Kebenaran yang benar

Awal serba boleh
Cerita ini terjadi 3 tahun lalu ketika saya masih mengajar di Sebuah tempat di Cilacap
Suatu ketika selesai mengajar saya bermaksud pulang,tapi di minta masuk ruang sebentar.Di ruang itu ternyata ada sesuatu yang akan diberikan
“Pak ini ada transport untuk bapak”,kata pengelolaa sambil menyodorkan amplop.
” Saya sudah dapat transport dari universitas” jawab saya sambil mengembalikan amplop panjang itu
” Tidak apa pak,untuk tambahan”, katanya sambil menyodorkan lagi
” Tidak usah”, jawab saya lagi sambil tetap menolak
Tolak menolak atau beri memberi terjadi beberapa kali,sampai akhirnya Pak Pengelola Kelas berkata lagi :” Apa salahnya sih pak tuan tumah melayani tamunya dengan nyangoni untuk pulang”, katanya masih memaksa.
Saya menjawab dengan santai:” Saya kan kesini bukan sebagai tamu,tetapi ngajar,dan transport saya sudah dikasih universitas”.
Si bapak lalu berkata lagi:”Saya tidak enak dengan teman-teman yang memberi amanah pada saya untuk menyerahkan ini pak,ini sudah kesepakatan kawan-kawan”.
” Kalau begitu sampaikan ke kawan-kawan,harga prinsip saya untuk tidak menerima transport lebih”, saya menjawab dengan tetap tidak menerima amplop tersebut,dan langsung saya pulang meskipun sempat dikejar untuk dipaksa menerimanya. Sejak itu saya dianggap orang yang keras kepala. Salahkah saya jika saya keras karena mempertahankan prinsip? Saat itu saya berpikir siapa sebenarnya yang benar dan siapa sebenarnya yang salah. Bukankah jika saya menerima sama saja dengan double anggaran karena bunyinya sama,uang transport. Mungkin karena sudut pandang yang berbeda sehingga tidak mencapai kesepakatan tentang kebenarana. Saya memandang jika diterima maka saya telah berbuata tidak amanah terhadap pekerjaan saya,sebaliknya sudut pandang si bapak menganggap itu hal biasa,jadi kebiasaan,kebiasaan salah yang dianggap wajar. Bukannya saya sok suci dengan menolak rezeki,tetapi insya Allah saya akan memeperoleh rezeki yang leih besar dan lebih batokah di tempat lain jika saya tetap memegang prinsip itu Alhamdulilah pintu rezeki tetap dibukakan di tempat lain oleh Allah swt. Alhamdulillah pula di tanah suci tidak pernah mendapatkan pengalaman yang tidak enak,semua serba enak,serba mudah dan serba dimudahkan. Mana yang akan anda pegang sebagai prinsip jika anda menghadapi hal yang sama dengan saya ? Saya yakin akan berbeda-beda implementasi dan pemikirannya, tapi apapun yang anda pilih akan menentukan apa yang akan anda dapat di belakang hari nanti.