KITA TIDAK PERNAH MAU BELAJAR DARI BANJIR

Lagi.lagi, dan lagi. Banjir dan tanah longsor terjadi lagi,dan kini terjadi di Garut. Kasus banjir bandang dan atau tanah longsor dari tahun ke tahun selalu terjadi,meskipun tidak di satu tempat.tetapi penyebabnya selalu sama,rusaknya kawasan hulu akibat campur tangan manusianya. Saat kasus paling besar terjadi,yaitu banjir bandang di Bahorok, masyarakat Indonesia sudah diingatkan agar ramah dengan lingkungan. Sungai Bahorok marah karena hutan rusak. Banjir bandang menghantam perkampungan, menewaskan sedikitnya 200 orang pada tahun 2003. Akibat kasus ini pula pernah penulis ingatkan di Harian SI,Malang bahwa tipikal bangsa ini sulit belajar dari pengalaman sejarah, karena itu besar kemungkinan akan terjadi lagi. Ternyata kejadian sesungguhnya yang nyaris sama besarnya dengan bahorok meskipun korbannya lebih kecil adalah kasus Garut ini. Pada kasus Bahorok, Berdasar studi Balai Sabo dan Japan International Cooperation Agency (JICA) tahun 2003, yang terangkum dalam Penyusunan Arahan Pemanfaatan Ruang Daerah Aliran Sungai Bahorok, jumlah batang kayu yang tertinggal di palung saat banjir mencapai 70.000 meter kubik. Endapan pada dasar sungai setelah banjir dari Bukit Lawang ke hulu mencapai 300.000 meter kubik. Bagaimana dengan Garut ?

 Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui siaran persnya mengatakan, hujan berintensitas tinggi dan berdurasi panjang, ditambah tingginya tingkat kerentanan telah menyebabkan bencana banjir dan longsor di Kabupaten Garut dan Kabupaten Sumedang. Selain faktor alam, penyebab terjadinya bencana banjir bandang di Garut beberapa hari lalu menurut Rektor UGM, Dwikorita Karnawati yang juga pakar geologi dikarenakan perubahan tata guna lahan yang tidak sesuai dengan kondisi alamnya. Ia mengatakan, banjir bandang bisa terjadi karena daerah Garut layaknya sebuah mangkok, dimana Kabuten Garut dikelilingi oleh tujuh gunung api, sehingga air bermuara pada suatu titik. Kondisi inipun, katanya, diperparah dengan daerah aliran sungai (DAS) Cimanuk yang mengalami pendangkalan. Curah hujan yang tinggi, dengan intensitas 255 milimeter, sementara sebelumnya juga terjadi hujan sehingga tanah mengalami kejenuhan menyerap dan terjadi pendangkalan dan penyumbatan saluran-saluran air.

              Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia tahun 2014 Kabupaten Garut menempati peringkat pertama. Salah satu faktor yang menyebabkan adalah karena DAS Cimanuk diidentifikasi dalam kondisi kritis. Kritisnya DAS Cimanuk selain karena pemanfaatan lahan untuk kebun sayur yang memperbesar erosi,juga karena pemanfaatan industri pariwisata. Akibat alih fungsi lahan tersebut air hujan yang terserap kurang dari 25 persen, artinya air limpasan yang besar tersebut sebagai akibat ulah manusia.

 Dari dua kasus tersebut,lagi-lagi faktor manusia yang mengubah peruntukan di daerah hululah yang punya andil selain faktor alam. Banyak daerah di Indonesia yang mempunyai resiko yang sama seperti Bahorok dan Garut karena rusaknya daerah aliran sungai,khususnya pemanfaatan lereng pegunungan untuk perkebunan sayur dan daerah wisata yang semestinya dijaga oleh pohon-pohon yang akarnya mampu mencengkeram tanah dan menyerap air limpasan. Belum lagi hilangnya hak milik sungai,yaitu daerah dataran banjir,yaitu selebar 30 meter ke arah kiri dan kanan sungai yang seharusnya tidak ada bangunan juga mulai hilang.

 Dari realitas lingkungan tersebut kita bisa menilai bahwa di banyak wilayah daerah tangkapan air hujan (catchment area) mulai rusak sehingga tidak berfungsi dengan baik Banyak jalur ini yang dirubah menjadi kawasan perumahan elit. Karena tidak ada daerah tangkapan lagi maka air akan lari ke bawah dan masuk sungai, sehingga melewati batas daya tampung sungai. Di sisi lain mestinya selama air “berlari-lari” menuju kota ia bisa diserap oleh tanah sepanjang wilayah yang dilewati air. Tapi inipun tidak bisa terjadi karena banyak tanah yang sudah tidak bisa meresap air lagi. Kini banyak muka tanah yang ditutup dengan beton maupun aspal. Rumah-rumah pendudukpun makin banyak yang tidak menyisakan tanah terbuka dengan alasan kebersihan, kerapihan maupun estetika dengan membetonnya. Maka kemana lagi air akan lari kalau tidak kemudian menggenangi semua daerah yang dilaluinya.

 Kondisi semacam itu terjadi karena catchment area rusak parah, tanah resapan mulai menghilang,hutan banyak dibabat tanpa perhitungan, penjarahan terjadi dimana-mana. Saluran air alam makin mengecil akibat dibangunnya rumah di daerah bantaran sungai yang sebenarnya menjadi hak milik sungai. Kondisinya makin diperparah dengan “terbendungnya” sungai dan saluran air lain oleh sampah akibat manusia membuang sampah semaunya di semua saluran tersebut. Jadi banjirnya beberapa wilayah kita sebenarnya juga menjadi hak milik kita karena kita yang membuat skenarionya secara tidak sadar.

Cara paling mudah untuk melihat skenario alam terkait dengan kerusakan daerah tangkapan air hujan adalah dengan melihat warna air sungai yang mengalir. Air sungai yang berwarna coklat keruh menunjukkan bahwa daerah hulu sudah mulai rusak dan mengalami erosi yang tinggi. Makin coklat dan keruh air sungai menunjukkan makin rusaknya daerah atas,sebaliknya makin jernih air sungai makin terjaga daerah hulu sungai. Kita bisa membandingkan sungai yang melewati Banyumas yaitu sungai Logawa, Pelus dan Serayu. Sungai yang paling jernih adalah Pelus,berikutnya Logawa dan sungai yang paling keruh coklat adalh Serayu. Kondisi itu menunjukkan bahwa sungai Serayu paling besar tingkat erosinya yang berarti paling parah kerusakan lingkungan hulunya. Salah satu faktor penyebabnya adalah pertanian kentang di daerah Dieng, sebaliknya sungai Pelus paling terjaga daerah hulunya.

Belajar dari kasus Bahorok dan terakhir Garut maka Pemerintah Daerah perlu monitoring dan menjaga daerah resapan di bagian hulu dengan tidak mengijinkan tanah-tanah lereng ditanami tanaman semusim,karena itu akan meningkatkan resiko banjir dan longsor. Khusus DAS Pelus agar selalu dijaga kelestariannya seperti sekarang ini sehingga resiko bencana akan semakin kecil,sebaliknya untuk DAS Serayu barangkali perlu penataan ulang di daerah hulu,karena dengan melihat airnya saja sudah menunjukkan buruknya tata kelola tanah di wilayah hulu,dan itu di bawah mewenangan Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo.

Semoga kita bisa belajar dari kasus-kasus yang sering muncul dengan penyebab yang sama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s