IJAZAH PALSU DAN IJAZAH KELAS JAUH

Akhir-akhir ini dunia pendidikan dihebOhkan dengan iajazah palsu dari sebuah lembaga kursus yang memberikan gelar doktor. Rasanya aneh kenapa baru diributkan sekarang padahal kegiatan itu sudah berlangsung lama dan tidak ada tindakan apapun dari pemerintah. Sama anehnya dengan mereka-mereka yang mendapatkan sertifikasi menggunakan ijazah kelas jauh, dan tetap mulus,meskipun ada larangan kelas jauh. Untuk kasus kelas jauh hanya DIY yang cukup responsif dengan menolak penggunaan ijazahnya untuk kenaikan pangkat atau untuk kenaikan jabatan,padahal perguruan tingginya sendiri berada di wilayah Bantul,Yogyakarta,tetapi di wilayah Jateng tidak ada tindakan dan sanksi apapun,padahal PTS tersebut membuka kelas di mana-mana. Fenomena ini sebenarnya seperti gunung es,hukum dagang berlaku, ada yg ingin mendapat ijazah dengan cara mudah maka ada yang menyediakan jasanya, sama dengan mahasiswa yang ingin mudah lulus dengan membuatkan skripsi ke biro jasa, Saya sendiri pernah membatalkan ujian beberapa mahasiswa karena ada indikasi skripsi dibuatkan biro jasa dan ternyata terbukti dengan membayar antara 3-5juta. Tengoklah iklan di surat kabar maupun  spanduk dan baliho pinggir jalan yang menawarkan jasa pembuatan karya tulis ilmiah,skripsi,tesis bahkan sampai ke desertasi dengan kedok biro pengolahan data. Banyak sekali tawaran-tawaran seperti itu di hampir semua kota yang mempunyai perguruan tinggi. Barangkali ada benarnya juga jika kedepan skripsi bukan lagi sebuah syarat untuk lulus Sarjana,tetapi hanya sebuah pilihan.

Pemerintah jika ingin bertindak tegas mestinya tidak perlu ragu-ragu dan pilih-pilih. Jika perlu tindakan tegas ya tindak semuanya,termasuk ijasah kelas jauh yang digunakan untuk kenaikan pangkat san sebagainya,karena sebenarnya sudah ada larangan penyelenggaraaan kelas jauh sejak lama yang dikeluarkan oleh Dikti,namun banyak PTS yang melanggar ketentuan itu, bukan hanya lembaga pencetak “doktor” abal-abal saja. Mudah-mudahan sikap yang ditunjukan pemerintah saat ini bukan sekedar hangat-hangat tahi ayam saja,yang sesudah itu diam lagi tanpa ada sikap yang berarti.