HILANGNYA BUDAYA MALU

Perseteruan internal di beberapa parpol akhir-akhir ini cukup menggelitik untuk dicatat, namun bukan dalam hal politik yang ingin penulis sampaikan,tetapi terkait dengan karakter. Terlepas dari masalah politiknya,nampaknya para elite politik sudah lupa dengan arti kata malu. DPRD DKI demikian juga,setali tiga uang,karena justru ketika anggaran yang dikatakan Gubernur DKI sebagai dana siluman justru dilawan dengan gagah berani oleh anggota dewan. Barangkali tidak hanya satu dua saja kasus-kasus yang sudah melupakan budaya malu,bahkan mereka-mereka  yang menjadi tersangka atau terdakwa kasus korupsipun masih dengan senyum lebarnya menjawab pertanyaan wartawan ketika diliput media,tanpa ada rasa malu sama sekali.

Cuplikan film dari youtube yang cukup menggelitik adalah ketika seorang mantan anggota dewan tertangkap dalam operasi polisi dan akan dikenakan tilang masih saja membantah tidak melanggar rambu meskipun sudah ditunjukan hasil rekaman videonya. Ketika seorang polwan menyampaikan pelanggaran itu dan menyampaikan apakah sebagai mantan anggota dewan yang terhormat tidak malu,dengan gagah mengatakan tidak malu bahkan tanpa malu-malu menyampaikan mantan anggota komisi 3 yang membidangi hukum sehingga juga tahu tentang hukum. Pengakuan itu belum seberapa ketika ternyata juga ditemukan menggunakan SIM kadaluarsa dan tetap mengatakan tidak malu. Kasus-kasus tersebut menunjukan bahwa sebagian warga bangsa ini sudah kehilangan rasa malunya,entah dibuang kemana. Siapa yang salah kalau budaya malu hilang di tengah-tengah bangsa ini, pendidikankan yang salah.

Kasus budaya malu yang hilang juga setali tiga uang dengan budaya disiplin. Betapa sulitnya mendisiplinkan rakyat Indonesia dalam segala aspek kehidupan,mulai dari aturan lalu lintas, buang sampah,merokok di tempat larangan,antrian dan sebagainya. Lebih mengenaskan lagi jika disiplin juga tidak diterapkan atau dilakukan oleh mereka yang dianggap disiplin. Beberapa kali penulis menemukan tentara yang melanggar marka jalan maupun lampu merah. Mahasiswa saya ketika ditugaskan untuk melakukan penyadaran lalu lintas di perempatan jalan yang mempunyai zona berhenti kendaraan bermotor justru menemukan mobil patroli polisi berhenti di zona tersebut. Ketika ditegur oleh mahasiswa jawabannya adalah terlanjur maju ke depan. Kemana lagi rakyat belajar disiplin (dan juga budaya malu) jika yang seharusnya menjadi panutan justru memberi contoh untuk menghilangkan budaya tersebut. Ada yang salahkah dengan dunia pendidikan kita. Terus terang setelah 3 kali penulis ke Malaysia dan Singapur dan tinggal seminggu di rumah penduduk setiap berkunjung dalam hal 2 karakter ini bangsa kita sangat jauh tertinggal,dan itu memprihatinkan.

Pemberitaan mengenai korupsi, konflik dari antar elit politik di DPR, di elit partai politik sampai antar kampung, seakan tidak ada habisnya mewarnai berita di media massa. Hal ini menunjukkan betapa suramnya rasa kebersamaan dan tenggang rasa yang di dengung-dengungkan sebagai karakter khas bangsa ini. Dunia kriminal juga tidak kalah maraknya, pembunuhan karena masalah sederhana, perkosaan bapak kepada anaknya, seks bebas di kalangan generasi tertentu, menunjukkan krisis moral yang memprihatinkan. Tidak hanya dampak krisis ekonomi saja yang menyebabkan masyarakat mengalami keresahan karena tingginya angka pengangguran, bencana nasional berupa gempa bumi, tsunami, tanah longsor dan bergejolaknya gunung api juga membuat masyarakat dilanda kecemasan yang sifatnya komunal. Ternyata, bangsa ini telah dihadapkan pada tantangan yang berat untuk menapak mencapai kemajuan, kemakmuran, keadilan dan pembentukan karakter yang baik. Dimana peranan pendidikan untuk mengatasi hal ini ?

Selama ini orientasi pengembangan sumber daya manusia masih memusat pada pengembangan dimensi kognitif dibandingkan dengan pengembangan dimensi afektif, hati atau kalbu. Pendidikan budi pekerti yang di era 70-an diberikan pada peserta didik tahun 90-an mulai ditinggalkan,sehingga berdampak 20 tahun kemjudian. Peningkatan kapasitas keilmuan dan pengetahuan tidak sebanding dengan pengembangan kepribadian, padahal kepribadian manusia merupakan benteng penangkal dari keterpurukan pada masalah di dalam kehidupan,khususnya dalam pembentukan karakter,lebih khusus lagi yang penulis soroti dalam tulisan ini,budaya malu dan budaya disiplin. Pentingnya unsur kepribadian ini terlihat dari terlibatnya karakteristik kepribadian yang handal sebagai bagian dari penangkal munculnya gejala psikologis dalam konsep stress buffering model.

Pendidikan budaya malu dan budaya disiplin akan lebih manjur jika diterapkan pada masa anak-anak. Ketika mereka dilatih sejak dini tentang budaya malu dan disiplin,maka hal itu akan terbawa sampai dewasa (Insha Allah). SD UMP mencoba menerapkan itu dengan menyelenggarakan kantin kejujuran. Ada 2 efek yang diperoleh dari contoh perlakuan itu, yang pertama anak dilatih untuk membayar sesuai dengan makanan yang diambil (jujur),kedua mereka terbiasa disiplin karena pada saat akan mengambil makanan terbiasa tertib antri tanpa ada yang menyerobot mendahului. Kebiasaan ini tentunya juga akan sia-sia jika dalam lingkungan keluarga budaya tersebut tidak dipelihara.

Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (2008:4) menyebutkaan tujuan warung kejujuran untuk melatih pelajar untuk berperilaku jujur, menanamkan kemandirian kepada pelajar, melatih pelajar untuk taat kepada norma, tata tertib dan norma yang berlaku baik di sekolah dan di masyarakat, dan melatih peserta didik untuk lebih bertanggung jawab dalam setiap tindakan. Kantin kejujuran seperti yang diharapkan tersebut nyatanya juga berjalan dengan baik di SD UMP yang mencoba menerapkan pola tersebut.

Kurikulum 13 sebenarnya mencoba menjembatani itu dengan memasukan unsur karakter dalam proses pembelajaran,namun karena ketergesaan penerapan akibat kurang siapnya infra struktur pada akhirnya K-13 ditunda pelaksanaannya secara menyeleuruh dan dilakukan secara bertahap,dan diharapkan tahun 2018 baru semua sekolah menerapkan K-13. Jika penerapan K-13 berjalan dengan baik sesuai dengan perencanaan dan motif menerapkan pendidikan karakternya diharapkan budaya malu dan budaya disiplin dapat terbentuk dan terpelihara oleh bangsa ini 20 tahun yang akan datang.

Dimasukannya unsur karakter dalam model pembelajaran K-13 sekaligus juga memasukan budaya rasa ingin tahu yang tinggi adalah dalam rangka membentuk manusia Indonesia yang mempunyai rasa ingin tahu (penelitian) tinggi,budaya kreatif sekaligus juga 10 unsur karakter pokok,khususnya budaya malu dan disiplin. Mudah-mudahan jika K-13 sudah diterapkan sesuai dengan ruh penyusunannya maka cinta-cita membentuk bangsa yang berkarakter dapat terwujud. Semoga.

********

Dimuat satelit Post 17 Maret 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.