Kisah sepotong kue

Pelajaran hidup ini saya peroleh dari seseorang yang kebetulan saya lupa siapa yang memberikan karena sudah beberapa puluh tahun yang lalu,namun tetap relevan untuk kita renungkan sampai kapanpun. Semoga menjadi renungan di pagi yang indah ini, dan tetap SEMANGAT

SeImageorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Ia masih punya waktu  beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara  untuk membuang waktu,lalu mencari  tempat untuk duduk. Wanita itu membaca buku yang baru saja dibelinya. Dalam keasyikannya , ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka.Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam, sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu.

Wanita itupun sempat berpikir: “Kalau aku bukan  orang baik sudah  kutonjok dia!“.

Setiap ia  mengambil satu kue, Si lelaki juga mengambil satu. Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, Si lelaki mengambil kue terakhir dan  membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya sementara ia makan yang separonya lagi.

Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir : “Ya ampun orang ini berani  sekali, dan ia juga kasar malah ia tidak kelihatan berterima kasih”.

Belum pernah rasanya ia begitu kesal. Ia menghela napas lega saat  penerbangannya diumumkan

Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang.

Menolak untuk menoleh pada si “Pencuri tak tahu terima kasih”.
Ia naik pesawat dan duduk  di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia  merogoh tasnya, ia menahan nafas dengan kaget.

Disitu ada kantong kuenya, di  depan matanya !!!

Koq milikku ada disini erangnya dengan patah hati.

Jadi kue  tadi adalah milik lelaki itu dan ia mencoba berbagi. Terlambat untuk minta maaf, ia  tersandar sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih,dan dialah pencuri kue itu !

Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi.

Kita sering  berprasangka dan melihat orang lain dengan
kacamata kita sendiri serta tak jarang kita berprasangka buruk terhadapnya.
Orang lainlah yang selalu salah

Orang lainlah yang patut disingkirkan

Orang lainlah yang tak tahu diri

Orang lainlah yang berdosa

Orang lainlah yang selalu bikin masalah

Orang lainlah yang pantas diberi pelajaran
Padahal

                   Kita sendiri  yang mencuri kue tadi

Kita sendiri  yang tidak tahu terima kasih.

Kita sering mempengaruhi, mengomentari , mencemooh pendapat, penilaian atau  gagasan orang lain, sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya