MENDOAN MILIK RAKYAT BUKAN FUJI WONG

Nama mendoan itu identik dengan Banyumas dan sekitarnya (Banyumas,Purbalingga,Cilacap, ,Banjarnegara, sebagian Kebumen. Orang jika mengatakan mendoan maka konotasinya adalah tempe khas yang berasal dari wilayah tersebut. Tempe mendoan sudah ada sejak dulu turun temurun,dan diproduksi oleh rakyat banyak,mulai dari pengrajin tempe mendoan kelas teri sampai kelas kakap. Nama khas mendoan ini sudah ada sejak dulu di wilayah Banyumas,maka menjadi nama generik seperti halnya tempe, lanting,gembus, bongkrek dan lain-lainnya.

Maka menjadi aneh jika Kemenkumham melalui Dirjen Hak paten memberikan hak ekslusif nama mendoan kepada Fuji Wong. Fudji Wong mengantongi hak eksklusif merek ‘Mendoan’, tempe khas Banyumas, Jawa Tengah. Meski mengantongi merek ‘mendoan’ ternyata ia bukanlah pengusaha di bidang tempe. “Dulu saya patenkan usaha saya, ada air minum, ada salon dan lain-lain. Saya terpikir juga mendoan ini sudah ada yang daftarin belum. Nah, ternyata belum. Makanya saya daftarkan,” kata Wong kepada wartawan di rumahnya, Jalan Jenderal Suprapto, Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (4/11/2015).(sumber :detik.com). Wong tumbuh besar di Purwokerto dan selepas SMA bekerja di Jakarta dan kembali ke kampung halamannya untuk bisnis air minum. Selama ini, ia tidak pernah bergelut di bidang olahan makanan, baik tempe, keripik, tahu, mendoan atau lainnya, oleh karena itu aneh jika ia mendaftarkan paten mendoan,dan menjadi pemilik ekslusif.

Ada konsekwensi hukum jika hal ini dibiarkan. Orang tidak bisa lagi seenaknya menggunakan nama mendoan atau menyediakan mendoan di warung tanpa seijin pemilik hak merk/nama. Orang juga tidak lagi bisa membuat mendoan tanpa seijin Fuji Wong. Meskipun alasan Fuji Wong mendaftarkan nama mendoan agar nama ini tidak lepas dari Bayumas, tetapi kita tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya di balik itu, bisa jadi keuntungan finansial yang ingin didapatkan dengan memegang hak ekslusif nama mendoan. Oleh karena itu rakyat Banyumas tidak bisa tinggal diam begitu saja dengan membiarkan Fuji Wong sebagai pemegang nama ekslusif mendoan,karena bukan dia, atau nenek moyangnya yang mengenalkan mendoan di bumi Bayumas ini. MENDOAN IS BANYUMAS CULINERY. NOT FUJI WONG ONLY.

  
Inilah wajah Fuji Wong.

MANUSIA TEMPATNYA MENGELUH

Berbukan-bulan Indonesia mengalami kemarau panjang, bahkan akibat kemarau panjang ini pula berbulan-bulan Sumatra,Kalimantan diselubungi kabut asap yang tak kunjung selesai akibat hujan tak kunjung turun. Purwokerto berminggu-minggu panas menyengat, bahkan karena panasnya tidak ada seorangpun yang tidak kegerahan (kecuali di kamar berAC). Panas menyengat yang membuat aktivitas di luar ruang tidak nyaman,sementara air juga mulai berkurang. Manusia mengeluhkan dengan kondisi ketidak nyamanan panas ini. Berbagai upaya dilakukan oleh manusia, termasuk sholat istisqa, sholat minta hujan.

Sejak kemarin sore Purwokerto diguyur hujan hampir merata,setelah sebelumnya gerimis hanya turun di beberapa tempat. Nampaknya hujan kemarin belum cukup sehingga dilanjutkan pagi ini yang juga merata di wilayah Purwokerto. Kita patut bersyukur,begitu indahnya nikmat Allah 2 hari terakhir ini. bau tanah terkena air hujan pertama sungguh terasa seperti parfum yang paling mahal di dunia,bahkan tidak ada bandingannya. Kita patut bersyukur karenanya, tetapi…….

Sebagian manusia lagi masih mengeluh juga. ” ah masih pagi gini mau berangkat (ke kantor, ke sekolah, ke kampus) sudah hujan,lebat lagi”. Manusia itu memang aneh. Diberi nikmat kemarau berkepanjangan mengeluh dan minta hujan. Diberi hujan baru sekali saja sudah mengeluh kok pagi-pagi sudah hujan. Kapan manusia-manusia seperti itu bersyukur ? Padahal manusia yang pandai bersyukur, apapun kondisinya itu sungguh nikmat. Beban yang berat terasa ringan. Capaian yang terlalu jauh terasa dekat. Angan-angan yang tinggi serasa rendah, karena itu pandai-pandailah bersyukur.

Ah…… Manusia memang tempat berkeluh kesah, hanya orang-orang yang pandai bersyukur yang tidak pernah mengeluh.