PERAN ORANG TUA DALAM KEGAGALAN PENDIDIKAN KARAKTER DI ERA DIGITAL

Ki Hadjar Dewantara mengajarkan pada kita bahwa pendidikan itu ada pada tri pusat, yaitu pendidikan dalam keluarga, pendidikan dalam sekolah dan pendidikan dalam masyarakat. Artinya keberhasilan pendidikan tidak bisa diserahkan pada sekolah saja,orang tua tahu beres, karena bagaimanapun juga waktu di sekolah lebih pendek dibanding waktu di rumah dan di masyarakat. Sayangnya era sekarang ini yang serba digital orang tua justru banyak yang abai dengan pendidikan anak di kingkungan keluarga dan masyarakatnya, karena menganggap orang tua sudah mencukupi segala kebutuhan anak,sedang orang tua tidak campur tangan dengan alasan semua sibuk. 
Apa yang terjadi saat ini, di era digital, barangkali tidak bisa jika orang tua hanya menyediakan semua fasilitas mulai dari smartphone, laptop dan lainnya, sementara pendidikan diserahkan sepenuhnya pada sekolah. Seringkali terjadi apa yang diajarkan di sekolah bertolak belakang dengan apa yang diterima di rumah. Contoh sederhana sekolah mengajarkan kedisiplinan,tertib berlalu lintas dan yang terkait dengan hal tersebut, tetapi di rumah orang tua mengajarkan pada anak bagaimana melanggar aturan itu. Pelanggaran dimulai dari yang kecil,misal menerobos lalu lampu lalu lintas pada saat mengajak anak naik motor atau mobil, masuk jalur bus way,berhenti di daerah ruang henti roda dua (padahal naik mobil), parkir di depan larangan parkir, dan contoh-contoh kecil lainnya seperti merokok di depan anak,padahal di sekolah diajarkan untuk tidak merokok.

Fenomena tersebut menunjukan bahwa apa yang diajarkan di sekolah dalam pendidikan karakter bagi anak justru dimentahkan oleh orang tua sendiri dengan contoh perilakunya di depan anak. Oleh karena itu tidak sepantasnya jika kegagalan membentuk karakter anak ditumpahkan pada pundak sekolah bahwa sekolah gagal dalam membentuk karakter anak.

Kemajuan teknologi memang tidak bisa dibendung di era sekarang ini,bahkan anak kecilpun kini sudah pintar berselancar di dunia maya akibat fasilitas smartphone yang diberikan orang tua. Tahukah orang tua untuk apa saja smartphone tersebut. Peristiwa kecil yang akan penulis sampaikan ini barangkali perlu untuk direnungkan.

Suatu saat penulis mendapat keluhan dari orang yang melihat anak tetangganya yang masih kelas 1 SD melihat gambar-gambar porno di hpnya, tahukah orang tua si anak dengan aktivitas itu ? Ternyata tidak. Memang gambar porno bisa muncul dimana saja sekarang ini,mulai dari bentuk virus,status dan seabreg type cara munculnya. Di media sosial saja sering muncul tanpa diundang karena ada tag dari teman yang juga tidak merasa mengunggah. Artinya apa yang diketahui orang tersebut tentang apa yang dilihat si anak bisa jadi gambar yang disimpan,bisa juga gambar yang muncul dengan tidak disengaja oleh anak.

Ada sebuah cerita yang lain yang lebih miris. Ada anak kelas 2 SD yang cerita bahwa dia punya saudara sepupu yang masih kelas 5 sudah dibelikan laptop orang tuanya dan dalam laptop tersebut punya simpanan video xxx sangat banyak hasil mengunduh melalui mbah Google. Si anak pernah diajak saudaranya itu untuk nonton bersama,tetapi kemudian pergi karena katanya ada yang aneh dengan alat vitalnya, dan sekali itu saja dia menonton, karena merasa tidak nyaman. Ini cerita seorang guru yang mendapat cerita dari anak didiknya yang kelas 2. Apakah kedua orang tua bekerja ? Ternyata tidak juga,karena si ibu kerja di rumah membuka usaha. Kasus tersebut barangkali bukan satu-satunya,mungkin banyak anak-anak yang seperti itu, dan mungkin ini hanya sebuah fenomena gunung es yang kita tidak tahu seberapa banyak anak-anak usia SD yang sudah dengan mudah mengakses video yang masuk dalam katagori dewasa.

Apakah kita menyalahkan kemajuan teknologi ? Tentu saja tidak bisa. Apakah kita kemudian mengatakan bahwa itu tanggung jawab sekolah? Ini tidak adil juga mengingat aktivitas itu justru dilakukan di rumah.

Dalam kehidupan sehari-hari yang tidak terkait dengan teknologi informasi adalah karakter kedisiplinan, contoh kasus misalnya soal berkendara. Betapa banyak orang tua merasa bangga jika anaknya yang masih SD sudah bisa naik kendaraan bermotor. Berkali-kali penulis berpapasan dengan anak kecil yang kakinya saja belum sampai ke tanah saat naik motor sudah berkendara di jalan,bahkan tragisnya lagi memboncengkan anak yang lebih kecil dua orang,tanpa helm lagi. Jika terjadi kecelakaan tentunya bukan si anak yang tidak disiplin,tetapj orang tua yang mengijinkan. Mestinya orang tua melatih anak untuk tertib lalu lintas jika ingin membentuk karakter yang baik. Bagaimana mungkin pendidikan karakter (dalam hal ini kedisiplinan) di sekolah dapat berhasil jika orang tua justru mengajarkan untuk tidak displin terhadap aturan lalu lintas.

Oleh karena itu benar apa yang sudah dirumuskan KHD sejak lama,bahwa orang tua juga punya tanggung jawab dalam mendidik anak-anak,bukan hanya tanggung jawab sekolah. Nampaknya era sekarang ini orang tua menganggap cukup jika karakter dibentuk di sekolah saja,sehingga menjadi abai dengan pendidikannya di rumah. Anehnya justru ketika orang tua mendapatkan laporan dari anak kalau habis dimarahi guru tidak menerima apalagi kalau sampai ada kekerasan fisik. Akibatnya anak merasa dimanjakan oleh orang tua sehingga menjadi anak pengadu,sebaliknya jika orang tua sering marah-marah pada anak karena kenakalannya,maka jika ia memperlakukan temannya tidak baik,dan si teman membalas,yang dilaporkan pada orang tua justru sebaliknya,agar orang tua memarahi temannya.

Hal berbeda dengan jaman dulu ketika anak dimarahi guru,orang tua sadar pasti ada kesalahan yang dilakukan maka ia mendapat tambahan marah dari orang tuanya, sehingga si anak lebih baik diam. Jaman sekarang orang tua ikut maju jika anak kena marah guru,minimal memarahi guru,bahkan jika berlebihan sanksi hukuman menghadang karena ketidak terimaan orang tua.

Melihat kasus-kasus yang muncul tentang kenakalan anak-anak SD seperti yang sering dilaporkan di mass media,bahkan ada anak SD yang membunuh temannya, atau anak SD yang hoby melihat video porno tentunya tidak bisa dilepaskan dari pendidikan orang tua di rumah,karena tidak mungkin guru mengajarkan hal tersebut di sekolah. Anak-anak mengetahui hal tersebut tentunya bukan berasal secara tiba-tiba,tetapi karena diajari lingkungannya,entah itu dari lingkungan pertemanan atau bahkan dari lingkungan rumah tangga, karena anak sebenarnya masih dalam tahapan imitating/meniru apa yang dilakukan orang dewasa,khususnya orang tua.

Karakter tidak bisa diajarkan dengan pendekatan teori untuk anak-anak,tetapi harus diajarkan dengan perilaku,dengan contoh perbuatan. Bagaimana mungkin orang tua mengajarakan anak untuk tidak merokok karena tidak sehat jika orang tua sendiri sering merokok di depan anaknya misalnya. Bagaimana mungkin guru mengajar anak bahwa merokok itu tidak sehat jika guru bersangkutan juga merokok.

Marilah kita instrospeksi bersama terkait dengan maraknya fenomena kegagalan pendidikan karakter untuk anak-anak. Kita harus menyadari bahwa orang tua punya andil dalam kegagalan pendidikan karakter anaknya, karena tanggung jawab guru sebatas ketika anak di sekolah. Janganlah menuntut terlalu banyak padaa guru,sementara sebagai orang tua justru abai mendidik anak-anaknya di rumah

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Diterbitkan oleh

Eka PGSD UM PURWOKERTO

Lektor Kepala di PGSD UM PURWOKERTO. Certified Instructor Hypnotherapyof IBH Hydoponiker,fotografer,writer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.