MENYAMBUT HARDIKNAS 2013

PEMBELAJARAN SAIN DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER DAN KURIKULUM 2013.
My Opinion

PENDAHULUAN.

Upaya mengatasi masalah pendidikan terutama yang terkait mutu pendidikan akan banyak ditentukan oleh guru. Oleh karena itu pemberdayaan guru untuk terlibat langsung mengatasi masalah mutu pendidikan dalam skala mikro mutlak diperlukan. Guru selain mengajarkan pelajaran secara teoritis di kelas perlu juga mengembangkan dengan alat peraga untuk pembelajaran model PAKEM. Dengan alat peraga, khususnya di bidang mata pelajaran Sains, maka murid akan lebih mudah menangkap inti pelajaran.
Menurut Sukarman dalam Sukidin dkk (2002) dalam mewujudkan sekolah efektif, guru dituntut menguasai sepuluh pengetahuan dasar, yaitu : (1) mengembangkan kepribadian, (2) menguasai landasan pengetahuan, (3) menguasai bahan pengajaran, (4) menyusun program pengajaran, (5) melaksanakan program pengajaran, (6) menilai proses dan program pengajaran, (7) menyelenggarakan program bimbingan, (8) menyelenggarakan administrasi sekolah, (9) berinteraksi dengan rekan sejawat dan masyarakat, (10) menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran.
Guru sebagai ujung tombak dalam upaya peningkatan mutu pendidikan masih perlu ditingkatkan kemampuannya, mengingat perubahan yang terjadi begitu cepat dan pengetahuan terus berkembang begitu pesat. Untuk mengatasi kondisi seperti itu dibutuhkan guru yang kreatif dalam mengembangkan alat peraga, khususnya di bidang sains Hal itu sangat diperlukan karena kemampuan mengembangkan alat peraga merupakan cerminan guru yang profesional.
Kenyataannya, guru banyak yang mengalami masalah dalam menjalankan profesinya dan tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik secara ilmiah. Disisi lain kreativitas dalam pembuatan alat peraga pada guru-guru SD masih lemah. Akibatnya ketika mutu proses dan hasil pendidikan rendah, guru selalu melempar tanggung jawab kepada pihak lain, misalnya orang tua, sarana-prasarana sekolah, dan sebagainya. Salah satu matapelajaran yang seringmengalami hambatan dalam penyampaian materi adalah mata pelajaran IPA.
Pelajaran IPA atau Sains sering dipandang sebagai mata pelajaran yang membutuhkan penalaran atau logika, sehingga jika logikanya salah akan terjadi miskonsepsi. Di samping itu pelajaran IPA sering kali diajarkan dengan cara terlalu serius sehingga membuat jenuh siswa. Cara penyampaian mata pelajaran IPA dengan cara ceramah yang cenderung teoritis menyebabkan nilai siswa sering di bawah nilai KKM. Rendahnya nilai IPA tersebut berdasarkan hasil studi lapangan ternyata karena model pembelajaran yang terlalu teoritis dan relative hanya menggunakan metode ceramah. Model pembelajaran seperti ini membuat siswa kurang antusias sehingga kurang dapat memahami konsep. Keadaan seperti itu tentunya perlu dirubah dengan mengubah model pembelajaran.Banyak cara dapat dilakukan dalam mengajarkan sains, salah satunya adalah dengan cara bermain yang sekaligus dapat membentuk sikap siswa.

KONSEP DASAR PEMBELAJARAN IPA dan PEMBENTUKAN SIKAP.
Siswa Sekolah Dasar rata-rata berusia antara 7 – 11 tahun, yang sesungguhnya taraf perkembangan berpikir anak usia tersebut berada pada fase operasional konkret. Pada fase ini anak mampu melakukan operasi atau berpikir logis dengan menggunakan benda-benda konkret. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Djaali (1999) bahwa penyajian konsep-konsep di SD sedapat mungkin dilakukan dengan pendekatan benda-benda konkret. Tanpa pendekatan ini maka materi-materi abstrak dalam pelajaran tidak akan bermakna bagi siswa, dan siswa akan mengalami kesulitan dalam mempelajari materi pelajaran berikutnya.
Untuk menjembatani proses berpikir pada taraf perkembangan intelektual tersebut, guru SD hendaknya memikirkan cara penyampaian yang efektif dan dengan bantuan media belajar atau alat peraga sehingga materi yang disampaikan dapat diterima dengan mudah oleh siswa. Salah satu cara mendekatkan siswa kepada dunia nyata pada pelajaran sain atau IPA adalah dengan menggunakan alat-alat peraga yang diajarkan dengan cara bermain. Pembelajaran dengan cara bermain akan menarik keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran.
Keterlibatan peserta didik dapat ditarik dalam pembelajaran kalau guru membangun hubungan baik yaitu dengan menjalin rasa simpati dan saling pengertian. Penerapan pendekatan sistem dalam memecahkan masalah pembelajaran IPA adalah terbentuknya suatu sistem pembelajaran yang efektif dan efisien. Gagne dan Briggs (1979) mendefinisikan sistem pembelajaran sebagai suatu peristiwa yang mempengaruhi peserta didik sehingga terjadi proses belajar. Suatu set peristiwa dalam proses pembelajaran mungkin digerakkan oleh guru, tetapi mungkin juga digerakkan oleh peserta didik sendiri.
Pembelajaran IPA dengan cara bermain dapat dilakukan dengan pendekatan predict (prediksi), Observe (pengamatan) dan Explain (penjelasan) yang lebih dikenal dengan model POE. Menurut Young (1980) pembelajaran sain dengan model permainan akan menyenangkan siswa dan memudahkan pemahaman konsep terhadap materi itu sendiri. Young juga menegaskan bahwa murid belajar dengan melakukan dan melihat kenyataan akan mampu membuat siswa menangkap ide sains dan pengembangannya. Pembelajaran IPA dengan cara ini akan mampu mengubah cara berpikir anak.
Pembelajaran IPA yang efektif dicirikan antara lain oleh tingginya kemampuan pembelajaran tersebut dalam menyajikan hakikat pendidikan IPA di SD yaitu sebagai proses,produk dan sikap. Dimensi proses pendidikan IPA dengan demikian menuntut guru untuk melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan-kegiatan dasar yang dilakukan oleh para ilmuwan dalam upaya memperoleh pengetahuan. Kegiatan seperti ini yang secara umum dikenal sebagai metode ilmiah.
Metode ilmiah akan mengajarkan anak untuk bersikap jujur,terbuka dan menyampaikan fakta apa adanya. Sikap ilmiah akan terbentuk jika siswa dibiasakan menggunakan metode ilmiah dalam tingkatan yang paling dasar sesuai dengan perkembangan usia anak. Oleh karena itu pembelajaran dengan model POE pada dasarnya adalah proses pembentukan karate siswa secara terus menerus untuk bersikap jujur dan terbuka.
Dimensi proses pendidikan IPA berhubungan dengan sejumlah fakta,data,konsep atau teori tentang fenomena alam semesta. Dimensi proses membawa siswa untuk mempelajari bagaimana manusia menemukan pengetahuannya dengan belajar pada fenomena alam. Dimensi ini akan membelajarkan siswa untuk mempunyai rasa ingin tahu menghadapi fenomena alam dan bagaimana mempelajarinya.
Dimensi produk membekali siswa dengan seperangkat pengetahuan dan wawasan IPA, baik untuk memahami peristiwa-peristiwa alam dalam kehidupan sehari-hari maupun sebagai dasar akademis. Dimensi produk akan menghasilkan dimensi sikap., Dimensi sikap merupakan hasil internalisasi dan akumulasi pengetahuan dan pengalaman dalam mengikuti proses pembelajaran IPA.
Menurut Horsley (1990) pembelajaran IPA yang efektif dicirikan oleh tingginya kadar on task (aktivitas edukatif) dan rendahnya kadar off task ( aktivitas non eduktif) siswa dalam pembelajaran. Salah satu upaya untuk meningkatkan kadar on task adalah dengan mengembangkan kegiatan hands on (psikomotor) dan minds on (kognitif afektif) melalui sejumlah keterampilan yang dilakukan siswa di kelas. Keterampilan dimaksud adalah keterampilan laboratorium, keterampilan intelektual, keterampilan berpikir dasar dan keterampilan berkomunikasi. Dengan pembelajaran yang bertumpul pada pembentukan keterampilan akan membentuk perubahan perilaku pada siswa.
Menurut Gagne dalam Syamsuddin (2003), perubahan perilaku yang merupakan hasil belajar dapat berbentuk :
Informasi verbal; yaitu penguasaan informasi dalam bentuk verbal, baik secara tertulis maupun tulisan, misalnya pemberian nama-nama terhadap suatu benda, definisi, dan sebagainya.
Kecakapan intelektual; yaitu keterampilan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol, misalnya: penggunaan simbol matematika. Termasuk dalam keterampilan intelektual adalah kecakapan dalam membedakan (discrimination), memahami konsep konkrit, konsep abstrak, aturan dan hukum. Ketrampilan ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi pemecahan masalah.
Strategi kognitif; kecakapan individu untuk melakukan pengendalian dan pengelolaan keseluruhan aktivitasnya. Dalam konteks proses pembelajaran, strategi kognitif yaitu kemampuan mengendalikan ingatan dan cara – cara berfikir agar terjadi aktivitas yang efektif. Kecakapan intelektual menitikberatkan pada hasil pembelajaran, sedangkan strategi kognitif lebih menekankan pada proses pemikiran.
Sikap; yaitu hasil pembelajaran yang berupa kecakapan individu untuk memilih macam tindakan yang akan dilakukan. Dengan kata lain. Sikap adalah keadaan dalam diri individu yang akan memberikan kecenderungan bertindak dalam menghadapi suatu obyek atau peristiwa, didalamnya terdapat unsur pemikiran, perasaan yang menyertai pemikiran dan kesiapan untuk bertindak.
Kecakapan motorik; ialah hasil belajar yang berupa kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.
Kelima hasl tersebut di atas pada dasarnya adalah mendasarkan pada konsep pendidikan kecakapan hidup dan menghasilkan kecakapan hidup siswa.
Pada intinya pendidikan kecakapan hidup membantu peserta didik dalam mengembangkan kemampuan belajar, menyadari dan mensyukuri potensi diri untuk dikembangkan dan diamalkan, berani menghadapi problema kehidupan, serta memecahkannya secara kreatif. Pendidikan kecakapan hidup bukanlah mata pelajaran, sehingga dalam pelaksanaannya tidak perlu merubah kurikulum dan menciptakan mata pelajaran baru. Yang diperlukan disini adalah mereorientasi pendidikan dari mata pelajaran ke orientasi pendidikan kecakapan hidup melalui pengintegrasian kegiatan-kegiatan yang pada prinsipnya membekali peserta didik terhadap kemampuan-kemampuan tertentu agar dapat diterapkan dalam kehidupan keseharian peserta didik. Pemahaman ini memberikan arti bahwa mata pelajaran dipahami sebagai alat dan bukan tujuan untuk mengembangkan kecakapan hidup yang nantinya akan digunakan oleh peserta didik dalam menghadapi kehidupan nyata.
PEMBENTUKAN KARAKTER DAN KURIKULUM 2013
Kurikulum 2013 yang segera akan diterapkan menghilangkan sebagian mata pelajaran di SD dan menggabungkan beberapa mata pelajaran menjadi mata pelajaran terintegrated. Mapel IPA dan IPS misalnya bukan diajarkan sebagai mata pelajaran tersendiri, tetapi dititipkan pada mata pekajaran yang lain,misalnya pada bahasa Indonesia. Pola semacam ini tentunya akan makin menambah beban mata pelajaran,karena di samping “titipan” mapel IPA dan IPS ia juga harus bisa bermuatan kecakapan hidup (life skill), padahal life skill tentunya bukan sekedar keterampilan dalam hidup atau kecakapan hidup, tetapi bagaimana membangun karakter anak.
Kecakapan hidup sebenarnya mencakup pengertian apa yang saya butuhkan, bagaimana mencapai kebutuhan tersebut, bagaimana menentukan langkah yang harus dilakukan, aturan apa yang berlaku dan harus diterapkan untuk melakukan langkah tersebut, apa yang dihasilkan dari langkah kerja yang dilakukan. Oleh karena kecakapan hidup sesungguhnya tidak sekedar seseorang bisa bercocok tanam di daerah pedesaan agraris atau seseorang dapat memelihara ikan di daerah yang berlimpah dengan sumber daya air, tetapi bagaimana melatih seseorang agar bisa mandiri dalam berpikir dan bertindak, dan ini tidak terlepas dari keterampilan psikologis juga.
Elaborasi keterampilan psikologis (psychological life skills) atau kecakapan hidup dalam menunjang kesehatan mental dibuktikan pada berbagai macam studi dan penelitian. Misalnya, studi yang dilakukan oleh Lemma et.al, (2000) menunjukkan bahwa pelatihan life skill efektif dalam melindungi terjadinya gangguan perilaku. Valentiner et.al (1994), menemukan bahwa strategi mengatasi masalah yang merupakan elemen kecakapan hidup atau psychological life skills, terbukti berperan sebagai penangkal dari tekanan psikologis sebagai akibat dari kondisi-kondisi menekan, sehingga munculnya simtom-simtom fisik maupun psikologis dapat dicegah. Hadjam (2003) menemukan bahwa individu yang mempunyai kepribadian tahan banting, kemandirian, harga diri yang tinggi dianggap dapat menjaga menjadi tetap sehat meskipun mengalami kejadian yang penuh dengan tekanan. Beberapa hasil penelitian di muka menunjukkan bahwa keterampilan psikologis perlu dilibatkan dalam upaya mewujudkan kesehatan mental. Jadi sesusungguhnya kesehatan mental,kecakapan hidup dan pendidikan berkarakter tidak dapat dipisahkan satau sama lain.
Pengertian mengenai life skill di Indonesia nampaknya banyak diterjemahkan dengan pengajaran berbasis ketrampilan, jadi yang dipentingkan bukan pada pola berpikir tetapi lebih pada ketrampilan bekerja. Maka menjadi tidak anaeh jika muatan lokal setiap sekolah bisa berbeda-beda. Di satu sekolah barangkali menambah ketrampilan berbahasa Inggris, tetapi di sekolah lain barangkali ditekankan kepada bercocok tanam atau bahkan berkolam ikan. Muatan lokal semacam itu sebagai penerjemahan life skill menjadi umum dijumpai di sekolah-sekolah di Indonesia.
Konsep yang masih rancu dalam penerapan life skill di Indonesia sebenarnya belum sempat dibenahi,tetapi sudah berganti konsep dengan pendidikan karakter yang dimulai 2 tahun yang lalu, Pendidikan karakter tidak berdiri sebagai pelajaran tersendiri,tetapi dicangkokkan pada mata pelajaran tertentu yang direncanakan dalam RPP guru. Konsep inipun sebenarnya baru berjalan setengah hati,karena belum sepenuhnya diimplementasikan di sekolah, tetapi kurikulum 2013 yang baru muncul agaknya akan menjadi batu sandungan dalam melaksanakan pendidikan karakter, karena akan sulit menitipkan pendidikan karakter pada kurikulum baru yang sedang akan diterapkan,dan pelaksanaannya juga belum tentu berjalan dengan baik, serta tidak menjadi jaminan akan berlangsung lama,karena tidak lama lagi juga akan ada pergantian Kabinet 2 tahun lagi.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2005 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II Pasal 3: menyatakan Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkhlak mulia, sehat erilmu cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis seta bertanggung jawab.
Penjelasan UU No 20 Tahun 2005 sudah jelas mengamanatkan pendidikan yang mampu membentuk watak dan peradaban yang bermartabat (kecakapan hidup dan karakter). Oleh karena itu upaya membenahi karakter bangsa yang mulai luntur belakangan ini melalui pendidikan anak-anak sejak dini akan sia-sia jika dalam kurikulum 2013 masalah tersebut tidak terakomodasi. Oleh karena itu kita tidak boleh melupakan pendidikan kecakapan hidup dan karakter bangsa hanya dengan selalu mempersoalkan kurikulum 2013 dan melupakan membentuk karakter bangsa di masa mendatang, karena itu akan menghilangkan kearifan budaya.
Kearifan budaya adalah sumber nilai-nilai yang membawa kelangsungan hidup yang beretika. Hidup dalam keragaman, damai, toleran, penuh maaf dan pengertian, harmoni dengan lingkungan, rukun, bermoral, saling asah, asih, dan asuh, kearifan seperti inilah yang tumbuh dari dalam lubuk hati masyarakat. Inilah bagian terdalam dari kearifan kultur lokal (Nashir, 2003). Beberapa kalangan memandang khazanah ilmu pengetahuan dan teknologi lokal adalah sesuatu yang takhayul, non empirik, dan tidak memiliki dasar ilmiah, padahal bisa jadi problematika sosial yang dihadapi saat ini banyak yang sebetulnya muncul karena pengabaian nilai-nilai serta kearifan budaya lokal. Sebagai contoh, terjadinya bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan kerusakan alam lainnya berkaitan dengan memudarnya kearifan lokal yang berhubungan erat dengan kelestarian ekologi dan lingkungan (Adimiharja, 2004).

DAFTAR PUSTAKA

Adimihardja, K. 2004. Sistem Pengetahuan dan Teknologi Lokal dalam Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia. Jakarta: Humaniora
Cocco,P.2007, Buku Pintar Experiment Untuk Anak.Yogyakarata : Gala Ilmu Semesta
Gagne and Briggs (1979). Principle of instructional design (2nd Ed.). New York: Holt, Rinehart and Wiston.
Hadjam, N.R. 1992. Variabel-Variabel Psikologis Penentu Timbulnya Gangguan Somatisasi Pada Guru Sekolah Dasar Di Kodya Yogyakarta. Laporan Penelitian. Yogyakarta : Fakultas Psikologi UGM.

Horsley, et all. 1990. Elementary School Science for the 90. Alexandria, Virginia Association for Supervision and Curriculum Development.

Nashir, H. 2003. Menggali Kearifan Menghalau Kerakusan. Republika Minggu, 02 Maret 2003

Sukidin, Basrowi dan Suranto. 2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya : Insan Cendekia.
Syamsuddin, M. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja
Valentiner, D.P., Holahan, C.J., Moos, R.H., 1994. Social Support, Appraisal of Event Controllability and Coping: An Integrative Model. Journal of Personality and Social Psychology. Vol.66, No.6, 1094 – 1102

Young,B.L.1979. Teaching Primary Science. Hongkong :Longman Group Ltd