BUMI MAKIN PANAS, BUKAN IMPIAN SEMUSIM

 

Suhu udara terasa sangat panas beberapa hari terakhir ini. Panasnya udara yang cukup extreme ini membuat sebagian besar orang merasa terganggu,terutama terkait dengan jam istirahatnya,itulah yang dikeluhkan warga Cilacap. Panasnya udara tidak hanya terasa di Cilacap saja,tetapi hamper seluruh wilayah di Indonesia. Apakah panasnya udara saat ini ada hubungannya dengan bumi yang makin panas ?

Dekade 70-an ada sebuah film yang meledak dengan judul Bumi Makin Panas yang dibintangi oleh Suzana. Keterkenalan film tersebut bukan karena sedang membahas masalah suhu bumi,tetapi karena film genre yang paling panas dan berani. Panasnya suhu bumi itu kini juga sudah sangat terasa di seluruh dunia,termasuk Indonesia, bukan lagi sebuah judul film. Bumi memang makin panas, yang kadang-kadang waktunya lebih lama dibanding panasnya udara pada awal tahun 70-an. Apa penyebab semua itu ? Orang mengenal dengan istilah global warming atau pemanasan global.

Orang mungkin sudah mengenal istilah global warming, tetapi kecenderungan kenaikan yang makin memprihatinkan tidak semua orang mengikutinya. Orang bisa merasakan dampaknya, tapi belum memahami secara menyeluruh bagaimana kenaikan yang terjadi di tahun 2010-an ini,yang censerung extrim dibanding tahun-tahun sebelumnya. Extrimnya suhu bumi ini salah satu penyebabnya adalah meningkatnya karbon dioksida di atmosfer yang jauh lebih tinggi dari perkiraan semula.

Kadar karbon dioksida di atmosfer yang disepakati oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) adalah 450 ppm sampai tahun 2050, dan panel meminta untuk dapat diturunkan sampai batas 350 ppm saja, tetapi kenyataannya pada tahun 2012 saja sudah mencapai 390 ppm rata-rata dunia. Tingginya kadar karbon dioksida di atmosfer ini adalah karena terjadinya peningkatan emisi karbon dioksida yang mencapai 2 ppm per tahunnya. Kenaikan karbon dioksida di atmosfer ini akan berakibat pada kenaikan suhu udara, dan efeknya akan berantai. Berdasarkan data yang dipunyai IPCC diketahui bahwa ada kecenderungan kenaikan kadar karbon dioksida di atmosfer dari tabun ke tahun. Karbon dioksida memang secara alami selalu ada dan dilepaskan ke atmosfer. orang yang sedang tidur saja akan melepaskan 0,3 ppm gas karbon dioksida ke armosfer. Kadar karbon dioksida akan makin tinggi sejalan dengan makin tingginya aktivitas manusia,termasuk diantaranya pembakaran bahan bakar fosil. Gas karbon dioksida secara alami juga akan setimbang jika produksinya setara dengan yang diserap oleh tumbuhan untuk proses foto sintesis, tetapi jika berlebihan akan naik ke atmosfer dan menjadi bagian gas rumah kaca. Sayangnya justru karbon dioksida naik tetapi tumbuhan berkurang banyak.  Gas rumah kaca inilah yang menyebabkan peningkatan suhu udara di bumi.

Berdasarkan informasi dari BMKG suhu udara rata-rata di Cilacap dan sekitarnya kini dapat mencapai 32 derajat celsius,dan itulah yang dirasakan penduduk Cilacap dan kota-kota lainnyadalam bulan ini. Panasnya udara bisa terjadi sebagai akibat dari pergeseran matahari ke arah utara dan saat berada di sekitar katulistiwa sehingga berpengaruh pada suhu yang cukup menyengat. Namun suhu yang extrim seperti sekarang ini bukan karena pergeseran matahari saja, tetapi karena faktor pemanasan global juga.

Negara-negara maju memang memenuhi janji pengurangan emisi gas rumah kaca, tetapi ternyata suhu bumi akan meningkat lebih dari 4 derajat celsius. Tahun 2009, di Kopenhagen, Denmark, dalam Konferensi Perubahan Iklim, disepakati menahan peningkatan suhu 2 derajat Celsius. Upaya itu rupanya belum membuahkan hasil. Kenyataan itu dikemukakan Wakil Presiden Bank Dunia dan Kepala Jaringan Pembangunan Berkelanjutan Rachel Kyte dalam perbincangan dengan wartawan di Jakarta 13 Maret 2013.  Kenaikan suhu bumi tersebut sebagai akibat efek gas rumah kaca yang meningkat.

Gas rumah kaca memang fungsinya secara alamiah untuk menghangatkan bumi, yang jika tidak ada grk suhu bumi dapat mencapai 14 derajat celsius,sedang dengan grk suhu bumi mencapai 27-32 derajat celsius. Komposisi gas rumah kaca terdiri dari uap air,karbon dioksida,methane, nitrogen oksida dan ozon. komposisi grk tidak bersifat tetap,dan perubahan itu diantaranya adalah makin meningkatnya karbon dioksida di atmosfer. Peningkatan karbon dioksida menyebabkan peningkatan suhu bumi,karena sifat GRK yang seperti jaket untuk bumi, makin tebal jaket akan makin panas pula udara yang dirasakan, dan itulah yang dirasakan dalam peningkatan suhu udara.

Dampak peningkatan suhu udara akan terasa di seluruh kawasan dunia; dampak di beberapa kawasan akan lebih parah dari kawasan lainnya. Namun laporan ini menyimpulkan golongan miskin akan merasakan dampak terbesar. Turn Down The Heat merupakan kajian perubahan iklim yang disiapkan untuk Bank Dunia oleh Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) dan Climate Analytics. Laporan ini menyebutkan, suhu bumi akan meningkat 4 derajat Celsius[1] (4°C) pada akhir abad ini. Salah satu dampak pemanasan bumi adalah gelombang panas yang cukup extrim.

Gelombang panas ekstrim yang tanpa pemanasan global seharusnya terjadi tiap beberapa ratus tahun sekali, tetapi ternyata justru terjadi hampir setiap musim panas di sejumlah kawasan,meskipun dampaknya tidak akan merata. Pemanasan terbesar diperkirakan akan terjadi di daerah daratan berkisar antara 4° C sampai 10° C. Peningkatan suhu sebanyak rata-rata 6° C atau lebih dari rata-rata musim panas bulanan diperkirakan akan terjadi di Mediterania, Afrika Utara, Timur Tengah dan sebagian Amerika Serikat. Indonesia, termasuk Cilacap dan Purwokerto juga merasakan dampak tersebut,jadi tidak sekedar pergeseran matahari saja,tetapi akumulasi antara efek pergeseran matahari dan bumi yang makin panas. Semoga bermanfaat.

 

*******