RIGHT OR WRONG IS MY COUNTRY BUT …

  

Sy td sore ditelp adik yg nikah dg warga Malay, sekarang status janda karena setahun yang lalu suami meninggal kecelakaan. dia mengabarkan sebelum ramadhan mendapatkan tunjangan beras,kue2,kain,uang,berlimpah bahkan sebagian dibagikan ke tetangga. Semua itu diperoleh karena anak yatim di Malay menjadi tanggungan negara, itu pula yg sempat saya lihat di Malaysia sebelum ramadhan setahun yg lalu di beberapa tempat. Anak2 yatim juga mendapat jatah bulanan per orang sekitar 3 jt rupiah per bulan. Cukup mengherankan juga jika Malaysia bisa menghidupi anak2 yatim dan terlantar mengingat SDA Malaysia jauh di bawah Indonesia. Indonesia yang katanya kaya raya dengan SDA,dan UUD 45 mengamanatkan kepada Negara untuk memelihara anak yatim piatu dan fakir miskin ternyata justru tidak melakukannya. Tidak ada satupun anak yatim yang dijamin oleh negara yang tinggal bersama orang tuanya. Memang right or wrong is my country but no if The Leader wrong. Apa yang salah dengan para pimpinan kita jika tidak bisa menjamin rakyatnya yang terlantar. Mungkin kita perlu pemimpin yang revolusioner,yang memperhatikan rakyatnya, tapi kapan itu bisa kita peroleh.Saya jadi membayangkan jika kita punya pemimpin 100 orang saja seperti Jokowi,barangkali bisa mengubah negara ini.

RENUNGAN HARI INI (14 Juli 2013)

KESHOLEHAN INDIVIDUAL DAN KESHOLEHAN SOSIAL

Bulan suci Ramadhan selama ini selalu disambut dengan suka cita umat muslim,meskipun tidak semua muslim menjalankan ibadah puasa. Akhir bulan ramadhan adalah iedul fitri,dan ini terlebih lagi sambutannya. Umat muslim sedunia,entah puasa entah tidak,yang sholat atau tidak,menyambut dengan gembira,meskipun ada juga muslim yang sholatnya setahun sekali,pas sholat iedul fitri, menyambut juga dengan gembira. Semua ritual yng dijalani itu sebetulnya apa esensinya ? Apakah kita menjalankan puasa sekedar menahan hawa nafsu ? Sekedar menahan tidak makan,tidak minum,tidak berhubungan suami istri saja ? Tentu saja tidak. Dengan menahan tidak makan dan minum selama 12 jam (di Negara Swedia bahkan 18 jam) sesungguhnya mengajarkan pada kita  betapa beratnya orang-orang yang tidak berkecukupan makanan. Artinya selepas menjalankan puasa kita diharapkan untuk lebih rela berbagi rezeki dengan  teman-teman kita yang kekurangan. Kita lebih mudah mengulurkan tangan untuk membantu sesama. Saya sering katakan konsep TERIMA KASIH itu bukan sekedar thank you,matur nuwun,atur nuhun saja, tetapi TERIMA DAN KASIH. Kita setelah terima rezeki kasihkan sebagian ke orang yang membutuhkan,karena ada haknya di sana. Persoalannya mengapa orang yang sudah syahadat,sudah sholat,sudah puasa bahkan sudah haji masih saja ada yang tetap bakhil dan kikir ? Jawabannya adalah karena dia tidak  menjalankan semua itu sampai ke lubuk hati yang paling dalam. Orang-orang yang tetap kikir karena menjalankan semua itu baru sebatas ritual, dan baru mencapai tataran kesholehan individual,belum kesholehan sosial, padahal Allah mengharapkan shileh itu ya individual ya sosial, hablum minallah hablum minanas. Alangkah piciknya jika manusia menjalankan puasa namun tetap kikir,atau mempunyai kepedulian sosial tetapi hanya ketika bulan ramadhan saja (karena ada yang seperti itu) tetapi tidak di bulan-bulan yang lain. Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa sholeh secara individual juga sholeh secara sosial.