PECINTA ALAM KEKINIAN DAN RISIKO LINGKUNGAN

Memasuki tahun 2015 ini banyak kasus “pecinta alam” yang mengalami musibah saat melakukan pendakian ke puncak gunung. Kata pecinta alam sengaja ditulis menggunakan tanda petik karena saat ini selain pecinta alam sejati juga muncul pecinta alam “kekinian”, yaitu jenis pecinta alam yang sekedar mengikuti trend kekinian,menyiapkan tulisan yang isinya tergantung kepentingannya,dan difoto saat dipuncak langsung kemudian langsung diunggah di medsos.
Pecinta alam sejati tentunya sekelompok orang atau perorangan yang sudah mempersiapkan diri dengan matang dalam rangkaian penaklukan puncak gunung, baik persiapan fisik maupun perlengkapannya. Ia menyadari bahwa setiap gunung mempunyai karakter yang berbeda-beda,dan masing-masing juga mempunyai cirikhas lingkungan yang berbeda. Sebagai contoh ada gunung yang mempunyai ciri mudah terjadi longsor batuan, ada juga gunung yang licin saat musim hujan karena batu berlempung,atau ada juga gunung yang batu berpasir. Dengan ciri yang berbeda tentunya keperluan yang disiapkan juga akan berbeda-beda.
Pecinta alam kekinian tentunya berbeda dengan pecinta alam yang sebenarnya. Mereka mendaki gunung bukan bersama-sama dengan kelompok pecinta alam,tetapi berangkat dimulai dari ide yang sama dengan teman sekelompoknya untuk bersama—sama mendaki gunung tanpa persiapan matang,kecuali persiapan untuk berselfie ria. Mereka naik sekedar naik tanpa memahami karakteristik gunung yang akan didaki, tanpa persiapan yang matang,terutama persiapan fisik dan perlengkapan yang memadai,sehingga resiko bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan cukup besar.
Resiko paling besar yang akan diterima oleh pendaki kekinian selain kecelakaan karena faktor alam atau tersesat adalah terkena hipotermia, yaitu kondisi ketika mekanisme tubuh mengalami kesulitan mengatur suhu tubuh saat mendapat tekanan udara dingin. Hipotermia juga dapat didefinisikan sebagai kondisi saat suhu tubuh di bawah 35 derajat celsius,sementara tubuh hanya mampu mengendalikan suhu saat kondisi thermonetral,yaitu antara 36,5-37,5. Gejala hipotermia ringan adalah jika berbicara melantur,detak jantung melemah,tekanan darah menurun dan kontraksi otot kontraksi berlebihan untuk menghasilkan panas. Barangkalai gejala awal seperti ini tidak diketahui oleh pecinta alam kekinian dan bagaimana langkah pertolongan pertamanya sehingga muncul korban hipotermia pada tahun ini.
Salah satu resiko yang disampaikan di atas adalah salah satu resiko yang tidak disadari dan diketahui, terbukti munculnya foto-foto “pecinta alam” di medsos yang berpakaian ala kadarnya tanpa memperhatikan resiko itu, padahal cuaca di atas gunung bisa sangat cepat berubah. Selain resiko tersebut,resiko yang terkait dengan faktor alam adalah tersesat. Tersesat dapat terjadi bukan saja karena tidak paham dengan jalur pendakian dan penurunan, tetapi juga karena ketidak pahaman pendaki untuk bersikap saat kabut tebal datang secara tiba-tiba.
Selain resiko yang diterima oleh pendaki baik langsung maupun tidak langsung,ada juga resiko lingkungan karena ulah pendaki, dan ini sering terjadi. Pecinta alam jika tujuan utamanya adalah mendaki tidak akan membuat api unggun saat naik,atau kalaupun terpaksa membuat api unggun akan dipadamkan jika sudah selesai keperluannya. Demikian juga pendaki yang perokok akan betul-betul mengendalikan diri terkait dengan api rokok. Seringnya terjadi kebakaran hutan di puncak gunung saat musim kemarau sebagian besar justru bukan disebabkan karena gesekan ranting kering,tetapi karena api unggun maupun api rokok. Hal lain yang juga dilakukan mereka adalah membuang sampah sepanjang jalur pendakian, khususnya sampah bekas kemasan makanan yang dibawa. Pecinta alam sejati tidak akan meninggalkan apapun sepanjang jalur pendakian kecuali jejak kaki
Melihat kasus-kasus yang muncul belakangan ini, baik resiko yang diterima pendaki maupun resiko untuk lingkungan maka diperlukan sosialisasi yang instens di setiap pos pendakian kepada mereka para pendakian kekinian, baik oleh aparat yang berwenang maupun sesama pendaki yang memang benar-benar pendaki. Jika hal tersebut dilakukan tentunya akan meminimalisir resiko yang muncul akibat ulah pendaki kekinian, yang tentunya mempunyai pengaruh negatif terhadap nama pendaki pecinta alam yang sebenarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s