PLPG MULAI OKTOBER

 Tahun ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menerapkan  dua kebijakan baru  dalam program sertifikasi guru melalui Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Dua kebijakan baru itu adalah peningkatan batas nilai syarat kelulusan, dan ketentuan dapat mengulang ujian sertifikasi bagi guru yang tidak lulus ujian. Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbud, Sumarna Surapranata mengatakan, nilai kelulusan guru dalam ujian sertifikasi minimal harus 80 dari total nilai 100. “Kalau tahun lalu minimal 42 (sudah lulus),” ujarnya di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Jumat (16/9/2016). Ia mengatakan, kebijakan itu diterapkan berdasarkan arahan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy setelah mendapatkan laporan dari Bank Dunia. Pria yang akrab disapa Pranata itu menjelaskan, Bank Dunia merilis hasil penelitiannya yang menemukan data bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam nilai uji kompetensi guru (UKG) antara guru yang sudah tersertifikasi dengan guru yang belum tersertifikasi. “Karena itu kita tingkatkan batas kelulusannya,”  ujar Pranata.

Pranata menuturkan, kebijakan baru yang kedua adalah ketentuan bahwa guru yang tidak lulus ujian sertifikasi dapat mengulang lagi untuk mengikuti ujian, tanpa perlu mengulang PLPG. “Tahun ini bisa mengulang (ujian), tidak perlu PLPG lagi, cukup belajar mandiri, yang kita gerakkan sebagai program Guru Pembelajar,” tuturnya. Pranata juga menambahkan, guru cukup mengikuti PLPG sebanyak satu kali. Jika guru tersebut tidak lulus ujian sertifikasi, maka dapat mengikuti ujian lagi maksimal empat kali tanpa harus mengulang PLPG. Ujian sertifikasi guru dilaksanakan dua kali dalam satu tahun. “Jadi sistemnya seperti TOEFL. Kalau tidak lulus bisa mengulang lagi di lembaga yang terakreditasi, dalam hal ini LPTK (Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan). Jadi guru bebas belajar di mana saja dan dengan siapapun untuk mengulang ujian sertifikasi,” ujarnya.

 Menurut Pranata, sosialisasi kebijakan baru program sertifikasi guru itu sudah dilakukan sejak tahun lalu ke guru-guru dan rektor-rektor PTN yang jadi LPTK. Hal tersebut diakui Rektor Universitas Negeri Medan, Syawal Gultom. “Sejak bulan Maret lalu sudah kami sampaikan ke guru, termasuk kurikulumnya, apa saja yang harus dipelajari,” katanya. Hal senada juga diungkapkan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, Rochmat Wahab. “Karena sudah jadi konvensi bersama, akan kita jalankan,” ujarnya. PLPG tahun 2016 akan diselenggarakan mulai Oktober 2016, dan diharapkan kelulusan guru-guru peserta PLPG 2016 akan rampung pada Desember 2016. Tahun ini PLPG akan diikuti 69.259 guru, baik yang diangkat sebelum tahun 2005, maupun setelah tahun 2005.  

(Sumber : Desliana Maulipaksi, kemdikbud.go.id)


INPRES REVITALISASI SMK

Jakarta, Kemendikbud — Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Inpres tersebut dikeluarkan pada tanggal 9 September 2016 di Jakarta dan ditujukan kepada 12 Menteri Kabinet Kerja (termasuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan), 34 Gubernur, dan Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Presiden Jokowidodo dalam Inpres tersebut menginstruksikan kepada para menteri, para gubernur, dan Kepala BNSP agar mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing untuk merevitalisasi SMK guna meningkatkan kualitas dan daya saing SDM Indonesia. Presiden juga menginstruksikan supaya disusun peta kebutuhan tenaga kerja bagi lulusan SMK sesuai tugas, fungsi, dan kewenangan masing-masing dengan berpedoman pada peta jalan pengembangan SMK.

Khusus untuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Presiden Jokowi memberikan enam instruksi. Keenam instruksi tersebut adalah: membuat peta jalan SMK; menyempurnakan dan menyelaraskan kurikulum SMK dengan kompetensi sesuai kebutuhan pengguna lulusan (link and match); meningkatkan jumlah dan kompetensi bagi pendidik dan tenaga kependidikan SMK; meningkatkan kerja sama dengan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, dan dunia usaha/industri; meningkatkan akses sertifikasi lulusan SMK dan akreditasi SMK; dan membentuk Kelompok Kerja Pengembangan SMK. Kepada Kepala BNSP, Presiden Jokowi menginstruksikan untuk mempercepat sertifikasi kompetensi bagi lulusan SMK, pendidik, dan tenaga pendidik SMK, serta mempercepat pemberian lisensi bagi SMK sebagai lembaga sertifikasi profesi pihak pertama.

Sejumlah  34 gubernur mendapat instruksi agar memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk mendapatkan layanan pendidikan SMK yang bermutu sesuai dengan potensi wilayahnya masing-masing; menyediakan pendidik, tenaga kependidikan, sarana, dan prasarana SMK yang memadai dan berkualitas; melakukan penataan kelembagaan SMK yang meliputi program kejuruan yang dibuka dan lokasi SMK; serta mengembangkan SMK unggulan sesuai dengan potensi wilayah masing-masing.  Selain Mendikbud, 11 Menteri Kabinet Kerja yang juga mendapat instruksi presiden adalah Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Menteri Perindustrian, Menteri Ketenagakerjaan, Menteri Perhubungan, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri BUMN, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, serta Menteri Kesehatan.

Inpres Nomor 9 Tahun 2016 dikeluarkan untuk menguatkan sinergi antarpemangku kepentingan dalam merevitalisasi SMK guna meningkatkan kualitas dan daya saing SDM Indonesia. Para menteri, gubernur, dan Kepala BNSP harus melaporkan pelaksanaan Inpres tersebut kepada Presiden paling sedikit enam bulan sekali atau sewaktu-waktu apabila diperlukan, dengan tembusan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Inpres selengkapnya dapat dilihat di http://psmk.kemdikbud.go.id/konten/1903/instruksi-presiden-tentang-revitalisasi-sekolah-menengah-kejuruan

 (Sumber : Desliana Maulipaksi/kemdikbud.go.id)

 

LEBAY

Saya pernah tulis soal mahasiwa era kini yang sering lebay dalam hal hubungan antar lawan jenis. Banyak diantaranya yang mengunggah acara ulang tahun. ULANG TAHUN dirayakan? Mungkin wajar jika hari kelahiran,hari pernikahan,tapi jadi tidak wajar kalau sekedar ulang tahun pacaran. Jangankan pacaran 3 tahun,yang sudah 6 tahun saja juga banyak yang bubaran. Misalnya sudah diunggah di medsos ulang tahun pacaran yang kesekian,kemudian tiba-tiba bubsr apa juga berani mengumumkan ke khalayak medsos kalau sudah bubaran? Apakah tidak malu karenanya.Ibarat orang nikah yang diumumkan, saat diberi talak kan juga orang harus tahu,kalau mau nimah lagi kan calonnya,KUAnya, akan menanyakan juga surat jeterangan statusnya jejaka apa duda, perawan atau janda. Nah kalau baru sebatas pacaran kemudian “ditalak”, apa statusnya? Mending sebentar terus resmi, itu lebih bagus,tidak usah berbilang tahun. Silahkan direnungkan.

LELAKI GAGAH

Suatu siang saya menuju kantor operator Fren (waktu masih ada belum, diakuisisi smart dan diberi nama smartfren) yang berada di depan kantor pusat UNSUD. Dalam perjalanan itu saya sengaja naik motor pelan-pelan karena memang tidak terburu-buru. Di depan   sebuah toko di selatan kantor UNSUD saya melihat seorang lelaki tua renta dengan tubun sedikit membungkuk sambil membawa karung di lunggungnya,sementara di tangan kanannya memegang semacam gancu. Jika melihat penampilannya nampaknya ia seorang pemulung,meskipun usianya sudah tidak lahi bisa disebut setengah baya, mungkin sekitar 65-an ke atas, tapi saya juga tidak yakin,karena mereka yang hidup dalam kesulitan kadang wajah tampak lebih tua dari usianya.

Saya bermaksud berhenti sejenak dan menemui si orang tua tersebut. Ada sedikit rezeki yang mungkin bisa meringankan bebannya. Saya mencoba turun dari motor dan berusaha mendekati si orang tua itu,tapi tiba-tiba ada 2 anak muda yang nampaknya mahasiswa UNSUD juga sedanb berjalan menuju si orang tua itu. Saya coba mendengarkan apa yang ia bicarakan setelah agak dekat,dan ketiga orang itu berhadap-hadapan. Mahasiswa tersebut tiba-tiba mengeluarkan dompet,kemudian menyodorkan lembaran uang rupiah ke orang tua itu sambil bicara

“Maaf Pak, ini ada sedikit rezeki untuk Bapak”,

“Untuk saya Nak ? tujuannya apa ?”,orang tua itu bertanya tanpa menyodorkan tangannya.

“Maaf Pak,saya tidak punya tujuan apa-apa,hanya sekedar berbagi rezeki”,demikian kata si pemuda.

“Ooooooo gitu to, tapi maaf ya mas,kalau saya menerima uang pemberian mas sementara saya tidak melakukan pekerjaan apapun untuk mas kan sama saja saya mengemis. Maaf saya bukan pengemis,meskipun tubuh yang renta ini ibarat tinggal tulang dan kulit tapi saya masih mampu bekerja meskipun hanya menjadi pemulung. Dengan cara ini saya tidak menggantungkan hidup pada orang lain, dan insha Allah uang yang saya terima juga jadi barokah dan bermanfaat. Silahkan uang itu diberikan pada orang lain yang berhak, dan terima kasih atas perhatian mas-mas”,kata si orang tua sambil meneruskan berjalan ke arah selatan. Si pemuda hanya melongo dan tidak menyangka kalau pemberiannya ditolak. Saya yang juga berniat sama juga menjadi malu karenanya.Tidak menyangka sama sekali jima bertemu dengan orang tua yang menolak pembetian tanpa bekerja, sementara di sekitar kita banyak orang yang lebih muda,lebih sehat, lebih kuat,hanya bermental pengemis, selalu meminta-minta tanpa melakukan pekerjaan.

Banyak juga orang-orang berpakain rapih dan necis,bergelar, naik mobil juga mempunyai mental pengemis, meminta-minta terhadap sesuatu yang tidak dikerjakan,misalnya dengan dalih THR, atau fee sebuah proyek,atau atas usaha jual mulutnya, tapi orang tua itu ?

Sungguh luar biasa perilakunya,dan kita mungkin malu karenanya jika melihat apa yang telah dilakukan orang-orang di sekitar kita yang lebih sehat. Sungguh tragis jika me,ihat mereka yang membawa HP,naik motor, gelang mas melingkar di tangannya ikut antri BLT (pada waktu itu), Orang tua itu ternyata lebih ksatria meskipun penampilannya golongan paria.

Semoga kita dapat memetik pelajaran darinya

(True story 3 tahun tang lalu yang menyentil perasaan ingin berbagi)

(gambar hanya sekedar ilustrasi)

INSPIRASI HIDUP

INSPIRING True STORY

 

Suatu malam di suatu kota di Philadelphia, USA, sepasang suami-istri sepuh masuk ke sebuah hotel kecil. Mereka bertanya kepada resepsionis di situ…

Suami : Apakah masih ada kamar untuk kami berdua …?

Resepsionis: Maaf sekali Pak, kamar kami penuh semua dan kebetulan di kota ini sedang ada 3 events besar, sehingga semua hotel penuh

Suami : Oooh, baiklah kalau begitu …

Resepsionis : Tetapi saya tidak mungkin menolak Bapak & Ibu serta menyuruh pergi di tengah malam begini sementara di luar hujan badai… Kalau berkenan, bapak dan ibu boleh menginap di kamar saya. Segera saya akan membereskan kamar saya…

Suami & istri : … (mengangguk tanda setuju) Terima kasih anak muda… Thank you, young man!  

Dua tahun berlalu, dan resepsionis tadi hampir melupakan kejadian itu, ketika menerima surat yang mengingatkannya pada malam hujan badai tersebut. Lelaki muda ini diminta datang mengunjungi pasangan tersebut di New York & terlampir tiket pesawat pulang-pergi untuk-nya … Di New York, laki-laki tua itu membawanya ke sudut 5th Avenue & 34th Street, lalu menunjuk sebuah gedung baru yang megah, sebuah istana dengan batu kemerahan dan menara  (tower) yang menjulang ke langit… Sebuah sky scraper mewah.

Lelaki tua : Itu adalah hotel yang baru saja saya bangun untuk Anda kelola…

Resepsionis: ha ha…ha.Anda pasti sedang bercanda … 

Lelaki tua: … Sure, saya tidak sedang bergura

Nama lelaki tua itu adalah William Waldorf Astor, dan struktur bangunan megah tersebut adalah Waldorf-Astoria Hotel. Resepsionis itu, adalah Mr. George C. Boldt yg akhirnya menjadi CEO dari jaringan WALDORF-ASTORIA HOTEL yang kini berdiri di hampir seluruh kota-kota besar di seluruh dunia

Moral of this story:

Jangan pernah berhenti untuk berbuat baik kepada siapa-pun, kapan-pun & dimana-pun…jangan sampai hidup kita dipakai u menekan dan menipu orang…karena semua pasti ada balasannya…

You get what You give, whether it’s good or bad.

Thank’s for Mr. Endang Taryana and Fabrice de Koch