BBM BISA NAIK TERBATAS

Saya bukan pengamat energi,apalagi pakar energi,tetapi apa salahnya jika saya menulis pikiran-pikiran yan terkait dengan itu. Pemerintah saat ini nampaknya dihadapkan pada pilihan yang sulit,menaikan BBM sekarang atau mewariskan pada pemerintahan yang baru. Jika membaca statement yang terkait dengan APBN yang menyatakan beban APBN sudah terasa keberatan dengan subsidi yang ditanggung untuk BBM sesungguhnya pencabutan subsidi memang sudah saatnya. Masalahnya jika BBM dinaikan sekarang pemerintahan SBY yang menua kritik,dan itu yang nampaknya ingin dihindari,dan getah itu akan dirasakan oleh pemerintahan yang baru.
Jika berpikir secara sederhana saja,jika setiap motor membutuhkan 10 liter BBM per minggu dan subsidi per liter katakan saja Rp.1500 maka subsidi untuk pemilik motor hanya Rp.15.000. Sebaliknya pemilik mobil jika per minggu menghabiskan 30 liter maka subsidnya mencapai Rp.45.000, artinya subsidi justru lebih banyak dinikmati oleh orang-orang bermobil. Inilah yang saya nilai TIDAK ADIL. barangkali muncul pertanyaan bagaimana dengan angkutan umum ? bukankah itu untuk melayani mereka yang tidak punya motor atau mobil ?
Pikiran sederhana saya adalah mungkin bisa menggunakan model pengisian bahan bakar seperti di bandara. Katakanlah disediakan SPBU di terminal,dan hanya angkutan umum saja yang boleh mengisi BBM disitu,mobil pribadi tidak. Bagaimana dengan motor. Sekarang kan sudah ada pola pengisian BBM motor terpisah dengan pengisian BBM non subsidi,jadi sebenarnya tidak masalah juga untuk motor. Jika hal seperti ini,menurut pikiran sederhana saya,bisa dijalankan maka sesungguhnya mobil-mobil pribadi mau tidak mau,bisa tidak bisa akan mengisi di SPBU non subsidi,itu dengan catatan ada pengaturan dan pengendalian yang tegas. Apakah BISA ? Itulah pertanyaan selanjunya yang perlu jawaban kongkrit.