PERLU DIBUAT MALU DIRI

BUSUKNYA KEDISIPLINAN

JALUR bus way di Jakarta sudah dirancang sedemikian rupa sejak lama untuk bebas hambatan. Kendaraan selain ambulance tidak boleh melewati jalur bus wa. Kenyataannya aturan itu tetap saja dilanggar. Baik sepeda motor maupun mobil tetap saja melalui jalur tersebut. Cara berikutnya setelah Jokowi jadi gubernur dengan meninggikan pembatas,masih juga tidak mempan. Aturan kini diperberat lagi dengan denda tilang yang tinggi yaitu Rp.500.000 untuk sepeda motor dan Rp.1.000.000 untuk mobil. Kenyataan jika tidak dijaga masih saja ada yang melanggar. Ada ide seorang warga yang sudah geregetan dengan kampanye moral melalui gaya bus way kick, dengan mengacungkan kaki ke mereka yang melintas,namun nampaknya dicuekin saja. Barangkali sudah saatnya mereka yang melintas jalur bus way untuk dilempar dengan telur busuk,terutama mobil,karena kedisiplinan mereka memang sudah BUSUK sebusuk-busuknya. Sungguh memprihatinkan jika banyak mobil mewah yang melintas jalur larangan tersebut. Barangkali gerakan melempar telur busuk akan sedikit berpengaruh.
Tidak jauh berbeda dengan Jakarta, di Purwokerto di setiap perempatan tertentu sudah ada fasilitas kendaraan roda dua,yaitu ruang henti roda dua. Kenyataannya ruang henti roda dua sering ditempati mobil,termasuk mobil mewah. Barangkali mereka memang buta huruf,karena itu mungkin sudah saatnya kita mengadakan gerakan moral di perempatan dengan memberika selebaran yang berbungi “RUANG HENTI RODA DUA BUKAN MILIK ANDA. MINTALAH SAUDARA ANDA YANG BISA MEMBACA UNTUK MEMBANTU MEMBACA TULISAN DI PEREMPATAN INI.”, Baragkali mereka perlu dibuat malu untuk diri sendiri jika mereka tidak mau memberi hak pada orang yang berada di bawahnya. SETUJUKAH anda melakukan gerakan moral itu ? Mari kita turun bersama.

BELAJAR DARI PEMULUNG

Jangan beri saya UANG

Seorang pemulung tua renta dengan kaki pincang kemarin “bekerja” memunguti sampah yang bisa dimanfaatkan di seputaran kampus UNSUD. Jalan terseok-seok,satu demi satu sampah plastik dimasukkan dalam keranjang yang dibawanya. Beberapa mahasiswa yang merasa iba mencoba mendekatinya, kemudian menjulurkan sejumlah uang. Harapan mahasiswa adalah si pemulung tua tadi menerima uang tersebut dengan ucapan terima kasih berkali-kali. Tapi apa yang terjadi ? Si pemulung menolak pemberian uang dengan nada halus. Mahasiswa yang mencoba memberikan uang masih mencoba memberikan dengan mengatakan itu pemberian yang iklas. Orang tua itu membalas ucapan mahasiswa yang cukup mengejutkan. “Jika akan membantu saya,jangan beri saya uang,itu membuat saya malas”, katanya dengan tegas. Subhanallah… Kita bayangkan sekarang peminta-minta yang berada di perempatan,yang datang dari rumah ke rumah, bagaimana kondisi mereka. Mereka justru orang-orang yang sehat,masih muda,dan tidak ada yang kurus kering. Mereka adalah orang-orang yang malas. Islam mengajarkan untuk tidak memberikan uang pada peminta-minta, hukumnya haram. Berikan bantuan pada orang yang sudah bekerja di jalan Allah tetapi masih kekurangan untuk kehidupannya. Tapi bagaimana kalau yang kita jumpai seperti pemulung tadi ? Sebuah pelajaran bahwa untuk mendapatkan uang sekecil apapun harus dimulai dengan cucuran keringat,dan mensyukuri seberapapun yang diperoleh, niscaya akan selalu cukup. Amiiin YRA. Pelajaran hidup tidak hanya dari orang-orang mampu,bahkan bisa muncul dari orang yang tidak kita sangka-sangka.