SISWA DUTA ANTI MENCUBIT NASIONAL

Saya tulis untuk kedua kalinya soal orang tua yang lebay. Indonesia, riwayatmu kini, dan guru nasibmu kian tak menentu. Kesekian kalinya nasib guru bisa masuk  penjara gara-gara sebuah teguran untuk murid. Nasib guru menegur murid kini sanksinya adalah pengadilan ,meskipun memberi sanksi terhadap murid itu dijamin undang-undang, tetapi pelaksana undang-undang sering mengabaikan bahwa ada undang-undang yang melindungi guru dalam memberi sanksi pada murid.

Barangkali ini sebagai akibat orang tua murid yang lebay dalam menanggapi sanksi terhadap anaknya dan proteksi yang berlebihan terhadap si anak. Orangtua  yang berlebihan inilah yang akhirnya membawa guru ke sidang pengadilan. Sudah berkali-kali guru pemberi sanksi murid berurusan dengan sidang pengadilan,bahkan beberapa diantaranya sudah merasakan dinginnya tembok penjara. Mereka tidak sadar bahwa guru tugasnya tidak hanya mengajar, tapi juga mendidik. Mendidik itu ada hukuman  ada hadiah, ada sanksi ada punishment. Jika guru hanya bertugas mengajar itu sungguh mudah,karena sekedar transfer ilmu saja cukup, perkara  anak paham atau tidak iti bukan urusan guru. Apa yang seperti itu yang dikehendaki para orang tua saat ini ?

Barangkali para orang tua yang seperti itu perlu melihat atau merefleksikan diri bahwa orang-orang hebat yang ada itu dibentuk oleh proses kedisiplinan, bukan karena dimanjakan. Bukannya berarti saya ingin membawa ke masa silam, tetapi kita bisa melihat atau mendengar bahwa murid dulu jika dikenai sanksi atau hukuman oleh guru jika lapor orang tua malah diberi tambahan hukuman, belum ada ceritanya orang tua laporan ke polisi. Munculnya kasus Sidoarjo menambah daftar guru yang dikriminalkan. Bagaimana sebenarnya kasus itu ?

Ketua Lembaga Badan Hukum PGRI Sidoarjo, Gufron mengatakan bahwa rekannya difitnah. Dirinya juga kaget ketika Moh Sambudi dipanggil menjadi tersangka pencubitan tanpa adanya penyidikan. “Sebenarnya pihak terlapor ini difitnah. Padahal masalahnya hanya menepuk pundak siswa karena enggan melakukan sholat dhuha, tidak di cubit. Padahal peristiwa itu lima hari sebelumnya, kog masih ada bekas cubitan,” terang Gufron. Moh Sambudi, terdakwa mengatakan bahwa saat itu dirinya melihat kurang lebih 30 anak yang tidak ikut sholat dhuha, sedang berada dipinggiran sungai. Ketika dipanggil, dirinya disuruh berbaris sambil membaca doa serta ditepuk pundaknya oleh seorang guru Matematika ini. “Saya tidak mencubit siapapun. Waktu itu, ada beberapa siswa main dipinggiran sungai dan tidak ikut sholat dhuha,” ujar guru yang mengajar di SMP Raden Rahmat, Kecamatan Balongbendo ini. Kasus ini memberikan contoh orang tua yang berlebihan membela anaknya. Orang tuanya terlalu memanjakan anak.

Pendidikan orang tua yang terlalu memanjakan anak nanti akan jadi bumerang bagi orang tua itu sendiri. Mereka cenderung akan jadi anak yang nakal dan cenderung tidak bisa diatur. Kita bisa melihat kasus yang terjadi di Sidoarjo. Anak yang katanya melaporkan guru ke polisi dan masuk ke persidangan yang katanya orang tuanya tentara masih SMP saja sudah merokok. Apakah orang tuanya tahu akan hal itu atau justru melakukan pembiaran ?

Melihat makin banyaknya guru yang dipidanakan hanya gara-gara memberi sanksi pada murid barangkali sudah saatnya sekolah mengambil sikap keras dengan tidak menerima murid yang orang tuanya tidak mau menerima jika anaknya mendapat sanksi dari guru. Sekolah perlu punya sikap yang sama dalam menanggapi kasus seperti ini guna  menghentikan sikap lebay sebagian orang tua yang berlebihan membela anak-anaknya. Biarkan mereka mendidik di rumah yang tanpa ada sanksi apapun sehingga akan memuaskan dirinya. Biarkan membuat raport dan jika perlu ijazah sendiri. LINDUNGI PARA GURU DARI KRIMINALISASI AKIBAT MEMBERI SANKSI, oleh karena itu untuk menghindari kasus serupa ada baiknya SEMUA SEKOLAH DI INDONESIA perlu menyontoh SMP Negeri 6 MATARAM, yaitu semua murid dan orang tuanya menandatangani surat perjanjian untuk tidak menuntut atau melaporkan ke polisi jika anaknya melanggar aturan sekolah mendapatkan hukuman,hanya harus demokratis, artinya berdasarkan kesepakatan bersama,bukan satu pihak dari pihak sekolah saja.

 

 .

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s