DIMANA LETAK KEADILAN ?

Beberapa tahun yang lalu Pak Susno pernah ditangkap oleh Provost di Bandara Suta karena akan pergi ke Singapuran tanpa ijin Kapolri waktu itu (Kapolri Bambang Hendarso Danuri).Peristiwa kemarin nampaknya menjadi anti klimaks karena justru para polisi terkesan melindungi Pak Susno saat akan dieksekusi oleh aparat kejaksaan. Beberapa waktu sebelumnya mantan pejabat yang bukan mantan polisi dieksekusi tanpa ada perlawanan dan perlindungan. Ironis jika kita melihat bahwa aparat yang tahu hukum justru melawan eksekusi apapun alasannya. Alasan yang dikemukakan para penasehat hukum adalah bahwa putusan MA hanya mengembalikan pada putusan pengadilan sebelumnya tanpa ada perintah untuk eksekusi,sementara putusan pengadilan sebelumnya adalah memenjarakan Pak Susno. Nampaknya keadilan memang tidak berpihak pada semua orang,tetapi hanya pada mereka-mereka yang patut diberi keadilan karena kekuasaan. Presiden kemarin sudah menginstruksikan kepada Kapolri dan Jaksa Agung agar dalam kasus Pak Susno dijalankan dengan seadil-adilnya. Kita melihat saja nanti bahwa seadil-adilnya itu diartikan dengan eksekusi atau dilindungi. Kepercayaan masyarakat kepada institusi Polri tentunya akan makin luntur jika untuk kasus seperti ini tidak terselesaikan dengan baik.Indonesia memang sedikit aneh jika terkait dengan kebijakan hukum. Maling ayam bisa divonis lebih dari 1 tahun,tapi maling negara yang nilai kerugiannya ratusan juta bahkan milyaran hanya diputus beberapa bulan saja. Dimana letak keadilan ? Mohonlah petunjuk pada Allah

SELAMAT JALAN USTADZ

20130426-131149.jpg

Innalillahi wa innaillaihi rojiun. Hari ini kita kehilangan sosok manusia yang dakwahnya dapat menyentuh kaum muda,sosok ustadz gaul, Ustadz Jeffri al Buchori, yang telah dipanggil pulang sang Pencipta dini hari tadi. Bagi manusia meninggalnya Ustadz Jeffri sangat mengejutkan dan tidak terduga,tapi bagi Allah hal itu sebagai tanda kuasaNya bahwa perjanjian hidup Ustadz dengan Sang Maha Pencipta telah dipenuhi. Ustadz sudah mengajarkan tentang kebaikan dengan gayanya yang khas,dan itulah yang akan selalu diingat umat yang selalu mengikuti dakwahnya. Manusia hanya sekedar menjalankann peranannya,tetapi jika Sang Maha Sutradara berkehendak lain,tidak ada kekuatan apapun yang dapat menghentikannya. Selamat jalan Ustadz,semoga Allah menerimamu dan ditempatkan di tempat yang paling baik yang Allah kehendaki.Iringan doa jutaan umat semoga dapat melapangkan jalanmu bagaikan taburan ribuan bahkan jutaan kuntum bunga yang semerbak mewangi.

JADILAH GURU BERJIWA KEPEMIMPINAN

Guru SD adalah sosok yang dihormati oleh murid-muridnya,bahkan lebih dihormati dibanding orang tuanya sendiri. Sering kali apa yang diucapkan oleh guru akan menjadi acuan dan pedoman oleh murid,sungguhpun apa yang disampaikan guru salah dalam konsep,ketika orang tua siswa akan membetulkanpun sering orang tua yang dianggap salah oleh anak. Oleh karena itu tanggung jawab guru menjadi sangat besar,dan guru juga akan menangung dosa jika yang disampaikan salah dan dipahami betul oleh anak.
Guru sebagai sosok yang dikagumi oleh murid sebaiknya tidak bersikap sebagai seorang manajer,tetapi seorang leader. Manajer adalah mengatur semuanya dengan patokan baku,sementara leader kadang berpikir di luar kebiasaan (out of the box). Mengajar siswa tidak bisa diolah dengan gaya manajer karena sifat anak kecil bersifat dinamis. Sebalaiknya memimpin siswa dengan gaya leader akan membawa siswa pada suasana yang dinamis. Namun seorang pemimpin/leader harus mempunyai sikap leadership,dan leadership dibentuk dari pengalaman. Leadership seorang guru akan terbentuk manakala ia banyak mengalami tantangan dan mampu menyelesaikan dengan baik,disinilah seorang guru belajar leadership. Guru yang menyerah karena keadaan tidak akan mendapatkan leadership,karena ia terlalu mudah untuk angkat tangan menyelesaikan masalah. Guru harus mau dan mampu mengatasi kondisi apapun pada siswa yang terjadi di lapangan. Jadilah guru yang LEADER dan mempunyai jiwa LEADERSHIP, bukan guru yang MANAJER,bergaya bos.

PANDUAN UNTUK GURU

Artikel yang bagus yang diambil dari Grup Elementary School Dari LinkedIn, semoga bermanfaat
Educator`s Guide to Active Listening

By Leah Davies, M.Ed.

Active listening focuses attention on the speaker and includes listening and restating what was heard. This form of listening helps students feel valued and connected to the adults in their school and enhances mutual understanding. Studies demonstrate that when children sense that they are an accepted part of a school community, they are more motivated to learn.
Active listening can be used in short encounters to defuse a situation. For example, if a child says,”I hate Justin…” the teacher might respond, “You’re really angry.” The child may say, “Yes, I am. He hit me for no reason!” Then the teacher might state, “Would you like to write down what happened?” or “Would you like to tell Justin how you feel?” The teacher could then encourage the student to use the “When you ______, I feel__________, because _________” statement.
For example, the child could say, “When you hit me, I felt sad and angry, because I don’t treat you that way.” The child may answer, “I’m okay,” or “I’ll talk to Justin.” Most children do not like to write down the details of what happened, but it can be offered as an option.
Since the child’s feeling was acknowledged, he or she would probably be less resentful. If the teacher had said, “You’re okay. Get your book out,” or “You shouldn’t be angry,” the student might have absorbed the anger and then later expressed it inappropriately. Helping students express their negative emotions without fear of being judged or punished can have a positive impact on their actions.
When educators participate in active listening, they set aside their prejudices and opinions. They do not disagree, pry, warn, lecture, evaluate, diagnose, or demand. The following words inhibit communication and decrease the chance that the child will deal with his or her own difficulty in a constructive way:
“You should know better…”
“You think you have it bad…”
“Your problem is…”
“You had better…”
“Here is where you are wrong…”
“Who? What? When? Why?” (Asking too many questions can put the child on the defensive.)
Since identifying feelings is a fundamental part of active listening, completing the following activity may be helpful.
Read each child’s comment separately, listening carefully for the underlying feelings; discard the content and write only the feelings being expressed. For example, if a child could be feeling frustrated, angry or inadequate if he says, “I hate school!” Write the feeling word or words that you detect in the following statements.
1. My mom’s in jail.
2. He tripped me on purpose!
3. I spilled my juice and everyone laughed.
4. My mom had a baby and she doesn’t play with me any more.
5. I got an A+ on the test!
6. My grandma died.
7. I had a bad dream and I couldn’t go back to sleep.
8. I get to go to the beach!
9. Nobody likes me.
10. She made fun of me.
11. I can’t do this work.
12. My dad moved out.
For example, a teacher could respond to the last comment with something like, “You seem very sad.” The student might answer, “My dad may never come back!” The teacher could say, “You’re really worried about not seeing your dad again,” and the student might reply, “I’m really going to miss him.” At this point, if the teacher needed to attend to other students, she might express sympathy by saying, “I’m sorry.” In this short interaction the child would feel understood and valued.
In-depth active listening requires effort, yet the time spent with a troubled student will often have beneficial results.
The following are the steps you can use:
1. Locate a private place to meet away from other students, noise, and interruptions. Sit facing the student, make eye contact, be silent and listen.
2. Show interest by giving your undivided attention to the child.
3. Be open, accepting, respectful and nonjudgmental no matter what is being expressed. You are not agreeing with the child, only reflecting what you hear to help further the student’s self-understanding.
4. Watch for non-verbal clues and listen for underlying feelings, as well as for information.
5. Make sure your facial expression and body language match what the student is saying. Uncross your arms and legs and relax. If a child says, “My grandpa’s in the hospital,” look sad, lean forward, put yourself in the child’s place and try to understand his or her perspective.
6. Restate what you think the child said in your own words.
7. You could say something like, “You feel (state the feeling) because (state the content).” However, be careful not to overuse this sentence structure.
8. Avoid long comments; short, simple ones are more effective.
9. Continue to listen and repeat feelings and content heard.
10. Use an occasional nod of encouragement and say “uh-huh” now and then to demonstrate that you hear the student.
11. Ask clarification questions when necessary, such as “Could you tell me more?”
12. Try to avoid misinterpreting what the student says.
13. Help the child feel free to correct any of your misunderstandings by saying something like: “Let me see if I’ve heard you correctly….” Then after reiterating ask, “Is that right?”
14. Keep the focus on the child and his or her main concern.
15. Summarize by bringing together main thoughts, facts and feelings.
16. Ask the student what he or she will do next.
(Also see Enhancing Children’s Emotional Development and Effective Communication)
Active listening takes thought, practice and a desire to put the student’s feelings and concerns above your own. Educators use this method to help children cope with their problems. Active listening is also used to neutralize negative emotions and to enhance the adult-child relationship. A former student wrote: “After my mom died, my teacher knew what happened, but when I tried to tell her about it, she walked away. Maybe I would not have felt so alone and maybe my grades would not have fallen if she had listened and acknowledged my sadness.” Apparently, using active listening can make a meaningful difference in a student’s life..
Article from Linked In, diunduh 25 April 2013, pukul 09.00 wib

Antara KARTINI dan “KARTINI”

kartini sawah

Hari ini,minggu 21 April, seratus tahun lebih yang lalu lahir seorang perempuan dari kalangan Bangsawan di Jepara. Perempuan itulah yang kemudian mendorong adanya emansipasi wanita di Indonesia,dan kemudian kita kenal sebagai Ibu Kartini. Perjuangannya telah membawa perempuan di Indonesia untuk jauh lebih maju dari jamannya. Kini bukan hal yang aneh kita menemukan wanita-wanita akademis maupun wanita-wanita perkasa seperti sopir bus Trans Jakarta atau bahkan dump truck. Perjuangan yang tak kenal lelah telah menghasilkan wanita-wanita yang kadang melebihi kodratnya. Beruntunglah wanita-wanita yang dapat mengenyam pendidikan tinggi seperti hampir 80 persen wisudawan PGSD kemarin Sabtu 20 April 2013. Keberhasilan wanita-wanita tersebut seolah menutup sebagian wanita yang apa boleh buat harus tetap menjalankan aktivitasnya sebagai wanita tradisional yang membantu penghasilan suami dengan menjadi buruh di sawah. Gambar tersebut adalah sosok “KARTINI’ yang boleh jadi hanya bisa berkata apa boleh buat,memang hanya inilah yang saya bisa. Sosok wanita pedesaan sebenarnya,yang kini sulit dicari pada wanita usia muda. Gambar diambil di Desa Kawungcarang, tepat tanggal 21 April pukul 07.00 hari ini. Sosok wanita yang harus bekerja demi sesuap nasi,sementara wanita yang lain sedang sibuk dalam pertemuan PKK di balaidesa. Bagaimana mungkin ia tega jika sang lelaki yang sudah uzurpun masih mau bekerja,usia yang sebenarnya sudah waktunya tinggal menikmati hidup. Tatapan mata yang mestinya untuk menikmati hidup di usia senja masih harus menatap sabit dan padi di sawah

kartono

Tatapan mata penuh harap akan rezeki melimpah hari ini,meskipun mungkin hanya cukup untuk makan hari ini pula. Barangkali itulah sebaagian “KARTINI” kita diantara KARTINI-KARTINI yang dapat menikmati jamannya dengan enak tanpa harus berpikir keras bagaimana menghidupi keluarganya.

Malam melepas wisudawan

melepasWisudawan PGSD UMP berjumlah 129 pada Jumat malam telah dilepas dan diserah kembali ke orang tua masing-masing. Proses ini sekaligus sebagai ajang silaturahmi dosen dengan orang tua wisudawan. Meskipun pada awalnya terhalang kendala terkait dengan beberapa orang yang tidak bersedia,namun pada akhirnya kebersamaan itu dapat terwujud pula. Kebersamaan itulah yang penting,karena tali silaturahmi akan terus berlanjut,termasuk saat wisudawan membutuhkan PPG nantinya

CARUT MARUT PENDIDIKAN AKHIR TAHUN

Masalah pendidikan di akhir tahun makin memprihatinkan. Masalah kurikulum 2013 yang nyrais belum selesai karena belum dilakukannya pelatihan sampai sekarang padahal tinggal beberapa bulan lagi harus dijalankan,kini muncul kegagalam UNAS di 11 Propinsi. UNAS yang sudah jelas-jelas merupakan pekerjaan rutin tahunan bisa gagal di 11 propinsi,apalagi dengan kurikulum 2013 yang baru mau akan dilaksanakan (lho kan baru mau akan, tidak pakai sedang). Carut marutnya pendidikan ini bisa jadi sebagai gambaran demikianlah kalau pendidikan disentralistik,sementara kurikulumnya KTSP. KTSP sendiri mendasarkan diri pada kekuatan lokal,tetapi kelulusan ditentukan hanya oleh beberapa mata pelajaran saja tanpa melihat bagaimana proses pendidikan berjalan. Aneh memang jika kurikulumnya berlaku lokal tetapi kelulusannya berlaku nasional. Setiap daerah mempunyai ciri khas dan kualitas yang berbeda,bagaimana mungkin nilainya ditentukan oleh pusat. Satu contoh saja bagaimana pembelajaran di Papua akan disamakan dengan Yogyakarta,jelas tidak masuk akal. Kegagalan UNAS ini tentunya akan berdampak “sistemik” pada PTN,karena tahun ini direncanakan nilai UNAS dibagai sebagai patokan. Bagaimana bisa digunakan sebagai patokan jika pelaksanaannya carut marut tidak karuan. Sungguh memprihatinkan kondisi pendidikan kita,dan makin tidak karuan dengan kebijakan yang mengatas namakan HAM (kasus hamil boleh ujian). Quo Vadis dunia pendidikan di Indonesia ?