GURU WAGU TUR SARU

PTN penyelenggara SNMPTN bersepakat untuk tidak menggunakan hasil UAN,khususnya dari Kabupaten Lamongan sebagai bahan pertimbangan keterimaannya di PTN. Alasan yang dijadikan dasar adalah adanya kecurangan masif dan terstruktur dalam pelaksanaan UAN di Lamongan. kecurangan itu melibatkan Kepala Sekolah,Guru,pengawas dengan cara “mencuri” soal di tengah jalan,dikerjakan dan oleh guru,jawaban dibagikan dan soal yang “dicuri” dikembalikan lagi selesai ujian sehingga jumlahnya akan tetap sama. Fenomena ini menimbulkan pemikiran yang negatif terhadap “kualitas” karakter guru kita. Demikian parahkah dunia pendidikkan kita,khususnya di Lamongan. Bagaimana mungkin guru menerapkan dan mengajarkan pendidikan karakter yang baik dalam hal kejujuran,keterbukaan,disiplin dan tanggung jawab jika jalan pintas sudah diajarkan kepada anak didiknya. Siswa jika sudah diajarkan karakter yang jelek seperti itu yang menjadi pertanyaan adalah apa jadinya jika anak didik seperti itu menjadi pemimpin di negeri ini. Bagaimanapun juga anak didik akan mencontoh gurunya juga dalam hal perilaku. Jika siswa sudah diajarkan perilaku menyimpang untuk meraih kesuksesan maka jika akan menjadi calon legislatif ya akan berperilaku menyimpang,jika ingin menjadi pegawai ya berbuat menyimpang,begitu seterusnya. Sungguh memprihatinkan jika Guru yang nota bene digugu dan ditiru mengajarkan cara-cara yang tidak ksatria, maka mestinya guru tersebut menjadi waGu tur saRu. Agaknya perlu pembenahan di segala bidang untuk memperbaiki mental guru yang seperti itu,tidak cukup hanya sekedar teguran atau sanksi,karena saya yakin kasus seperti itu sebetulnya tidak hanya di lamongan saja.

MENGHARAP FILM KELUARGA MENDIDIK

Film bertema keluarga tahun 90-an umumnya menceritakan kejadian yang umum dalam keluarga dan bertetangga. Film Si Doel Anak Sekolahan atau Keluarga Cemara merupakan dua contoh film ysng menceritakan kehidupan sehari-hari. Ada suasana harmonis,ada senyum,ada sedih ada keributan kecil dalam keluarga ada juga benturan kecil dengan tetangga. Film-film seperti itulah yang sesungguhnya bisa menyadarkan kita bagaimana hubungan antar manusia sehari-hari sesungguhnya sangat berwarna. Namun sayang warna warni cerita seperti itu kini mulai sulit dtemui lagi dalam film-film tv Indonesia. Film tv di Indonesia kini kebanyakan menawarkan gaya hidup hedonis. Wajah ganteng atau cantik,rumah bagus,mobil mewah,makan-makan di restoran mewah,baju-baju bermerk,dan seabreg warna-warna “surga dunia” lainnya. Film-film tersebut kalau ada konflik selalu disisipi dengan konflik yang berlebihan,marah-marah dengan teriak-teriak, tidak menghormati orang tua,sumpah serapah dan seabreg adegan yang tidak ada dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya justru gaya-gaya seperti itulah yang kini diikuti dan digemari generasi muda. Kata-kata cieee,ea, pinis bingit dan kata-kata alay lainnya menjadi trend komunikasi remaja dan dewasa tanggung (mahasiswa) saat ini. Bagaimanapun juga film akan berpengaruh dalam budaya dan kebiasaan generasi muda. Contoh ketika film flash dance mendunia,di mana-mana orang sibuk juga dengan flash dance. Kapankah film-film bertema keluarga yang mendidik akan muncull lagi di film tv Indonesia,bukkan sekedar latah dan mengada-ada,seperti film tukang bubur naik haji kemudian diikuti mak ijah pengen ke mekah. Mungkinkah ini hanya sekedar angan-angan ? Mudah-mudahan tidak.