MATINYA DEMOKRASI RAKYAT

Indonesia berduka,demokrasi yang mengedepankan pilihan rakyat telah mati. Kematian ini justru terjadi karena dibunuh oleh partai yang mengaku dilahirkan oleh ibu kandung reformasi. Sia-sia perjuangan reformasi ketika apa yang diperjuangkan dan menghasilkan presiden sampai bupati pilihan rakyat pada akhirnya diberangus hanya untuk memuaskan syahwat politik yang mengaku mewakili rakyat,sementara yang diwakili menolak apa yang diputuskan. Artinya pilihan yang katanya beliau yang terhormat justru tidak bisa menjalankan amanah rakyat.
Apa artinya reformasi jika buah reformasi justru dicederai partai yang kini harusnya disebut sebagai anak kandung orde baru,karena mengembalikan pemilihan kepala daerah seperti di jaman orba. Barangkali sudah tidak tepat lagi jika mereka mewakili suara rakyat jika tujuan utamanya memang bukan memperjuangkan kepentingan rakyat,tetapi hanya kepentingan partai belaka.
Lebih mengherankan lagi sebelum ketok palu SBY menyatakan setuju dengan pilkada langsung,kemudian pada saat voting partai yang dipimpinnya justru memilih untuk tidak memilih yang berakibat pada menangnya pilkada melalui DPRD,tetapi SBY menyatakan kekecewaannya setelah pilkada tidak langsung yang mendapat suara terbanyak. Menjadi pertanyaan kemudian ada apa dibalik semua itu. Apakah anggota partai SBY tidak taat lagi pada ketua umumnya yang hampir pensiun dari presiden,ataukan itu sebuah seting untuk pencitraan belaka. Saya masih menunggu apa yang akan dilakukan SBY setelah ini,apakah all out memperjuangkan agar UU Pilkada dibatalkan ataukah hanya mengikuti arus saja. Kalau SBY tidak menghasilkan apa-apa terkait dengan itu barangkali ini menjadi kado terakhir paling buruk di akhir kepemimpinannya, dan barangkali golput menjadi sebuah pilihan atau memilih selain partai reformis palsu.

Kuliah pertama Pengembangan IPA PAUD Banjarnegara

Untuk perkuliahan pengembangan IPA PAUD kelas banjar diharapkan sudah membentuk kelompok,setiap kelompok terdiri dari 4 orang mahasiswa. Perkuliahan besok setiap kelompok membawa material.
Material yang harus dibawa per kelompok saat kuliah.
1. Toples plastik besar 1 buah
2. Toples kecil yang bisa masuk toples besar dan cukup untuk bola pingpong
1 buah
3. Bola pingpong 1 buah
4. Balon 4 buah
5. Benang kasur 1 meter
6. Lidi/tongkat kecil dari bambu 1 buah
7. Penggaris 8. Kertas HVS (jangan terlipat atau ada bekas lipatan)
9. Gelas 1 bh
10. Kertas bekas kalender tebal/karton ukuran 15×15 cm 1 lembar
11. Botol bekas krating daeng/sejenisnya 2 buah
12. Meteran jahit
13. Botol bekas aqua
14. Gula pasir 8 sendok makan
15. Ragi roti
16. sendok makan

KEMANA PARTAI REFORMASI KINI

Ketika kekuasaan di Indonesia nyaris absolut di era Soeharto,muncul gerakan reformasi. Tekanan pemerintahan saat itu luar biasa besar,dan saya pernah merasakan ketika aktif dalam kelompok diskusi yang berafiliasi kepada Petisi 50 yang dimotori Ali Sadikin. Gerakan reformasi makin besar untuk mengubah kedaulatan perwakilan dan dapat disetir menjadi kedaulatan oleh rakyat. Bergulirnya gerakan yang makin besar pada akhirnya dapat menurunkan Sang Jendral Besar. Gerakan reformasi akhirnya menghasilkan partai-partai reformasi dengan tekoh reformasi Amin Rais dengan PANnya,dan melahirkan kedaulatan di tangan rankyat. Era reformasi inilah yang melahirkan kekuasaan rakyat untuk memilih pemimimpinnya yang akhirnya melahirkan pemimpin-pemimpin daerah yang mumpuni yang jika dipilih oleh perwakilan partai di DPRD belum tentu menang seperti Tris Risma Harini,Ridwan Kamil dsb.
Sayang sungguh sayang partai-partai produk reformasi itu kini justru yang paling kencang menyuarakan kembali ke pemilihan model Orde Baru. Kemana suara Amin Rais kini,yang dulu paling kencang untuk menolak gaya pemerintahan Orde Baru ? Barangkali ini sebuah kemunduran demokrasi jika pada akhirnya pilkada dikembalikan pada DPRD,yang pada akhirnya pemimpin daerah akan lebih takut kepada anggota dewan dibanding rakyatnya,dan akhirnya ATM hidup akan kembali berjalan,tidak peduli apa kata rakyat. Tidak ada lagi pemimpin yang lahir dari rakyat sekalipun tegas dan jujur,tetapi hanya mereka yang dekat dengan partai dan mampu membayar tinggilah yang akin menjadi pimpinan daerah. Tidak ada lagi Ridwan Kamil-Ridwan kamil yang lain. Kalau itu betul-betul terjadi saya akan kembali menjadi GOLPUT, karena buat apa memilih wakil rakyat kalau yang diperjuangkan hanya perutnya sendiri, dan kedaulatan bukan lagi di tangan rakyat.