LELAKI GAGAH

Suatu siang saya menuju kantor operator Fren (waktu masih ada belum, diakuisisi smart dan diberi nama smartfren) yang berada di depan kantor pusat UNSUD. Dalam perjalanan itu saya sengaja naik motor pelan-pelan karena memang tidak terburu-buru. Di depan   sebuah toko di selatan kantor UNSUD saya melihat seorang lelaki tua renta dengan tubun sedikit membungkuk sambil membawa karung di lunggungnya,sementara di tangan kanannya memegang semacam gancu. Jika melihat penampilannya nampaknya ia seorang pemulung,meskipun usianya sudah tidak lahi bisa disebut setengah baya, mungkin sekitar 65-an ke atas, tapi saya juga tidak yakin,karena mereka yang hidup dalam kesulitan kadang wajah tampak lebih tua dari usianya.

Saya bermaksud berhenti sejenak dan menemui si orang tua tersebut. Ada sedikit rezeki yang mungkin bisa meringankan bebannya. Saya mencoba turun dari motor dan berusaha mendekati si orang tua itu,tapi tiba-tiba ada 2 anak muda yang nampaknya mahasiswa UNSUD juga sedanb berjalan menuju si orang tua itu. Saya coba mendengarkan apa yang ia bicarakan setelah agak dekat,dan ketiga orang itu berhadap-hadapan. Mahasiswa tersebut tiba-tiba mengeluarkan dompet,kemudian menyodorkan lembaran uang rupiah ke orang tua itu sambil bicara

“Maaf Pak, ini ada sedikit rezeki untuk Bapak”,

“Untuk saya Nak ? tujuannya apa ?”,orang tua itu bertanya tanpa menyodorkan tangannya.

“Maaf Pak,saya tidak punya tujuan apa-apa,hanya sekedar berbagi rezeki”,demikian kata si pemuda.

“Ooooooo gitu to, tapi maaf ya mas,kalau saya menerima uang pemberian mas sementara saya tidak melakukan pekerjaan apapun untuk mas kan sama saja saya mengemis. Maaf saya bukan pengemis,meskipun tubuh yang renta ini ibarat tinggal tulang dan kulit tapi saya masih mampu bekerja meskipun hanya menjadi pemulung. Dengan cara ini saya tidak menggantungkan hidup pada orang lain, dan insha Allah uang yang saya terima juga jadi barokah dan bermanfaat. Silahkan uang itu diberikan pada orang lain yang berhak, dan terima kasih atas perhatian mas-mas”,kata si orang tua sambil meneruskan berjalan ke arah selatan. Si pemuda hanya melongo dan tidak menyangka kalau pemberiannya ditolak. Saya yang juga berniat sama juga menjadi malu karenanya.Tidak menyangka sama sekali jima bertemu dengan orang tua yang menolak pembetian tanpa bekerja, sementara di sekitar kita banyak orang yang lebih muda,lebih sehat, lebih kuat,hanya bermental pengemis, selalu meminta-minta tanpa melakukan pekerjaan.

Banyak juga orang-orang berpakain rapih dan necis,bergelar, naik mobil juga mempunyai mental pengemis, meminta-minta terhadap sesuatu yang tidak dikerjakan,misalnya dengan dalih THR, atau fee sebuah proyek,atau atas usaha jual mulutnya, tapi orang tua itu ?

Sungguh luar biasa perilakunya,dan kita mungkin malu karenanya jika melihat apa yang telah dilakukan orang-orang di sekitar kita yang lebih sehat. Sungguh tragis jika me,ihat mereka yang membawa HP,naik motor, gelang mas melingkar di tangannya ikut antri BLT (pada waktu itu), Orang tua itu ternyata lebih ksatria meskipun penampilannya golongan paria.

Semoga kita dapat memetik pelajaran darinya

(True story 3 tahun tang lalu yang menyentil perasaan ingin berbagi)

(gambar hanya sekedar ilustrasi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s