OPERATOR DAPODIK LAYAK DIPERJUANGKAN

Sekolah kini banyak bergantung pada operator Dapodik. Semua data terintegrasi dari Sabang sampai Merauke melalui Dapodik. Sayangnya hampir 100 persen operator dapodik adalah tenaga guru Wiyata bakti.

Ingin nambah penghasilan tanpa mengganggu waktu kerja/kuliah/sekolah ? Klik di sini

Lagu dangdut berikut ini berisi doa para operator Dapodik yang layak didengarkan. Silahkan dengarkan doanya.

https://youtu.be/tlngRmKBxBA

Apa itu bisnis berbasis Smartphone ? lihat video betikut

info WA 082242297777

HILANGNYA RASA NASIONALISME SEORANG STEVEN

Hari ini saya mendapatkan kiriman copy surat pernyataan maaf dan kronologis kejadian seorang anak manusia yang “tidak tahu” apakah bangsa Indonesia atau bukan dari seorang rekan yang tinggal di Lombok. Kejadian itu memang sudah lewat beberapa hari,yaitu tanggal 9 April, tapi kasusnya masih bergulir di NTB sana.

Sungguh keterlaluan jika mencermati apa yang dilontarkan seorang Steven terhadap Gubernur NTB yang juga Hafidz Al Quran, sekaligus ulama. Kata-kata makian  yang keluar dari mulut Steven di Bandara Changi sungguh menunjukkan tidak adanya sopan santun dan etika dari anak muda terhadap orang tua. Andaikata toh TGB (Tuan Guru Bajang) bukan seorang Gubernur,setidaknya sebagai orang tua tentunya anak muda harus menjaga mulutny, tetapi ini seperti mulut drum aspal yang jika dituangkan berwarna hitam.

Saya tidak ada sangkut pautnya dengan sang Gubernur,saya bukan rakyatnya TGB, tetapi menyimak kata-kata yang dikeluarkan terus terang saya sebagai warga Indonesia, warga pribumi Asli juga merasa tersinggung. Bagaimana mungkin seorang warga keturunan yang hidup di Indonesia, makan dari hasil bumi Indonesia, bernafas dengan udara Indonesia masih mempunyai mental penjajah Belanda dengan mengatakana Indon, pribumi tiko (Tikus Kotor). Apakah dia bukan warga Indonesi ? Saya kira bukan. Seandainya di mempunyai KTP Indonesia sudah layak jika KTPnya dicabut dan biarkan hidup di luar Indonesia, karena bangsa ini dimata Steven sangat hina.

Memang dia sudah mengajukan permintaan maaf secara tertulis, tapi itu tidak cukup. Perbuatan yang sudah menghinakan jika cukup diselesaikan dengan permintaan maaf saja,maka dikemudian hari akan muncul hal baru. Seorang Ahok yang sudah menistakan agama dan ulama saja yang sampai sekarang masih dalam proses hukum sudah membuat marah sebgaian warga bangsa ini, mungkin juga yang membuat Steven menganggap enteng kasusnya, paling juga tidak diselesaikan, mungkin begitu pikirnya. Jika hukum tidak bisa menyelesaiakn kasus-kasus Ahok, kemudian Steven, maka akan muncul Ahok-Ahok yang lain.

Rasanya tidak cukup polisi sekedar menunggu laporan saja, karena ini kasus serius yang bisa membuat marah semua warga pribumi. Jalan satu-satunya agar tidak berkembang adalah dengan menyeret Steven ke ranah hukum meskipun laporan penghinaannya tidak dilakukan sang Gubernur,karena beliau telah memaafkan. Begitu mulianya sifat TGB, tapi itu tidak membuat rakyat reda karenanya, karena yang dihina bukan hanya seorang Gubernur, tapi rakyat Indonesia. Semoga Polisi bijak menyikapi ini.

KOMITE SEKOLAH,SUMBANGAN DAN BANTUAN

Berikut ini disampaikan informasi terkait dengan Komite Sekolah, Sumbangan dan Bantuan serta Pungutan Pendidikan.

Selama ini memang jika terkait dengan sumbangan atau bantuan yang melibatkan komite sekolah dan sekolah pasti muncul persoalan baru terkait penolakan wali murid. Mudah-mudahan dengan info grafis dari Kemendikbud ini bisa memberi gambaran yang benar, sehingga tidak ada kesimpang siuran


Mengubah pengeluaran jadi pendapatan, klik di sini

Secara lengkap dapat diunduh melalui tautan berikut ini

Info grafis komite sekolah

KETIKA BIMBEL MERUSAK SISTEM

Hari Ini Jumat tanggal 7 April seperti hari-hari yang lain, saya jalan-jalan pagi melewati perkampungan. Saat melewati sebuah rumah yang digunakan untuk bimbingan belajar ada hal yang cukup menggelitik. Saya terhs terang heran hari smasih pagi,kira-kira pukul 06.30 ada laki-laki usia sekitar 27-an duduk di atas motor di depan sebuah bimbel. Ketika saya melongok ke dalam nampak seorang anak SD menggunakan seragamnya duduk menulis sesuatu di buku,sementara di depannya duduk laki-laki dewasa. 

Pikiran saya tertuju pada pemandangan itu. Saya pikir ini bukan jam untuk bimbingan belajar, dan simlulannya adalah anak tersebut pasti sedang mengerjakan PR dibantu tentor bimbel tersebut. Melihat itu yang terpikir adalah apa fungsi orang tua kalau untuk mengerjakan PR saja harus membawa anaknya ke tentor untuk mengerjakan. Pikiran kedua adalah begitukah fungsi bimbel saat ini ? Membantu anak mengerjakan PR. Lalu dimana anak bisa menikmati dan mengalami proses belajar serta paham dengan baik jika PR saja harus dibantu tentornya.

MENGUBAH PENGELUARAN JADI PENDAPATAN, KLIK DI SINI

Melihat fenomena tersebut maka sungguh telat jika Kementerian Pendidikan mewacanakan agar tidak ada lagi PR untuk anak, karena kenyataannya sungguh mempeihatinkan. Ini bukan sekali dua kali saya menemukan fenomena seperti itu. Artinya bahwa sesungguhnya bimbel tidak betul-betul melaksanakan bimbingan belajar,tetapi juga bantuan mengerjakan soal. Jika hal-hal seperti itu dipelihara oleh para orang tua,bahkan masyarakat maka rusaklah sistem pendidikan yang dibangun untuk mengutamakan pendidikan karakter. Sungguh malang dunia pendidikan kita jika di sekolah anak dididik untuk membentuk karakter yang baik,di rumah orang tua justru merusaknya karena tidak sesuai dengan apa yang diajarkan di sekolah.

Benarlah mengapa Finlandia sangat berhasil dalam pendidikan,khususnya dalam hal pendidikan karakter. Mereka tidak semata-mata menemukan model yang dikembangkan sendiri, tetapi justru mengadopsi pola pendidikan yang dikembangkan Ki Hadjar Dewantara. Pendidikan di Filandia tidak meneganl PR, lama belajar di sekolah juga lebih pendek di banding Indonesia, dan beban belajar juga lebih sedikit, tetapi mengapa mereka berhasil .? Salah satu kunci keberhasilan pendidikan karakter dan kognitif untuk anak adalah apa yang diajarkan di sekolah itu pula yang dajarkan di rumah. Indonesia justru sering kali berbeda. Contih sederhana anak SMP tidak boleh naik motor ke sekolah karena belum waktunya, tetapi kenyataan orang tua justru mengajari anak-anaknya naik motor justru sejak SD yang kakinya saja belum nyampai ke tanah jika duduk di motor. 

Kembali ke bimbel tersebut di atas, maka sungguh sangat baik jika pendidikan di Indonesia mengajar yang bisa mengarahkan anak tanoa perlu bimbel. Rasa-rasanya pendidikan di SD era 1970-an yang belum mengenal bimbel pada masa itu justru lebih  baik dari sekarang yang memunculkan ketergantungan terhadap bimbel? Kalau demikian lalu………….? silahkan lanjutkan sendiri.