EKSISTENSIALIS TANPA EKSISTENSI>>>SELFIE

Istilah selfi sekarang sudah masuk Dictionary. Istilah inin untuk menggambarkan orang-orang yang memotret diri sendiri kemudian mengunggahnya dalam jejaring sosial seperti FB,twitter,instagram dsb. Orang yang suka selfi sesungguhnya orang yang ingin diakui keberadaannya,ingin diakui eksistensinya tetapi tidak mempunyai sesuatu yang ingin ditonjolkan dalam hal prestasinya. Jika selfi dilakukan sekali-sekali mungkin tidak ada efek apapun dan tidak menunjukkan ciri ingin diakui esksistensinya,tetapi jika terlalu sering justru menunjukkan dirinya ingin mendapatkan pengakuan tentang keberadaannya,dan ini terkait dengan psikologisnya. Apa sebenarnya dampak negatif selfi ? Berikut ini diambilkan petikan tulisan dari health.kompas.com.

Efek selfie
Menurut pendapat beberapa ahli, selfie ternyata memiliki dampak negatif dan positif. Penelitian di Inggris menyatakan, membagi terlalu banyak foto ke jejaring sosial termasuk foto selfie, berpotensi memperburuk hubungan atau membuat pengunggah foto kurang disukai.
“Peneliti kami menemukan, seseorang yang secara berkala mem-posting foto miliknya di media sosial berisiko membahayakan hubungannya di kehidupan nyata,” kata pimpinan riset Dr David Houghton. Hal ini menurut Houghton dikarenakan tidak semua orang berhubungan baik dengan orang yang mem-posting foto personalnya.
Beberapa ahli menyatakan, mem-posting foto di jejaring sosial, termasuk foto selfie, bisa memengaruhi karakter dan tingkah laku orang dewasa. Misalnya untuk narsis, yang ditemukan pada beberapa selfie, obyek dalam keadaan bersenang-senang. Meski begitu, peneliti menganggap selfie bisa menimbulkan kesan kesendirian yang amat dalam pada obyek foto.
Bagaimanapun, sejumlah psikolog berpendapat, selfie tak sepenuhnya hanya menguntungkan diri sendiri. Psikolog Peggy Drexler menganggap, selfie bisa menguntungkan banyak orang bila digunakan dengan tepat. Misalnya foto seusai menjalankan kebiasaan hidup sehat dibanding sebelumnya.
Dengan kata lain, orang yang kerap selfie bisa berperan sebagai penyebar pesan positif dan artistik ke populasi yang lebih luas, seperti halnya seorang fotografer. Dengan hal itu pula, selfie dapat dibedakan dari cara pria dan wanita mengambil foto.
Menurut Rutledge, bila dilakukan dengan benar, selfie bisa menjadi cara mengeksplorasi kepercayaan diri. “Saya percaya selfie bisa memberi dukungan pada orang dengan cara berbeda. Pada wanita misalnya, ketika dia merasa terpuruk, selfie membantu mereka melihat keadaan tersebut sebagai sesuatu yang normal, sama halnya pada pria,” ujarnya.
Secara umum Rutledge mengatakan, selfie intinya adalah menciptakan keseimbangan dan membuka pikiran kita untuk mengerti. Menurut Rutledge, ada sisi menguntungkan yang diperoleh bila melakukan selfie dengan benar. Bila merasa lebih baik dengan selfie, tentu hal ini baik untuk memperbaiki kondisi psikologis seseorang.

GURU WAGU TUR SARU

PTN penyelenggara SNMPTN bersepakat untuk tidak menggunakan hasil UAN,khususnya dari Kabupaten Lamongan sebagai bahan pertimbangan keterimaannya di PTN. Alasan yang dijadikan dasar adalah adanya kecurangan masif dan terstruktur dalam pelaksanaan UAN di Lamongan. kecurangan itu melibatkan Kepala Sekolah,Guru,pengawas dengan cara “mencuri” soal di tengah jalan,dikerjakan dan oleh guru,jawaban dibagikan dan soal yang “dicuri” dikembalikan lagi selesai ujian sehingga jumlahnya akan tetap sama. Fenomena ini menimbulkan pemikiran yang negatif terhadap “kualitas” karakter guru kita. Demikian parahkah dunia pendidikkan kita,khususnya di Lamongan. Bagaimana mungkin guru menerapkan dan mengajarkan pendidikan karakter yang baik dalam hal kejujuran,keterbukaan,disiplin dan tanggung jawab jika jalan pintas sudah diajarkan kepada anak didiknya. Siswa jika sudah diajarkan karakter yang jelek seperti itu yang menjadi pertanyaan adalah apa jadinya jika anak didik seperti itu menjadi pemimpin di negeri ini. Bagaimanapun juga anak didik akan mencontoh gurunya juga dalam hal perilaku. Jika siswa sudah diajarkan perilaku menyimpang untuk meraih kesuksesan maka jika akan menjadi calon legislatif ya akan berperilaku menyimpang,jika ingin menjadi pegawai ya berbuat menyimpang,begitu seterusnya. Sungguh memprihatinkan jika Guru yang nota bene digugu dan ditiru mengajarkan cara-cara yang tidak ksatria, maka mestinya guru tersebut menjadi waGu tur saRu. Agaknya perlu pembenahan di segala bidang untuk memperbaiki mental guru yang seperti itu,tidak cukup hanya sekedar teguran atau sanksi,karena saya yakin kasus seperti itu sebetulnya tidak hanya di lamongan saja.

MENGHARAP FILM KELUARGA MENDIDIK

Film bertema keluarga tahun 90-an umumnya menceritakan kejadian yang umum dalam keluarga dan bertetangga. Film Si Doel Anak Sekolahan atau Keluarga Cemara merupakan dua contoh film ysng menceritakan kehidupan sehari-hari. Ada suasana harmonis,ada senyum,ada sedih ada keributan kecil dalam keluarga ada juga benturan kecil dengan tetangga. Film-film seperti itulah yang sesungguhnya bisa menyadarkan kita bagaimana hubungan antar manusia sehari-hari sesungguhnya sangat berwarna. Namun sayang warna warni cerita seperti itu kini mulai sulit dtemui lagi dalam film-film tv Indonesia. Film tv di Indonesia kini kebanyakan menawarkan gaya hidup hedonis. Wajah ganteng atau cantik,rumah bagus,mobil mewah,makan-makan di restoran mewah,baju-baju bermerk,dan seabreg warna-warna “surga dunia” lainnya. Film-film tersebut kalau ada konflik selalu disisipi dengan konflik yang berlebihan,marah-marah dengan teriak-teriak, tidak menghormati orang tua,sumpah serapah dan seabreg adegan yang tidak ada dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya justru gaya-gaya seperti itulah yang kini diikuti dan digemari generasi muda. Kata-kata cieee,ea, pinis bingit dan kata-kata alay lainnya menjadi trend komunikasi remaja dan dewasa tanggung (mahasiswa) saat ini. Bagaimanapun juga film akan berpengaruh dalam budaya dan kebiasaan generasi muda. Contoh ketika film flash dance mendunia,di mana-mana orang sibuk juga dengan flash dance. Kapankah film-film bertema keluarga yang mendidik akan muncull lagi di film tv Indonesia,bukkan sekedar latah dan mengada-ada,seperti film tukang bubur naik haji kemudian diikuti mak ijah pengen ke mekah. Mungkinkah ini hanya sekedar angan-angan ? Mudah-mudahan tidak.

MATERIAL YG HARUS DIBAWA BESOK

Kelas BANJARNEGARA,KLAS CILONGOK
1.Botol kaca
2.Pewarna/kesumba/teres
3.Mangkuk
4.Kertas karton
5.Pulas/crayon/pastel
6.Jarum
7.Paper clip
8.Tusuk gigi kayu/batang korek api 10 batang
9.Bedak bayi/bedak halus/tabur
10.2 bh botol aqua bekas
11.Paku kecil/paku idep
12.Isolasi
13. 2 bh Botol kaca kecil/bekas botol obat suntik/parfum ukuran 10-20
ml,jangan lebih dari 20 ml.
14.Saputangan kain
15.Pemanas air elektrik/teko listrik
16.Karet gelang 2

PENDIDIKAN UNTUK SIAPA

Kemarin kita memperingati hari pendidikan nasional yang juga hari lahirnya Ki Hadjar Dewantara,tokoh pergerakan,tokoh politik,tokoh pendidikan sekaligus juga kolumnis. Konsep utama KHD sebenarnya adalah memerdekana jiwa dengan pendidikan,menghapuskan mental budak dan mental priyayi. Apakah mental-mental itu sudah hilang dari Indonesia ? Belum. Masih banyak warga bangsa ini yang bermental ambtenar dan juga bermental budak. Setiap tangan dan kaki bergerak harus ada bayarannya,harus ada upahnya, itu adalah mental budak,bahkan anggota dewan yang terhormatpun dan pelayan publik (pegawai pemerintah) banyak yang bermental budak. Anak-anak bangsa banyak yang berpikir bahwa pekerjaan yang menjanjikan dan berharga adalah jadi pegawai negeri,selain itu tidak. Itu adalah contoh mental ambtenar/mental priyayi. Lalu bagaimana dengan dunia pendidikan kita ? Tidak bisa disalahkan jika guru-guru yang mencerdaskan anak bangsa justru tidak sesuai dengan kualifikasinya. Undang-Undang mensyaratkan untuk menjadi guru harus S1 sesuai dengan bidangnya, namun ketika banyak lulusan SLTA yang diterima wiyata bakti menjadi guru,kemudian surat keterangan wiyata bakti yang dipalsukan waktu mengajarnya (baru 3 bulan dibuat sudah mengajar 5 tahun, contoh saya temukan lulus sma thn 2011,tapi tahun 2012 punya surat keterangan wiyata bakti 5 tahun, masuk akalkah?), dan surat keterangan itu dipakai untuk mendaftar menjadi mahasiswa yang menerima lulusan SLTA tapi sudah guru di universitas terluas. Layakkah dia menjadi seorang pendidik jika untuk menempuhnya sudah menggunakan cara-cara manipulasi ? Bagaimana nasib pendidikan kita kalau banyak guru-guru kita seperti itu. Contoh lain iklan pemerintah merokok membunuhmu,lalu apa jadinya jika guru justru merokok di depan murid-muridnya ? Patutkan guru itu menjadi contoh bagi anak-anaknya ?
Saat ini Indonesia sedang menggalakan pendidikan karakter,karena sudah banyak karakter bangsa ini yang hilang. Tetapi pendidikan karakter tidak cukup diajarkan dengan teori,harus diajarkan dengan praktek dan contoh nyata. Jika gurunya saja tidak disiplin,tidak taat aturan,suka memanipulasi data, menggunakan segala cara untuk menjadi guru atau kepala sekolah dll,bagaimana ia bisa membentuk karakter anak yang baik ? Mari kita renungkan.
SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL

HOMO HOMINI LUPUS

Dalam kehidupan sehari-hari manusia bisa bersahabat,bahkan persahabatan bisa menjadi saudara,tapi di sisi lain manusia bisa menjadi serigala sesamanya.Kasus JIS adalah contoh manusia yg menjadi serigala sesamanya. Dalam politik akan lebih terasa lagi mengenai homo homini lupus. Dalam politik tidak ada kawan abadi,yg ada adalah kepentingan,karena politik orientasinya adalah kekuasaaan. Sekarang bisa jadi kawan,tetapi besok pagi bisa jadi musuh yang harus dimusnahkan. Kawan akan dipilih selama kepentingan yang diburu bisa diperoleh melalui kawan yg baru,contohnya lihatlah dalam drama panggung pemilihan koalisi politik saat ini. Kawan lam bisa saja ditinggalkan jika tidak menjanjikan apa-apa, oleh karena itu saya terus terang setuju jika konsep koalisi PDIP-NASDEM bukan koalisi transaksional seperti yang dikemukakan JOKOWI. Kita lihat saja apakah konsep itu dapat dipertahankan,atau berubah setelah masuk koalisi baru lainnya, atau siapa akan menjadi serigala siapa. HOMO HOMINI LUPUS