BELAJAR MENULIS UNTUK MENGAJAR MENULIS

Guru SD itu guru serba bisa karena harus membisakan anak yang belum bisa. Ia akan mengajar semua bidang ilmu biarpun sedikit-sedikit. Sedikit-sedikit tetapi banyak. Oleh karena itu guru SD harus tahu semua ilmu biarpun sedikit-sedikit, tetapi yang paling penting harus bisa menulis dengan baik agar anak didiknya yang belum bisa menulis bisa menulis dengan baik. Bagaimana mungkin seorang guru yang tulisannya acak-acakan atau bahkan berantakan,menulis tegak bersambung saja kacau balau mau mengajar menulis anak yang belum bisa menulis.

Nampaknya menulis tangan pekerjaan mudah,mudah dilihat dan mudah dilakukan,tetapi kenyataannya belum tentu. Oleh karena itu beruntunglah PGSD yang dalam proses seleksinya ada wawancara untuk mengetahui latar belakang,karakter dan tulisan calon mahasiswanya, itupun kadang kecolongan. Bagaimana dengan PGSD yang menerima mahasiswa hanaya melalui tes tertulis yang koreksinya dilakukan dengan komputer. Bagaimana jika kemudian ia menerima calon mahasiswa yang tulisannya acakadut ? Jangan dikiran mereka yang sudah lulus SMA tulisannya pasti bagus. TIDAK. banyak diantaranya yang tulisan tangannya berantakan,lalu bagaimana mungkin ia akan mengajar yang belajar menulis bisa menghasilkan anak yang menulis dengan baik ? Maka jangan salahkan jika ada guru SD yang tulisan tangannya susah dibaca jika proses seleksinya hanya sekedar tes tulis berbasis komputer. Karakter itu bukan diajarkan tetapi dkiberi contoh. Guru itu bukan tontonan tapi tuntunan.IMG_7477

PECINTA ALAM KEKINIAN DAN RISIKO LINGKUNGAN

Memasuki tahun 2015 ini banyak kasus “pecinta alam” yang mengalami musibah saat melakukan pendakian ke puncak gunung. Kata pecinta alam sengaja ditulis menggunakan tanda petik karena saat ini selain pecinta alam sejati juga muncul pecinta alam “kekinian”, yaitu jenis pecinta alam yang sekedar mengikuti trend kekinian,menyiapkan tulisan yang isinya tergantung kepentingannya,dan difoto saat dipuncak langsung kemudian langsung diunggah di medsos.
Pecinta alam sejati tentunya sekelompok orang atau perorangan yang sudah mempersiapkan diri dengan matang dalam rangkaian penaklukan puncak gunung, baik persiapan fisik maupun perlengkapannya. Ia menyadari bahwa setiap gunung mempunyai karakter yang berbeda-beda,dan masing-masing juga mempunyai cirikhas lingkungan yang berbeda. Sebagai contoh ada gunung yang mempunyai ciri mudah terjadi longsor batuan, ada juga gunung yang licin saat musim hujan karena batu berlempung,atau ada juga gunung yang batu berpasir. Dengan ciri yang berbeda tentunya keperluan yang disiapkan juga akan berbeda-beda.
Pecinta alam kekinian tentunya berbeda dengan pecinta alam yang sebenarnya. Mereka mendaki gunung bukan bersama-sama dengan kelompok pecinta alam,tetapi berangkat dimulai dari ide yang sama dengan teman sekelompoknya untuk bersama—sama mendaki gunung tanpa persiapan matang,kecuali persiapan untuk berselfie ria. Mereka naik sekedar naik tanpa memahami karakteristik gunung yang akan didaki, tanpa persiapan yang matang,terutama persiapan fisik dan perlengkapan yang memadai,sehingga resiko bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan cukup besar.
Resiko paling besar yang akan diterima oleh pendaki kekinian selain kecelakaan karena faktor alam atau tersesat adalah terkena hipotermia, yaitu kondisi ketika mekanisme tubuh mengalami kesulitan mengatur suhu tubuh saat mendapat tekanan udara dingin. Hipotermia juga dapat didefinisikan sebagai kondisi saat suhu tubuh di bawah 35 derajat celsius,sementara tubuh hanya mampu mengendalikan suhu saat kondisi thermonetral,yaitu antara 36,5-37,5. Gejala hipotermia ringan adalah jika berbicara melantur,detak jantung melemah,tekanan darah menurun dan kontraksi otot kontraksi berlebihan untuk menghasilkan panas. Barangkalai gejala awal seperti ini tidak diketahui oleh pecinta alam kekinian dan bagaimana langkah pertolongan pertamanya sehingga muncul korban hipotermia pada tahun ini.
Salah satu resiko yang disampaikan di atas adalah salah satu resiko yang tidak disadari dan diketahui, terbukti munculnya foto-foto “pecinta alam” di medsos yang berpakaian ala kadarnya tanpa memperhatikan resiko itu, padahal cuaca di atas gunung bisa sangat cepat berubah. Selain resiko tersebut,resiko yang terkait dengan faktor alam adalah tersesat. Tersesat dapat terjadi bukan saja karena tidak paham dengan jalur pendakian dan penurunan, tetapi juga karena ketidak pahaman pendaki untuk bersikap saat kabut tebal datang secara tiba-tiba.
Selain resiko yang diterima oleh pendaki baik langsung maupun tidak langsung,ada juga resiko lingkungan karena ulah pendaki, dan ini sering terjadi. Pecinta alam jika tujuan utamanya adalah mendaki tidak akan membuat api unggun saat naik,atau kalaupun terpaksa membuat api unggun akan dipadamkan jika sudah selesai keperluannya. Demikian juga pendaki yang perokok akan betul-betul mengendalikan diri terkait dengan api rokok. Seringnya terjadi kebakaran hutan di puncak gunung saat musim kemarau sebagian besar justru bukan disebabkan karena gesekan ranting kering,tetapi karena api unggun maupun api rokok. Hal lain yang juga dilakukan mereka adalah membuang sampah sepanjang jalur pendakian, khususnya sampah bekas kemasan makanan yang dibawa. Pecinta alam sejati tidak akan meninggalkan apapun sepanjang jalur pendakian kecuali jejak kaki
Melihat kasus-kasus yang muncul belakangan ini, baik resiko yang diterima pendaki maupun resiko untuk lingkungan maka diperlukan sosialisasi yang instens di setiap pos pendakian kepada mereka para pendakian kekinian, baik oleh aparat yang berwenang maupun sesama pendaki yang memang benar-benar pendaki. Jika hal tersebut dilakukan tentunya akan meminimalisir resiko yang muncul akibat ulah pendaki kekinian, yang tentunya mempunyai pengaruh negatif terhadap nama pendaki pecinta alam yang sebenarnya.

Dari mana membetulkan kesalahan ?

Pagi ini saya menguji praktek mengajar yang sedang membicarakan timbangan. Memang kelas 2 belum membicarakan tentang satuan berat,tetapi baru mengenalkan alat ukur, tapi ini jadi mengingatkan saya tentang kesalahan yang sifatnya umum di Indonesia selama puluhan tahun tentang konversi berat.

Dalam pelajaran di sekolah dasar sejak saya dulu masih di SD selalu diajarkan bahwa satuan berat terdiri dari ton,kwintal,kilogram, ons, gram dan miligram. 1 ton sama dengan 1000 kg, 1 kwintal sama dengan 100 kg,1 kg sama dengan 10 ons dan 1 ons sama dengan 100 gram. Ternyata dalam daftar konversi tidak ada konversi model pelajaran di SD tersebut. Berdasarkan acuan baku standar internasional 1 kg sama dengan 35,274 ons dibukatkan jadi 35 gram dan 1 ons sama dengan 28,349 gram dibukatkan jadi 28 gram. Bayangkan jika ada resep obat yang tidak menyebutkan standar gram tetapi dengan ons,yang harusnya dibuat gram menjadi 28.349 gr karena kesalahan konsep diubah menjadi 100 gram,maka obat itu akan menjadi over dosis dan bisa jadi pasien meninggal gara-gara kesalahan konversi yang tidak benar.

Jika kita bertanya pada pedagang si pasarpun sudah dengan mudah dipahami bahwa 1 ons sama dengan 100 gram,artinya kesalahan yang berlarut-larut ini akan tetap berlangsung terus menerus selama belum ada perubahan konsep pelajaran di SD. Kalau demikian halnya sampai kapan kesalahan konsep konversi itu akan tetap berlangsung dan dari mana perbaikan konsep dimulai jika sudah menjadi kesalahan umum seluruh Indonesia. Mari kita benahi kesalahan konsep tersebut sedikit demi sedikit,paling tidak dimulai dari anak-anak SD

UKG YANG SEDANG HEBOH

Jakarta, Kemendikbud — Hasil uji kompetensi guru (UKG) tidak akan berpengaruh kepada tunjangan profesi guru. Uji kompetensi dilakukan untuk pemetaan supaya tindak lanjut pembinaanguru berupa pendidikan dan pelatihan lebih terarah. Untuk persiapan, guru bisa belajar dr kisi-kisi yang sudah diberikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan mengunduhnya di laman resmi.

Kepala Subdirektorat Perencanaan Kebutuhan Guru Kemendikbud, Santi Ambarukmi mengatakan, bagi guru yang ingin mengetahui kisi-kisi uji kompetensi, dapat mengunduhnya di laman (silahkan langsung klik link berikut) gtk.kemdikbud.go.id dan laman sergur.kemdiknas.go.id.

“Di kisi-kisi itu ada indikator-indikator esensial yang akan jadi soal dalam uji kompetensi,” tuturnya saat gelar wicara dengan RRI Pro 3 FM di Kantor Kemendikbud, Jakarta (20/10/2015). Santi juga menjelaskan, untuk mengatasi kelemahan guru yang kurang luwes menggunakan komputer, Kemendikbud juga menyediakan waktu uji coba bagi guru. Guru dapat melakukan uji coba di tempat uji kompetensi sebelum hari pelaksanaan ujian, atau saat hari pelaksanaan ujian.

“Di tempat uji kompetensi disediakan tempat untuk belajar. Ada sesi uji coba sistem mulai hari ini sampai tiga hari ke depan. Pas mau ujian juga ada sesi latihan. Di awal ada pertanyaan, apakah guru mau latihan dahulu atau langsung ujian,” katanya. (sumber laman Kemendikbud)

TOLAK REVISI UU KPK

KPK adalah lembaga super body yang menjadi tumpuan masyarakat dalam menegakan keadilan dan mengadili para koruptor, tetapi berkali-kali pula KPK dicoba untuk dilemahkan dengan berbagai macam cara. Berkali-kali dicoba dilemahkan tetapi berkali-kali pula rakyat membela KPK. Barangkali ini salah satu lembaga di Indonesia yang selalu dibela oleh rakyat sejak Cicak vs Buaya hingga episode berikutnya.

Kali ini KPK dicoba lagi dipreteli kewenangannya oleh lembaga yang paling banyak oknumnya tertangkap tangan oleh KPK. Lembaga Dewan Perwakilan Rakyat pada akhirnya bukan lagi mewakili rakyat,tetapi mewakili kepentingan. Dari tahun ke tahun selalu saja anggota kita yang terhormat yang katanya mewakili rakyat tetapi tidak menyuarakan aspirasi rakyat. Lewat kewenangannya di bidang legislasi mereka mencoba menelurkan Undang-Undang yang akan membatasi masa kerja KPK menjadi 12 tahun saja.

Apa jadinya negara ini,apa jadinya korupsi di negeri ini jika pada akhirnya KPK menjadi almarhum sebelum negara ini bersih dari koruptor. Barangkali perlawanan para anggota dewan untuk menghilangkan kewenangan KPK karena di lembaga inilah yang ternyata paling banyak koruptornya. Solidaritas pada teman yang sudah dihukum maupun yang jadi tersangka atau sekedar antisipasi jika mereka yang mengusulkan perubahan UU tidak tertangkap KPK ? Oleh karena itu sudah selayaknya jika rakyat tetap menolak keinginan sebagian anggota dewan untuk merubah UU tentang KPK, BUKAN SAATNYA dan TIDAK PERLU.

ILMU MENGAJAR ITU PENTING

Manusia,apapun latar belakangnya, apapun gelarnya,bahkan sarjana sekalipun suatu saat akan diminta untuk berbicara di depan umum. Bicara di depan umum itu tidak harus jadi orator,atau pimpinan,bahkan guru, bahkan yang tidak terkait dengan pekerjaan sekalipun Akan berbicara,minimal di pertemuan warga satu RT. Kemampuan berbicara tidak ditentukan oleh pendidikan,tetapi oleh pengalaman atau pendidikan. Seseorang yang mempunyai keahlian tinggi belum tentu bisa mengajarkan dengan baik jika ia belum punya pengalaman atau tidak mempunyai ilmu mendidik/mengajar. Barangkali di sinilah bedaanya seseorang yang sama-sama sarjana tetapi yang satu pernah belajar di keguruan dan yang lain belajar di ilmu teknis,maka dalam menyampaikan materi yang sama ke audience juga akan berbeda. Oleh karena itu sedikit banyak ilmu pendidikan masih bisa dimanfaatkan dalam kehidupan sehati-hari meskipun tidak menjadi guru,setidak-tidaknya untuk menyampaikan pendapat akan lebih runtut dan jelas dibanding yang menguasai dari sisi teknis tapi tidak atau belum berpengalaman berbicara atau tidak pernah belajar ilmu mendidik. Orang yang berpengalaman atau mempunyai ilmu mendidik setidaknya bisa menyampaikan dengan melihat kemampuan rata-rata yang mendengarkan,tidak sekedar menyampaikan yang mungkin dalam pikiran itu sudah dipahami tetapi ternyata sulit dipahami yang mendengarkan.