BAJU YANG TERKOYAK

Baju kita akan lengkap jika semua lengannya sempurna,demikianlah penjahit membuat kesempurnaan sebuah baju. Pada saat baju baru mempunyai lengan kanan maka tidak layak untuk dipakai,demikian pula sebaliknya. Saat baju kita terkoyak sedikit,mungkin bisa diperbaiki dengan menisik,bahkan ada juga yang ketikat terkoyak dilakukan tambal sulam. 
Begitulah saat pilpres yang lalu,Jokowi dan Prabowo itu saling melengkapi,yang tidak akan sempurna tanpa salah satunya. Sayangnya baju yang sudah baik itu tiba-tiba terkoyak oleh lembaga survey yang berbeda hasilnya,dan koyakan itu masih saja belum bisa ditisik dengan sempurna sampai saat ini. Saat baju yang terkoyak mulai dicoba untuk disatukan dan ditisik (ditunjukkan oleh kenegarawanan Prabowo dan Hatta saat pelantikan) harapannya tisikan itu sudah terjahit sempurna. Sayang baju yang terkoyak itu tak kunjung selesai dijahit,bahkan ketika jahitan itu sudah mulai diperbaiki lagi (menyatunya KIH dan KMP di dewan),masih juga ada orang yang mencoba untuk membuat koyakan baru.
Kita ini sesungguhnya hanya rakyat pemilih,bukan pemuja “nabi” Jokowi atau Prabowo, artinya meskipun pada waktu itu kita memilih Jokowi,bukan berarti kebijakan yang salah tetap didukung,harus ada kritik untuknya. Sebaliknya jika pada waktu itu kita memilih Prabowo,bukan berarti kita harus memelihara kekecewaan berlarut-larut hingga menimbulkan dendam. Sungguh sayang pada saat pemimpin mencoba memperbaiki jahitan baju itu,justru para benang (pendukung) mencoba untuk merobekan lagi. 
Rasanya baru pertama kali dalam sejarah pilpres di Indonesia,pasca pilpres menyebabkan hubungan persahabatan terputus (banyak kasus putus persahabatan dan ditulis di sosmed),ada juga persekawanan menjadi perseteruan hanya berbeda pilihan,bahkan kekeluargaan menjadi pecah karenanya. Apa yang salah dengan sebuah pilihan,entah itu pilihan menjadi buruk atau baik,kenapa harus mengorbankan sebuah persahabatan.
Barangkali baju itu akan tetap terkoyak,meskipun sang penjahit mencoba menambalnya jika benang-benang pendukungnya tetap tidak mau digunakan untuk menyatukan. NEGARA INI jadi mirip baju yang terkoyak.