Cerita ke satu

Ini alasan kenapa saya memilih harus jujur.
Cerita ini terjadi 4 tahun lalu ketika saya masih mengajar di Sebuah tempat di Cilacap
Suatu ketika selesai mengajar saya bermaksud pulang,tapi di minta masuk ruang sebentar.Di ruang itu ternyata ada sesuatu yang akan diberikan
“Pak ini ada transport untuk bapak”,kata pengelola sambil menyodorkan amplop.
” Saya sudah dapat transport dari universitas” jawab saya sambil mengembalikan amplop panjang itu
” Tidak apa pak,untuk tambahan”, katanya sambil menyodorkan lagi
” Tidak usah”, jawab saya lagi sambil tetap menolak
Tolak menolak atau beri memberi terjadi beberapa kali,sampai akhirnya Pak Pengelola Kelas berkata lagi :” Apa salahnya sih pak tuan rumah melayani tamunya dengan nyangoni untuk pulang”, katanya masih memaksa.
Saya menjawab dengan santai:” Saya kan kesini bukan sebagai tamu,tetapi ngajar,dan transport saya sudah dikasih universitas”.
Si bapak lalu berkata lagi:”Saya tidak enak dengan teman-teman yang memberi amanah pada saya untuk menyerahkan ini pak,ini sudah kesepakatan kawan-kawan”.
” Kalau begitu sampaikan ke kawan-kawan,hargai prinsip saya untuk tidak menerima transport lebih”, saya menjawab dengan tetap tidak menerima amplop tersebut,dan langsung saya pulang meskipun sempat dikejar untuk dipaksa menerimanya. Sejak itu saya dianggap orang yang keras kepala. Salahkah saya jika saya keras yang menurut saya sebuah ketegasan karena mempertahankan prinsip? Saat itu saya berpikir siapa sebenarnya yang benar dan siapa sebenarnya yang salah. Bukankah jika saya menerima sama saja dengan double anggaran karena bunyinya sama,uang transport. Mungkin karena sudut pandang yang berbeda sehingga tidak mencapai kesepakatan tentang kebenaran. Saya memandang jika diterima maka saya telah berbuat tidak amanah terhadap pekerjaan saya,sebaliknya sudut pandang si bapak menganggap itu hal biasa,jadi kebiasaan,kebiasaan salah yang dianggap wajar. Bukannya saya sok suci dengan menolak rezeki,tetapi insya Allah saya akan memeperoleh rezeki yang lebih besar dan lebih barokah di tempat lain jika saya tetap memegang prinsip itu Alhamdulilah pintu rezeki tetap dibukakan di tempat lain oleh Allah swt. Alhamdulillah pula di tanah suci tidak pernah mendapatkan pengalaman yang tidak enak,semua serba enak,serba mudah dan serba dimudahkan. Mana yang akan anda pegang sebagai prinsip jika anda menghadapi hal yang sama dengan saya ? Saya yakin akan berbeda-beda implementasi dan pemikirannya, karena tidak semua dosen juga bersikap seperti saya, tapi apapun yang anda pilih akan menentukan apa yang akan anda dapat di belakang hari nanti.

Seandainya boleh memilih

Seandainya aku boleh memilih antara jadi orang tegas dan orang jujur, maka aku akan memilih jadi orang jujur
karena orang tegas belum tentu jujur,tapi orang jujur pasti tegas,karena dengan kejujuran akan berani menolak untuk berbohong
Seandainya aku disuruh memilih menjadi orang berkemewahan atau orang kesederhanaan
maka aku akan memilih kesederhanaan, karena orang berkemewahan kadang mengada-ada, tapi kesederhaan kadang mempunyai lebih dibanding yang berkemewahan
Jika aku disuruh memilih apa adanya apa citra, maka akan ku memilih apa adanya
karena citra bisa dibentuk dengan kepura-puraan,tetapi apa adanya meski kadang dianggap aneh tapi tidak perlu berpura-pura
Kalau aku disuruh memilih mempunyai kreatifitas apa inisiatif maka aku akan memilih kreatifitas
karena mempunyai inisiatif belum tentu kreatif,tetapi kreatifitas pasti punya inisiatif
Jika aku disuruh memilih pandai bicara atau pandai menulis
maka aku akan memilih pandai menulis,karena pandai bicara belum tentu panda menulis,tapi pandai menulis pasti bisa bicara
dan tulisan akan terjaga dan diingat puluhan bahkan ratusan tahun oleh banyak orang yang bisa membaca,tapi pembicaraan hanya diingat yang mendengar saja dan tidak berlangsung lama
dan Allah sudah memberikan identitas pada ciptaanNya.
(pikiran yang berkecamuk selama jalan-jalan pagi)

20140612-062631-23191330.jpg