika pendidikan di Indonesia mengajar yang bisa mengarahkan anak tanoa perlu bimbel. Rasa-rasanya pendidikan di SD era 1970-an yang belum mengenal bimbel pada masa itu justru lebih  baik dari sekarang yang memunculkan ketergantungan terhadap bimbel? Kalau demikian lalu………….? silahkan lanjutkan sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s