Cita-cita dan Kesempatan

  


Pengalaman memberikan pemahaman

 memberi nafas kehidupan
nafas kehidupan memberikan semangat
semangat mendorong adanya motivasi
motivasi memberi kekuatan untuk meraih mimpi
mimpi memberi harapan apa yang sebenarnya kita butuhkan dengan menangkap peluang atau kesempatan
Kesempatan tidak pernah terulang dua kali,karena itu tangkaplah peluang/kesempatan yang ada
tapi semua karena ridla Allah
karena itu carilah pengalaman sebanyak mungkin agar kita dapat meraih harapan yang kita gantungkan dan ingin kita raih,tapi jangan pernah bicara keinginan karena tidak akan pernah selesai,
Keinginan manusia tidak pernah berhenti sampai manusia mati, tapi kebutuhan ada batas toleransinya.
Jika kita bicara apa yang kita butuhkan,seberapapun yang kita peroleh akan terasa cukup.
Semoga kita bisa menangkap peluang, meraih kesempatan, menggapai cita-cita untuk memaknai kehidupan.
(purwokerto,31 Agustus 2013)

INDIKATOR KINERJA RPP

  Mahasiswa (dan juga guru) kadang keliru ketika menuliskan indikator dalam RPP. Kesalahan tersebut terletak dalam membedakan indikator kognitif,afektif dan psikomotorik. Berikut ini disajikan indikator yang dapat digunakan dalam pembuatan RPP.

I
INDIKATOR RPP: kata kerja operasional
KnowledgeAbility to recall previously learned material.
Kemampuan mengingat kembali materi pelajaran yang pernah dipelajari sebelumnya.
Kata Oprasional:
•Define (mendefiniskan….)
•Identify (mengidentifikasi…..)
•List (menyusun daftar…..)
•Name (menyebut nama…..)
•Recall (mengulang, mengingat….)
•Recognize (memperhatikan…..)
•Record (mengulang sebagaimana aslinya….)
•Relate (menghubungkan……)
•Repeat (mengulang…..)
•Underline (menggaris bawahi…..)
ComprehensionAbility to grasp meaning, explain, restate ideas.
Kemampuan memahami makna, menerangkan, menyatakan kembali suatu gagasan.
Kata operasional
•Choose (memilih….)
•Cite examples of ( menentukan contoh…)
•Demonstrate use of (mendemonstrasikan penggunaan…..)
•Describe (menggambarkan…)
•Determine (menentukan…)
•Differentiate between (membedakan…)
•Discuss (mediskusikan….)
•Explain (menerangkan…)
•Express (mengekspresikan….)
•Give in own words (menyatakan dengan kata-kata sendiri….)
•Identify (mengidentifikasikan….)
•Interpret (menginterpretasikan….)
•Locate (menentukan lokasi….)
•Pick (mematikan batas…..)
•Report (melaporkan….)
•Review (memperhatikan ulang…..)
•Select (menseleksi….)
•Tell (menceritakan….)
•Translate (menerjemahkan…)
•Respond (merespon….)
•Simulates (mensimulasikan….)
ApplicationAbility to use learned material in new situations.
Keterampilan menggunakan materi yang dipelajari dalam keadaan yang berbeda.
•Apply (menerapkan…..)
•Demonstrate (mendemonstrasikan penerapan…..)
•Dramatize (madramatisasi….)
•Employ (mengerjakan…)
•Generalize (menggenaralisasikan…)
•Illustrate (menyusun ilustrasi…)
•Interpret ( menginterpretasikan….)
•Operate (mengoperasikan….)
•Practice (mempraktekan…)
•Relate (mengubungkan…)
•Schedule (menjadwalkan…)
•Use (menggunakan….)
•Utilize (mempergunakan alat….)
•Initiate (menginisiasi…)
AnalysisAbility to separate material into component parts and show relationships between parts.
(Kemampuan menguraikan materi dalam berbagai komponen atau bagian yang satu sama lain masih dalam satu kesatuan)
•Analyze (menganalisis……)
•Appraise (menilai…)
•Calculate ( memperhitungkan….)
•Categorize (mengkategorikan…)
•Compare (membandingkan….)
•Conclude (menyimpulkan ….)
•Contrast (mengkontraskan…menjadi lebih…)
•Correlate (menghubungkan….)
•Criticize (mengkritisi….)
•Deduce (menarik kesimpulan…)
•Debate (melihat kelemahan/keunggulan…)
•Detect (mendeteksi….)
•Determine (menentukan….)
•Develop (mengembangkan ….)
•Diagram (mendiagramkan…..)
•Differentiate (menentukan ciri pembeda…..)
•Draw conclusions (menggambarkan kesimpulan….)
•Estimate (memperkirakan….)
•Evaluate (mengevaluasi…..)
•Examine (menguji………)
•Experiment (bereksperimen mengenai…)
•Identify (mengenali …)
•Infer (menyimpulkan….)
•Inspect (memeriksa…)
•Inventory (menemukan….)
•Predict (memperkirakan…..)
•Question (mempertanyakan….)
•Relate (menghubungkan….)
KnowledgeAbility to recall previously learned material.
Kemampuan mengingat kembali materi pelajaran yang pernah dipelajari sebelumnya.
Kata Oprasional:
•Define (mendefiniskan….)
•Identify (mengidentifikasi…..)
•List (menyusun daftar…..)
•Name (menyebut nama…..)
•Recall (mengulang, mengingat….)
•Recognize (memperhatikan…..)
•Record (mengulang sebagaimana aslinya….)
•Relate (menghubungkan……)
•Repeat (mengulang…..)
•Underline (menggaris bawahi…..)
ComprehensionAbility to grasp meaning, explain, restate ideas.
Kemampuan memahami makna, menerangkan, menyatakan kembali suatu gagasan.
Kata operasional
•Choose (memilih….)
•Cite examples of ( menentukan contoh…)
•Demonstrate use of (mendemonstrasikan penggunaan…..)
•Describe (menggambarkan…)
•Determine (menentukan…)
•Differentiate between (membedakan…)
•Discuss (mediskusikan….)
•Explain (menerangkan…)
•Express (mengekspresikan….)
•Give in own words (menyatakan dengan kata-kata sendiri….)
•Identify (mengidentifikasikan….)
•Interpret (menginterpretasikan….)
•Locate (menentukan lokasi….)
•Pick (mematikan batas…..)
•Report (melaporkan….)
•Review (memperhatikan ulang…..)
•Select (menseleksi….)
•Tell (menceritakan….)
•Translate (menerjemahkan…)
•Respond (merespon….)
•Simulates (mensimulasikan….)
ApplicationAbility to use learned material in new situations.
Keterampilan menggunakan materi yang dipelajari dalam keadaan yang berbeda.
•Apply (menerapkan…..)
•Demonstrate (mendemonstrasikan penerapan…..)
•Dramatize (madramatisasi….)
•Employ (mengerjakan…)
•Generalize (menggenaralisasikan…)
•Illustrate (menyusun ilustrasi…)
•Interpret ( menginterpretasikan….)
•Operate (mengoperasikan….)
•Practice (mempraktekan…)
•Relate (mengubungkan…)
•Schedule (menjadwalkan…)
•Use (menggunakan….)
•Utilize (mempergunakan alat….)
•Initiate (menginisiasi…)
AnalysisAbility to separate material into component parts and show relationships between parts.
(Kemampuan menguraikan materi dalam berbagai komponen atau bagian yang satu sama lain masih dalam satu kesatuan)
•Analyze (menganalisis……)
•Appraise (menilai…)
•Calculate ( memperhitungkan….)
•Categorize (mengkategorikan…)
•Compare (membandingkan….)
•Conclude (menyimpulkan ….)
•Contrast (mengkontraskan…menjadi lebih…)
•Correlate (menghubungkan….)
•Criticize (mengkritisi….)
•Deduce (menarik kesimpulan…)
•Debate (melihat kelemahan/keunggulan…)
•Detect (mendeteksi….)
•Determine (menentukan….)
•Develop (mengembangkan ….)
•Diagram (mendiagramkan…..)
•Differentiate (menentukan ciri pembeda…..)
•Draw conclusions (menggambarkan kesimpulan….)
•Estimate (memperkirakan….)
•Evaluate (mengevaluasi…..)
•Examine (menguji………)
•Experiment (bereksperimen mengenai…)
•Identify (mengenali …)
•Infer (menyimpulkan….)
•Inspect (memeriksa…)
•Inventory (menemukan….)
•Predict (memperkirakan…..)
•Question (mempertanyakan….)
•Relate (menghubungkan….)
•Solve (memecahkan ….)
•Test (menguji….)
•Diagnose (mendiagonis…..)
Synthesis Ability to put together the separate ideas to form new whole, establish new relationships.
(Kemampuan untuk meletakan banyak ide yang tersebar ke dalam satu kesatuan baru, mengembangkan model hubungan yang baru satu sama lain)
•Arrange (menyusun….)
•Assemble (menerapkan komponen…)
•Collect (menghimpun…)
•Compose (mengarang….)
•Construct (membangun….)
•Create (meperbaharui…)
•Design (mendisain….)
•Develop (menghasilkan….)
•Formulate (memformulasikan….)
•Manage (mengelola…)
•Modify (memodifikasi…)
•Organize (mengorganisasikan….)
•Plan (merencanakan…)
•Prepare (menyiapkan…)
•Produce (membuat….)
•Propose (mengusulkan…)
•Predict (merumuskan prediksi mengenai…)
•Reconstruct (menyusun ulang…)
•Set-up (menyediakan….)
•Synthesize (mensitesiskan….)
•Systematize (mensistematiskan…)
•Devise (merencanakan kegiatan…)
Evaluation Ability to judge the worth of material against stated criteria
(kemampuan menimbang nilai sesuatu diukur dengan kriteria atau persyaratan)
•Appraise (menilai…)
•Assess (menaksir…)
•Choose (memilih…)
•Compare (membandingkan….)
•Critique (mengkritisi…)
•Estimate (memperkirakan…)
•Evaluate (mengevaluasi….)
•Judge (menetapkan keputusan…..memutuskan….)
•Measure (mengukur….)
•Rate (menilai…)
•Revise (merevisi….)
•Score (memberi nilai…)
•Select (menyeleksi…)
•Validate (memvalidasi…)
•Value (menentukan harga….)
•Test (menguji….)
•Ask (mempertanyakan….)
Daftar Kata Kerja Operasional Ranah Psikomotor ( Praktik )
Contoh Daftar Kata Kerja Operasional Ranah Psikomotor ( Praktik )
Peniruan ( P1 )  Manipulasi ( P2 )Pengalamiahan ( P3 )       Artikulasi ( P4 )
Mengaktifkan  Mengoreksi              Mengalihkan                            Mengalihkan
Menyesuaikan  MendemontrasikanMenggantikan                            Mempertajam
Menggabungkan  Merancang              Memutar                            Membentuk
Melamar  Memilah              Mengirim                            Memadankan
Mengatur  Melatih               Memindahkan                            Menggunakan
Mengumpulkan  Memperbaiki              Mendorong                            Memulai
Menimbang  MengidentifikasikanMenaik                                          Menyetir
Memperkecil  Mengisi              Memproduksi                            Menjeniskan
Membangun  Menempatkan              Mencampur                            Menempel
Mengubah  Membuat              Mengoperasikan                           Mensketsa
Membersihkan  Memanipulasi              Mencampur                            Melonggarkan
Memposisikan  Mereparasi              Mengemas                            Menimbang
Mengonstruksi  Mencampur              Membungkus
Daftar Kata Kerja Operasional Ranah Afektif
Contoh Daftar Kata Kerja Operasional Ranah Afektif ( Sikap dan Minat )
Menerima ( A1 )              Menanggapi ( A2 )                  Menilai ( A3 )
Memilih                            Menjawab                                Mengasumsikan
Mempertanyakan Membantu                                Meyakini
Mengikuti               Mengajukan                                Melengkapi
Memberi               Mempromosikan                  Meyakinkan
Menganut               Menyenangi                                Memperjelas
Mematuhi               Menyambut                                Memprakarsai
Meminati               Mendukung                                Mengimani
Menyetujui               Mengundang
Menampilkan               Menggabungkan
Melaporkan               Memperjelas
Memilih                             Mengusulkan
Mengatakan               Menekankan
Memilah                             Menyumbang
Menolak
Mengelola ( A4 )                Menghayati ( A5 )
Menganut                Mengubah perilaku
Mengubah                Berahlak mulia
Menata                              Mempengaruhi
Mengklasifikasikan  Mendengarkan
Mengkombinasikan  Mengkualifikasi
Mempertahankan  Melayani
Membangun                Menunjukkan
Membentuk pendapat  Membuktikan
Memadukan                Memecahkan
Mengelola
Menegosiasi
Merembug
Contoh Penyusunan RPP Terbaru model Eksplorasi Elaborasi Konfirmasi
A. Apakah RPP itu?
Berdasarkan PP 19 Tahun 2005 Pasal 20 dinyatakan bahwa:
”Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar”.
Sesuai dengan Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses dijelaskan bahwa RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
B. Apa Saja Komponen RPP itu ?
RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan.
Komponen RPP adalah:
1. Identitas mata pelajaran, meliputi:
a. satuan pendidikan,
b. kelas,
c. semester,
d. program studi,
e. mata pela¬jaran atau tema pelajaran,
f. jumlah pertemuan.
2. standar kompetensi
merupakan kualifikasi kemam¬puan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang       diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.
3. kompetensi dasar,
adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran ter¬tentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompe¬tensi dalam suatu pelajaran.
4. indikator pencapaian kompetensi,
adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilai¬an mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja opera¬sional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
5. tujuan pembelajaran,
menggambarkan proses dan ha¬sil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.
6. materi ajar,
memuat fakta, konsep, prinsip, dan pro¬sedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompe¬tensi.
7. alokasi waktu,
ditentukan sesuai dengan keperluan un¬tuk pencapaian KD dan beban belajar.
8. metode pembelajaran,
digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembela¬jaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemi¬lihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situ¬asi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.
9. kegiatan pembelajaran :
Untuk mencapai suatu kompetensi dasar harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan setiap pertemuan. Pada dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan
a. pendahuluan/pembuka,
b. kegiatan inti terdiri atas, eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi
c. kegiatan penutup.
10. Penilaian hasil belajar
Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kom¬petensi dan mengacu kepada Standar Penilaian.
11. Sumber belajar
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.
C. LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN RPP
Langkah-langkah minimal dari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dimulai dari mencantumkan Identitas RPP, Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian. Setiap komponen mempunyai arah pengembangan masing-masing, namun semua merupakan suatu kesatuan.
Penjelasan tiap-tiap komponen adalah sebagai berikut.
1. Mencantumkan Identitas
Terdiri dari: Nama sekolah, Mata Pelajaran, Kelas, Semester, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dan Alokasi Waktu.
Hal yang perlu diperhatikan adalah :
a. RPP boleh disusun untuk satu Kompetensi Dasar.
b. Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabus. (Standar kompetensi – Kompetensi Dasar – Indikator adalah suatu alur pikir yang saling terkait tidak dapat dipisahkan)
c. Indikator merupakan:
§ ciri perilaku (bukti terukur) yang dapat memberikan gambaran bahwa peserta didik telah mencapai kompetensi dasar
§ penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
§ dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, satuan pendidikan, dan potensi daerah.
§ rumusannya menggunakan kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi.
§ digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
d. Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar, dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan (contoh: 2 x 35/40/45 menit). Karena itu, waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada kompetensi dasarnya.
2. Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Output (hasil langsung) dari satu paket kegiatan pembelajaran. Sebagai contoh :
Kegiatan pembelajaran: ”Mendapat informasi tentang sistem peredaran darah pada manusia”. Maka tujuan pembelajaran, boleh salah satu atau keseluruhan tujuan pembelajaran, misalnya peserta didik dapat:
1. mendeskripsikan mekanisme peredaran darah pada manusia.
2. menyebutkan bagian-bagian jantung.
3. merespon dengan baik pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh teman-teman sekelasnya.
4. mengulang kembali informasi tentang peredaran darah yang telah disampaikan oleh guru.
Bila pembelajaran dilakukan lebih dari 1 (satu) pertemuan, ada baiknya tujuan pembelajaran juga dibedakan menurut waktu pertemuan, sehingga tiap pertemuan dapat memberikan hasil.
3. Menentukan Materi Pembelajaran
Untuk memudahkan penetapan materi pembelajaran, dapat diacu dari indikator.
Contoh:
Indikator: Peserta didik dapat menyebutkan ciri-ciri kehidupan.
Materi pembelajaran:
Ciri-Ciri Kehidupan:
Nutrisi, bergerak, bereproduksi, transportasi, regulasi, iritabilitas, bernapas, dan ekskresi.
4. Menentukan Metode Pembelajaran
Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih.
Karena itu pada bagian ini cantumkan pendekatan pembelajaran dan metode yang diintegrasikan dalam satu kegiatan pembelajaran peserta didik:
a. Pendekatan pembelajaran yang digunakan, misalnya: pendekatan proses, kontekstual, pembelajaran langsung, pemecahan masalah, dan sebagainya.
b. Metode-metode yang digunakan, misalnya: ceramah, inkuiri, observasi, tanya jawab, kooperativ learning, e-learning dan sebagainya.
5. Menetapkan Kegiatan Pembelajaran
Langkah-langkah minimal yang harus dipenuhi pada setiap unsur kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:
Kegiatan pendahuluan. (10% dari Total Alokasi Waktu )
Dalam kegiatan pendahuluan, guru:
a. menyiapkan siswa secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;
b. mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari;
c. menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai;
d. menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai dengan silabus.
Kegiatan inti (eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi). (75% dari Total Alokasi Waktu)
EKSPLORASI
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
a. melibatkan siswa mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
b. menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran dan sumber belajar lain;
c. memfasilitasi terjadinya interaksi antarsiswa serta antara siswa dengan guru, lingkungan dan sumber belajar lainnya;
d. melibatkan siswa secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
e. memfasilitasi siswa melakukan percobaan di laboratorium, studio atau lapangan.
ELABORASI
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
a. membiasakan siswa membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
b. memfasilitasi siswa melalui pemberian tugas, diskusi dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
c. memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah dan bertindak tanpa rasa takut;
d. memfasilitasi siswa dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
e. memfasilitasi siswa berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
f. memfasilitasi siswa membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis secara individual maupun kelompok;
g. memfasilitasi siswa untuk menyajikan hasil kerja secara individual maupun kelompok.
h. memfasilitasi siswa melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
i. memfasilitasi siswa melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri siswa.
KONFIRMASI
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
a. memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan siswa;
b. memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi siswa melalui berbagai sumber;
c. memfasilitasi siswa melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan;
d. memfasilitasi siswa untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:
e. berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan siswa yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar;
f. membantu menyelesaikan masalah;
g. memberi acuan agar siswa dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi;
h. memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh; dan
i. memberikan motivasi kepada siswa yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.
Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan penutup, guru:
a. bersama-sama dengan siswa dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran;
b. melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
c. memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
d. merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar siswa;
e. menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
f. Jawaban dibuktikan dengan melakukan observasi secara acak, hasil supervisi kepala sekolah/madrasah, dan kesesuaian RPP dengan pelaksanaan proses pembelajaran.
Catatan :
Langkah-langkah pembelajaran dimungkinkan disusun dalam bentuk seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model pembelajaran yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan.
6. Memilih Sumber Belajar
Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan. Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional, dan bisa langsung dinyatakan bahan ajar apa yang digunakan. Misalnya, sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referensi, dalam RPP harus dicantumkan bahan ajar yang sebenarnya.
Jika menggunakan buku, maka harus ditulis judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu.
Jika menggunakan bahan ajar berbasis ICT, maka harus ditulis nama file, folder penyimpanan, dan bagian atau link file yang digunakan, atau alamat website yang digunakan sebagai acuan pembelajaran.
Karma Iswasta Eka
PGSD FKIP UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
diambil dari berbagai sumber

RUMAH TANGGA DAN PERAHU RETAK

  Bagi anda yang baru berumah tangga atau mau berumah tangga

Membentuk rumah tangga itu seperti membentuk tim perahu dayung. Awal rumah tangga itu seperti awal terbentuknya tim. Kadang tidak sejalan antara apa yang diinginkan nakhoda dengan awak perahu,karena itu diperlukan toleransi yang tinggi dalam adaptasi ini. Misal yang semula tidur sendiri tiba-tiba harus tidur dengan suara dengkuran yang keras seperti gergaji mesin. Adaptasi dan toleransi dibutuhkan waktu yang cukup agar bisa saling memahami dan mengerti kebiasaan dan tabiat masing-masing. Masing-masing harus saling mengalah sampai kemudian ditemukan titik temu. Jika masa-masa ini terlewati maka nakhoda dan awak perahu dayung akan berjalan seirama untuk menempuh perjalanan yang menyenangkan, demikian pula dengan rumah tangga. Ketika perahu retak, harus juga ada kerja sama untuk saling menambal,tanpa kerja sama dan kesadaran masing-masing sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing maka perahu retak bukannya akan terperbaiki dengan baik,tapi justru akan menjadi perahu pecah. Perahu retak sering muncul karena faktor orang lain,termasuk anak-anak yang nakal yang mencoba melobangi perahu. Orang berumah tangga demikian pula,sering muncul percekcokan antara suami dan istri hanya masalah kecil,masalah anak, dan itu bisa menjadi besar jika tidak ada yang mengalah dan mengendalikan.
Binalah tim perahu dayung dengan baik agar bisa menjadi pemenang dan juara. Pemenang dan calon juara kadang juga kelelahan dalam mengayuh perahu,karena itu dibutuhkan penggembira dan penyemangat, Jadilah penyemangat masing-masing pasangan jika salah satunya merasa kelelahan dalam mendayung perahu.
SEMOGA BISA MENJADI PELAJARAN BAGI ANDA YANG BARU BERUMAH TANGGA ATAU AKAN BERUMAH TANGGA

Project Base Learning

  Project-Based Learning: A Short History

When project-based learning is infused with technology, it may look and feel like a 21st-century idea, but it’s built on a venerable foundation.
BY SUZIE BOSS
Credit: Ethan Pines
Projects make the world go ’round. For almost any endeavor — whether it’s launching a space shuttle, designing a marketing campaign, conducting a trial, or staging an art exhibit — you can find an interdisciplinary team working together to make it happen.
When the project approach takes hold in the classroom, students gain opportunities to engage in real-world problem solving too. Instead of learning about nutrition in the abstract, students act as consultants to develop a healthier school cafeteria menu. Rather than learning about the past from a textbook, students become historians as they make a documentary about an event that changed their community.
Especially when it’s infused with technology, project-based learning may look and feel like a 21st-century idea, but it’s built on a venerable foundation.
Strong Foundation
Confucius and Aristotle were early proponents of learning by doing. Socrates modeled how to learn through questioning, inquiry, and critical thinking — all strategies that remain very relevant in today’s PBL classrooms. Fast-forward to John Dewey, 20th-century American educational theorist and philosopher, and we hear a ringing endorsement for learning that’s grounded in experience and driven by student interest. Dewey challenged the traditional view of the student as a passive recipient of knowledge (and the teacher as the transmitter of a static body of facts). He argued instead for active experiences that prepare students for ongoing learning about a dynamic world. As Dewey pointed out, “Education is not preparation for life; education is life itself.”
Maria Montessori launched an international movement during the 20th century with her approach to early-childhood learning. She showed through example that education happens “not by listening to words but by experiences upon the environment.” The Italian physician and child-development expert pioneered learning environments that foster capable, adaptive citizens and problem solvers.
Jean Piaget, the Swiss developmental psychologist, helped us understand how we make meaning from our experiences at different ages. His insights laid the foundation for the constructivist approach to education in which students build on what they know by asking questions, investigating, interacting with others, and reflecting on these experiences.
Learning from Real Life
Against this theoretical background, problem-based learning emerged more than half a century ago as a practical teaching strategy in medicine, engineering, economics, and other disciplines. With this approach, students are challenged to solve problems or do simulations that mimic real life. (See Schools That Work: Project-Based Learning in Maine.) Although problems are defined in advance by the instructor, they tend to be complex, even messy, and cannot be solved by one “right” or easy-to-find answer. This is how medical students, for instance, learn to diagnose and treat actual patients — something they can’t learn in a lecture hall. Unlike textbook-driven instruction, problem-based learning puts the student in charge of asking questions and discovering answers.
In K-12 education, project-based learning has evolved as a method of instruction that addresses core content through rigorous, relevant, hands-on learning. Projects tend to be more open-ended than problem-based learning, giving students more choice when it comes to demonstrating what they know. (Get tips from the blog, “20 Ideas for Engaging Projects.”) Unlike projects that are tacked on at the end of “real” learning, the projects in PBL are the centerpiece of the lesson. Projects are typically framed with open-ended questions that drive students to investigate, do research, or construct their own solutions. For example: How can we reduce our school’s carbon footprint? How safe is our water? What can we do to protect a special place or species? How do we measure the impact of disasters? Students use technology tools much as professionals do — to communicate, collaborate, conduct research, analyze, create, and publish their own work for authentic audiences. Instead of writing book reports, for instance, students in a literature project might produce audio reviews of books, post them on a blog, and invite responses from a partner class in another city or country.
Fit for a New Century
A number of trends have contributed to the adoption of project-based learning as a 21st-century strategy for education. Cognitive scientists have advanced our understanding of how we learn, how we develop expertise, and how we begin to think at a higher level. Fields ranging from neuroscience to social psychology have contributed to our understanding of what conditions create the best environment for learning. Culture, context, and the social nature of learning all have a role in shaping the learner’s experience. These insights help to explain the appeal of PBL for engaging diverse learners.
Although PBL applies across disciplines, it consistently emphasizes active, student-directed learning. Why is this approach more likely than rote memorization to lead to deeper understanding? Relevance plays a big role. Projects give students a real-world context for learning, creating a strong “need to know.” Motivation is another factor. Projects offer students choice and voice, personalizing the learning experience. By design, projects are open-ended. This means students need to consider and evaluate multiple solutions and, perhaps, defend their choices. All these activities engage higher-order thinking skills.
Another trend that is fueling interest in PBL is our evolving definition of literacy. Learning to read is no longer enough. Today’s students must to be able to navigate and evaluate a vast store of information. This requires fluency in technology along with the development of critical-thinking skills. PBL offers students opportunities not only to make sense of this information but also to expand on it with their own contributions.
Finally, today’s students will face complex challenges when they complete their formal education. Knowing how to solve problems, work collaboratively, and think innovatively are becoming essential skills — not only for finding future careers but also for tackling difficult issues in local communities and around the world.
To respond to these complex demands, a growing number of teachers, schools, and even states have adopted project-based learning. In some cases, PBL is proving an essential ingredient in school redesign. New Tech Network, Expeditionary Learning, the EAST Initiative, and Envision Schools are just a few examples of programs that are integrating PBL into school-wide models to prepare students for the future.
New Challenges for Teachers
Project-based learning is not without its challenges. It’s demanding of students — and of teachers. Especially for teachers who have never experienced PBL before, projects require planning and management skills that may be unfamiliar. What’s more, PBL puts teachers in the role of facilitator rather than classroom expert. Teachers may benefit from professional development to help them expand their classroom “tool kit” of teaching strategies. Just as it’s essential that students buy in to PBL, teachers also need to feel empowered. Support from administrators, parents, and other community members can help teachers and students to overcome challenges and make the most of PBL opportunities.
As PBL gains advocates and gathers momentum, the education community will continue to exchange ideas and collaborate on projects, making this powerful method of preparing students for the future even better.
This article originally published on 9/20/2011
Diambil dari

Renungan pagi : Bersyukur dan Bersabar

Sungguh manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah,dan apabila mendapatkan kebaikan (harta) dia jadi kikir, KECUALI orang-orang yang melaksanakan shalat. dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu (hak orang lain) bagi orang miskin yang meminta dan tidak meminta(Al Maarij, 19-25). Allah secara tegas menjelaskan di sini bahwa surga jaminan bagi orang-orang yang panda bersabar dan pandai bersyukur. Panda bersabar dalam pengertian tidak mudah mengeluh dalam kondisi apapun (sekarang banyak yang suka mengeluh di media sosial), sedang pandai bersyukur dalam pengertian yang selalu menyiapkan sebagian rezekinya untuk orang lain. Allah dalam surat lain juga menjanjikan adzab bagi yang tidak bisa bersabar (contoh sahabat Nabi yang akhirnya bunuh diri karena tidak tahan terhadap lukanya di medan perang) dan yang tidak suka bersyukur (contoh Syaklabah). Kita perlu mencermati ayat-ayat tersebut agar kita jadi orang yang tidak mudah mengeluh,meskipun sebagian besar orang mudah mengeluh, tetapi kita harus selalu bersyukur jika mendapat rezeki sekecil apapun. Insya Allah jika kita suka bersyukur dengan membagikan sebagian rezeki kita,insya Allah kita akan mendapatkan ganti di tempat lain yang berlebih. Marilah kita belajar untuk menjadi orang yang sabar (sabar tidak ada batasnya) dan juga menjadi orang yang pandai bersyukur, seperti yang sering saya katakan TERIMA KASIH, TERIMA rezeki yang harus kita terima dan KASIH sebagian ke orang yang berhak